Minggu, 26 April 2009

TATA CARA PELAKSANAAN ADAT BATAK (3)

Bab.IV.

KEBUDAYAAN BATAK

1. Adat:

Adat adalah bagian dari pada Kebudayaan, berbicara kebudayaan dari suatu bangsa atau suku bangsa maka adat kebiasaan suku bangsa tersebut yang akan menjadi perhatian, atau dengan kata lain bahwa adat lah yang menonjol didalam mempelajari atau mengetahui kebudayaan satu suku bangsa, meskipun aspek lain tidak kalah penting nya seperti kepercayaan, keseniaan, kesusasteraan dan lain-lain .

Dahulu kala keseluruhan aspek kehidupan orang Batak diatur oleh dan didalam adat. Gunanya ialah untuk menciptakan keterarturan didalam masyarakat. Kegiatan sehari-hari didalam hubungan sesama orang Batak selalu diukur dan diatur berdasarkan adat

Namun keterbukaan akan suku bangsa lain dan membawa budayanya misalnya melalui asimilasi dan akulturasi (proses percampuran dua budaya atau lebih) , dan agama yang melarang untuk terlibat dalam adat mempengaruhi sikap pada adat dan tradisi membuat cenderung semakin goyang. Artinya muncul sikap tidak lagi membutuhkan adat istiadat warisan nenek moyang, meskipun masih banyak yang mematuhi dan melaksana-kan adat bahkan dibeberapa suku Batak masih membutuhkannya didalam pengaturan masyarakat, dan kenyataan dapat diharapkan sebagai suatu alat pemeliharaan moral.

Orang Batak mengenal 3 (tiga) tingkatan adat yaitu:

1- Adat Inti,adalah seluruh kehidupan yang terjadi (in illo tempore) pada permulaan penciptaan dunia oleh Dewata Mulajadi Na Bolon. Sifat adat ini konservatif (tidak berubah).

2- Adat Na taradat,adat yang secara nyata dimiliki oleh kelompok desa, negeri, persekutuan agama, maupun masyarakat. Ciri adat ini adalah praktis dan flexibel, setia pada adat inti atau tradisi nenek moyang. Adat ini juga selalu akomodatif dan lugas menerima unsur dari luar, setelah disesuaikan dengan tuntunan adat yang asalnya dari Dewata.

3- Adat Na niadathon, yaitu segala adat yang sama sekalibaru dan menolak adat inti dan adat na taradat, adat na diadatkan ini merupakan adat yang menolak kepercayaan hubungan adat dengan Tuhan, bahkan merupakan konsep agama baru (Kristen, Islam dll)yang dipandang sebagai adat, yang justru bertentangan dengan agama asli Batak atau tradisi nenek moyang. (Sinaga 1983).

Berdasarkan ketiga tingkatan adat tersebut diatas. Adat yang sekarang dilakoni orang Batak adalah Adat tingkat kedua. Namun dibeberapa bagaian kelompok Batak sudah mendekati tyingkat ketiga. Meskipun ini terjadi sadar atau tidak sadar dilakukan

Oleh karena itu Adat kebiasaan atau “Adat Batak“, sesuatu yang sangat penting didalam kehidupan bermasyarakat bagi suku Batak maka perlu dikhayati makana petuah petuah dibawah ini :

“Adat do ugari, Sinihathon ni mulajadi. Siradotan manipat ari , salaon di si ulubalang arai. Ia adat ido ugari, Ale guru saingganon . Radotan manipat ari , Salaon di ahason.”

Artinya:”Adat ialah aturan, ditetapkan oleh Tuhan yang dituruti sepanjang hari tampak dalam kehidupan.”

Maksudnya: bahwa Adat itu adalah hukum tidak tertulis yang di siratkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa kepada nenek moyang terdahulu sehingga merupakan suatu ikatan bagi yang menganutnya.

Jikalau adat itu sudah merupakan hukum maka sesuai dengan prinsip-prinsip hukum akan berlaku kepadanya, seperti pelanggaran terhadap adat tersebut maka akan dikenakan sanksi adat kepada sipelanggar sesuai dengan aturan main, seperti hukum acaranya. Namun karena adat Batak itu tidak tertulis karena dia merupakan adat kebiasaan yang turun-temurun. Dan keputusannya tidak tertulis atau ter arsip namun jika eksekusi telah terlaksana akan bergulir kesegala penjuru dan diwariskan turun temurun hasil keputusan adat sehingga terkadang merupakan pengikat yang kuat atas keputusan adat tersebut.yang terasa terasa sampai kini .

Jadi adat adalah aturan hukum yang mengatur kehidupan manusia sehingga bisa menciptakan keterarturan, ketentraman dan keharmonisan, dan adat ditrapkan didalam kehidupan sehari-hari oleh orang Batak, terutama didalam sistem kekarabatan dengan pedoman prinsip Dalihan Natolu, disamping aturan adat yang lain.

Adat salah satu dari budaya, dan penguraian tentang adat sangat komplek, karena didalam semua aspek kehidupan bermasyarakat orang Batak selalu terikat didalam tata cara yang telah diatur sejak nenek moyang orang Batak, oleh karena itu ukuran terhormat suatu keluarga selalu diukur dari kemampuan keluarga tersebut mengimplementasi-kannya (adat) didalam bermasyarakat. Namun suatu hal yang tidak dapat dimungkiri bahwa perilaku pelaksanaan adat (budaya) Batak sudah banyak disusupi dengan unsur-unsur dari luar termasuk pengaruh dari Agama yang banyak merobah pola berpikir suku bangsa Batak. Meskipun demikian pada saat-saat sitruasi sulit umumnya masyarakat tradisional akan kembali pada nilai-nilai budaya Tradisional, hal ini nampak jelas pada suku Batak, bagai manapun ketat aturan yang dikeluarkan gereja dalam pelaksanaan adat, sadar atau tidak sadar pelaksanaan adat tradisional dilakukan juga, seperti margondang dengan Gondang sabangunan (bukan dengan alat musik modern)

Sejauh apakah sebenarnya pengaruh Agama pada perilaku masyarakat Batak, khususnya Batak toba didalam adat Batak (paradatan). Menurut pengakuan saudara John.B Pasaribu dalam bukunya “Pengaruh Injil dalam adat Batak”, didalam bukunya dihalaman 12 sbb: “Perjumpaan atau pertemuan Injil yang dibawa oleh para misionaris dengan nilai-nilai yang diwarisi oleh bangsa batak telah menimbulkan benturan, pada mulanya benturan itu sangat dahsyat yang menyebabkan gugurnya (martiry) para penginjil terdahulu (Munson dan Lyman)” . kemudian di halaman 80 dilanjutkan dengan: “ Sejak awal nya Adat Batak dibentuk dan dilaksanakan adalah untuk keserasian hidup dan kehidupan warganya. Dengan kemampuan dan pemahaman yang bertumbuh dan berkembanga dari waktu ke waktu, semasa religi lama dimana Mulajadi Nabolon adalah sang pencipta, dengan tatanan Dalihan Natolu adalah tata kehidupan dalam hubungan kekeluargaan diantara sesamanya maka Religi lama juga kelihatan dengan jelas ingin mengantarkan umat dan warga Batak kepada suka cita penuh bagi setiap keluarga walau dalam implementasinya ketentuan adat dalam tatanan hubungan komponen adat itu sendiri terdapat aturan pergaulan dalam ketentuan kedudukan pada unsur Dalihan Natolu…….” Kemudian dilanjutkannjya pada halaman yang sama sbb: “ Religi Baru dan kekeristenan mengubah itu semua nya, layanan dan pergaulan terpusat pada satu kuasa dan satu kemulian yaitu Tuhan Yang Maha Esa, anaknya Yesus Kristus dan Rohul Kudus. Adat dan kebiasaan yang sudah bertumbuh sejak lama, harusnya dapat disesuaikan dengan pertumbuhan rekigi baru (Keristen), sehingga Tuhan yang ada sejak dahulu, sekarang dan selama-lamanya , benar-benar pimpinan dalam kehidupan Adat dan Budaya Batak. Religi baru (Keristen) adalah penguat kekerabatan diantara sesamanya, dan itu dilaksanakan penuh sebagai suka cita orang Batak serta pupujian bagi Tuhan.”

Dari keterangan diatas salah satu pembuktian bahwa adat batak yang berlaku sekarang ini tidak lagi murni sesuai dengan asal mulanya berlaku!. Karena didalam wujud peralihan adat budaya Batak (asli) ke Religi baru seperti Batak Mandailing (Islam) dan pada Batak Toba (yang sangat menonjol) dengan religi kristen, dimana Injil harus direfleksikan disetiap aspek kehidupan adat tradisi lama Batak Toba seperti:

· Implementasi Falsafah hidup Batak, Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapan direflesikan kepada Tri Doktrin Grejani (Iman, Kasih, dan Pengharapan) .

· Implementasi Ajaran Dalihan Natolu di refleksikan dengan Pengharapan 3 jenis pengasihan Illahi yaitu Anugerah, Karunia dan Berkat.

Mengimplementasian ketiga doktrin gereja dengan membudayakan filsafat hidup batak yang bersifat rohaniah, dan menjadikan Gereja-gereja sebagai gedung pembinaan rohani dan pendidikan yang berorientasi pada pengembangan adat budaya Batak dll.Dalam hal ini sepertinya orang Batak toba telah mengisolasi diri dari orang batak lainnya seperti Batak Mandailing, sipirok, simalungin, karo dan batak gayo alas,dan lain-lainnya.

Tanpa menafikan ada dan besarnya pengaruh perkembangan zaman (globalisasi), masih mungkinkah Batak dapat dipersatukan didalam rumpun Batak seperti tertera diatas (sejarah Batak) banyak orang-orang batak yang bukan beragama keristen mengharapkan kemurnian peri laku adat dilaksanakan tanpa menonjolkan keyakinan (agama) tertentu karena suatu fakta bahwa umumnya Batak identik dengan Batak toba sedangkan Batak toba identik dengan keristen, Dalam hala Agama bagi suku Batak sangatlah sensitif karena orang Batak termasuk manusia yang kokoh dengan pilihannya pada agama, dan hampir boleh dikatan cukup panatik. Bagi mereka perpindahan keyakinan (Agama) kepada keyakinan lain adalah suatu aib. Sangatlah beruntung kita hidup disebuah negara yang berazaskan Pancasila, yang menawarkan saling menghormati antar keyakinan (Agama), dan sebagai batak mempunyai falsafah “Dalihan Natolu” sebagai alat perekat untuk saling menghormati, yang boleh tidak harus saling mengikat hubungan meskipun berbeda agama. Sebaiknya apa yang diwariskan oleh Omputa sijolojolo tubu kita pelihara dan kita implementasikan tanpa mengclimp hanya orang Batak beragama keristen yang layak menjalankan adat batak tersebut. Karena ini menjadi suatu kendala kemajuan dan kerukunan sesama batak, yang tidak mustahil setiap orang batak mempunyai saudara yang ber agama lain juga. Agama seharusnya diletakkan sebagai penyempurna adatdidalam hubungannya ke Tuha Maha pencipta dan hubungan sesama hamba-hambaNya. Tidak ada agama yang mengajarkan memutuskan hubungan berkeluarga atau bersaudara.

Selama masih mengakui dirinya orang Batak, maka dia tidak akan lepas dari keterikatan tatanan atau norma-norma adat Batak, apakah dia Keristen Protestan, Keristen Katolik, Islam dll, harus saling menghormati berdasarkan Dalihan natolu. Agama Islam juga mengajarkan untuk selalu memelihara persaudaraan atau dengan kata lain “silaturahmi”, bagi yang memelihara silaturahmi akan mendapatkan pahala dari Tuhan Yang Maha Pencipta (Mulajadi Nabolon). Orang-orang Batak yang beragama Islam seharusnya lebih bertanggung jawab memelihara budaya Batak sebagai mana saudara-saudaranya yang beragama Keristen Protestan atau Katolik mengharagai adat Batak, dan harus dapat menunjukkan jati diri sebagai orang Batak yang ber agama Islam. Dan setiap Orang Batak berkewajiban membuktikan bahwa adat Batak bukanlah monopoli suatu Agama.

Ada beberapa hal pada tatanan adat yang berkorelasi dengan sunnah rasul, dan ini dapat dilakukan tanpa mengurangi nilai-nilai adat dan norma-norma Agama. mari kita seksamai setiap aspek laku dari adat, seperti: pemberian “Ulos” , “boras sipir ni tondi”, “manulangi” dll semuanya boleh dikatakan menyentuh masalah spritual, kita setuju bahwa unsur-unsur yang menyangkut Akidah atau dengan kata lain mensyarikat Tuhan harus kita hindari. Tetapi alangkah baiknya kalau dapat sama-sama orang Batak saling menghormati bagaimana cara pengimplementasian masing-masing Agama dalam adat teresebut, agar adat atau Budaya Batak tidak tertuduh sebagai adat yang berlaku hanya untuk yang beraganma Keristen. Dan perlu ditunjukkan bahwa budaya Batak, khususnya Batak Toba tidak indentik dengan budaya keristen. Namun adat/Budaya Batak berlaku dan diperlakukan untuk dan oleh orang Batak. Dan yang perlu kita hapuskan adalah prasangka suku bangsa lain terhadap suku bangsa Batak khususnya Batak toba identik dengan keristen, karena tata cara adat yang berlaku selama ini sejak Perang paderi dan masuknya Misionari Jerman telah bernapaskan kekeristenan. Dan tidak dapat disalahkan anggapan ini, yang harus disalahkan adalah orang Batak sendiri. Kalau banggga sebagai orang batak seharuslah memelihara dengan menggali budaya Batak itu secara murni serta mencoba mengkorelasikan ataupun menselaraskan dengan agama yang dianut. Orang Batak harus merenungi sisi apa yang dibanggakan kalau sesama orang Batak mengharagai budaya sendiri dengan tidak mengadopsi bulat-bula budaya lain, masa depan suku bangsa Batak dengan budaya begitu sempurna seharusnya di pelihara dan meninggalkan sifat saling mencurigai, saling menjelekkan, dan bertekad melestarikannya demi kesatuan dan persatuan orang Batak sendiri. Karena suku Batak yang terdiri dari beberapa suku bangsa seperti : Toba, Simalungun, Mandailing, Karo, Pak-Pak, kesemua suku bangsa ini mempunyai kebiasaan atau adat yang nyaris sama, meski ada perbedaan yang tidak begitu signifikan,. Perbedaan ini adalah disebabkan pengaruh budaya lain atupun Agama, ini tidak perlu kita permasalahkan karena kita berbicara masalah budaya secara global

Didalam kebudayaan orang Batak hampir 60 % tidak dilestaraikan, hanya tata cara adat seperti dalam Perkawinan, yang boleh dikatalkan masih dilaksanakan diperi laku lainnya hanya sebatas disinggung saja. Sebenarnya Budaya Batak sanaatlah mampu mendukung suku Batak menjadi suku bangsa yang besar, karena sudah memenuhi persyaratan jikalau ditinjau dari kesempurnaan budaya dalam bermasyarakat dan berbangsa. Suku Batak memiliki Aksara, Astronomi, Seni Arsitektur, Seni Musik dan tari, hukum/ Uhum peraturan yang telah ditetapkan oleh ompu si jolojolo tubu dan lain-lain. Orang Batak mengenal 3 (tiga Warna) dan dianggab sakral yaitu : Merah Puti dan Hitam. Ketiga warna ini sangat menonjol dalam seni Bangunan.

2- Gondang Sabangunan:

Gondang sabangunan atau ogung sabagunan ialah separangkat gendang dan gong merupakan instrumen inti musik gondang batak. Gondang sabangunan terdiri dari: tagading, ogung dan sarune. Tagading terdiri dari lima jenis,sedangkan ogung terdiri dari: ogung oloan, ogung ihutan, ogung doal dan ogung jeret. Sarune juga terdiri dari lima lobang. Umumnya gondang sabangunan dimainkan untuk memohon berkat dari arwah para leluhur.

Musik tradisi masyarakat Batak Toba disebut sebagai gondang. Ada tiga arti untuk kata “gondang”:

1. Satu jenis musik tradisi Batak toba;

2. Komposisi yang ditemukan dalam jenis musik tsb. (misalnya

komposisi berjudul Gondang Mula-mula, Gondang Haroharo dsb.

3. Alat musik “kendang”. Ada 2 ansambel musik gondang, yaitu

Gondang Sabangunan yang biasanya dimainkan diluar rumah

dihalaman rumah; dan gondang Hasapi yang biasanya dimainkan

dalam rumah.

Gondang Sabangunan terdiri dari:

Sarune bolon (sejenis alat tiup-“obo”), adalah:

Alat tiup double reed (obo) yang mirip alat-alat lain yang bisa ditemukan di Jaw, India, Cina, dsb.

Pemain sarune mempergunakan teknik yang disebut marsiulak hosa (kembalikan nafas terus menerus) dan biarkan pemain untuk memainkan frase-frase yang panjang sekali tanpa henti untuk tarik nafas. Seperti disebut di atas,

Tagading atau taganing (perlengkapan terdiri dari lima kendang yang dikunci punya peran melodis dengan sarune tsb),

Tangga nada gondang sabangunan disusun dalam cara yang sangat unik. Tangga nadanya dikunci dalam cara yang hampir sama (tapi tidak persis) dengan tangga nada yang dimulai dari urutan pertama sampai kelima tangga nada diatonis mayor yang ditemukan dimusik Barat: do, re, mi, fa, sol. Ini membentuk tangga nada pentatonis yang sangat unik, dan sejauh yang saya tahu, tidak bisa ditemukan ditempat lain di dunia ini. Seperti musik gamelan yang ditemukan di Jawa dan Bali, sistem tangga nada yang dipakai dalam musik gondang punya variasi diantara setiap ansambel, variasi ini bergantung pada estetis pemain sarune dan pemain taganing.

Kemudian ada cukup banyak variasi diantara kelompik dan daerah yang menambah diversitas kewarisan kebudayaan ini yang sangat berharga.
Gordang (sebuah kendang besar yang menonjolkan irama ritme),

Ogung terdiri dari empat gong yang masing-masing punya peran dalam struktur irama. Pola irama gondang disebut doal, dan dalam konsepsinya mirip siklus gongan yang ditemukan dimusik gamelan dari Jawa dan Bali, tetapi irama siklus doal lebih singkat.
Sebahagian besar repertoar gondang sabangunan juga dimainkan dalam konteks ansambel gondang hasapi.

Ansambel ini terdiri dari:

Hasapi ende (sejenis gitar kecil yang punya dua tali yang main melodi),

Hasapi doal (sejenis gitar kecil yang punya dua tali yang main pola irama),

Garantung (sejenis gambang kecil yang main melody ambil peran taganing dalam ansambel gondang hasapi),

Sulim (sejenis suling terbuat dari bambu yang punya selaput kertas yang bergetar, seperti sulim dze dari Cina),

Sarune etek (sejenis klarinet yang ambil peran sarune bolon dalam ansambel ini), dan

Hesek (sejenis alat perkusi yang menguatkan irama, biasanya alat ini ada botol yang dipukul dengan sebuah sendok atau pisau).

Tangga nada yang dipakai dalam musik gondang hasapi hampir sama dengan yang dipakai dalam gondang sabangunan, tetapi lebih seperti tangga nada diatonis mayor yang dipakai di Barat. Ini karena pengaruh musik gereja Kristen.

ASPEK-ASPEK SEJARAH

Ansambel musik yang memakai alat-alat terbuat dari perunggu di Sumatera biasanya terdiri dari perlengkapan yang punya empat sampai dua belas gong kecil,satu atau dua gong besar yang digantung, dua sampai sembilan kendang, satu alat tiup, penyari dan gembreng. Satu Ansambel yang khas jenis ini ada gondang sabangunan dari batak toba. Ansambel ini masih dipakai dalam upacara agama Parmalim.

Gondang sabangunan punya peran yang penting sekali dalam upacara agama tersebut. Seperti pada catatan di atas, Ansambel ini terdiri dari 4 gong yang main siklus irama gongan yang singkat, perlengkapan lima kendang yang dikunci, satu sarune (alat tiup/ obo), satu kendang besar dan satu alat perkusi (biasanya botol) untuk memperkuatkan irama.

Musik gondang sabangunan dipakai dalam upacara agama untuk menyampaikan doa manusia ke dunia atas. Waktu musik dimainkan, pemain sarune dan pemain taganing dianggap sebagai menifestasi Batara Guru.

Musik ini dipergunakan untuk berkomunikasi dengan dunia atas dan rupanya tranformasi pemain musik ini terjadi untuk memudahkan hubungan dengan dunia atas.

Transformasi paradigma ini di mitos Batak sangat mirip yang ada di Bali menunjuk bukti tidak langsung bahwa ada hubungan purbakala diantara kebudayaan Batak Toba dan kebudayaan Bali. Biarpun hal ini tidak dapat dibuktikan, ada kemungkinan yang berhubungan dengan sejarah, karena kedua kebudayaan masing-masing berhubungan paling sedikit sebagai batas keluar kerajaan majapahit. Keterkaitan dengan konsep kosmos bertingkat tiga ada konsep tentang faktor mediasi; pohon kosmos atau pohon hidup. Pohon mitos ini yang menghubungkan tiga dunia punya hubungan simbolis dengan pohon Bodhi dalam agama Budha, kayon di wayang Bali dan Jawa, dan barangkali konsep ini lebih tua dari agama Budha dan agama Hindu. Dalam konsepsi Batak peran musik mirip peran pohon kosmos; musik juga menguhubungkan dunia masing-masing. Melalui musik gondang batasan diantara dunia dapat ditembus, doa manusia dapat sampai kepada debata, dan berkah debata dapat sampai kepada manusia.
Dengan kedatangan agama Kristen ke Tanah Batak, pokok kebudayaan Batak sangat diubah sekali. Interaksi dengan agama baru ini dan nilai-nilai barat menggoncangkan kebudayaan tradisi batak toba sampai ke akarnya. Menurut gereja Kristen musik gondang berhubungan dengan kesurupan, pemujaan roh nenek moyang, dan agama Batak asli, terlalu bahaya untuk dibolehkan terus dimainkan lagi. Pada awal abad kedua puluh Nommensen minta pemerintah kolonial Belanda untuk melarang upacara bius dan musik gondang. Larangan ini bertahan hampir empat puluh tahun sampai pada tahun 1938. Itu merupakan suatu pukulan utama untuk agama tradisi Batak Toba dan musik gondang yang sangat terkait dengan agama tsb.

Untuk menambah kesakralan upacara adat atau keramaiaan upacara adat, maka orang Batak memainkan/membunyikan Gondang sabangunan yang memiliki sifat sakral . Biasanya alat musik ini dipergunakan pada acara ritual yang erat hubungannya dengan pemujaan roh-roh nenek moyang pada zaman dahulu dan penggelaran gondang sabangunan tersebut dilaksanakan dengan syarat-syarat tertentu agar pagelarannya dapat berjalan baik tanpa ada gangguan atau membawa dampak negatif pada tuan rumah dan para penari (manortor).

Gondang sabangunan baru boleh resmi digunakan pada upacara pokok, dengan mengadakan upacara khusus pada malam upacara pokok yaitu pihak hasuhutan melakukan acara “Tua ni gondang”, agar berkat dari gondang sabangunan itu tercurah kepada hasuhutan (yang punya hajat)

Gondang dimulai dengan dibuka juru bicara suhut dengan permintaan pembukaan sebagai berikut:

“Amang panggual pargonsi, Alu-aluhon ma jolo tu omputa Mulajadi Nabolon, na jumadihon nasa adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion

(artinya wahai bapak pemain gondang yang dimuliakan, serukanlah terlebih dahulu kepada Tuhan Yang Maha menjadikan ,Yang Menciptalkan segala sesuatu, Yang Menciptakan Manusia dan segenap isi bumi).

Maka pemusik (pargondang) memukul perangkat gondangnya dengan ritme tertentu beberapa saat saja, kemudian dilanjutkan juru bicara meminta pada pemusik.

“Alu-aluhon ma muse tu sumangot ni omputa sijolo-jolo tubu, sumangot ni omputa paisada,omputa paidua, sahat tu papituhon,”

(artinya; serukan juga kepada roh-roh leluhur, nenek moyang tingkat pertama, nenek moyang tingkat kedua hingga ketujuh).

Kembali pemusik memainkan gondang dengan ritme tertentu sesuai dengan permintaan, beberapa saat juga, setelah berhenti dilanjutkan lagi dengan permintaan sebagai berikut:

“Alu-aluhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo.”

(atinya; serukan juga kepada kharisma /wibawa para raja-raja yang hadir dalam upacara yang mulia ini).

Kembali pemain musik memukul gendangnya dengan ritme tertentu juga sesaat.

Setelah ketiga permintaan dipenuhi dan dilaksanakan maka pihak hasuhutan dengan keluarga besarnya berbaris berdiri saling mengatur diri untuk memulai menari (manortor), maka juru bicara meminta gondang pertama, yaitu gondang mula-mula, sebagai pembukaan dari rangkaian gondang yang harus diminta dalam acara mengambil tua ni gondang .

Ada 7 jenis lagu atau irama gondang yang harus diminta, yang setiap lagu didahului dengan permintaan oleh juru bicaranya, setiapa gondang berbunyi setiap itu pula suhut dengan keluarga besarnya menari (manortor). Adapun makna dari setiap lagu yang dmohonkan terkandung nilai-nilai sakral yang isinya memohon agar keluarga suhut diberikan kesejahteraan, kebahagiaan dan rezeki yang berlimpah ruah dan juga acara yang akan dilaksanakan besok harinya dapat berjalan lancar dab sumber berkat bagi seluruh keluarga dan para undangan . Gondang terakhir yaitu gondang hasahatan, diminta dengan permononana agar segala yang dimohonkan melalui gondang agar terwujud dengan nyata.

Orang Batak dalam setiap menjalani kehidupannya tidak terlepas dari etika yang telah diatur oleh adat istiadat yang berpedoman pada aturan yang ditetapkan para pendahulu (ompung sijolo-jolo tubu) atau dengan kata lain oleh para leluhur. Mulai lahir, kawin, mengandung/melahirkan, hingga tua dan meninggal, juga dalam, membangun dan memasuki rumah, menanam/memanen padi. Sampai menghormati orangtua yang telah meninggal, hampir boleh dikatakan didalam semua asapek kehidupan nya tidak terlepasa dari tata cara adat. Inilah salah satu bukti bahwa sebenarnya orang batak memiliki budaya dan dasar moral yang tinggi. Orang Batak memiliki pertanggalan , memiliki aksara (tulis baca) sendiri dan keyakinan sendiri sebelum masuknya Agama monoteis (Keristen dan Islam). Sebelum upacara adat dilaksanakan pada zaman dahulu pihak hasuhutan (yang punya hajat) memintak petunjuk dan arahan kepada dukun (datu) tentang waktu yang baik untuk mengadakan upacara

3- Seni Tari :

Seni tari Batak pada zaman dahulu merupakan sarana utama pelaksanaan upacara ritual keagamaan. Juga menari dilakukan jug dalam acara gembira seperti sehabis panen, perkawinan, yang waktu itu masih bernapaskan mistik (kesurupan).

Acara pesta adat yang membunyikan gondang sabangunan (dengan perangkat musik yang lengkap), erat hubungannya dengan pemujaan para Dewa dan roh-roh nenek moyang (leluhur) pada zaman dahulu.

Tetapi itu dapat dilaksanakan dengan mengikuti tata cara dan persyaratan tertentu.umpamanya sebelum acara dilakukan terbuka terlebih dahulu tuan rumah (hasuhutan) melakukan acara khusus yang dinamakna Tua ni Gondang, sehingga berkat dari gondang sabangunan. Dalam pelaksanaan tarian tersebut salah seorang dari hasuhutan (yang mempunyai hajat akan memintak permintaan kepada penabuh gondang dengan kata-kata yang sopan dan santun sbb:

“Amang pardoal pargonci…….

1- “Alu-aluhon ma jolo tu omputa Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion.”

2- “Alu-aluhon ma muse tu sumangot ni omputa sijolo-jolo tubu, sumangot ni omputa paisada, omputa paidua, sahat tu papituhon.”

3- “Alu-aluhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo.”

Setiap selesai satu permintaan selalu diselingi dengan pukulan gondang dengan ritme tertentu dalam beberapa saat. Setelah ketiga permintaan/ seruan tersebut dilaksanakan dengan baik maka barisan keluarga suhut yang telah siap manortor (menari) mengatur susunan tempat berdirinya untuk memulai menari. Kembali juru bicara dari hasuhutan memintak jenis gondang, satu persatu jenis lagu gondang, ( ada 7 jenis lagu Gondang) yang harus dilakukan Hasuhutan untuk memdapatka (tua ni gondang). Para melakukan tarian dengan semangat dan sukacita.Adapun jenis permintaan jenis lagu yang akan dibunyikan adalah seperti :permohonan kepada Dewa dan pada ro-roh leluhur agar keluarga suhut yang mengadakan acara diberi keselamatan kesejahteraan, kebahagiaan, dan rezeki yang berlimpah ruah, dan upacara adat yang akan dilaksanakan menjadi sumber berkat bagi suhut dan seluruh keluarga, serta para undangan.Sedangkan gondang terakhir yang dimohonkan adalah gondang hasahatan. Didalam Menari banyak pantangan yang tidak diperbolehkan, seperti tangan sipenari tidak boleh melewati batas setinggi bahu keatas, bila itu dilakukan berarti sipenari sudah siap menantang siapapun dalam bidang ilmu perdukunan, atau adu pencak silat, atau adu tenaga batin. Dll.

Tarian (tor-tor) Batak ada lima gerakan (urdot) 1- Pangurdot (yang termasuk pangurdot dari organ-organ tubuh ialah daun kaki, tumit sampai bahu. 2- Pangeal (yang termasuk pangeal dari organ tubuh adalah Pinggang, tulang punggung sampai daun bahu/ sasap). 3- Pandenggal (yang masuk pandenggal adalah tangan, daun tangan sampai jari-jari tangan). 4- Siangkupna ( yangtermasuk Siangkupna adalah leher,).

Didalam menari setiap penari harus memakai Ulos.

Didalam menari orang Batak mempergunakan alat musik/ Gondang yaitu terdiri dari: Ogung sabangunan terdiri dari 4 ogung. Kalau kurang dari empat ogung maka dianggap tidak lengklap dan bukan Ogung sabangunan dan dianggap lebih lengkap lagi kalau ditambah dengan alat kelima yang dinakan Hesek. Kemudian Tagading terdiri dari 5 buah. Kemudian Sarune (sarunai harus memiliki 5 lobang diatas dan satu dibawah.

Peralatannya cukup sederhan namun kalau dimainkan oleh yang sudah berpengalaman sangat mampu menghipnotis pendengar.

Menari juga dapat menunjukkan sebagai pengejawantahan isi hati saat menghadapi keluarga atau orang tua yang meninggal, tariannnya akan berkat-kata dalam bahasa seni tari tentang dan bagaimana hubungan batin sipenari dengan orang yang meninggal tersebut. Juga Menari dipergunakan oleh kalangan muda mudi menyampai hasrat hatinya dalam bentuka tarian, sering taruian ini dilakukan pada saat bulan Purnama. Kesimpulannya bahwa tarian ini dipergunaka sebagai sarana penyampaian batin baik kepada Roh-roh leluhur dan maupun kepada orang yang dihormati (tamu-tamu) dan disampaikan dalam bentuk tarian menunjukkan rasa hormat.

4- Astronomi,Almanak/ Pertanggalan:

Pembagian Tahun: Awal tahun dimulai/ ditetapkan pada saat Hala pariama (Scorpio) berada ditimur dan Sialasungsang/ bintang na pitu (Orion) disebalah Barat. Keberadaan/ posisi kedua bintang inilah yang dijadikan penetu awal tahun yang biasanya terjadi pada bulan April, oleh karena itu dalam penentuan bulan pertama disetiap tahun adalah bulan April sebagai “sipaha Sada”

Didalam penentuan hari pertama dalam bulan berjalan, orang batak menentukannya seperti Islam yaitu melalui pergerakan bulan. Orang batak menentukan hari pertama dalam bulan mempergunakan alat yang sangat sederhan yaitu Hasumba kain merah) mereka meneropong bulan dipinggir-pinggir danau pada penerbitannya yang pertama. Bulan yang terbit dihari pertama dinamakn “Artia” dan seterusnya sampai kembali lagi terbit diufuk barat yang jika dijumlah, berjumlah 30 haripergerakan bulan dalam 30 hari ini disebut sabulan atau satu bulan . Dan pergerakan bulan ini dihubungkan dengan gerak bintang Scorpio dan Orion yang jika dijumlah ada 12 kali bergerak sampai bintang Scorpio kembali berada di Timur dan Orion berada di Barat makanya jumlah bulan di Batak ada 12 bulan : Dibawah ini adalah Nama-nama Bulan dan Hari.sbb:

5- Nama Bulan :

Nama-nama bulan tersebut adalah: sipaha sada, sipaha dua, sipaha tolu, sipaha opat, sipaha lima, sipaha onom, sipaha pitu, sipaha ualu, sipaha sia, sipaha sampulu, Li sebagai bulan ke sebelas dan , Hurung sebagai bulan keduabelas.

6- Nama Hari :

Nama Hari pada Orang Batak tidak sama dengan Nama-nama Hari Masehi, Jawa dan Arab, Bagi Orang Bartak setiap Hari yang diperhitungkan 30 (tiga puluh) hari, masing-masing mempunyai Nama.

Ke 30 nama-nama Hari Suku Batak:

clip_image003[1]

7- Pembagian Waktu dalam sehari :

Begitu juga di dalampenentuan waktu / Jam , tidak mempergunakan Angka, namun mulai Pukul 6.00 Pagi hingga pukul 6.00 pagi besoknya , masing-masing dinamai:

§ Jam 06.00 - 07.00 – Pagi > Sogot atau Manogot

§ Jam 07.00 – 11.00 - > Pangului.

§ Jam 11.00 – 01.00 Siang > Hos ni ari.

§ Jam 02.00 – 17.00 – Sore > Guling ni ari.

§ Jam 17.00 – 18.00 - > Bot ni ari atau Bot ari.

§ Jam 18.00 – 20.00 -> Urmun ni ari.

§ Jam 20.00 – 23.00 -> Robot borngin.

§ Jam 23.00 – 01.00 -> Tonga borngin

§ Jam 01.00- 03.00 -> Tingki haroro ni panangko.

§ Jam 04.00 – Pagi > Tahuak Manuk.

§ Jam 05.00 – 06.00 - > Manghuling sese.

8- Mata Angin :

Pembagian mata angin dimulai dari letak kepala Pane Nabolon yang pemunculannya dibulan pertama ( sipaha sada) yang biasanya berada ditimur (Purba), maka ekornya berada di Barat laut (manabia).

Panjang Pane Nabolon dari kepala hingga ekor adalah sepanjang setengah lingkaran, oleh karena itu bila kepalanya mengarah kebarat (Pastima) maka ekornya dapat dipastikan mengarah timur (Purba).

Menentukan letak dari Pane Nabolon dapat dilihat dari kilat yang menyambar disore hari atau jika tidak, dapat dilihat dari ekor induk ayam yang sedang mengeram, ekor ayam tersebut sealalu membelakangi Pane Nabolon (patundal Pane).

Pane Nabolon selalu digambarkan dalam parhalaan dalam bentuk boras pati ( cicak). Ada juga yang menggambarkan dengan gambar binatang melata (kaki seribu) dan ada juga berbentuk kala ( scorpio);

Nama mata angin tersebut adalah:

 

clip_image005[1]

 

clip_image007[1]

 

9- Aksara/ Alfabet :

Sebagai bangsa yang besar juga ditentukan sarana komunikasi seperti Aksara, Suku Batak salah satu suku yang memiliki alfabet yaitu Aksara Batak salah satu dari 400 lebih suku bangsa di Indonesia yang memiliki aksara , yang terdiri dari 2 bagian besar:

1. Huruf Induk (ina ni surat) yang terdiri dari 19 huruf dasar (indung surat) 3 ( wa, ya, dan ca) diantaranya dipergunakan dalam bahasa sehari-hari dan memakai huruf tersebut adalah para Imam dan Datu pada zaman dahulu dan Tapanuli selatan (Angkola).Dan 16 huruf huruf lainnya yaitu diantaranya 14 huruf dibaca dengan bunyi fokal “a” dibelakangnya Yaitu sbb: a-ha- ma- na- ra- ta- sa- la- ga- ja- da- ba-nga-i-u. Selebihnya berbunyi „i“ ada 1huruf, dan berbunyi „u“ ada 1huruf.

2. Huruf-huruf bunyi (anak ni surat), seperti mengubah bunyi huruf induk dari bunyi (a menjadi „o, u, i, ng), atau bunyi yang dihentikan masing-masing disebut „siala“ atau „sikora“, „Haborotan“ atau haboruan“, „Haluan, “Hatadingan“,“Hamisaran, “paminggil dan „pangolat.

Akasara Batak ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan, dari baris atas turun kebawah. Dan tidak mengenal huruf Besar. Abjada Batak tidak mempunyai tanda baca dan angka tersendiri, kadang-kadang diambil dari abjad Latin. Kecuali tanda garis penghubung kata yang tidak dapat ditulis habis dan ujung baris yang diseut „pangudut“.

Akasara Batak pada suku-suku Batak ( Toba ,Mandailing/Angkola, Simalungun, Pakpak dan Karo) hampir boleh dikatakan sama pada abjad-abjad tertentu ada perbedaan penulisan yang tidak terlalu signifikan.

clip_image009[1]

Yang termsauk Induk surat Toba (ina surat) adalah ada 19 banyaknya:

Ia na masuk tu Ina ni surat 19 do godangna :

a =clip_image011[1]    nga=clip_image013[1]  ha=clip_image015[2]  la=clip_image017[1]  ka =clip_image015[3]   pa=clip_image019[1]  na=clip_image021[1]    sa=clip_image023[1]  

    ra=clip_image025[1]  da=clip_image026[1] ta=clip_image028[1] ga=clip_image030[1]  ba=clip_image032[1]   ja=clip_image034[1]     wa=clip_image036[1]    ya=clip_image038[1] 

 i =clip_image040[1]    ca =clip_image042[1]  ma =clip_image044[1]   u =clip_image045[1]    

Bersambung .....(4)

Selasa, 31 Maret 2009

AKU TIDAK BERNIAT MENGHIANATI AMANAH

suratLM

Setelah sekian lama saya mencoba mengendalikan/menahan diri untuk tetap memegang amanah dari bapak DR. L.manik sesuai dengan pesan beliau melalui surat(yang pernah saya tampilkan pada tulisan " " ) akhirnya saya putuskan untuk menampilkan gambar Opung Guru Somalaing Pardede, dengan pertimbangan demi kelengkapan Sejarah Batak, karena sepengetahuan saya bahwa cita-cita pak DR. L.Manik adalah membuka tabir perjuangan dan kebesaran suku Batak yang selama ini ditutupi oleh Belanda (dengan memboyong semua dokumen atau pustaha) Orang Batak kenegerinya, baik berupa ilmu perbintangan dan pengobatan dll.


 somalaing.P

inilah gambar asli yang saya terima dari Bapak DR.L.Manik

 

DR.L.Manik adalah seorang tokoh idealis dan sangat mencintai bangsanya (Indonesia) dan Sukunya (Batak), untuk mengetahui sekedarnya tentang DR. MAnik kita baca cuplikan rekannya yang bernama Alfred sbb:
Ketika Alfred ke Jakarta, Manik kemudian studi ke Jerman. Manik berhasil memperoleh gelar doktor filsafat dengan magna cum laude di Universitas Frein. Disertasinya berjudul Das Arabische Tonsysten Im Mittelalter adalah pengkajian kitab-kitab musik para filsuf muslim seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ihwan al-Safa. "Luar biasa, sayang tak banyak orang tahu soal itu," kata Alfred.
Liberty Manik, pria berdarah Batak yang lahir di Sidikalang, Sumatra Utara, meninggal pada 16 September 1993 pada usia 69 tahun. Sepanjang hidupnya, Ia tak hanya menjadi pencipta lagu, ia juga pengajar musik di Institut Seni Indonesia (Yogyakarta) yang dikenal sebagai filolog (ahli bahasa) Batak kuno. Ia melakukan kajian yang mendalam mengenai Gondang, musik khas

selengkapnya buka : http://www.facebook.com/note.php?note_id=39277934100


Kamis, 26 Maret 2009

Batak Dendam tak berujung

Dalihan Natolu 

Suku Batak bukanlah suku bangsa tertutup, jauh sebelum Belanda menguasai Nusantara, Tanah BAtak sudah mengadakan hubungan perdagangan dengan dunia Luar seperti Kerajaan-kerajaan  di Eropah dan Timur tengah juga afrika,serta dari India, yang rutin melakukan hubungan perdagangan sebelum masehi adalah kerajaan dari Afrika yaitu kerajaan Mesir dengan rajanya  Fir’aun demikian juga dari Junani yang kemudian menyusul Portugis , Inggeris dan Belanda. Inilah bukti Bahwa suku Bangsa Batak adalah suku bangsa terbuka dan mudah beradaptasi dengan siapapun.

Begitu juga kehadiran Agama diwilayah suku bangsa Batak, umumnya mereka well come , asal jangan menggagu/ memaksa merobah  keyakinan mereka.salah satu contoh apa yang disebut dan sebar luaskan belakangan ini tentang buku Tuanku Rao yang kontreversial, terlepas dari benar tidaknya namun tidak dipungkiri memang ada penyerangan kaum paderi dari Sumatera barat yang bermazhab Wahabi (Hambali) ketanah Batak (Tapanuli), dengan alasan memerangi kelompok pagan,  Pongkinangolngolan (Tuanku Rao) akan mendapat restu dari Tokoh Ulama  Paderi untuk menyerang Tanah BAtak (Tapanuli), Sedangkan tujuan sebenarnya dari Pongkinangolngolan adalah untuk membalas dendam  kepada pamannya Sisingamangaraja X  yang berada di Bakara. Disinilah letak kontraversinya: Kalau memang tujuan penyerangan Tuanku Rao ketanah Batak toba adalah semata-mata untuk mengIslamkangolongan Pagan (orang-orang Batak yang beragama Sipelebegu), kenapa tidak tuntas pendakwaannya dengan mendidik orang-orang Batak menjadi Islam seperti dilakukannya kepada kelompok adat di Minangkabau. Itu bukanlah karakter pen dakwa dari kelompok Agama umumnya, mereka akan bekerja tuntas dengan meninggalkan guru-guru Agama Islam, lain halnya penyerangan ke Tapanuli selatan (Batak Mandailing) karena tidak ada unsur dendam (politik) maka Mandailing sekitarnya memeluk Islam dengan tuntunan guru-guru Agama Islam yang berpengalaman. yang sengaja diberikan ulama Paderi. (oleh karena itu mazhab yang dianut Minangkabau hampir sama dengan Mazhab di Tapanuli selatan/ Mandailing.

Copy of stem

Kalu kita ikuti alur cerita MOP dalam buku Tuanku Rao, Penyerangan kaum Paderi yang bermazhab Hambali ke Tanah Batak adalah untuk membalas dendam dapat kita terima, karena setah Pongkinangolngolan dapat membunuh dengan memenggal kepala Sisingamangaraja X sang paman, Tuanku rao dengan pasukannya kembali ke Sumatera Barat dengan meninggalkan mayat manusia-manusi Batak bertebaran di darat dan dii danau toba begitu saja, tanpa sedikitpun terlihat ada niat untuk mengislamkan tanah Batak. Walhasil Dendam Pongkinangolngolan alias Tuanku Rao hingga kini masih berbekas pada suku bangsa Batak Toba  

Sementara cukup sekian dahulu sebagai pembukaan mencari solusi dalam bertoleransi disemua aspek dilingkungan suku bangsa Batak khususnya, dan untuk Bangsa Indonesia Umumnya. Dendam Pongkinangongolan alias Tuanku Rao jangan sampai tidak berujung  -THP

Minggu, 01 Maret 2009

TATA CARA PELAKSANAAN ADAT BATAK (2)

Pendahuluan

Harian Kompas pada tanggal 19 Oktober 2000 dengan tulisan seorang warga negara dari salah satu tetangga dekat Sumatera bernama Prof.Bilver Sing yang menetap di Australia sebagai staff Pusat studi Pertahanan dan strategi di Australia National University mengatakan dengan tegas “bahwa ditinjau dari segi Politik, Hukum, Sosial dan Ekonomi dan Budaya sebenarnya negara Indonesia sudah hancur!”

Sungguh tepat apa yang dikatakan pepatah “Semut dipelopak mata tak nampak, Gajah diseberang lautan kelihatan. Apa yang terjadi diluar dari Nusantara sungguh cepat kelihatan dan diketahui bahkan di adopsi, sedangkan bagaimana dan apa yang terjadi di sekitar sendiri tidak diperdulikan, apakah baik atau buruk, turun atau naik, hilang atau berkembang ini tidak menjadi pusat perhatian putra-putra Indonesia yang berpendidikan, apakah dia jebolan universitas ternama di Indonesia atau produk university-university made in Amerika, Inggeris , Jerman, atau eropah lainnya. Yang jelas mereka tidak begitu berminat untuk pembenahan yang nuansa kemasyarakatan atau Budaya Tradisional, pada umumnya mereka berorientasi pada Kekayaan atau kemewahan.

Alangkah aibnya kita bangsa Indonesia dengan penilaian seorang Ilmuawan Asia, apakah pernyataan beliau sebagai tegoran kepada rekan-rekannya Ilmuawan atau sekedar sindiran bagi kaum intelektual Indonesia yang hanya dapat memandang Gajah diseberang lautan. Namu demikian masih cukup banyak anak bangsa Indonesia menyadari keadaan yang melanda bangsa ini.

Kalau ditinjau dari pokok penilaian Bilver yaitu “Politik,Hukum,sosial,ekonomi dan Budaya”, tidak lain menunjukkan kebobrokan Moral yang sangat pada Bangsa Indonesia, yang notabene berlandaskan Pancasila dan asas National spritual, dengan Agama Islam mayoritas diatas 80 0/0 dari jumlah penduduk Indonesia. Apa yang terjadi sebenarnya pada bangsa ini. Apakah masih kita tuding dengan Arus Globalisasi, apa dengan seiring dengan Eforia demokrasi dan reformasi muncul ekses negatif yang menyertainya antara lain kegiatan melecehkan Pancasila dan UUD 1945 baik berupa tulisan di koran-koran, maupun di seminar atau ceramah.Kalau itu masalahnya, maka sama dengan mencoba mengaburkan bahkan menghilangkan Jati diri Bangsa, yang juga merembes kesetiap sendi-sendi masyarakat Indonesia termasuk pada budaya suku-suku yang begitu banyak jumlahnya di bumi Nusantara.

Dan yang sangat memprihatinkan terjadinya gentok-gentokan bahkan mengorban-kan nyawa sesama suku tapi berbeda keyakinan, karena tidak menghayati makna budaya yang ditanamkam leluhur mereka. Yang sangat menonjol pada suku Batak khususnya dansuku-suku di sumatera umumnya adalah dapatnya rukun serta toleran dengan menetrapkan prinsip-prinsip budaya didalam bermasyarakat disetiap suku meskipun berbeda agama. Masalah yang pokok adalah harus kita menyadari dengan dasar apa terbentuknya Republik ini, meskipun pada saat pendeklarasian republik ini mayoritas beragama Islam namun dengan kesadaran yang tinggi para tokoh-tokoh Islam pada saat itu dapat menerima setiap usul kelompok-kelompok minoritas (Nasrani, maluku, Banten, Batak dan lain-lainnya). Oleh karena itu budaya pada setiap suku pada negara kita yang plurastik ini sebenarnya sangat berperan dalam membentuk moral dan kestabilan , disamping faktor-faktor lain.

Seiring dengan masalah itu, maka penyusun berpendapat perlu disusun kembali pada sebuah buku sebagai salah satu penuntun mencari dan mengembalikan Jati diri utamanya bagi suku Batak. Penilaian Bilver terhadap Indonesia, harus dapat menjadi pendorong pembenahan kembali bangsa ini, sebelum terlanjur Total kehancurannya. Tidak ada istilah terlambat, itulah prinsip penyusun Buku ini, atau lebih baik terlambat daripada masa bodoh. Meskipun penyusun tidak dilatar belakangi Ilmu khusus tentang Bataklogi, namun berlandaskan kesadaran dan keyakinan serta keprihatinan, penyusun mencoba mebolak balik lembaran-lembaran halaman Buku dari perpustakaan.

Tidak ada maksud penyusun untuk berpretensi menonjolkan diri ataupun pembenaran mutlak akan isi Buku ini, hanya ingin menggugah para intelektual yang berwawasan luas tentang ke Batakan mau menyisihkan sebagian waktunya menggali kembali jati diri bangsa khususnya Intelektual Batak yang cukup berprestasi. Tolong sapa dan ingatkan penyusun kalau ada kesalah disana sini tetapi jangan saya tegor karena elat dan late , ini bukan membangun, kalau tidak benar katakan dimana yang tidak benar dan tunjuki penyusun demi kebaikan bersama kita orang Batak . Tidak ada Gading yang tidak retak, tidak ada manusia yang lepas dari kesalahan dan kekhilafan atau dengan kata lai tidak ada manusia yang sempurna..

Kritik hanya bisa berlaku apabila ada objek yang dikritik. Jadi buku ini terbuka untuk dikritik demi kesempurnaan dalam rangka menemukan jati diri suku Batak.

Buku ini dimulai dengan sejarah Batak, dan sedikit silsilah Batak hingga empat genarasi, kemudian kepercayaan nenek moyang Batak, serta beberapa budaya Batak yang boleh dikatakan menonjol, dan bebarapa tata acara Adat lengkap dengan dialok-dialoknya.

Dalam hal dialok upacara Adat dalam buku ini, tidaklah menjadi keharusan sama dengan dalam buku ini, namun bisa menjadi pedoman atau gambaran semata,tergantung situasi dan kondisi upacara diadakan.

Mauliate

Penyusun:

DAFTAR ISI ADAT BATAK

 

  1. Pendahuluan hal -1

  2. Daftar isi -----------------------------------------------------

  3. Bab.I- Sekilas sejarah Suku Batak ---------------------

clip_image001Siapakah orang Batak ? ------------------------------------

clip_image001Sebelas dari sub etnis Batak adalah: hal------------------

  1. Bab-II-Kepercayaan atau Agama Leluhur Batak --

clip_image001Legenda Suku Batak --------------------------------------

clip_image001Silsilah -------------------------------------------------------

  1. Baba.III - Kemelut melanda suku Batak -----------

  2. Bab. IV.Kebudayaan Batak – ---------------------------

clip_image001Adat -----------------------------------------------------------

clip_image001Gondang sabangunan ---------------------------------------

clip_image001Seni tari ------------------------------------------------------

clip_image001Astronomi,Alamanak Pertanggalan ----------------------

clip_image001Nama Bulan

clip_image001Nama Hari

clip_image001Pembagian waktu dalam sehari

clip_image001Mata Angin

clip_image001Aksara / Alfabet

clip_image001Seni bangunan

clip_image001Seni Tenun

Bab. V- Adat Batak –Dalihan Na tolu

  1. Kekerabatan/ Partuturan :-38
  2. Implementasi (penerapan) Dalihan Na tolu:-45
  3. Alaman- 45
  4. Sipanganon -46
  5. Parhtaan – 48
  6. Umpama / umpasa- 48
  7. Ulos-49
  8. Filsafat tentang mangulosi.-50
  9. Makna atau arti Ulos -51
  10. Aturan-aturan tentang pemberian ulos – 54
  11. Tata cara pemberian ulos -55
  12. Pemberian ulos kepada anak yangbaru lahir:-55

 

  1. Ulos pada upacara kematian -58
  2. Memberi Ulos Panggabei:-60
  3. Beras (sipir Ni tondi) :-60
  4. Bab. VI- Tata Cara Adat- 61
  5. Tata cara Berbicara (Ruhut-ruhut ni Pangkataion) :-61
  6. Yang perlu diperhatikan:-61
  7. Tentang pengucapan Umpasa;- 64
  8. Filsafat Batak disetiap pekerjaan Adat Batak:-66
  9. Tata cara Perkawinan Dengan adapt Batak -67
  10. Membagi Tudutudu ni sipanganon:-72
  11. Membicarakan Mas Kawin ( Marhata Sinamot):-74
  12. Tata cara Marhata sinamot, - 85
  13. Manikir Lobu:-88
  14. Tonggo raja:-89
  15. Panganon sibuahabuhai:-93
  16. Pesta unjuk – 94
  17. Manulangi- 95
  18. Membagi Jambar-96
  19. Mangulosi -100
  20. Marhata sigabe-gabe- 103
  21. Kelahiran/Melahirkan Anak Pertama -106
  22. Penabalan Marga pada orang yang bukan orang Batak-115
  23. LARI KAWIN-121

Bab I.

Sekila sejarah Suku Batak

Menurut kepercayaan Batak, Pusuk Buhit adalah asal muasal suku Batak, yang kemudian berpencara kesekitar nya hingga ke Aceh, karena tidak memiliki bukti sejarah secara ilmiah maka dianggap sebgai suatu mitos yang disampaikan secara turun temurun. Ada beberapa versi tentang keberadaan suku Batak: menurut

Cunningham dalam bukunya “The postwar migration of the toba bataks to east sumatra”, mengatakan bahwa perpindahan orang Batak bersamaan dengan gelombang perpindahan besar-besaran bangsa Melayu Tua pada sekitar tahun 2000 sebelum masehi.

Sedangkan menurut Harahap dalam bukunya “Perihal Bangsa Batak” mengatakan bahwa nenek moyang orang batak berasal dari utara, yang berpindah kekepulauan Filipina dan berpindah lagi kesulawesiselatan, mereka kemudian berlayar kearah barat versama angin timur di sumatera selatan, disekitar lampung , setelah menyelusuri pantai barat mereka mendarat dipelabuhan Barus sekarang, lalu pindah ke pedalaman dan menetap dikaki gunung Pusuk Buhit ditepi pulau samosir, yang dianggap sebagai tempay asal usul ketutunan Batak, versi lain dari Harhap juga mengatakan :bahwa nenekmoyangBatak berasal dari Hindia muka (india), pindah ke Burma, lalu turun ketanah genting kera di utara Malaysia, dari sana berlayar kearah barat dan mendarat disalah satu atau beberapa tempat dipantai timur sumatera Utara seperti Tanjung Balai dan Batubara, dikabupaten Asahan, serta Pangkalan brandan atau Kuala simpang dikabupaten Aceh Timur, dari tempat-tempat inilah mereka masuk kepedalaman disekitar danau toba, dan ada sebagian menuju Pelabuhan Deli, lalu menyusuri sungai wampu kearah hulu samapai kepegunungan Karo, dan dari sana turun kepinggiran Danau Toba . Dan sebagian berlayar dari Malak menyusuri pantai barat sumatera arah ke utara lalu mendarat di pantai Barus dan Sibolga serta Tapong kanan singkil di Aceh Barat, terus masuk kepedalaman kabupaten Dairi, dan perjalanan dilanjutkan hingga Pusuk Buhit lalu menetap disana.

Namun berdasarkan sejarah yang umun diketahui bahwa si Raja Batak dan rombongannya datang dari Hindia belakang, akibat imigran besar-besaran akibat gejolak di India,diimana kerajan dari utara menyerang kerajaan yang ada diselatan India, kerajaan-kerajaan yang ditundukkan mengungsi kewilayah asia tenggara, terus ke Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni Sianjur Mula Mula, lebih kurang 8 Km arah Barat Pangururan, pinggiran Danau Toba sekarang.Versi lain mengatakan, dari India melalui Barus atau dari Alas Gayo berkelana ke Selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba.

Diperkirakan Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13). Raja Sisingamangaraja XII salah satu keturunan si Raja Batak yang merupakan generasi ke-19 (wafat 1907), maka anaknya bernama si Raja Buntal adalah generasi ke-20. Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof. Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan COLA dari India menyerang SRIWIJAYA yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang TAMIL di Barus. Pada tahun 1275 MOJOPAHIT menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar rahun 1.400 kerajaan NAKUR berkuasa di sebelah timur Danau Toba, Tanah Karo dan sebagian Aceh.

Pengaruh Hindu terhadapa orang Batak sangat jelas kelihatan pada bentuk aksara Batak yang mirip tulisan Awalokitecwara (seperti aksara Jawa Hindu), dan juga mitos-mitos orang Batak.

Dengan memperhatikan tahun tahun dan kejadian di atas diperkirakan :

  • Si Raja Batak adalah seorang aktivis kerajaan dari Timur danau Toba (Simalungun sekarang), dari selatan danau Toba (Portibi) atau dari barat danau Toba (Barus) yang mengungsi ke pedalaman, akibat terjadi konflik dengan orang orang Tamil di Barus.
  • Akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya, Si Raja Batak yang ketika itu pejabat Sriwijaya yang ditempatkan di Portibi, Padang Lawas dan sebelah timur Danau Toba (Simalungun)

Sebutan Raja kepada si Raja Batak diberikan oleh keturunannya karena penghormatan, bukan karena rakyat menghamba kepadanya. Demikian halnya keturunan si Raja Batak seperti Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja Oloan dsb, meskipun tidak memiliki wilayah kerajaan dan rakyat yang diperintah. Selanjutnya menurut buku TAROMBO BORBOR MARSADA anak si Raja Batak ada 3 (tiga) orang yaitu : GURU TETEABULAN, RAJA ISUMBAON dan TOGA LAUT. Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya Marga Marga Batak.

clip_image003

SIAPAKAH ORANG BATAK? :

  1. Batak Toba (Tapanuli) : mendiami Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah mengunakan bahasa Batak Toba.
  2. Batak Simalungun : mendiami Kabupaten Simalungun, sebagian Deli Serdang, dan menggunakan bahasa Batak Simalungun.
  3. Batak Karo : mendiami Kabupaten Karo, Langkat dan sebagian Aceh dan menggunakan bahasa Batak Karo
  4. Batak Mandailing : mendiami Kabupaten Tapanuli Selatan, Wilayah Pakantan dan Muara Sipongi dan menggunakan bahasa Batak Mandailing
  5. Batak Pakpak : mendiami Kabupaten Dairi, dan Aceh Selatan dan menggunakan bahasa Pakpak.
Orang Batak terdiri dari 5 sub etnis yang secara geografis dibagi sbb:

Suku Nias yang mendiami Kabupaten Nias (Pulau Nias) mengatakan bahwa mereka bukanlah orang Batak karena nenek moyang mereka bukan berasal dari Tanah Batak. Namun demikian, Ada yang berpendapat dan berkeyakinan bahwa etnis Batak bukan hanya 5, akan tetapi sesungguhnya ada 11 [sebelas], ke 6 etnis batak tersebut adalah : 1. Batak Pesisir, 2. Batak Angkola, 3. Batak Padang lawas, 4.Batak Melayu, 5.Batak Nias, 6.Batak Alas Gayo.

Sebelas dari sub etnis Batak adalah:

1- Batak TOBA ,di- Kab.Tapanuli Utara, Tengah, Selatan

2- Batak SIMALUNGUN,di- Kab.Simalungun,sebelah Timur danau Toba

3- Batak KARO,di- Kab Karo, Langkat dan sebagian Aceh

4- Batak PAKPAK [Dairi],di- Kab Dairi dan Aceh Selatan

5- Batak MANDAILING,di- Wilayah Pakantan dan Muara Sipongi

6- Batak PASISIR,di- Pantai Barat antara Natal dan Singkil

7- Batak ANGKOLA,di- Wilayah Sipirok dan P. Sidempuan

8- Batak PADANGLAWAS ,di- Wil. Sibuhuan, A.Godang, Rambe, Harahap

9- Batak MELAYU,di- WiL Pesisir Timur Melayu

10- Batak NIAS,di- Kab/Pulau Nias dan sekitarnya

11- Batak ALAS GAYO,di- Aceh Selatan,Tenggara, Tengah

Yang disebut wilayah Tanah Batak atau Tano Batak ialah daerah hunian sekeliling Danau Toba, Sumatera Utara. Seandainya tidak mengikuti pembagian daerah oleh Belanda [politik devide et impera] seperti sekarang, Tanah Batak konon masih sampai di Aceh Selatan dan Aceh Tenggara.

BATAK ALAS GAYO

Beberapa lema/dialek di daerah Alas dan Gayo sangat mirip dengan lemah bahasa Batak. Demikian juga nama Si Alas dan Si Gayo ada dalam legenda dan tarombo Batak. Dalam Tarombo Bona Laklak [tarombo pohon Beringin] yang dilukis cukup indah oleh L.Sitio [1921] nama Si Jau Nias, dan Si Ujung Aceh muncul setara nama Sorimangaraja atau Si Raja Batak I. Disusul kemudian hadirnya Si Gayo dan Si Alas setara dengan Si Raja Siak Dibanua yang memperanakkan Sorimangaraja, kakek dari Si Raja Batak.

BATAK PAKPAK

Sebagian kecil orang Pakpak enggan disebut sebagai orang Batak karena sebutan MPU Bada tidak berkaitan dengan kata OMPU Bada dalam bahasa Batak. Kata MPU menurut etnis Pakpak setara dengan kata MPU yang berasal dari gelar di Jawa [MPU Sendok, MPU Gandring]. Tetapi bahasa Pakpak sangat mirip dengan bahasa Batak, demikian juga falsafah hidupnya.

BATAK KARO

Sub etnis ini juga bersikukuh tidak mau disebut sebagai kelompok etnis Batak. Menurut Prof Dr. Henry G Tarigan [IKIP Negeri Bandung] sudah ada 84 sebutan nama marga orang Karo. Itu sebabnya, orang Karo tidak sepenuhnya berasal dari etnis Batak, karena adanya pendatang kemudian yang bergabung, misalnya marga Colia, Pelawi, Brahmana dsb. Selama ini di Tanah Karo dikenal adanya MERGA SILIMA [5 Marga].

BATAK NIAS

Suku Nias yang mendiami Kabupaten Nias (Pulau Nias) mengatakan bahwa mereka bukanlah orang Batak karena nenek moyang mereka bukan berasal dari Tanah Batak, bukan dari Pusuk Buhit. Masuk akal karena secara geografis pulau Nias terleta agak terpencil di Samudera Indonesia, sebelah barat Sumatera Utara.Namun demikian, mereka mempunyai marga marga seperti halnya orang Batak.

Catatan:
Di antara masyarakat Batak ada yang mungkin setuju bahwa asal usul orang Batak dari negeri yang berbeda, tentu masih sangat masuk akal. Siapa yang bisa menyangkal bahwa Si Raja Batak, antara tahun 950-1250 Masehi muncul di Pusuk Buhit, adalah asli leluhur Orang Batak? Sejak jaman dahulu orang Batak memang perantau ulung. Di Sunatera Utara saja banyak orang Batak yang bermukim di daerah Asahan, Labuhan Batu Sumatera Utara, Dan yang lebih menyolok lagi adalah setelah Belanda membuka perkebunan-perkebunan di sumatera timur sedang di daerah Toba pada saat itu sangat kritis kondisi prekonomian. Mereka yang merantau kedaerah yang mayoritas memeluk Agama Islam banyak menghilangkan atau merobah marganya, karena daerah asalnya mayoritas memeluk keristen Seperti daerah Silindung dan Toba, contohnya: keturunan sibagot ni Pohan yang merantau ke Tapanuli selatan, mereka merobah marganya menjadi Marga Pohan sedang marganya di tempat asalnya adalah Siahaan, Simanjuntak atau Napitupulu dll, dan yang merantau kedaerah Asahan sama sekali mereka menyembunyikan marga mereka, dengan pertimbangan agar dapat diterima masyarakat setempat. Bahkan di daerah Langkat ditemukan penduduk bermarga seperti Gerning, Lambosa, Ujung Pinayungan, Berastempu,Sibayang, Kinayam, Merangin angin, dll yang konon merupakan kelompok marga Malau .Belakangan ini setelah berdirinya organisasi PBI ( Persatuan Batak Islam) secara lambat laun mereka menampakkan marga mereka.Untuk dapat Hidup apapun yang dilakukan bagi Orang Batak Perantau dimana Langit dijujung disitu adalah kampungnya, bagaimana cara akan dilakukan itulah tekad, mereka akan mudah beradaptasi.Pada zaman dahulu Agama monoteis agdalah agama yang tidak dikenal dan boleh dikatakan suatu hal yang baru. Yang menjadi pegangan bagi Orang Batak perantau pada masa itu adalah adat atau budaya jangan sampai hilang (mago)

Banyak literatur literatur tersimpan di Negeri Belanda yang mengungkap bagaimana sesungguhnya pluralisme di Nusantara. Namun dengan kacamata Nasional kita melihat bahwa Indonesia sangat kaya dengan adat dan budaya daerah, salah satunya adalah budaya Batak! Keaneka ragaman ini dipelajari oleh Belanda dengan cermat, sebagai alat melemahkan perjuangan dari kelompok suku atau etnis dan terakhir mengadu domba antar Agama dan antar suku. Ini dapat dilihat dengan membawa putra-putra suku bagian timur Indonesia yang beragama Kristen menyerang pejuang-pejuang bagian Barat Nusantara misalnya Aceh, Jawa dan sumatera, dan sebaliknya untuk melemahkan perjuangan orang-orang bagian timur mempergunakan putra-putra bagian Barat yang beragama Islam. Contoh yang nyata Untuk melemahkan perjuangan kaum Paderi Belandan mempergunakan putra-putra Batak sebagai pasukannya yang diperbantukan. Harus diakui keaneka ragaman mempunyai kelemahan sensitif akan suatu prinsip.

Dan yang harus diakui mengenai sejarah Suku Batak berbeda- beda disetiap Sub suku Batak, terutama dari sudut Mitosnya ataupun legenda-legendanya. Seperti di suku Batak simalungun, ada keyakinan dari orang simalungun bahwa mereka adalah keturunan Majapahit. Dan ada diantara suku Bangsa Batak, bahwa nenek moyang mereka mereka adalah dari India. Namun ini tidak perlu dipersoalkan yang benar adalah semua suku Batak berbudaya sama meskipun ada perbedaan disana sini, disebabkan perobahan jaman dengan masuknya agama-agama Monoteis kewilayah Batak. Dan hal itu sangat memungkinkan karena keberadaan Barus sebagai kota atau pelabuhan terbuka sejak zaman dahulu kala atau dengan kata lain sebelum masehi.

Perbedaan pandangan tentang Sejarah suku Batak menandakan keperdulian setiap orang Batak terhadap sukunya, dan ini adalah suatu kekayaan. Banyak Bukti-bukti sejarah yang membuktikan Barus sebagai wilayah kerajaan Batak menjadi persinggahan pedagang-pedagang baik dari Kerajaan-kerajaan di Nusantara maupun dari kerajaan-kerajaan dari luar untuk keperluan akan Damar atau Kapur Barus dan Kemenyan dan Hasil Bumi lainnya.

Kebesaran nama Barus mengundang dunia luar singgah, Bangsa Asing dari berbagai belahan bumi membuat suatu perobahan langsung atau tidak langsung bagi masyarakat sekitar Barus yang mayoritas suku Batak. Perobahan-perobahan tersebut berdampak positif bagai masyarakat Batak, baik dari segi pengetahuan tentang Alam, sosial dan Hukum.termasuk, tidak ketinggalan pedagang-pedagang dari India pada tahun 1088 berdasarkan Tiang bertulis dari Lobu tua dan juga pedagang dari Arab yang beragama Islam juga mengunjungi Barus untuk mendapatkan Damar. Jadi hampir boleh dikatakan Barus menjadi pusat budaya dan Agama.

clip_image005

Sejarah asal usul nenek moyang Si Raja Batak dari Pusuk Buhit



Bab II.

KEPERCAYAAN ATAU AGAMA LELUHUR BATAK:


Legenda Suku Batak

Agama atau Kepercayaan Orang Batak:

Orang Batak Percaya kepada adanya Tuhan Yang Maha Esa Yang disebut:”Ompu Mulajadi Nabolon”

Dia yang menjadikan apa-apa yang ada, dan tidak kawin dan tidak beranak, dan menjadikan sesuatu hanya dengan ucapan saja, dari tidak ada bisa dijadikan menjadi ada. Karena itu Mulajadi Nabolon disebut juga Ompu Raja Mulamula, Ompu Raja Mulajadi, menunjukkan Dialah permulaan dari yang tidak ada. (kutipan dari Pustaha Batak oleh WM.Hutagalung halaman.2)

Kepercayaan keagamaan Batak asli bertumpu pada kekuatan Roh yang dinamakan Tondi maupun hantu (begu), untuk berhubungan dengan Begu maka diperlukan media perantara yang berbnama Datu (dukun). Dengan Mantera yang dilantunkan seorang datu dapat berhubungan dan berkomunikasi dengan Roh dan begu.

Dan mengyakini bahwa Ompu Mulajadi Na Bolon menciptakan 7 (tujuh) lapis Langit, yang setiap langitnya dihuni oleh roh-roh yang telah mati sesuai dengan amal perbuatan-nya semasa hidup, adapun ketujuh lapis langit itu adalah sebagai berikut:

  1. Langit Pertama:

Dijadikan untuk tempat orang mngerjakan pekerjaan yang terbalik/bertentangan (suhar), Jadi setiap orang yang pekerjaannnya bertentangan (suhar) selama hidupnya maka dia akan di balikkan oleh Mulajadi Nabolon kepalanya kebawah dan kakinya keatas setalh dia mati tetapi itu begunya.

  1. Langit kedua :

Tempat orang-orang kerjanya semasa hidupnya adalah pencuri, dan apa yang dicuri selama hidupnya,akan selalu dipegangnya

  1. Langit Ketiga:

Tempat orang-orang yang suka menambah-nambah omongan (siganjang dila), disinilah tempat begunya, dan lidahnya akan ditarik oleh Mulajsdi Nabolon sampai 10 sampai 100 depa agar terseret-seret sewaktu berjalan.Inilah hukumannya bagi siganjang dila.

  1. Langit keempat :

Tempat orang bunuh diri dan orang yang selalu buat keributan semasa hidupnya, dan pada tempat ini mereka saling membuat keributan, dan bagi orang yang bunuh diri dia akan dipasung dengan besi pasung agar tidak dapat bergerak, oleh karena begu orang bunuh diri tidak dapat siar (nyusup kepada orang hidup).

  1. Langit kelima:

Adalah tempat bagi orang-orang suka menolong orang yang susah dan orang miskin. Nanti disana dia akan berkumpul dengan orang yang pernah dibantunya dan dia akan menerima balasan dari Mulajadi Nabolon berlipat ganda segala apa yang pernag yang baik dibuatnya kerna itu dikatakan orang Batak : “ Ia uli sinuan, uli do gotilon, ia duri sinuan duri do gotilon.”

  1. Langit keenam:

Disini Mula jadi Nabolom menanamkan segala suhatsuhat setiap manusia (menanamkan bentuk/ sifat ). Apabila baik suhatsuhat yang ditanamkan pada manusia di langit keenam (banua ginjang) maka orang itu akan memiliki suhasuhat baik pula di Benua Tonga (bumi), Dan sebaliknya bila buruk maka buruk pula di bumi (banua tonga).

  1. Langit Ketujuh:

Disinilah tempat Mula jadi Nabolon, karena itu adalah langit diatas langt. Kesinilah segala orang-orang yang baik terhormat

Setelah selesai diciptakan Langit maka Mulajadi Nabolon menciptakan; Mata Hari, kemudian Bulan, dan Bintang-bintang, dan bintang-bintang ini dinamai: Bintang Ilala, Sijombut, Sigarani api, Sidongdong, Sialapariama, Sialasungsang, Marihur,

Martimus, Bisnu, Borma, Sori dan lain-lainnya.

Manukmanuk Hulambujati:

Keyakinan orang Batak yang pertama sekali diciptakan Mulajdi Nabolon adalah Manukmanuk Hulambujati, Moncongnya besi, berkuku gelang yang berkilau. Dan besarnya sebesar kunang-kunang besar. Alkisah Manukmanuk Hulambujati memiliki Telur tiga buah yang besarnya jauh lebih besar dari badannya. Oleh karena itu dia menghubungi Leangleang mandi untunguntung na bolon, dan berkata:

“Wahai Leangleang mandi untunguntung na bolon! Kasihanilah aku sampaikanlah dulu keluhanku ini pada Mulajadi Nabolon, saya tidak tahu apa yang harus kubuat telur (tinaru) yang tiga ini, diselimutipun tidak bisa“.

Maka pergilah Leangleang mandi menyampaikan pesan tersebut pada Mulajadi Nabolon :”Ale Ompung, dahanon dibosta do ahu na so marlaok botabota, na so lopa dihata na so lolos di tona, Pesan dari Manukmanuk hulambungjati, bagaimana harus dibuatnya telur (tinaruna) yang tiga itu?“.

Maka Mulajadi Nabolon berkata:

“ Katakanlah biar dierami telurnya itu, aku lebih tahu, tapi bawalah 12 petik makanan (dahanon), itulah yang dimakannya setiap petiknya dimakan setiap bulan, kalau sudah putus muncungnya maka pukulkanlah ketelurnya, itulah sampaikan padanya,“ kataNya pada Leangleang mandi.

Maka kembalilah Leangleang mandi menyampaikan pesan dari Mulajadi Nabolon pada Manukmanuk Hulambajati, setelah mendapat petunjuk maka dilaksanakannya apa yang dipesankan kepadanya melalui Leangleang mandi.

Setelah genap 12 bulan, putus (rumintop) lah moncong manukmanuk hulambungjati, setelah itu maka dipukulkanlah muncungnya itu pada telur yang tiga, maka lahirlah dari setiap telur seperti manusia laki-laki (sesuatu yang tidak bisa terpikir ciptaan Tuhan), dari Telur pertama lahir:

1- Batara Guru:

Batara Guru doli, Batara guru panungkunan, Batara Guru Pandapotan setiap kerajaan, Yang memegang timbangan disetiap yang diciptakannya.

(Mula ni gantang tarajuan, hatian sibola timbang, ninggala sibola tali, tu atas so ra mungkit, tu toru sora monggal, tu lambung so ra teleng)

2- Raja Odapodap

Ini adalah yang mengamati semua segala perbuatan yan diciptakan

Dari telur kedua lahir:

1- Batara Sori (debata Sori) dari telur kedua:

Sori-sori haliapan, Sori-sori habubuhan na pitu hali malim, napitu hali solam, sinolamhon ni ibotona si boru panolaman. Yang bernamakan si boru “Anting Malela” yang tidak bisa bersumpah dan tidak bisa disumpahi, yang tidak boleh mencuri dan tidak dapat kecurian, yang membuat parsorion yaitu sori Gabe, sori Mago atau nasib dari setiap manusia yang dapat kita lihat dari umpa orang batak sebagai berikut: ”Andilo nahinan, handangkadangan ma nuaeng, pinangido nahinan, jaloon ma nuaeng.” Inilah yang mengirim Sisingamangaraja.

2- Tuan Dihurmajati dari telur ketiga:

Ini adalah ompu ni Panenabolon yang menempati

Dari Telur ketiga lahirlah:

1- Balabulan.

Balabulan matabun, Balabulan na rubunan, na rubun di pucuknya, Datu Paratalatal, Datu Parusulusul, Berkudakan Sibaganding Tua, Parpiso Simangan mangeluk, Bertombak dua ujung, dialah mulanya hadatuaon pada manusia.

Catatan: Batara Guru, Batara sori, Balabulan yang sering dikatakan debata na tolu, natolu suhu, natolu harajaon (jadi bukan Mulajadi Nabolon)

2- Raja Padoha atau Partanduk Pitu

Yang bertempat di Banua toru, yang menbuat Gempa (lalo)

Pemberian Nama pada setiap yang menetas tersebut atas petunjuk Mulajadi Na Bolon melalui Leangleang Mandi dan atas perintah Mulajadi Na Bolon,

Setelah ketiga putranya dewasa, ia merasa bahwa mereka memerlukan seorang pendamping wanita. Manukmanuk Hulambujati kembali memohon pada melalui Leangleang Mandi dan Mulajadi Na Bolon mengirimkan 3 wanita cantik :

SIBORU PAREME untuk istri Tuan Batara Guru, dan mendapatkan 2 orang anak laki laki dan 2 orang anak perempuan diberi nama:

  1. TUAN SORI MUHAMMAD,
  2. DATU TANTAN DEBATA GURU MULIA
  3. SIBORU SORBAJATI
  4. SIBORU DEAK PARUJAR.

Anak kedua, Tuan Soripada diberi istri bernama SIBORU PAROROT yang melahirkan anak laki-laki bernama:

  1. TUAN SORIMANGARAJA

sedangkan anak ketiga, Ompu Tuan Mangalabulan, diberi istri bernama SIBORU PANUTURI yang melahirkan:

  1. TUAN DIPAMPAT TINGGI SABULAN.

Dari pasangan Ompu Tuan Soripada-Siboru Parorot, lahir seorang anak laki-laki, namun karena wujudnya seperti kadal, Ompu Tuan Soripada menghadap Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta). "Tidak apa apa, berilah nama SIRAJA ENDA ENDA," kata Mulajadi Na Bolon. Setelah anak-anak mereka dewasa, Ompu Tuan Soripada mendatangi abangnya, Tuan Batara Guru menanyakan bagaimana agar anak-anak mereka dikawinkan.

Batara Guru menanya: "Kawin dengan siapa? Anak perempuan saya mau dikawinkan kepada laki-laki mana?"

Maka dijawab Ompu Soripada dengan penuh kekhawatiran karena anaknya yang ditawarkan adalah berwujud Kadal:"Bagaimana kalau putri abang SIBORU SORBAJATI dikawinkan dengan anak saya Siraja Enda Enda. Mas kawin apapun akan kami penuhi, tetapi syaratnya putri abang yang mendatangi putra saya,".

Akhirnya mereka sepakat. Pada waktu yang ditentukan Siboru Sorbajati mendatangai rumah Siraja Enda Enda dan sebelum masuk, dari luar ia bertanya apakah benar mereka dijodohkan. Siraja Enda Enda mengatakan benar, dan ia sangat gembira atas kedatangan calon istrinya. Dipersilakannya Siboru Sorbajati naik ke rumah. Namun betapa terperanjatnya Siboru Sorbajati karena lelaki calon suaminya itu ternyata berwujud kadal. Dengan perasaan kecewa ia pulang mengadu kepada abangnya Datu Tantan Debata: "Lebih baik saya mati daripada kawin dengan kadal," katanya terisak-isak.

"Jangan begitu adikku," kata Datu Tantan Debata. "Kami semua telah menyetujui bahwa itulah calon suamimu. Mas kawin yang sudah diterima ayah akan kita kembalikan 2 kali lipat jika kau menolak jadi istri Siraja Enda Enda."

Siboru Sorbajati tetap menolak. Namun karena terus-menerus dibujuk, akhirnya hatinya luluh tetapi kepada ayahnya ia minta agar menggelar "gondang" karena ia ingin "manortor" (menari) semalam suntuk. Permintaan itu dipenuhi Tuan Batara Guru. Maka sepanjang malam, Siboru Sorbajati manortor di hadapan keluarganya. Menjelang matahari terbit, tiba-tiba tariannya (tortor) mulai aneh, tiba-tiba ia melompat ke "para-para" dan dari sana ia melompat ke "bonggor" kemudian ke halaman dan yang mengejutkan tubuhnya mendadak tertancap ke dalam tanah dan hilang terkubur!

Keluarga Ompu Tuan Soripada amat terkejut mendengar calon menantunya hilang terkubur dan menuntut agar Keluarga Tuan Batara Guru memberikan putri ke-2 nya, Siboru Deak Parujar untuk Siraja Enda Enda. Sama seperti Siboru Sorbajati, ia menolak keras. "Sorry ya, apa lagi saya," katanya. Namun karena didesak terus, ia akhirnya mengalah tetapi syaratnya orang tuanya harus menggelar "gondang" semalam suntuk karena ia ingin "manortor" juga. Sama dengan kakaknya, menjelang matahari terbit tortornya mulai aneh dan mendadak ia melompat ke halaman dan menghilang ke arah laut di benua tengah (Banua Tonga).

Di tengah laut ia digigit lumba-lumba dan binatang laut lainnya dan ketika burung layang-layang lewat, ia minta bantuan diberikan tanah untuk tempat berpijak. Sayangnya, tanah yang dibawa burung layang-layang hancur karena digoncang NAGA PADOHA. Siboru Deak Parujar menemui Naga Padoha agar tidak menggoncang Banua Tonga. "Ya" katanya. "Sebenarnya aku tidak sengaja, kakiku rematik. Tolonglah sembuhkan." Siboru Deak Parujar berhasil menyembuhkan dan kepada Mulajadi Na Bolon dia meminta alat pemasung untuk memasung Naga Padoha agar tidak mengganggu. Naga Padoha berhasil dipasung hingga ditimbun dengan tanah dan terbenam ke bawah tanah (Banua Toru).

Bila terjadi gempa, itu pertanda Naga Padoha sedang meronta di bawah sana itulah keyakinan orang Batak .

Alkisah, Mulajadi Na Bolon menyuruh Siboru Deak Parujar kembali ke Benua Atas. Tetapi dia memilih tinggal di Banua Tonga (bumi), maka Mulajadi Na Bolon mengutus RAJA ODAP ODAP untuk menjadi suaminya dan mereka tinggal di SIANJUR MULA MULA di kaki gunung Pusuk Buhit. Dari perkawinan mereka lahir 2 anak kembar :

  1. RAJA IHAT MANISIA (laki-laki) dan
  2. BORU ITAM MANISIA (perempuan).

Tidak dijelaskan Raja Ihat Manisia kawin dengan siapa, ia mempunya 3 anak laki laki :

  1. RAJA MIOK MIOK,
  2. PATUNDAL NA BEGU dan
  3. AJI LAPAS LAPAS.

Raja Miok Miok tinggal di Sianjur Mula Mula, karena 2 saudaranya pergi merantau karena mereka berselisih paham.

Raja Miok Miok mempunyai anak laki-laki bernama:

  1. ENGBANUA,

dan 3 cucu dari Engbanua yaitu:

  1. RAJA UJUNG,
  2. RAJA BONANG BONANG dan
  3. RAJA JAU.

Konon Raja Ujung menjadi leluhur orang Aceh dan Raja Jau menjadi leluhur orang Nias. Sedangkan Raja Bonang Bonang (anak ke-2) memiliki anak bernama:

  1. RAJA TANTAN DEBATA,

Dan anak dari Tantan Debata inilah disebut SI RAJA BATAK, Yang menjadi leluhur orang Batak dan berdiam di Sianjur MulaMula di kaki Gunung Pusuk Buhit!

Silsilah/ Tarombo :

Sebagai gambaran singkat cikal baklal Orang Batak digambarkan dalam bentuk schema sebagai berikut:

clip_image011

clip_image012

clip_image013

Alkisah tentang si Raja Batak, yang mempunyai anak dua orang yaitu Guru TateaBulan dan Raja Isumbaon,setelah kedua anaknya itu beranjak dewasa dan kemudian kawin maka kedua anakpun memohon sesuatu untuk bagian Mereka:

”Amang aha do bagisn silehononmu di hami be, paboa anakmu hami?” (wahai Bapak apakah yang akan kau berikan kepada kami ,tanda kami anakmu?)

Raja Batak menyahut pertanyaan kedua anaknya:

”Apa yang ada padaku itulah yang akan kubagikan pada kalian itulah adat, yang akan dibagikan anak adalah milik Bapaknya .”

Kemudian disela kedua anaknya:

” Memang benar bapak tetapi bukan itu saja yang kami mintak, berikanlah kepada kami yang belum pernah kami lihat, dan yang tidak kami ketahui?”

Raja Batak menjawab anaknya:

”Yang kalian mintak itu belum dapat saya penuhi, tetapi marilah sama-sama kita mohonkan kepafda Omputa Mulajadi Nabolon.”

Setelah sepakat akan usul Bapaknya si Raja Batak ,maka merekapun mempersiapkan perlengkapan untuk memohon kepada Ompung Mulajadi Nabolon dengan mencari Ayam Jantan dan betina. Untuk dipersembahkan kepada Mulajadi Nabolon., maka mulailah si Raja Batak berdoa atau membaca mantera-manteranya.

Setelah beberapa lama jawaban doa mereka dijawab oleh Ompung Mulajadi Nabolo dengan mengirimkan dua gulungan terbuat dari tikar, yang masing-masing isinya sebagai berikut: Gulungan pertama berisi surat Agong yang tertulis berupa:

  1. Tentang perdukunan (Hadatuon).
  2. Ilmu tentang hantu (Habeguon.)
  3. Ilmu Pencak silat (Parmonsahon).
  4. Ilmu menghilang, (Pangaliluon)

Gulungan pertama ini diberikan kepada anaknya Guru TateanBulan. Sedangkan Gulungan kedua diberikan kepada anaknya Raja Isumbaon, yang berisi tentang:

1- Kerajaan (Harajaon).

2- Ilmu Hukum (paruhumon)

3- Parumaon.

4- Partiga-tigaon.

5- Paningaon.

clip_image014

clip_image015

Berdasarkan silsilah atau Tarombo Batak maka Si Raja Batak sebagai leluhurnya melalu keturunannya Guru Tatean Bulan dan Raja Isumbaon.Namun menurut versi R Sinaga ada 3 anak dari si Raja Batak yaitu yang ketiga Toga laut yang dikatakannya sebagai leluhur dari orang-orang Nias.

Tuan Sori mangaraja mempunyai tiga isteri;isteri pertama adalah : Nai Ambaton, Nai Rasaon dan Nai Suanon. Keturunan Nai suanon adalah Sorba dibanua Sebagai generasi ke 4 (empat) dari si Raja Batak

Sorba dijulu berdomisili di Pangururan, dan anak kedua Sorba dijae bermukim di Sibisa, uluan sedangkan anak ketiga yang bungsu Sorba dibanua berdomisili di Lumban gorat Balige dan keturnan dari Sorba dibanua adalah SiBagotni pohan sebagai generasi ke 5 (lima) dari si Raja Batak.

Pada Umumnya Orang Tua zaman dahulu selalu menanamkan moral tinggi kepada anak-anaknya dan dipesankan agar ajaran tersebut diajarkan secara turun temurun. Salah satu contoh saya mengutip pesan Raja SiBagot ni pohan kepada anak-anaknya (ada empat orang), sebagai berikut:

”Parjolo ma hudok tu hamu; Ingkon denggan hamu tongtong masi ajarajaran, masianjuanjuan, jala Masihaholongan. Sai Pasiding hamu ma nasa parbadaan, alai eahi hamu ma pardamean. Ai:

  • Metmet bulung ni baja, metmetan do bulung ni banebane;
  • Ndang adong laba ni marbada , alai lehetan do na mardame.

Ikon marsada ni tahi jala saoloan hamu tongtong di ganup siulaon, asa saut na sinangkap ni rohamuna ,

  • Aek godang do aek laut;
  • Dos ni roha do sibahen na saut.

Ingot hamu tongtong adat dohot uhum maradophon angka dongan tubu, Hulahula, boru nang aleale.

  • Sai unang ma lupa horbo sian barana,
  • Sai unang ma peut ulos sian sangkotanna.

Ingkon tigor tongtong uhum dohot pambahenan tu saluhut (ingkon sijujung ni ninggor, sitingkos ni ari)

Ingkon hormat jala pantun hamu maradophon halak.

  • Pantun do hangoluan, tois do hamagoan

Ndang jadi lea roha mamereng na pogos dohot na marsiak bagi, alai ingkon asi do roha mamereng nasida.Ingkon urupan do halak na di bagasan hagogotan manang parmaraan.Ingkon pasangapon do angka natua-tua jala oloan hatana,ai:

  • Tahuak manuk di tanonbara ni ruma,
  • Halak na pasangap natuatua, ido halak na martua.

Kurang lebih begitulah pesan beliau dan masih banyak lagi pesan-pesan terutama bagai mana agar keturunannya jangan lupa kepada Maha Pencipta Ompung Mulajadi Na Bolon. Dan arti pesan-pesan diatas sebagai berikut:

(Yang Pertama saya pesankan pada kalian anak-anakku dan semua keturunan ku:” Haruslah kalian tetap saling mengajari, saling memaafkan, serta saling mengasihi. Harus kalian hindari pertengkaran. Tapi kalian ciptakan lah perdamean.

  • Metmet bulung ni baja, metmetan do bulung ni banebane;
  • Ndang adong laba ni marbada , alai lehetan do na mardame.

Artinya:

Kecik daun baja , lebih kecil daun banebane;

Tidak ada gunanya pertengkar, tetapi lebih baik kalau berdame.

Kalian harus sehati dan seia sekata disetiap ada pekerjaan, agar bisa terwujud apa yang kalian cita-citakan.

  • Aek godang do aek laut;
  • Dos ni roha do sibahen na saut.

Artinya :

Air besar adalah air laut;

Kesepakatan membuat segalanya terjadi.

Kalian harus mengingat tetap akan adat dan hukum(uhum) bagaimana menghadapi dongan tubu, Hulahula, Boru serta Aleale.

  • Sai unang ma lupa horbo sian barana,
  • Sai unang ma peut ulos sian sangkotanna.

Artinya:

Jangans sampai lupa kerbau akan kandangnya;

Jangan sampai lepas Ulos dari sangkutannya.

Jadi harus lurus dan benar hukum(uhum) dan perbuatan dijalankan untuk semuanya.

Harus kalian hormat dan sopan menghadapi orang-orang. Sikap sopan santun adalah jalan kehidupan , dan ceroboh/tidak beradat sumber malapetaka. Tidak boleh kalian hina melihat orang miskin serta orang yang susah, tetapi harus kalian mengasihi mereka, harus dibantu orang didalam kesusahan dan orang yang ditimpa kemalangan.

Kalian harus menghormati Orang tua , serta didenga dan dituruti nasihatnya ai:

  • Tahuak manuk di tanonbara ni ruma,
  • Halak na pasangap natuatua, ido halak na martua.

Artinya:

Berkokok ayam di bawah rumah;

Orang yang menghormati orang tua dialah yang mendapat rahmat.

Kurang lebih begitulah terjemahan dari pesan-pesan dari Raja Bangot Ni Pohan kepada anak dan keturunannya yang menanamkan nilai moral. Dan layak di patuhi.

Kita cukupkan dahulu sampai disini tentang asal muasal dari orang Batak untuk dapat menjadi pedoman dalam memaknai ulasan tentang adat istiadat dihalaman selanjutnya, dan akan lebih muda menyelami tata cara adat yang diuraikan nanti, karena laku tata cara adat tersebut tidak terlepas dari muatan muatan moral yang berintikan saling mengasihi dan menghormati hak-hak yang telah di hukumkan didalam prinsip “Dalihan Na tolu“


Bab.III.

KEMELUT MELANDA SUKU BATAK


Sejarah Batak mencatat bahwa Batak telah mengalami cobaan-cobaan yang sangat berat dan menentukan dalam kesatuan dan keutuhan yang dapat kita bagi dalam 3 priode yaitu :

1- Priode I tahun 1820 – 1821: Orang Padri (beragama Islam) dari Sumatera Barat menyerang tanah Batak yang pepuler dikalangan Batak (tingki ni Pidari). Tentang Perang Paderi ini sangat banyak versinya, salah satu versi yang mengatakan terjadinya penyerangan kaum Paderi menyerang ketanah Batak Toba adalah untuk membalas dendam oleh salah seorang dari clan Sinambela (Pongki Nangolngolan yang bermarga sinambela), yang lain memang adalah strategi yang dilakukan Paderi membendung masuknya Belanda dari Aceh ke Minangkabau melalui Tanah Batak, maka perlu direbut Tanah Batak. Terlepas dari semua versi tersebut, dampak dari penyerangan kaum paderi ketanah Batak sangat luar biasa, Korban manusia tidak terbilang banyaknya hingga tidak sempat menguburkannya dan membuang mayat-mayat tersebut ke Danau Toba hingga korban bertambah akibat epidemi penyakit menular. Disamping itu Rumah dan materi tidak terkecuali jadi sasaran penyerangan tersebut. Pada priode ini boleh dikatakan priode yang sangat menentukan dalam kesatuan Batak . Sebelum terjadinya penyerangan Paderi ke Tanah Batak boleh dikatakan orang Batak dikawasan Sumatera Utara masih bersatu dalam lingkungan Kerajaan dinasti Sisingamangaraja (negeri Toba tua) yang terdiri 3 puak (sub suku bangsa) : 1- Gayo Alas (Aceh tua), 2- Pakpak 3- Toba. Tetapi akibat agresi tentera padri timbullah Impasse (kesulitan yang susah dipecahkan) dalam segala bidang, baik dalam kemasyarakatan maupun dalam kerohanian, Dan ini dimulai dengan gugurnya SisingamangarajaX (ompu Tuan Nabolon) sebagai Maharaja yang dipercayai kesaktiannya dan tidak terkalahkan oleh siapapun karena adalah wakil dari Mulajadi Nabolon di Tanah Batak .

Tujuan Penyerangan ketanah Batak adalah untuk mengembangkan Agama Islam dan menbendung perkembangan Keristen yang berbarengan dengan kedatangan penjajah Belanda. Tetapi karena dilancarkan dengan kekerasan terhadap suatu suku bangsa yang fanatik terhadap kebudayaannya, maka akhirnya gagal, sebaliknya impasse ini kemudian telah menjadi pucuk dicinta ulam tiba bagi penjajah Belanda dan penyebaran ke keristenan sehingga separatisme dan desintegrasi menjadi-jadi ditengah-tengah masyarakat sukubangsa Batak , dimana timbullah puakpuak baru: 1- Simalungun, 2- Dairi, 3- Karo, 4- Angkola-Mandailing dan 5- Batak Melayu. ( dikutip dari Sejarah Batak oleh Batara Sangti hal. 25)

Penyerangan kaum paderi hanya mampu mengislamkan sampai batas sipirok atau sebata Tapanuli selatan, dengan demikian hampir boleh dikatakan semua daerah tapanuli selatan menganut Agama islam, meskipun sebelum penyerangn secara prontal dari tuanku Rao dengan pasukan paderinya ke daerah Batak telah lebih dahulu mubalik-mubalik dari daerah minangkabau memasuki daerah terdekat dengan Minangkabau.

2. Priode kedua ini masuknya Misionari-misionari dari Eropah dan Amerika .

Dimulai dengan Burton dan Ward dari Inggeris tahun diperkirakan pada tahun Priode II Masuknya Missionari-missionari dari Eropah. Dimulai dengan Burton dan Ward dari Inggeris yandiperkirakan 1824, kemudian diusir oleh Orang Batak dan kemudian Lyman dan Munson yang akhirnya dibunuh oleh orang Batak yang tidak berkenan dengan kehadiran mereka ditanah Batak yang kemudian kemudian masuknya Belanda ketanah Batak untuk memotong hubungan anatara pejuang-pejuang Aceh dengan Minangkabau yang terus bergolak, penyekatan yang efisien hanyalah dengan menduduki Tanah Batak, tetapi ditanah Batak pun Belanda menghadapi pejuang-pejuang Batak yang lebih gigih menentang kehadiran Belanda, hal ini dapat terjadi adalah jauh sebelum masuknya Belanda di Aceh, Suku Batak telah mengadakan hubungan dengan orang-orang Aceh, banyak orang Batak yang menuntut ilmu peperangan dan lainnya ke kerajaan Aceh, saat Belanda akan memasukli tanah Batak Aceh mengirimkan beberapa ahli perangnya membantu pejuang-pejuang Batak yang dipimpin Sisingamangaraja ke XII. Seiring masuknya Belanda ketanah Batak kelompok Missionari dari Jerman yaitu Dr.I.L.Nommensen memanfaatkan situasi tersebut untuk melakukan missinya dan berhasil. Nomensen cukup pandai, beliau beradaptasi dengan budaya Batak yang sangat dijunjung tinggi orang Batak, sakit dan penderitaan oleh pasukan Islam melalui pasukan paderi diobati oleh kelembutan Nomensen, dan kemampuan Nomensen mengadakan negoisasi dengan pemerintahan Belanda untuk memposisikan putra-putra Batak yang telah memeluk agama Keristen menjadi pemimpin (jaihutan, demang) didaerah daerah tertentu. Strategi ini sangat didukung oleh Belanda.

Pada tanggal 11 oktober 1833 dikeluarkan komisaris jenderal pemerintahan Hindia Belanda bernomor:310. yang menyatakan resminya dibentuk distrik Batak maka secara juridis Belanda resmi menguasai tanah Batak, bersamaan dengan kekalahan Kaum Paderi, meskipun telah distrik Batak telah menjadi kekuasaan Belanda namun perlawanan Orang Batak masih terus dibawah pimpinan Sisinga mangaraja XII

3- Priode Perang dunia ke 2. Setelah kekalahan Jerman maka sekutu memusatkan kekuatannya melumpuhkan Jepang. Sebelum Jepang menginjak tanah Batak Belanda telah menguasai pemerintahan dan mengatur administrasi di Tanah Batak.Masuknya Jepang di tanah Batak, membuat kekuasaan Belanda pudar dan tersingkir kemudian diganti oleh jepang dengan semboyan “saudara tua“, meskipun mengaku saudara tua bukan berarti sikapnya lebih bersaudara namun sebaliknya Jepang lebih kejam menindas dan memperlakukan orang batak diperlakukan tidak layak sebagai manusia. Orang-orang Batak yang telah didik dan diberi kesempatan belajar oleh Belanda, serta pemuda-pemuda Batak yang latih oleh Jepang didalam kemeliteran mempelopori perlawanan terhadap kemungkaran Jepang.Dan boleh dikatan pada priode ini boleh dikatakan priode pematangan dalam hal berpolitik bagi putra-putra Batak. Yang tertekan dan yang dibesarkan belanda dalam pendidikan bersama-sama bangkit dengan putra-putra Indonesia lainnya untuk mendeklerasikan diri untuk merdeka menjadi satu negara.banyak orang batak yang jadikan romusa.

Tidaklah berlebihan kalau dikatakan ketiga priode ini membuat dinamika kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai budaya berubah, bahkan kestuan orang Batakpun terancam, pengaruh agama Keristen di Batak Toba sangat kuat dan sebaliknya pada Batak Mandailing dan Angkola, Agama Islam sangat dominan. Dengan demikian nilai-nilai budaya dan nilai-nilai religi Batak pun terkontaminasi dengan Agama yang dianut, seperti Batak Toba budaya dan agama leluhur telah di injilisasikan dan Batak Mandailing dan Angkola unsur-unsur keislaman. Namun yang tetap utuh prinsip kekarabatan “Dalihan natolu baik didaerah Batak toba maupun didaerah Mandailing dan Angkola; yaitu di Batak toba disebut :dongan sabutuha, Boru dan Hulahula sedang di Mandailing dan Angkola disebut; Kaha anggi, anak boru dan Mora. Dan tradisi Martarombo atau Martutur menjadi nilai budaya yang melestarikan semangat primordialisme. Jadi kesimpulan dari dampak dari ketiga priode tersebut Bagi kelompok orang Batak yang beragama kristen maka landasan utama perikehidupannya adalah kristen misalnya Batak Toba. Orang Batak yang bergama Islam, seperti Mandailing dan Angkola landasan utama perikehidupannya adalah Islam. Meskipun ada nilai tambah bagi Orang Batak Toba dalam mengamalkan ajaran-ajaran adat istiadat jauh lebih kuat, bahkan dalam situasi tertentu bisa lebih kuat dibandingkan dengan kekristenannya. Dan tidak jarang urusan gereja menjadi tersisih karena kepentingan adat yang mendesak, ini besarkemungkinan karena kemampuan orang Batak toba menyelaraskan prinsip-prinsip adat dengan ajaran injil, seperti penyebutan Ompung atau dewa menjadi Debata dan yang lain-lainnya.

Dan yang menarik untuk diperhatikan beberapa nilai yang paling menonjol pada orang Batak khususnya Batak toba sangat peka terhadap konflik dan Uhum dan kemampuan menyelesaikannya dengan berbagai argumentasi berdasarkan pengamalan mereka terhadap petuah-petuah “Ompung sijolojolo tubu“ oleh karena itu hampir boleh dikatan konflik tidak menjadi aib bagi orang Batak Toba. Selain itu apresiasi (penilaian dan penghargaan) orang Batak terhadap nilai-nilai hukum dengan menelaah suatu ungkapan yang terkenal sebagai berikut:

  • Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;

Togu hata ni uhum toguan hata ni padan

Maksudnya :“walaupun kuat akar bambu, lebih kuat lagi akar ilalang, walaupun kuat keputusan hukum lebih kuat lagi keputusan janji. (ini sebagai versi Batak Toba). Pada orang Batak Mandailing dan angkola yang mayoritas beragama Islam sebagai berikut:

  • Togu urat ni bulu, togu dope urat ni antoladan,

Togu pe hata ni uhum, toguan dope hata ni janji dohot padan.

Artinya : walaupun akar bambu kuat, lebih kuat lagi akar antoladan, walau kuat keputusan hukum, lebih kuat lagi keputusan janji dan ikrar.

Orang Batak hampir boleh dikatakan bergumul dan hidup didalam konflik dalam pengertian positif, karena setiap ada hajat untuk mengadakan suatu acara orang Batak akan mengadak permusyawaratan terlebih dahulu dalam suatu forum formal , dalam forum tersebut sering terjadi perdebatan bahkan terjadi konflik meskipun akhirnya dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Kebiasaan-kebiasaan ini membuat orang Batak menghadapi konflik dapat dengan tenang sambil berpikir mencari jalan keluar.

Kemelut yang dihadapi suku Batak tidak saja membuat perpecahan yang sengaja diciptakan oleh kaum penjajah, tetapi juga mematangkan dan pembelajaran bagi orang-orang Batak untuk dapat menemukan jati dirinya. Tidak ada maksud untuk membuka luka lama atau mendeskritkan suatu kelompok, setidaknya melalui sejarah ataupun pengalaman suku bangsa dan dengan memahaminya bisa menjadi tolak ukur untuk mawas diri. Pada hakikatnya manusia cenderung untuk lupa dan melupakan sejarahnya, tanpa menyadarai banyak hal-hal yang perlu di hayati apa makna kejadian tersebut, dan tantangan apa yang akan dihadapi dan bagaimana menghadapinya. Harus ditanamkan didalam diri setiap Orang Batak atau siapapun bahwa tidak ada istilah terlambat untuk pembenahan diri ataupun menemukan Jati diri.

Kesimpulan :

Sebab-sebab Stagnan penggalian sejarah dan kebudayaan Batak :

satu; Akibat politik Belanda untuk mengurangi kefanatikan dari orang-orang batak, patuh kepada hukum adat, patuh kepada yang dihormati dll, dan mempengaruhi setiap penulis-penulis asing tentang Sejarah Batak, agar mengutamakan kepentingan kolonialisme Belanda.

Kedua; adalah sikap Animisme phobi dari kalangan batak yang telah memasuki Agama monotisme, seperti pihak Keristen, melarang margondang didalam setiap pesta seperti pesta memasuki rumah, acara adat sewaktu orang tua yang meninggal, perkawinan dll., atau dengan kata lain melakukan acara spritual yang ada indikasi mengundang Roh. Demikian juga Islam fanatik yang berpaham Wahabi (hambali), melarang segala aktifitas spritual diluar rukun Islam. Melarang bergaul atau bersilaturahmi dengan orang-orang ynag bukan Islam (kristen) yang dianggap kafir, kelompok Islam fundamental kadang kadang sangat berlebihan didalam penafsirn ajaran-ajaran agama Islam yang akhirnya membuat suatu suku bangsa dapat berpecah bahakan yang satu keluarga karena perbedaan paham mazhab bisa retak, ini bukan lah yang dikehendaki oleh Tuhan Maha Pencipta.

Kedua faktor diatas membuat lambatnya kemajuan orang Batak, masih bergulat disekitar keyakinan berdasarkan Agama yang dianut. Kekaburan sejarah, tidak musatahil orang Batak Gayo Alas tidak mengaku sebagai orang Batak demikian juga Karo,Simalungun, Nias, Mandailing Angkola, sipirok, masing-masing menyebut kelompoknya dengan Orang Batak karo menyebut dirinya suku Karo, suku Mandailing atau selatan, dll tanpa memakai embel-embel Batak.

Memang diatas tadi telah dijelaskan secara sekilas tentang Agama leluhur atau Keparcayaan orang Batak, yang juga salah satu dari bagaian Budaya, Namun selanjutnya akan dibahas adalah tentang tata cara dari bagian Budaya.

Bersambung ......(tata cara pelaksanaan adat batak 3)

Nonton TV

Halaman