Sabtu, 14 Agustus 2010

Tata cara pelaksanaan adat Batak - 7

Makna atau arti dari Ulos:

image

1- Mangiring: Ulos ini mempunyai ragi saling iring beriring, melambangkan kesuburan dan kesepakatan.Ulos ini sering dipakai sebagai parompa (menggendong anak) dengan harapan agar mendapat anak lagi anak yang digendong.

clip_image002[8]

Dan ulos ini juga diberikan kepada boru yang baru berumah tangga dengan harapan sianak segera mempunyai keturunan (anak), cara memakaikannya adalah : pinartalitali atau di sinampesampehon. Juga ulos dapat dipakai sebagai tali-tali (detar) bagi laki-laki dan untuk wanita disebut saong atau tudung. Sedang pada saat paapeho goar ulos ini dapat dipakai sebagai bulang-bulang.

 

2- Mangiring Pinarsunsang: dipakai ulos ini apabila ada dalam keluarga marsisuharan partuturan, sebagai contoh dulunya dia adalah Hula-hula menjadi Parboruan (Pinarhulahula hian gabe pinarboru). Jadi Ulos ini diberikan kepada penganten atau parompa dari anaknya, sewaktu memberikan ulos ini selalu diiringi dengan umpama sbb: “ Rundut biur ni eme mambahen tu porngisna, masijaitan andor nigadong mambahen tu ramosna.”

3- Bintang Maratur : Ulos ini raginya menggambarkan jejeran Bintang yang teratur, Jejaran bintang ini menggambarkan orang yang patuh ,rukun seia sekata dalam ikatan kekeluargaan juga dalam sidangonon (kekayaan)atau hasangapon ( kemuliaan) tidak ada yang timpang. Semuanya berada dalam tingkatan yang rata-rata sama. Leluhur (omputa sijolojolo tubu) pernah berkata bahwa “Ulos siboru Habonaran, Siboru Deak Parujar, mulani panggantion dohot parsorhaon,pargantang pamonori na so boi lobinaso boi hurang. maka ulos itu disebut adalah: Bintang maratur (marotur), Siatur maranak, siatur marboru, siatur hagabeon, siatur hamoraon., bagi orang yang mau memintaknya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

clip_image002[6]

Oleh karena itu didalam menyampaikan ulos ini sering diiringi dengan Kata-kata sbb: “ Ulos bintang marotur do on, asa sai anggiat ma diatur jala dilehon Tuhanta yang Maha pengasih (Debata parasi ro ha) di hamu hagabeon dohot pansamotan, asa ro nian angka i di tingki na lehet, diombas na denggan jala mambahen tua dihamu”. Kalau ulos ini jadi Parompa untuk diuloskan maka dikatakanlah sbb: “ Ia ulos on bintang marotur do, asa sai anggiat ma diparbisuhi Tuhanta Yang Maha Pengasih (debata Parasi ro ha) I hamu manogunogu jala mangatur dakdanakon dohot angka tinodohonna na naeng ro dope, sai gabe jolma na olo aturon ma ibana jala ibana sandiri gabe jolma n malo mangatur angka tinodohonna, tu hadengganon dohot harentaon.”.

 

4- Ulos Godang: kadang disebut juga ini adalah “Sadum- Angkola”, memang diakui Ulos ini sangat bagus dan Cantik harganyapun termasuk mahal dan lebih mahal dari Ragidup meskipun derajatnya lebih rendah dari Ragidup. Ulos ini sering diuloskan kepada anak kesayangan, filsafat dari ulos ini adalah sbb: Agar harapan kepada anak yang diulosi dapat seperti nama ulos tersebut “Ulos Godang” dihari kemudian dan memberi kebaikan atau dapat menyenangkan keluarga dekat dan teman-temannya, kerna perbuatan baiknya itu maka anak tersebut mendapat berkah dari Tuhan.

5- Ulos Ragihotang : Pada zaman dahulu rotan (hotang) adalah tali pengikat sebuah benda yang sangat kuat dan ampuh. Inilah yanglambangkan oleh ragi tersebut, oleh karena itu ulos ini diberikan kepada pengantin disebut sebagai „ulos Hela“. Dengan pemberian ulos ini maka maksudnya adalah agar ikatan batin kedua pengantin dapat teguh dan kokoh seperti rotan. Dan cara memberikannya pada kedua pengantin ial;ah disampirkan dari sebelah kanan pengantin, ujungnya dipegang dengan tangan kanan laki-laki, dan ujung sebelah kiri dipegang tangan kiri pengantin perempuan lalu disatukan ditengah dada seperti terikat. Umumnya ulos ini sering dipergunakan masyarakat Batak karena kharisma yang dimilikinya, Ulos Ragi Hotang yang baik namanya adalah “ Potir si na gok”.

6- Ulos Sitolu (n) Tuho: Disebut sitoluntuho, karena raginya berjejer tiga merupakan tuyho atau tugal (yang biasanya dipakai untuk melonangi tanah menanam benih). Ini adalah ulos yang sesuai dengan simbol Dalihan natolu. Jadi kalau ulos ini diuloskan kepada penganten atau untuk paropa diiringi dengan : “Manat mardongan tubu, elek marboru, somba marhulahula”, dan ditambahi dengan kata-kata lain, atu umpasa yang sesuai dengan tujuan atau kepada siapa dan dalam rangka apa pemberian ulos itu, apakah untuk memberi pasu-pasu agar saling mencintai dan sampai hari tuanya, untuk pasu-pasu Hagabeon, atau untuk pasu-pasu pansamotan. Juga ulos ini diberikan oleh Hulahula kepada pihak boru yang masih terhitung jauh maka disebut “ulos panoropi“

7- Bolean : Ulos ini sering diberikan kepada anak atau keturunanya yang sedang mengalami kemalangan/kesulitan sebagai penghiburan (mangapuli).

8- Sibolang : dulu namanya “siBulang”. Dahulu Ulos ini diberikan sebagai penghormatan kepada orang pantas di hormati karena berjasa. Kalau sekarang diberikan untuk mangulosi Hela maka diberilah namanya “Ulos Pansamot”, dengan harapan kepada yang diulosi, agar dapat menjadi tempat pengaduan. Juga ulos ini sering juga dibuat untuk menghadapi adat kepada yang meninggal, juga dibuat sebagai “tujung” bagi janda atu duda (namabalu). Dengan kata lain ulos ini dapat dipergunakan untuk suka cita dan duka cita, kalau ulos dipergunakan untuk duka cita biasanya dipilih yang warnanya hitam menonjol, sedangkan untuk suka cita diberikan yang berwarna putihnya menonjol. Dalam acara duka cita ulos yang berwarna hitamnya menonjol paling sering dipergunakan untuk “ulos saput“. Sedang dalam perkawinan ulos ini dipergunakan sebagai tutup ni Ampang, dan ulos yang warna putih menonjol digunakan dengan menyandangkan disebut „ulos Pamotari“.

9- Ragidup : Membuat Ulos ini memang sangat sulit dan rumit, dan ulos ini termasuk ulos yang bernilai tinggi atau mempunyai kelas, karena bila diperhatikancorak ulos ini sepertinya hidup, dan ada juga mengatakan ulos ini sebagai “simbol ni ngolu” . oleh karenanya Orang Batak tidak takut miskin asal bisa hidup seperti dikatakan umpasa; “ Agia lapalapa asal ditoru sobuan, agia pe malapalap asal ma di hangoluan; Ai sai naboi do partalaga gabe parjujuon.” Karena ulos ini termasuk istimaewa maka semua bagian-bagian dari ulos ini mempunyai makna seperti:

clip_image002[10]

1- Dua sisinya boleh dikatakan sebagai batas, yang berarti bahwa ada batis didunia ini.

2- Diantara sisi dua itu ada tiga bagian yaitu bagian tengah dari yang tiga itu disebut “badan” sedangkan yang dua lagi bagian ujung (hampir sama bentuknya) disebut “inganan ni na pi narhalak baoa, sedang yang satu lagi adalah inganan ni napinarhalak ni boru.” Badan warnanya “merah pangko birong” bentuknya dan bergaris-garis putih (“honda”, sedangkan nadiparhalak baoa dan nadiparhalak boru sebagai simbol hagabeon mendapat anak dan boru dan didalamnya terdapat juga

3 bunga (Gorga) yang dinamakan : 1- “Antinganting” sebagai simbol kekayaan. 2- “Sigumang” sebagai simbol ketekunan dan kemakmuran , karena Sigumang adalah hewan yang termasuk rajin dan tekun. 3- “Batu ni ansimun” sebagai simbol kesehatan sebagai mana yang sering disebut “ Ansimun sipalambok, tawar sipangalamuni.” Karena Ulos ini adalah ulos yang sangat berarti dan bermakna maka untuk membeli atau mendapatkan ulos ini harus hati hati , semua bentuk ataupun gorga yang ada di ulos itu sangat menentukan oleh karenanya ulos itu haru mempunyai syarta sbb: 1- Harus Terang dan bersih (tio/torang) dilihat ulos tersebut. 2- Harus rapi tenunannya. 3- Harus ganjil bilangan “honda”. 4- harus tepat bilangan “ipon” nya. (yaitu beberapa ragi bunga yang posisinya ada diantara “ Sigumang” dengan “Batu ni ansimun”.

Ragi Idup Silindung.tipe ragi idup dari daerah Silindung (Tarutung).Dalam system kekeluargaan orang Batak. Kelompok satu marga ( dongan tubu) adalah kelompok “sisada raga-raga sisada somba” terhadap kelompok marga lain.

clip_image002[12]

Ada pepatah yang mengatakan “martanda do suhul, marbona sakkalan, marnata do suhut, marnampuna do ugasan”, yang dapat diartikan walaupun pesta itu untuk kepentingan bersama, hak yang punya hajat (suhut sihabolonan) tetap diakui sebagai pengambil kata putus (putusan terakhir).Dengan memakai ulos ini akan jelas kelihatan siapa sebenarnya tuan rumah.

10- Ragidup silinggom : Perbedaan Ragidup Silinggom dengan Ragidup yang biasa adalah warna/bentuknya holom (linggom) karena itu disebut Rgidup siLinggom, Ulos ini diberikan kepada anak yang mempunyai pangkat (kekuasaan) Filsafatnya “ agar dapat berlindung pada orang yang diberikan ulos, bagi orang yang lemah dan miskin, kalau ini dipenuhi oleh yang mendapatkan ulos maka dianya akan mendapat pasu-pasu dari Tuhan. Dan ulos ini jarang dijual belikan kalaupun ingin mendapatkannya harus dipesan kepada partonun. Ulos ini sekarang sering diberikan kepada pejabat yang sedang berkunjung kedaerah.

11- Ulos surisuri togutogu : Ada keistimewaan ulos ini rambu-rambunya tidak dipotong bahkan dia terus bersambung (mardomu), jadi layaknya seperti sarung, karena itu memakaikannya harus disarungkan, oleh karena itu ulos ini sering disebut “ulos Lobulobu” dengan arti biar masuk segala yang baik kerumah orang yang memakainya. Kalau ulos ini dipakai anak gadis untuk menggendong adiknya (ibotonya) sering dia bersenandung sbb: “ Ulos lobulobu, marrambu ho ditongatonga, tibuma ho ito dolidoli, jala mambahen silasni roha.”

image

Tetapi kalau yang digendongnya adalah adiknya perempuan maka senandungnya adalah sbb : “ Ulos lobulobu, marrambu ho ditongatonga, sinok mamodom ho anggi, suman tu boru ni namora.”

12- Ulos Jungkit : Ulos ini disebut ulos na ni dondang atau ulos purada. Purada atau permata merupakan penghias dari ulos tersebut. Dahulu ulos ini dipakai oleh para anak gadis dari keluarga Raja-raja merupakan hoba-hoba yang dipakai hingga batas dada. Juga pada waktu menerima tamu pembesar atau pada waktu kawin. Dahulu Purada atau permata ini dibawa oleh saudagar dari India lewat pelabuhan Barus, akan tetapi pada pertengahan abad XX ini, permata tersebut tidak lagi diperdagangkan maka bentuk permata dari ragi ulos tersebut diganti dengan cara manjungkit benang ulos tersebut. Ragi yang diperoleh hampir mirip dengan kain songket buatan Rejang dan lebong, karena proses pembuatannya yang sangat sulit menyebabkan ulos ini merupakan barang langka sehingga kedudukannya diganti dengan kain songket tersebut. Inilah sebabnya baik didaerah leluhur siraja Batakpun pada waktu acara perkawinan kain songket ini dipakai pengganti ulos na didondang. Ini salah satu bukti bahwa nilai ulos sudah pudar bagi orang Batak

13- Ulos Jugia : Ulos disebut juga “ulos na so ra pipot“ atau Pinunsan. Biasanya disimpan di „parmonang-monang“ sebagai ulos komitan. Menurut kepercayaan lama ulos ini tidak dapat dipakai sembarang orang kecuali orang yang sudah saur matua (mempunyai cucu dari anaknya laki-laki dan anaknya perempuan). Selama masih ada anaknya yang belum kawin atau belum punya keturunan, walaupun telah mempunyai cucu dari anak laki-laki dan anak perempuan biasanya masih sungkan untuk memakai ulos Jugia ini. Hanya orang yang disebut “na gabe” yang berhak memakai ulos ini karena ukuran hagabeon dalam adat Batak bukanlah ditinjau dari kedudukan satau pangkat melainkan keturunannya apakah semua sudah “hot ripe”.Beratnya aturan pemakaian jenis ulos ini menyebabkan ulos ini merupakan benda langka hingga banyak orang yang tidak mengenalnya. Ulos Jugia sering merupakan barang warisan orang tua kepada anaknya karena nilainya sama dengan Sitoppi ( emas yang dipakai oleh isteri Raja-raja pada waktu pesta).

14- Ulos Runjat: Ulos ini biasanya dipakai oleh orang-orang kaya atau orang terpandang sebagai ulos edang-edang (pada waktu pergi keundangan). Ulos ini dapat juga diberikan kepada pengantin oleh keluarga dekat menurut versi (tohonan) Dalihan Na Tolu diluar husuhutan Bolon.

clip_image002[14]

Misalnya oleh Tulang, Pariban dan Paramai.. Juga ulos Runjat ini dapat diberikan pada waktu mangupa-upa atau ulaon si las ni roha(acara gembira). Ulos Ragidup, ulos Jugia, Ragi Hotang,Ulos Sadum, dan ulos Runjat boleh dikatan jenis ulos homitan (simpanan) yang hanya kelihatan pada waktu tertentu saja. Karena ulos ini jarang dipakai , hingga tidak perlu dicuci. Ya cukup dijemur di siang hari pada waktu bulan purnama (tula)

15- Ulos Surisuri Ganjang: Ulos ini bernama ulos surisuri. Karena raginya berbentuk sisir yang memanjang maka dinamakan ulos surisuri ganjang. Dahulu ulos ini dipergunakan sebagai ampe-ampe/hande-hande .

clip_image002[16]

Pada waktu margondang ,ulos ini dipergunakan oleh pihak hulahula untuk manabei pihak borunya. Karena ulos ini sering juga disebut ulos sabe-sabe. Ada keistimewaan ulos ini yaitu ukuran panjang melebihi ulos biasa, dan bisa dipakai sebagai ampe-ampe bila dipakai dua lilit pada bahu kiri dan kanan sehingga kelihatan ssipemakai sepertinya memakai dua ulos.

image

Aturan-aturan tentang pemberian Ulos:

Berbicara adat Batak maka Ulos membawa peranan besar, jadi dalam setiap upacara adat Batak maka Prinsip Dalihan Natolu berlaku dengan demikian Ulos sebagai sarana Hula-hula memberi pasupasunya kepada hasuhutan .

Pihak mana yang memberi Ulos dan kepada siapa diberi Ulos diantara suku Batak ada beberapa perbedaan, seperti didaerah Toba, Simalungun, dan Karo yang memberi Ulos adalah pihak Hula-hula kepada Boru. Sedangkan di Papak (Dairi), Tapanuli Selatan, pihak borulah yang memberikan ulos kepada Hulahula (Moranya), atau Kula-kula.

Meskipun ada perbedaan ini bukan berarti mengurangi nilai dan makna suatu ulos dalam upacara Adat.

Disamping Hula-hula yang dapat memberikan ulos ,juga Dongan tubu, dan pariban yang lebih tua bisa memberi ulos kepada orang yang berhajat. Jadi kesimpulannya yang dapat memberi ulos adalah orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi (dalam urutan kekeluargaan) dari sipenerima Ulos.

Dalam pesta perkawinan umpamanya tat urutan pemberi ulos adalah sebagai berikut:

  1. Orang tua Pengantin perempuan.
  2. Tulang pengantin perempuan, termasuk tulang rorobot.
  3. Dongan sabutuha dari orang tua pengantin perempuan yang dalam hal ini disebut Paidua (pamarai)
  4. Pariban yaitu boru ni hulahula (orangtua penganti perempuan)
  5. terakhir tulang pengantin laki-laki, setelah kepadanya diberikan bahagian dari sinamot yang diterima orang tua pengantin perempuan dari pihak paranak (Titin marakup) yaitu sebanyak 2/3 dari pihak parboru dan 1/3 dari Paranak. Tintin Marakup ini disampaikan oleh orang tua pengantin perempuan kepada tulang sianak (pengantin laki-laki), maka dinamaknlah “Tintin Marakup”.

Tata cara pemberian Ulos:

Menurut tatacara adat Batak setiap orang akan menerima minimum 3 macam ulos, dari mulai lahir sampai akhir hayatnya. Ulos inilah yang disebut ulos na marsituhu yang dapat digolongkan sebagai ulos ni tondi, menurut falsafah Dalihan na tolu.

Adapun perincian ketiga ulos tersebut adalah :

  1. Diterima sewaktu dia dilahirkan disebut ulos “Parompa”.
  2. Diterima pada masuk jenjang perkawinan disebut “Ulos Hela”.
  3. Diterima sewaktu meninggal disebut “Ulos Saput”

Bila seseorang meninggal dalam usia muda atau meninggal tanpa meninggalkan keturunan (mate hadiaranna) maka kepadanya diberikan ulos yang disebut “Ulos par olang-olangan”

Bila meninggal dan meninggalkan anak masih kecil-kecil (sapsap mar dum), bila laki-laki disebut “Matipul Ulu”, bila perempuan disebut “Marompas tataring”,maka kepadanya diberi ulos Saput.

Bila meninggal sari/saur matua maka dia mendapat “Ulos Panggabei” yang diterima dari semua hulahula , baikhulahula sendiri maupun hulahula ni anak serta hulahula dari cucu. Biasanya ulos panggabei ini diterima oleh seluruh turunannya. Pada saat seperti inilah berjalan ulos “Jugia”, dan ulos jugia ini diberikan kepada orangtua yang turunannya belum ada yang meninggal (martilaha matua).

I- Pemberian ulos kepada anak yang baru lahir:

Bila anak lahir, ada dua hal yang perlu diperhatikan :

1- apakah anak yang lahir tersebut anak sulung atau tidak;

2- Apakah anak tersebut anak sulung dari seorang anak sulung dari satu keluarga?“

Pada point pertama , bila anak tersebut adalah anak sulung dari seorang Ayah yang bukan anak sulung maka yang menamakan nama (mampe goar) cukup orang tuanya saja. Tetapi pada point kedua yang lahir itu adalah anak sulung dari seorang Ayah sulung pula pada satu keluarga maka yang bmemberi nama (mampe goar) adalah Ayahnya sendiri dan kakeknya. ( amani si.... dan Ompu ni......).

Perlu diperhatikan pada gelar ompu......, Bila gelar tersebut tidak mempunyai kata sisipan „Si“ maka gelar yang diperoleh itu adalah dari anak sulung perempuan (ompu bao). Dan sebaliknya pabila mendapatan sisipan „Si“ menjadi Ompu si...., maka berarti gelar ompu tersebut berasal dari anak sulung laki-laki (ompu suhut).

Untuk point pertama tadi, pihak hulahula hanya menyediakan 2 buah ulos yaitu 1- ulos Parompa untuk sianak 2- Ulos Pargomgom mampe goar untk Ayahnya.Untuk si anak sebagai parompa dapat diberikan ulos Mangiring, sedangkan untuk Ayahnya diberikan ulos Suri-suri ganjang.

Untuk point kedua, pihak Hulahula harus menyediakan ulos sebanyak 3 buah, yaitu 1- ulos Parompa untuk sianak, 2- ulos Pargomgom untuk si Ayah, 3- Ulos Sitolutruho sebgai bulang untuk ompungnya.

Seiring dengan pemberian ulos tersebut , maka kata-kata yang diucapkan sebagai berikut( untuk anak yangbaru lahir):

“Ucok, sadarion nunga pinuka goarmu, sai anggiat ma goar mi goar marsarak, goar na mura jou-jou on, hipas-hipas ho mamboan. Dison pasahaton nami ma tu ho ulos pangiring, asa mangiring anak dohot boru ho sian on tu joloan on, Horas ma“.

(artinya: Ucok, hari ini sudah ditabalkan namamu, semoga namamu itu nama yang terkenal dan mudah di sebu-sebut, semoga kau sehat-sehat membawa namamu itu, disini kami sampaikan untukmu satu ulos pangiring, agar membawa anak dan boru kau pada waktu yang akan datang, Horasma)

Sedangkan kata-kata untuk si Ayah dan Ibunya sebagai berikut:

“Di hamu hela/boru nami, mulai sadarion marbonsir naung pinuka goar ni buha baju muna, sadarion mulai mampe goar ni buha baju muna, sadarion mulai mampe ma goar dihamu mar amni dohot inani…., dison pasahatan nami ma tu hamu ulos suri suri ganjang, asa ganjang umurmu mamboan goar panggoari ni pahompu i. Hata ni umpama ma dohonon nami;

(artinya: Bagi kalian Menantu dan boru kami, mulai sekarang sehubungan dengan ditabalkan nama anak pertama kalian, mulai sekarang kalian ditabalkan dengan nama anak kalian tersebut menjadi amani…. Dan ina ni…..; disini kami sampaikan satu ulos suri-suri ganjang, agar panjang umur kalian membawa nama cucu tersebut, seperti kata umpasa kami katakan)

§ Tubu ma hariara, diatsa nitorna di ginjang, lehetma I boroytan ni horbo siopat pusoran.

Mantak goar sijou-jou on mai, hipasjala mariang, goar na mura jouon, dirgak bohi mamboan.

Kata-kata yang diucapkan kepada sikakek (ompung):

“Di hamu lae dohot ito, dibagasan sadarion ditonga ni jabu na marsangap namartua on, ima jabu sigomgom pangisi na on marlas ni roha hita, ala nunga jumpang na niluluan, tarida na dijalahan. Mula sadarion mampe goar do hamu lae, ito , marompuni... ala marbonsir sian goar ni pahompunta na ta pungka sadarion. Hupasahat hami ma tu hamu ulos ragi idup songon patuduhon balga ni roha nami. Hata ni umpasa do honon nami dihamu:

(artinya: Bagi kalian lae dan ito, pada hari ini ditengah rumah na marsangap na martua ini, yaitu rumah yang melindungi penghuni yang sedang bersukacita karena kita telah menemui yang dicari , dan nampak yang dicari. Mulai sekarang kalian menyandang nama Marompu…. Sehubungan dengan nama cucu kita yang kita tabalkan sekarang. Kami sampaikanlah satu ulos ragi idup sebagai menunjukkan senang hati kami . seperti kata umpasa kami katakan pada kalian)

§ Andor hadumpang ma togu-togu ni lobu;

Saur matua ma hamu lae ito, mamboan goar I huhut mangiring-iring pahompu.

II- Tata cara pemberian Ulos pada saat perkawinan:

image

Dalam upacara perkawinan ,pihak hulahula harus menyediakan ulos si tot ni pansa yaitu:

1- Ulos marjabu (hela dohot boru)

2- Ulos pansamot/gomgom untuk orang tua pengantin Laki-laki.

3- Ulos Pamarai diberikan kepada saudara yang lebih tua dari pengantin laki-laki atau saudara kandung Ayah.

4- Ulos Simolohon diberikan kepada iboto pengantin laki-laki atau bila belum ada yang menikah iboto dari Ayah.

Ulos yang tersebut diatas disebut adalah ulos yang paling minimal harus disediakan oleh hula-hula (orang tyua pengantin perempauan).

Adapun ulos tutup ni ampang diterima oleh boru diampuan hanya bila perkawinan tersebut dilakukan ditempat pihak keluarga perempuan (dialap jual). Bila perkawinan tersebut dilaksanakan ditempat keluarga laki-laki (ditaruhon jual) ulos tutup ni ampang tidak diberikan.

Sering kita lihat banyak ulos yang diberikan kepada pengantin oleh keluarja dekat, dahulu ulos inilah yang disebut ragi-ragi ni sinamot. Biasanya yang mendapat ragi ni sinamot (menerima sebahagian dari sinamot) memberi ulos sebagian imbalannya, dalam umpama disebut: “Malo manapol,ingkon mananggal”, Umpasa ini mengandung pengertian, orang Batak itu tidak mau terutang adat, tetapi dengan adanya istilah rambu pinudun yang dimaksud kan semula untuk mempersingkat waktu, berakibat kaburnya, siapa penerima gologoli dari ragi-ragi ni sinamot. Ini berakibat timbulnya kedudukan yang tidak sepatutnya (margoli-goli). Maksudnya untuk membalas undangan pesta adat yang diberikan kepada ale-ale (umum), kadang-kadang disamping memberi tumpak/kado bahkan para undangan memberi ulos atau dengan istilah Ulos Holong. Sedangkan Istilah Ulos Holong sebenarnya adalah diluar prinsip “Dalihan Na Tolu”.

Cara pemberian ulos:

Ulos Ragihotang telah dipersiapkan Hulahula (orang tua pengantin perempuan) untuk diberikan kepada pengantin yang disebut Ulos Hela (ulos marjabu).

clip_image002[18]

Tetapi apabila orang tua pihak perempuan diakili oleh keluarga dekat maka dia berhak memberikan ulos tersebut kepada pengantin. Dan sebaliknya apabila Orang tua laki-laki yang diwakili maka ulos pansamaot tersebut harus diserahkan dala keadaan terlipat, sedang ulos Pargomgom (untuk pangamai) dapat diserahkan secara biasa. Biasanya pada acara demikian pihak Hula-hula harus mempersiapkan ulos sebanyak 20 (dua puluh) ulos untuk ulos Pansamot dan ulos Pargomgom.

Sedangkan kata-kata yang diaturkan oleh Hulahula adalah sebagai berikut:

”Hupasahat hami dison sada ulos tu hamu amang hela dohot tu ho borungku, sada ulos herbang na ganjang, hapal jala bidang. Taringot tu ganjang na, tujuan na sai tu ganjang na ma antong umurmu songon ni dok ni umpasa:

(artinya: kami sampaikan disini untuk kalian menantu kami serta untuk kau boruku satu ulos yang lebar dan panjang, tebal serta besar. Mengingat panjangnya agar panjang umur kalian seperti yang dikatakan umpasa)

  • Ni umpat padang togu, mangihut simar bulu-bulu;

Tu lelengna hamu mangolu, rodi na sarsar uban di ulu.

Taringot dihapalna, tujuanna sai tu hapal ma holong ni roha di hamu na nadua songon nidok ni umpama:

(artinya: mengingat tebalnya, tujuannya agar tebal rasa cinta mencintai pada kalian seperti yang dikatakan umpasa)

  • Mar siamin aminan ma hamu, songon lampak ni gaol;

Marsitungkol tungkolan songon suhat di robean,

Ia mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru,

Tongon ma hamu sahata saoloan

Taringot tu bidang na on natujuanna sai tubuan tampuk ma hamu sian asi ni rohani Tuhanta songon nidok ni umpasa:

(artinya: mengingat lebarnya bermaksud semoga kalian melahirkan keturunan berkat kasih dari Tuhanseperti yang dikatakan umpasa)

  • Situmbur ni pakkat, tu situmbur ni hotang;

Tusi hamu mangalangka, disi ma hamu dapotan.

  • Binanga ni sihombing ma, binongka di tara bunga;

Tu sanggar ma amporik, tu lubang ma satua,

Sai siur ma na pinahan, gabe na ni ula.

Kemudian disandangkan ulos tersebut kekedua pengantin, setelah selesai pemberian ulo maka dijemputlah sedikit beras (boras sipir ni tondi) ditaburkan kepada umum sambil menyerukan Horas 3 kali.

Kemudian menyusul pemberi ulos kepada orang tua pengantin laki-laki atau wakilnya. Umpasa berikut sering disampaikan seiring dengan pemberian ulos:

“Jongjong do hami dison lae , ito pasahathon sada ulos na margoar ulos pansamot tu hamu siala naung hujalo hami sinamotmu, marbonsir diulaonta sadarion. Jala laos on ma ito lau ulos pargomgom asa mulai sadarion, gomgomonmu ma anakmu dohot parumaenmu.Songon nidok ni umpasa ma:

(artinya: Kami berdiri disini lae, ito untuk menyampaikan satu ulos yang bernama ulos pansamot untuk kalian karena kami telah menerima sinamot/mas kawin kalian, sehubungan dengan acara kita hari ini. Jadi inilah ito ulos panggomgom agar mulai sekarang kau ayomi anakmu serta menantumu seperti apa yang dikatakan umpasa:)

  • Manginsir ma sidohar, diuma ni palipi;

Tudeak na ma hamu marpinompar, jala bagasmu sitorop pangisi.

Songon panutup ito:

(artinya: sebagai penutup ito:)

  • Sahat sahat ni solu ma sahat tu bontean;

Nunga saut tu parhorasan, sahat tu panggabean.

Sesudah itu berjalanlah pemberi ulos (sitot ni Pansa) kepada pamarai dan simolohon. Pemberian ulos ini biasanya diwakilkan kepada suhut paidua.

Setelah ulos-ulos lainnya berjalan maka sebagai penutup adalah pemberian ulos dari tulang laki-laki di sebut Ulos panggabei. Ini dilaksanakan setelah acara pemberian Tintin marangkup.

III- Ulos pada upacara kematian

image

Ulos yang diserahkan pada waktu meninggal, Apabila seseorang meninggal, seperti dikatakan tadi inilah yang terakhir dia menerima ulos dari Hulahulanya.

Tingkat kematian menentukan jenis ulos yang diberikan. Jika seseorang meninggal muda maka ulos yang diberikan dinamai ulos „Parolang-olangan“ dan biasanya dari jenis parompa . Dan bila yang meninggal adalah telah berkeluarga (matipul ulu/ marompas tataring), maka ulos yang diserahkan pada orang yang meninggal adalah „Ulos Saput“, dan pada isterinya/jandanya diberikan „Ulos Tujung“.. Bila yang meninggal saur atau sari matua maka kepadanya diberikan „Ulos Panggabei“.

Tentang Ulos Saput dan Tujung perlu dijelasjkan tentang pemberiannya. Menurut para orang tua, yang memeberikan saput ialah pihak Tulang sebagai bukti bahwa tulang masih tetap ada hubungannya dengan berenya. Sedang Ulos Tujung diberikan oleh pihak Hula-hula .Ini penting agar tidak terjadi kesalahan.

Tata cara pemberiannya:

Bila yang meninggal seorang anak (belum berkeluarga) maka tidak ada acara pemberian sapaut. Bila yang meninggal adalah orang yang telah berkeluarga maka pihak pihak hula-hula mempersiapkan ulos Tujung dan Pihak Tulang menyediakan Ulos Saput, untuk diserahkan, seiring dengan pemberian ulos tersebut maka pihak Tulang memberi ulos Saput dari Tulang menyerahkannya dengan kata-kata:

“Dison bere hupasahat hami dope sada ulos tu ho songon saput ni dagingmu, ulos parpudi laho manopot sambulom. Songon tanda do on na dohot do hami mar habot ni roha di halalaom. Pabulus ma roham, topot ma ingananmu rap dohot Tuhanta na patulus pardalanmu”.

(artinya: Disisni bere kami sampaikan lagi sebuah ulos untuk kamu sebagai pembalut badanmu, ulos terakhir untuk menemui tanah asalmu. Ini sebagai tanda menunjukkan bahwa kami ikut berduka cita atas keberangkatanmu. Ikhlaskanlah, dan pergilah kau menemui Tuhanmu)

Kemudian pihak hulahula memeberikan tujung:

“Sadarion (ito/hela) pasahaton nami do tuho ulos tujung. Boha bahenon ito/hela, nunga songon i huroha bagian mu, marbahir siubeonmu, sambor nipim mabalu ho. Alani I unduk ma panailim marnida halak, patoru ma dirim maringot Tuhan, songon nidok ni umpasa ma dohonon nami:

(artinya: Hari ini ito/hela kami sampaikanlah kepadamu Ulos Tujung. Apa yang harus dikatakan lagi ito/hela sudah harus begitu nasibmu, marbahir siubeonmu, sambor nipim kau menjadi janda/duda. Oleh karena itu tunduklah pandangan mu melihat orang, dan rendahkan lah hatimu mengingat Tuhan)

  • Hotang binebe-bebe, hotang punulos-pulos;

Unang iba mandele, ai godang do tudos-tudos.

Setelah beberapa hari berselang maka dilanjutkan dengan upacara mengungkap tujung yang dilakukan oleh pihak Hula-hula. Mengenai waktunya tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

Hulahula menyediakan beras dipiring, air bersih untuk mencuci muka dan air puti satu gelas, Acara dibuat pada waktu pagi (parnakok ni mataniari). Kata-kata untk mengiringi acara tersebut adalah:

”Sadarion ungkapon nami ma tujung on sian simajujungmu, asa ungkap na ari matiur, ungkap silas niroha tu hamu di joloanon, husuapi ma dainang/ helangku asa bolong sude ilu ilum, na mambahen golap panailian.

(artinya: Hari ini kami buka tujung ini dari kepala kamu, agar terbuka hari yang cerah, membuka kesenangan pada masa-masa yang akan datang, saya cuci mukamu ito/hela agar terbuang semua kesedihanmu yang membuat gelap penglihatanmu.)

  • Sai bagot na ma dungdung ma tu pilopilo na marajar;

Sai mago ma na lungun tu joloanon, ro ma na jagar.

Dison muse aek sitiotio, tio inum dainang/ laengku ma on, sai tio ma panggabean tio parhorasan di hamu tu joloanon. Huhut dison boras sipir ni tondi, sai pir ma nang tondim.

( artinya: Ini ada air yang sangat jernih, jernih diminum oleh ito/lae, agar terang panggabean, terang parhorasan bagi kalian dihari mendatang. Serta disini ada beras spir ni tondi agar kuat tondimu.)

  • Martantan ma baringin, marurat jabi-jabi

Horas ma tondi madingin, tumpakon ni Mulajadi.

Beras kemudian dijemput lalu ditaburkan diatas kepala sebanyak tiga kali. Biasanya seluruh anak yang ditinggalkan almarhumpun dicuci mukanya dan ditaburkanberas dikepalanya.

Dahulu kepada sipemberi ulos biasanya diberikan piso-piso sebagai panggarar adat. Sekarang ini sering diganti dengan uang.

IV- Memberi Ulos Panggabei:

Bila seorang tua yang sari atau atau saur matua meninggal, maka seluruh hulahula akan memberikan ulos panggabei. Dan biasanya ulos ini tidak lagi diberikan kepada yang meninggal akan tetapi kepada seluruh turunannya (anak, pahompu, cicit).

Kata-kaya yang mengiringi pemberian ulos adalah sebagai berikut:

“Di hamu pomparan ni lae nami (amang boru) on. Dison hupasahat hami tu hamu sada ulos panggabei. Ulos on ulos panggabei,sai mangulosipanggabean ma on, mangulosi parhorasan, mangulosi daging dohot tondimu, hamu sude pomparan ni lae/amangboru on. Horas ma dihita sude..”

(artinya: Untuk kalian semua keturunan lae/ amang boru kam, idisini kami sampaikan satu ulos panggabei. Ulos ini ulos panggabei, agar mangulosi panggabean bagi kalian, mangulosi parhorasan, dan mangulosi badan dan tondi kaliansemua keturunan lae/amang boru ini, horas bagi kita semua.)

Biasanya ulos ini jumlahnya sesuai dengan urutan hulahula mulai dari hulahula, bona tulang, bona ni ari, dan seluruh hulahula anaknya maupun hulahula cucunya.

Begitulah kurang lebih tentang Ulos dengan filsafat hidup yang terkandung didalamnya.

Beras (sipir Ni tondi) :

image

Sebagai bahan pokok sehingga beras dianggap sebagai bahan sumber kehidupan yang sangat penting, oleh karena itu Beras dianggap memiliki kekuatan magis memberikan kehidupan bagi manusia, itulah sebabnya harus dijaga dan diurus dengan baik, tidak boleh dbuang sembarangan dan harus disimpan ditempat khusus, karena itulah Beras dibuat sebagai simbol pemberian atau mengukuhkan tondi ”Sipir ni tondi”, (penguat jiwadan roh) yang bermakna jauh dari gangguan roh-roh jahat. Beras umumnya diberikan oleh pihak Hulahu pada borunya.

Tata cara pelaksanaan adat Batak - 6

III-Parhataan :

Dalam setiap upacara adat, betutur kata mempunyai persyaratan tertentu, tidak boleh asal bicara, kasar unsur marah,menyindir menyinggung perasaan, jadi harus wajar tepat dan pantas, tulus, dan kekeluargaan. Karena ada keyakinan orang Batak kalau berbicara dengan perkataan buruk akan mendapat dampak buruk pula dan kehancuran dan dan sebaliknya berkata baik akan mendapat yang baik dan keberuntungan.Oleh karena itu didalam parhataan selalu diselipkan peribahasa atau perumpamaan yang keindahan dan nilai-nilai moralnya sangat menentukan kesopansantunan didalam setiap berbicara. Peranan Raja parhata (juru bicara) yang mempunyai kemampuan bertutur kata yang baik sangatlah penting agar terhindar dari dampak negatif.

IV- Umpasa dan Umpama :

Hampir boleh dikatakan disetiap berbicara tentang budaya Batak, Umpasa berperanan besar, suatu bentuk puisi yang bernafaskan pemberian berkat (hata pasu-pasu), jadi suatu permohonan kepada yang Maha Kuasa agar kandungan makna rangkaian klimat tersebut benar-benar dapat terwujud dan menjadi kenyataan nikmat yang dapat dirasakan oleh orang yang dituju sesuai dengan falsafa dan kepercayaan Orang Batak.

Umpasa bukan saja hanya sekedar puisi berpantun, yang dibuat orang karena suatu keahlian semata-mata dan tercipta seketika pada saat kita diberi kesempatan memperoleh jambar hata, namun Umpasa tercipta melalui suatu kejadian yang kemudian diambil hikmahnya dengan penuh sakral sejalan dengan alam pikiran dan falsafah orang Batak.

Oleh karena Umpasa tercipta berdasarkan pengalaman pada ompu sijolojolo tubu, maka isi selalu berdasarkan perumpamaan alam ketika itu. Memamng sekarang sering dimasukkan unsur-unsur modern dengan mengganti kata-kata yang dikenal saat sekarang. Baiknya demi menjaga ke sakralan dan keindahan umpasa sebaiknya kita pertahankan Umpasa yang dibuat oleh pendahulu (ompu sijolojolo tubu. Tidak masalah umpasa tersebut bolak balik atau sering diucapkan, yang penting makna dan tujuannya yang perlu dikhayati dan di resapi.

Umpasa di ucapkan setelah inti masalah di utarakan, untuk menekankan bahwa inti kata-kata yang diutarakannya itu layak dan didukung oleh ompu sijolojolo tubu dalam bentuk Umpasa yang dibuat mereka.

Adapun perbedaan Umpasa dengan Umpama adalah :

Umpasa adalah sebagai Tamsil berbentuk pantun dua atau empat baris: Baris pertama sebagai sampiran dan baris kedua asebagai isi, mis:

Ø Landit jala porhot ni simargalagala;

Ø Hansit jala ngotngot naung adong gabe soada.

Sedang kan Umpama adalah: perumpamaan atau peribahasa . sebgai contoh :

Ø Siganda sigandua, tu pusuk ni singgolom;

Ø Nasada gabe dua, utang ni sipahilolong.

Jadi perbedaan antara Umpasa dengan Umpama hanya perbrdaan makna sakral, Umpasa lebih dipergunakan memberi pasupasu.

V-Ulos:

image

Adalah suatu kain tenun taradisional Batak, dengan bermacam corak dan masing-masing mempunyai nama dan makna serta fungsi yang berbeda pula. Umumnya ini diberikan oleh pihak hulahula kepada borunya. Karena Ulos ini memiliki makna religi maka pembuatannya mempunyai persyaratan religi pula, didalam pemberian pasu-pasu oleh hula-hula kepada boru seiring dengan memberi ulos, orang Batak yakin ulos memiliki nilai-nilai sakral itulah sebabnya pihak boru yang mendapat ulos dari hulahulanya merasa mendapat restu (pasupasu) yang dapat memberikan berkat kebahagiaan hidup bagi penerimanya.

Hingga sekarang tradisi memakai ulos masih dapat kita lihat terutama pada acara-acara adat Batak, yang sering dipakai adalah seperti ulos Jugia, Ragi hotang ragi dup, sadum, dan tidak semua ulos dapat dipakai sehari-hari.

Ulos dalam proses pembuatannya, terbuat dari bahan yang sama yaitu benang yang dipintal dari kapas. Dan yang membedakan sebuah ulos adalah proses pembuatan nya yang dapat merupakan ukuran dalam penentuan nilai sebuah ulos

Sedangkan pemberian warna dasar pada sebuah ulos adalah dari sejenis tumbuhan Nila (salaon) yang dimasukkan didalam sebuah periuk tanah yang telah diisi air. Tumbuhan ini direndam (digon-gon) berhari-hari, sampai getahnya keluar, lalu diperas dan ampasnya dibuang.Hasilnya ialah sebuah cairan berwarna hitam ke biru-biruan disebut Itom.

Dalam periuk lain yang disebut (palabuan) disediakan air hujan yang tertampung pada lekuk batu (aek ni naturige) dicampur dengan air kapur secukupnya . Cairan yang berwarna hitam kebiru-biruan tadi dimasukkan kedalam palabuan tadi, lalu diaduk hingga larut, ini disebut manggaru.

Kedalam cairan inilah benang tadi dicelupkan (disop). Sebelum dicelup benang terlebih dahulu dililit dengan benang lain pada bagian tertentu menurut warna yang diinginkan. Baru proses pencelupan dimulai, berulang ulang hingga warna yang diharapkan dapat dicapai, proses ini memakan waktu yang sangat lama, berbulan-bulan bahkan ada yang sampai tahunan.

Setelah warna yang diharapkan tercapai, benang tadi disepuh dengan air lumpur yang dicampur dengan air abu yang dimask hingga mendidih sampai benang benang tadi kelihatan mengkilat. Ini disebut mar-sigira, biasanya pekerjaan ini dilakukan pada waktu pagi ditepi kali.

Bila warna yang diharapkan sudah cukup matang, lilitan benang kemudian dibuka untuk diunggas agar benang menjadi kuat.

Benang ini sebelumnya direndam dulu dengan nasi yang lembek/bubur nasi yang kental, dan sesudah cairan ini meresap keseluruh benang, digantung pada sebuah penggunggasan untuk diunggas. Setiap jenis warna digulung pada hul-hul yang beda. Inilah yang kemudian di ani (dirajut), lalu ditenun.

Bila kita memeperhatikan ulos Batak secara teliti, maka akan kelihatan bahwa cara pembuatannya yang tergolong primitif bernilai seni yang sangat tinggi, tidak kalah bila dibandingkan dengan karya daerah lain.

Tingkatan ulos:

Seperti yang dikatakan tadi bahwa yang membedakan nilai ulos adalah tergantung proses pembuatannya yang mempunyai tingkatan tertentu.

Misalnyabagi seorang gadis yang belajar bertenun, baru diperkenankan membuat ulos parompa (yang dipergunakan untuk menggendong anak) ini disebut Mallage.

Tingkatan ini diukur dari jumlah lidi yang dipakai untuk memebri warna yang diinginkan. Tingkatan yang paling tinggi ialah bila dia telah mampu mempergunakan 7 (tujuh) buah lidi ( marsi pitu lili) dimana yang bersangkutan telah dianggap cukup mampu bertenun segala jenis ulos.

Filsafat tentang Mangulosai:

image

Ini adalah bagian yang penting karena dilatar belakangi sistem perkampungan yang umumnya hidup disekitar pegunungan atau ditepian danau (tao) maka cuzcany/iklimnya selalu dingin, karena itu orang batak sangat mengharapkan/ merindukan panas (halason), yang dapat kita dari umpasa/peribahasanya sbb: “ Sinuan bulu mambahen las, Sinuan partuturan sbahen horas”. Karena itu pada perkampungan Batak umumnya ditananm bambu disamping pertahanan (menjaga musuh) juga berfungsi sebagai penahan angin yang terlalu kencang (membawa dingin) disekitar pegunungan. Ada tiga yang dapat membuat senang “las roha), bagi leluhur di zaman dahulu yaitu: 1- Matahari, 2- Api, 3- Ulos. Masalah Api bukan menjadi sesuatu yang dipikirkan karena itu tetah ada dan teatp ada sesuai dengan waktyunya, sedangkan Api dapat dibuat, tetapi tidak praktis untuk dipergunakan untuk menghangatkan badan terutama pada malam hari, sangat berbeda dengan Ulos hanya tinggal menyelimutkan kebadan saja sudah hangat.Oleh karena itu nenek moyang zaman dahulu untuk memanaskan atau kiasan dari menyenangkan hati anak- anaknya maka diberilah ulos. Begitulah sangat berartinya ulos bagi kehidupan masyarakat Batak, hingga untuk kepesat atau ke pakan (onanpun sering orang batak zaman dulu menyandangkannya ( dialiton). Akhirnya Mangulosi masuk sebagai salah satu unsur dari adat. Dan mempunyai tata cara dalam mempergunakannya sbb: Pemberian Ulos umunya dilakukan oleh yang dituakan maksudnya Dari Tulang (hula-hula) kepada boru (parboruan), Orang tua kepada anak, Amang boru tu pormaen, Haha tu anggi. Dan ulos yang diberikanpun harus lah Ulos yang pantas, seperti: Ragidup sebagai ulos pargomgom kepada ibunya menantu (hela). Sibolang atau Ragihotang sebagai pansamot kepada bapaknya menantu (hela), begitu juga yang akan diberikan kepada menantu (hela). Ragi dup juga diberi kepada boru sebagai ulos mula gabe ( sewaktu mengharap kelahiran anak pertama).

Ditinjau dari segi pemakaian maka ada 3macam ulos yaitu:

1- Siabitonon: ragidup, Sibolang, Runyat, Jobit, Simarinjamisi, Ragi pangko dll.

2- Sihadangkononhon (sampesampe): Sirara, Sumbat, Bolean, Mangiring, Surisuri, Sadum, dll

3- Sitalitalihonon: Tumtuman, Mangiring, Padangrusa, dll

(bersambung –7)

Selasa, 03 Agustus 2010

Budaya Indonesia di Mata Dunia

Mari kita pelihara dan lestarikan:

Bukanlah hal yang aneh kalau budaya Indonesia menjadi perhatian Dunia, baik Seni tari, alat musik, seni Suara maupun tradisi Religi seperti upacara adat, pencak silat (bela diri). Semua ini dimiliki semua suku bangsa yang ada di Indonesia mulai dari Ujung Barat Aceh dan suku bangsa yang di ujung Barat Indonesia.

Oleh karenanya mari kita pelihara dan kembangkan agar dunia tahu ini adalah milik Bangsa Indonesia.

clip_image002 clip_image004

clip_image006 clip_image008

clip_image010 clip_image012

clip_image014 clip_image016

clip_image018 clip_image020

clip_image022 clip_image024

clip_image026 clip_image028

Hingga sekarang ada 6 budaya Indonesia diakui secara Internasional

Dalam beberapa waktu ini telah terjadi klaim-mengklaim berbagai budaya Indonesia oleh Malaysia. Setelah sekian lama, akhirnya perjuangan untuk mendapatkan pengakuan UNESCO secara Internasional akhirnya tercapai juga. Dan atas pengakuan itu, Malaysia pun seharusnya merasa malu.

Berikut adalah budaya-budaya yang diakui oleh UNESCO sebagai budaya Indonesia antara lain :
clip_image029

1. WAYANG KULIT
UNESCO pada tanggal 7 November 2003 telah MENETAPKAN bahwa WAYANG KULIT adalah warisan budaya dunia yang BERASAL DARI INDONESIA.
Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika mengungkapkan, sejak 7 November 2003 lalu Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) telah mengakui wayang sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity.
clip_image0302. KERIS
United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang merupakan organisasi bidang pendidikan dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) MENGUKUHKAN KERIS INDONESIA sebagai karya agung warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia. "Dunia telah mengakui keberadaan keris Indonesia, sekaligus mendapat penghargaan dunia sejak 25 November 2005," kata pendiri sekaligus Direktur Museum Neka Ubud, Pande Wayan Suteja Neka, Kamis (17/7).
clip_image0313. BATIK
Perjuangan Indonesia untuk mendapatkan pengakuan dunia atas batik sebagai warisan budaya asli Indonesia tidak sia-sia. United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) DIPASTIKAN akan mengukuhkan tradisi batik sebagai salah satu budaya warisan dunia ASLI INDONESIA pada Oktober 2009 mendatang di Perancis.
Demikian dikatakan oleh Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Tjetjep Suparman di Surakarta, Selasa (2/6/2009). “Butuh waktu tiga tahun untuk pengajuannya,” katanya. Sebelumnya, wayang dan keris juga telah mendapat pengakuan yang sama dari UNESCO beberapa waktu lalu.
“Enam negara yang merupakan perwakilan dari UNESCO telah melakukan pengkajian terhadap budaya batik,” kata Tjetjep. Setelah melakukan kajian serta verifikasi selama tiga tahun, akhirnya terdapat pengakuan terhadap budaya batik sebagai budaya MILIK INDONESIA. “Penetapannya pada 28 September 2009 besok,” kata Tjetjep. Sedangkan pengukuhannya baru akan dilakukan pada 2 Oktober 2009 di Perancis.
Sementara itu, perusahaan swasta produsen film dokumenter asal Malaysia, yakni KRU Sdn. Bhd. telah membuat film berjudul "Batik". Di situ dijelaskan bahwa batik Malaysia BERASAL DARI BATIK JAWA yang telah didesain menurut kultur Melayu di Malaysia. Begitu pula sejarah datangnya batik Jawa ke negara Malaysia.
Ada satu hal lagi yang lebih penting: MALAYSIA TIDAK PERNAH MEMATENKAN BATIK, karena BATIK MILIK INDONESIA. Yang dipatenkan oleh Malaysia HANYA MOTIF DAN CORAK, BUKAN BATIKNYA. "Kita sudah bicara dengan pihak budaya Malaysia dan mereka katakan tidak pernah patenkan batik. Yang dipatenkan motif dan coraknya," kata Sekretaris I Penerangan & Humas KBRI Kuala Lumpur, Malaysia, Eka A Suripto, Jumat (16/11/2007). Eka mengaku sudah melihat motif atau corak yang dipatenkan Malaysia dan bentuknya berbeda. "Motif Malaysia itu jarang. Kecuali kalau kita bisa buktikan. Dia tidak berani memakai motif batik Solo atau Pekalongan," imbuhnya.
Walaupun meskipun Malaysia tidak mematenkan batik, pemerintah RI tetap HARUS MEMATENKAN BATIK ke UNESCO - PBB untuk mengantisipasi adanya klaim batik oleh negara asing di masa-masa mendatang. Dan penetapan maupun pengukuhannya rencananya akan dilakukan pada tanggal 28 September 2009 dan 2 Oktober 2009 di Paris, Perancis.
4. RASA SAYANGE
Rasa Sayange
Reffrain:
Rasa sayange... rasa sayang sayange...
Eeee lihat dari jauh rasa sayang sayange
Bait:
Mana kancil akan dikejar, kedalam pasar cobalah cari...
Masih kecil rajin belajar, sudah besar senanglah diri
Si Amat mengaji tamat, mengaji Qur'an di waktu fajar...
Biar lambat asal selamat, tak kan lari gunung dikejar
Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi...
Kalau ada umurku panjang, boleh kita berjumpa lagi
Pemerintah Malaysia akhirnya menyerah soal polemik lagu Rasa Sayange. Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia Rais Yatim telah bertemu dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Dalam pertemuan itu, MALAYSIA MENGAKUI BAHWA LAGU RASA SAYANGE ADALAH MILIK INDONESIA.
Ketua Umum DPP Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) Dharma Oratmangun mengatakan, dalam kunjungan ke Malaysia, lahir kesepahaman antara Jero Wacik dan Rais Yatim. "Persoalan lagu Rasa Sayange selesai. Secara de facto, Malaysia mengakui itu milik Indonesia," kata Dharma pada tanggal 12 November 2007.
clip_image032

5. REOG PONOROGO
Pemerintah Malaysia akhirnya MENGAKUI BAHWA REOG PONOROGO ADALAH MILIK INDONESIA. Tetapi, memang kebudayaan tersebut telah disebarkan di Johor dan Selangor oleh masyarakat Ponorogo yang tinggal di Malaysia sejak bertahun-tahun lalu.
"Reog tetap masih MILIK BANGSA INDONESIA," ujar Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Zainal Abidin Mohammad Zin dari atas mobil pengeras suara milik pendemo, di depan Kantor Kedubes Malaysia, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis, 29 November 2007.
Zainal yang mengenakan baju koko berwarna biru itu, juga menegaskan sejarah berkembangnya Reog Ponorogo yang di Malaysia disebut sebagai Tarian Barongan.
"Sejarahnya rakyat Ponorogo pernah hijrah ke Johor dan Selangor. Anak cucu dari rakyat ini mengembangkan kebudayaan Reog Ponorogo yang mereka bawa dari Ponorogo. Namun, tetap saja asal-usul budaya ini tetap MILIK BANGSA INDONESIA," paparnya.
clip_image0336. TARI PENDET
Perlu diketahui di sini bahwa pemerintah Kerajaan Malaysia TIDAK PERNAH MENGKLAIM Tari Pendet sebagai budaya asal negara tersebut. Iklan pariwisata Malaysia yang menampilkan Tari Pendet adalah DIBUAT OLEH SWASTA, yakni Discovery Channel yang berbasis di Singapura. Discovery Channel Singapore pun tidak memiliki relasi apapun dengan pemerintah Diraja Malaysia.
Discovery Channel Singapore pun sudah meminta maaf atas kelalaian tersebut dan menyatakan dengan jelas bahwa TARI PENDET ADALAH MILIK INDONESIA, BUKAN MILIK MALAYSIA.
Dengan demikian, Tari Pendet yang muncul di film promosi Enigmatic Malaysia bukanlah promosi wisata Malaysia. Bukan juga diproduksi dan didanai oleh kementerian pariwisata, kementerian kebudayaan Malaysia atau PH Malaysia, tapi dibuat oleh Discovery Channel yang berbasis di Singapura.
DC Asia Inc pun sudah mengakui bahwa kesalahan ada di staf bagian promosi mereka. DC Asia Inc pun sudah menyatakan permohonan maaf atas kesalahan itu kepada kementerian pariwisata Indonesia.
Tuduhan Malaysia telah mengklaim tari Pendet Bali itu tidak benar. Dan DC menyatakan tari Pendet itu milik Malaysia juga tidak benar, yang benar tari Pendet itu memang milik Indonesia dan Bali.
Sekarang udah kelihatan siapa yang bener dan siapa yang tidak. Kita tidak perlu caci maki bikin rusuh. Yang penting adalah bagaimana kita bisa mencintai dan melestarikan budaya kita sendiri sehingga tidak dicuri oleh negara lain.
UNESCO rencananya akan meresmikan batik di Paris, 2 Oktober 2009, mari kita semua pakai batik, untuk menghargai kerja pemerintah kita sehingga akhirnya batik diakui oleh masyarakat internasional.

Senin, 31 Mei 2010

Belanda mengkotak-kotakkan orang Batak dalam agama dan teritorial

 

Pada tahun 1849 Asisten Residen Mandailing Ankola berusaha memecah belah masyarakat Batak dalam kotak-kotak agama, sesuai dengan misi Devide et Impera dengan menerapkan gagasan untuk memisahkan orang-orang Batak yang sudah Islam dengan mengkristenkan orang-orang Batak pelebegu. A.P. Godon yang sudah pensiun sejak tahun 1857 menyatakan dalam suatu diskusi: “Dalam laporan umum tahun 1849 selaku Asisten Residen Mandailing Angkola, saya menyatakan bahwa guru agama Kristen pada saat itu masih bisa bekerja dengan dengan baik. Saya sarankan agar antara suku Melayu-Batak Islam dan Batak harus dipisahkan dengan jelas. Metode yang paling baik adalah menyeru orang-orang Batak pelebegu agar masuk Kristen.” (Lihat O.J.H. Graaf van Limburg Stirum, hal. 126).

Pada tahun 1889, Gubernur Jenderal pemerintah penjajah Belanda mengeluarkan surat keputusan rahasia yang menentukan antara lain bahwa di daerah yang penduduknya tidak memeluk agama Islam, tidak boleh diangkat kepala desa atau pegawai muslim. Peraturan atau kebiasaan yang mendukung Islam pun tidak dibenarkan. (lihat: Beslit Rahasia Gubernur Jenderal No. 1,3 Juni 1889).

Dua orang residen Tapanuli bernama Westenberg dan Barth kemudian membuktikan bahwa pemerintah kolonial tidak senang melihat perubahan kepada Islam, bahkan Westenberg memberi contoh memecat kepala desa yang masuk Islam. Pemerintah penjajahan Belanda menyetujui hal itu karena sesuai dengan jiwa beslit rahasia 1889 tersebut. (M. C. Jongeling, Het Zendingconsulaat in Nederlands Indie, 1906-1942, (Arnheim , 1966) Hal. 112). Namun dukungan penjajah seperti ini tidak mampu menghentikan kekuatan pribumi yang anti-penjajahan.

Pada tahun 1903, Kepala Kampung Janji Angkola, Aman Jahara Sitompul, yang telah menjadi Kepala Kampung selama 23 tahun, masuk Islam berkat anaknya Syeikh H. Ibrahim Sitompul. Akibatnya Aman Jahara Sitompul diberhentikan sebagai Kepala Kampung atas dasar beslit rahasia 1889.

Syeikh H Ibrahim melakukan perlawanan dan melakukan aksi politik dengan menayakannya kepada Dr. Hazeu, Adviseur voor Islandsche zaken. Alih-alih mendapat tanggapan, laporannya baru resmi diterima enam tahun kemudian, yaitu pada tahun 1909. Dr. Hazeu berusaha melakukan himbauan kepada kekuatan penjajah yang ditolak mentah-mentah oleh Residen Westenberg dengan penegasan sekali lagi bahwa pegawainya telah melaksanakan kebijakan yang digariskan pada tahun 1889.

Sikap Residen Westenberg kemudian dipertegas oleh rezim penjajah dengan pernyataan Frijling, Penasehat Urusan Luar Jawa, untuk menerapkan kebijakan rahasia tersebut apa adanya.

Di lain pihak pada tahun 1903, Janji Angkola Pabea Sitompul, saudara Syeikh Ibrahim Sitompul, berusaha keras untuk mengembalikan kehormatan ayahnya. Namun kali ini tanggapan keras datang dari pihak penjajah. Dia terbentur tembok dengan adanya surat keputusan dari pimpinan tertinggi penjajah di Indonesia yakni keputusan Gubernur Jenderal Penjajah tanggal 5 Juni 1919 yang tidak mengabulkan pengaduan tersebut. (Lihat; “Christelijke Zending en Islam in Indonesia”, dalam Koleksi GAJ. Hazeu, No. 42, KITLV, Leiden. Bandingkan dengan Lance Castles, The Political Life of Sumatran Residency: Tapanuli 1915-1940, disertasi, Yale University, 1972, Hal. 91-93.

Sementara itu, pada bulan Maret 1919, di Janji Angkola diadakan pemilihan kepala kampung baru. Sekalipun jumlah warga Batak yang beragama Kristen sebanyak 400 orang, sedang warga Batak yang muslim hanya 60 orang, namun ternyata Syeikh Ibrahim Sitompul yang menang dalam pemilihan tersebut. Tapi Kontrolir Silindung Heringa menyarankan agar residen mengangkat Aristarous, bukan Syeikh Ibrahim Sitompul.

Residen Vorstman sadar dengan instruksi rahasia 1889, kemudian mengadakan pemilihan ulang, dengan harapan pihak Batak Islam akan tersudut. Namun ternyata Syeikh Ibrahim Sitompul tetap keluar sebagai pemenang, dengan suara 218 lawan 204. Residen Vorstman tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kekuatan anti-penjajahan kali ini berhasil unjuk gigi.

Dalam pada itu hubungan perdagangan antara daerah Singkel dan Dairi juga diputus dengan alasan Devide et Impera. Dengan demikian orang-orang Batak di tanah Batak pusat akan terisolir dan mudah untuk ditaklukkan.

Asisten Residen Bataklanden dan Residen Tapanuli kemudian melakukan langkah dengan memisahkan orang-orang Batak di Singkel dengan Dairi. Hubungan lalu lintas antara Singkel dan Dairi pun diputus. Raja Batu-batu, seorang Raja Batak Singkel, yang kebetulan seorang muslim dilarang untuk mendatangi rakyatnya di Dairi. (Surat Residen Tapanuli Westenberg ke Gubernur Jenderal tanggal 9 Oktober 1909, dalam Koleksi G.A.J Hazeu). Bahkan sejak tahun 1910 para pedagang Batak Singkel dilarang tinggal di daerah Batak, maksudnya Keresidenan Tapanuli, lebih dari 24 jam. (Nota Lulofs 11 Juli 1915, dalam Lance Castle, Hal 94)

Usaha penjajah Belanda untuk mengkotak-kotakkan orang Batak dalam agama dan teritori agar mudah dijajah juga dilakukan di Silindung. Pada tahun 1915, Lulofs memberikan instruksi sektarian kepada bawahannya agar dibuat batas baru di sebelah utara Janji Angkola, dan politik anti-Islam hanya boleh dilaksanakan di sebelah utara desa tersebut. Dalam suratnya kepada Direktur Pendidikan dan Agama tanggal 16 Mei 1916, Lulofs menjelaskan bahwa dengan adanya garis pemisah, maka bisa diadakan tindakan tegas dalam daerah tertutup. Misalnya dengan menggunakan Ordonansi Guru 1905 untuk menghindari pendidikan Islam di daerah tersebut. Ordonansi Guru ini memungkinkan penjajah dapat memburu, mengusir dan mengasingkan guru-guru Batak Islam yang termasuk para haji-haji dari kalangan Batak.

Namun, pihak zending menentang instruksi- yang dinilai terlalu menguntungkan Islam- ini. Dan menyatakan keheranannya mengapa sikap seorang pegawai demikian simpati kepada Islam. Karena menurut mereka di daerah ini terdapat 15.000 orang Kristen, 3000 orang Batak Islam dan masih banyak animis yang akan diserahkan kepada nabi palsu. (Lihat surat Lulofs kepada Direktur BB tanggal 16 Mei 1916).

Terhadap pemisahan daerah Islam-Kristen semacam ini Hazeu tidak setuju, karena dia tidak membenarkan terjadinya pengusiran seseorang dari daerah tertutup. Dalam suratnya kepada Direktur Pendidikan dan Agama tanggal 29 Desember 1916, Hazeu menyatakan, “Saya memperingatkan dengan keras bahwa Ordonansi Guru tidak boleh digunakan untuk tujuan mengusir haji sebagaimana dibenarkan oleh tuan Lulofs” (Koleksi G.A.J.). Namun, pengusiran dan pemburuan tersebut tetap saja terjadi di tanah Batak

Dalam rangka menghalangi gerak pedagang Batak Islam yang sejak abad 15 telah eksis dan menjadi tulang punggung perekonomian tanah Batak, khususnya dari marga Hutagalung, Hasibuan, Pasaribu dan Marpaung serta marga-marga lainnya, Asisten Residen Fraser mengusulkan dibentuknya koperasi antar sesama orang Batak yang tidak menentang kehadiran penjajah saat itu, di samping menganjurkan agar peternakan babi digalakkan di sana. Saran semacam ini pernah dikemukakan pula oleh seorang tokoh Lembaga Bijbel pertengahan abad lalu, yang ditujukan kepada propagandis Kristen di tanah Batak.

Dia adalah H.N. vander Tuuk yang pada tahun 1851 sampai tahun 1857 menetap di tanah Batak sebagai petugas dari Lembaga Bijbel. Ia memberikan beberapa saran, bagaimana seharusnya petugas Kristen bersikap di tanah Batak, yaitu:

1. Harus disebut Guru, bukan pendeta atau paderi; karena istilah pendeta kurang disukai, baik orang Eropa maupun orang Batak.
2. Harus kawin dengan wanita Eropa, karena pembicaraan antara wanita lebih intim dan seorang wanita lebih berpengaruh daripada pendeta biasa.
3. Harus mendapat gaji yang baik, lebih tinggi dari gaji pegawai pemerintah.
4. Harus berpakaian seperti biasa, tidak memakai jas hitam pendeta.
5. Harus bisa menerima gaji dengan mudah, tanpa dipotong dua setengah persen.
6. Langsung masuk daerah Batak, tidak perlu lama-lama menunggu di Padang agar cepat bisa berbahasa Batak.
7. Harus tinggal jauh dari orang Eropa, karena mereka pada umumnya tidak akrab dengan pribumi.
8. Dalam taraf permulaan hanya omong-omong, secepat mungkin mengajar agar bisa cepat belajar bahasa pribumi. Hanya mengajar kalau diminta oleh mereka.
9. Bersama murid-murid sekolah, harus membaca cerita Batak, baru kemudian membacakan Bijbel.
10. Harus bergaul akrab dengan orang Batak, tapi jangan meminjam uang.
11. Hendaknya tidak menerima hadiah, karena dia harus memberikan hadiah.
12. Hendaknya tidak menghina orang Islam, tapi harus menunjukkan orang kafir sama baiknya dengan orang Islam.
13. Andaikata mengetahui ilmu teknik, harus mengajarkan ilmu tersebut hanya kepada orang bukan Islam.
14. Sebagai peternak harus memelihara babi.
15. Andaikata mempunyai anak, harus hati-hati agar mereka tidak menghina pribumi.
16. Dalam pelaksanaan vaksinasi hendaknya jauh dari pengawasan pegawai, Karena semua pegawai yang beragama Islam, biasa mengucapkan: “Jangan makan babi lagi” setelah memberikan suatu suntikan.
17. Hendaknya tidak menggunakan pemadat sebagai pembantu atau murid.
18. Andaikata memiliki toko, dia tidak hanya akan mendapatkan banyak uang, tapi juga pengaruh yang cukup besar.
Sumber Lihat: R. Nieuwenhuys, H.N. van Der Tuuk: De, Pen in Gal Gedoopt, (Amsterdam, 1962) hal: 81-84.

Pada tahun 1919, pihak zending mengeluarkan brosur dalam dialek Angkola berjudul Ulang Hamu Lilu (jangan sesat), untuk memperkenalkan Islam secara negatif kepada orang Kristen Batak, berdasarkan buku-buku Gottfried Simons yang biasa menentang Islam.

Gottfried Simons adalah seorang zendeling Jerman yang pernah bertugas di Sumatera dari tahun 1896 sampai tahun 1907, dikirim oleh RMG (Rheinische Mission Gesellschaft). Karyanya antara lain;

1. Islam und Christentum im kampf um die Eroberung der animimistischen Heidenwelt, beobachtungen aus der Mohammedaner-Mission in Biederlandisch-Indiesn, (Berlin 1910); (Islam dan Kristen dalam Perjuangan di dunia Animis; Tinjauan zending terhadap orang Islam di Hindia Belanda).
2. Unter den Muhammedanern Sumatras, (Berlin, 1926).
3. Reformbewegungen in Islam (Artikel)

Akibat brosur tersebut yang menurut Hazeu penuh dengan kebohongan dan kepalsuan tersebut, timbullah kehebohan, sehingga untuk mengatasinya brosur tersebut segera disita oleh kontrolir dari rumah zendeling Jerman, Ameler, di Bungabondar.

Asisten Residen bermaksud memanggil pihak zending ke pengadilan, tapi Jaksa Agung di Batavia melarangnya. Kemudian pusat Zending di Tarutung meminta agar brosur yang disita itu dikembalikan secara resmi.

Pada tanggal 12 Juli 1919 brosur tersebut akan dikembalikan dan pihak zending mengumumkan hal itu sebelumnya, meskipun sudah diminta untuk merahasiakannya. Akibatnya timbul kehebohan sehingga zendeling Ameler meminta agar kontrolir tidak jadi datang, karena sudah memancing perhatian pelbagai organisasi beribadatan suluk di tanah Batak.

Brosur seharga f.0,15 per buah itu bisa laku f.2,-, (Lance Castle, Hal 110-112). Selama ini harapan demikian tinggi untuk bisa mengikis pengaruh Islam dari tanah Batak dengan jalan mempercepat kristenisasi.

Harapan semacam ini didasarkan atas kepercayaan berlebihan tentang superioritas Kristen atas Islam dan dugaan bahwa agama Islam yang sinkretis di negeri ini (seperti parmalim dan agama kepercayaan Batak lainnya yang mirip dengan Islam sedikit atau banyak) akan mudah dikristenkan. Banyak orang Belanda terutama pada abad ke-19 yang berpengharapan demikian (Lihat A. Retif, “Aspect Religiux de l’Indonesie”, dalam Etudes, 1945, hal 371-381; Harry J. Benda, “The Crescent and the Rising Sun”, op cit., hal. 19).

Dalam perjuangan kemerdekaan dan pergumulan antara orang Batak dengan penjajah Belanda di tanah Batak ini nampaklah kesan bahwa di satu pihak agama Islam berkembang dengan segala kesederhanaannya, sedang di pihak lain agama Kristen dengan segala kelebihannya ditunjang oleh para pejabat dan pegawai kolonial pada umumnya. (Aqib Suminto; Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES).

Cepat berkembangnya Kristen di daerah ini jelas bukan semata-mata karena “gereja-gereja di sana memiliki semangat missioner yang besar” seperti pendapat Dr. F. Ukur yang menyatakan bahwa satu ciri gereja-gereja di Sumatera adalah memiliki semangat missioner yang besar, sehingga dapat berkembang cepat dalam waktu yang relatif singkat. Lihat: Walter Lempp, Benih Yang Tumbuh, XII (Jakarta, 1976), hal. 110.

Dalam laporan tahunannya 1906/1907, Konsul Zending mengakui bahwa pemerintah penjajahan Belanda sering mendukung aktivitas Kristen; bahkan kadang-kadang pemerintah meminta kepada zending agar mereka membuka cabangnya di suatu tempat, seperti di Simalungun tahun 1904 dan Pakpaklanden tahun 1906, dua daerah yang sudah banyak menganut agama Islam selain animisme. Lihat Laporan ke-25 Algemeene Nederlandse Zendingsconferentie, 1911, Hal. 80, tentang “De prediking des zendelings aan de Mohammedanen” atau lihat M.C.Jongeling, op cit., hal 110).

Agaknya memang perluasan kolonial dan ekspansi agama merupakan gejala simbiosis yag paling menunjang. Lihat: H. Kraemer, “De Zending en Nederlands Indie”, dalam H. Baudet, & I.J. Brugmans, op.cit., hal 294.

Karena itu zending Kristen dianggap sebagai faktor penting dalam proses penjajahan, walaupun tujuan zending hanya rohani. Semua yang menguntungkan pihak Batak yang Islam di Hindia Belanda berarti merugikan bagi kekuasaan moril pemerintahan penjajah Hindia Belanda. Lihat, Alb. C. Kruyt, “De Inlandsche Staat en de Zending”, dalam Indisch Genootschap, 23 Oktober 1906, hal 98).

Simbiosis ini nampak jelas di tanah Batak. Seorang haji Batak asal Pangaribuan dilaporkan datang ke Huta Lumban. Ketika enam orang Batak pelebegu berkomunikasi dengannya dan menyatakan keinginannya masuk Islam dan zending Muller tidak berhasil memurtadkannya kembali, Residen Tapanuli memanggil keenam orang tersebut, tetapi mereka tetap tidak mau keluar dari Islam meskipun diancam akan dibuang. Lihat Buku Harian zendeling Muller di Toba, Juni 1916. Catatan buku harian tersebut dikutip oleh Residen Tapanuli dalam suratnya kepada pimpinan tertinggi penjajah Gubernur Jenderal tanggal 22 Juli 1916 No. 246 (Koleksi G.A.J Hazeu, op cit)

Dilaporkan pula, adanya lima orang Batak Islam, yang menerima kesaksian syahadat para Batak pelebegu, yang dihukum. Dikatakan, berdasarkan beslit rahasia 3 Juni 1889 tersebut hal ini memang tidak bisa dibenarkan. Sebuah beslit yang berusaha menghilangkan Islam sebagai elemen anti-penjajahan dari tanah Batak.

Mereka dituduh telah menyebarkan agama Islam dan dihukum dengan hukuman satu bulan, karena tidak menaati peraturan pemerintahan penjajah Hindia Belanda. Lihat: Surat asisten Residen Bataklanden Fraser ke Residen Tapanuli, 16 Juli 1916. Gubernur Jenderal lebih keras dengan memerintahkan penghentian apa yang disebutnya propagandis Islam tersebut.

Para petani Batak di Sipakpaki Sibolga ada yang dikenakan kerja paksa sebulan, karena menerima syahadat Islamnya beberapa orang di Huta Husor. Penduduk Huta Husor bernama Hurlang dikenai hukuman tiga bulan, karena menyediakan rumahnya untuk acara tersebut. Lihat, Laporan penelitian anggota Desan Penasehat Hindia Belanda tahun 1917. (Lihat Lance Castle, op cit., hal 101).

Dalam menghadapi masalah sosial yang timbul, sikap para pejabat penjajah Belanda nampak jelas memihak zending. Residen Tapanuli mengakui bahwa sikap netral di bidang agama akan berakibat gagal totalnya zending di daerah ini. Sebaliknya kemengangan kristen pasti terwujud, bila dibantu sepenuhnya oleh pemerintah Hindia Belanda. (Lihat: Surat Residen Tapanuli kepada Gubernur Jenderal Van Heutsz tanggal 31 Maret 1909. Ia menyatakan; Kita boleh memilih antara netral seratus persen terhadap agama dengan hasil pasti menurut matematika bahwa pekerjaan zending akan gagal total, dan lambat atau cepat seluruh daerah Batak akan masuk Islam. Atau membantu sepenuhnya kepada zending untuk menghindari propaganda Islam di daerah Batak. Dengan demikian kemenangan Kristen di daerah ini pasti terwujud. Andaikata pemerintah bersikap netral, akan berakibat seperti di daerah padang Sidempuan. Walaupun zending di sana cukup rajin di antara penduduk yang waktu itu masih pelebegu namun Islam ternyata menang di Mandailing, Angkola dan sebagian besar Sipirok. Justru pegawai-pegawai kita memegang politik nonintervensi (Koleksi G.A.J Hazeu, op. cit,. Hal 102).

Gubernur Jenderal kemudian memerintahkan agar pegawai pemerintah penjajah Belanda, kapanpun dan dimanapun tidak memihak penduduk muslim; sebaliknya secara moril harus membantu dan mendukung zending. Sementara itu, peraturan rahasia itu ditambah lagi dengan satu artikel yang berbunyi; “Orang Kristren (yakni pribumi sebagai objek yang dijajah) tidak harus melakukan kerja paksa pada hari Minggu.” Lihat: M.C. Jongeling, op cit., hal 114-115.

Minggu, 30 Mei 2010

GURU SOMALAING PARDEDE TERMAKAN RAYUAN ELIO MODIGLIANI (2)

Secara singkat telah diceritakan perjuangan Masyarakat Batak dibawah pimpinan Raja Sisingamangaraja XII, berjuang mengusir penjajah (Belanda) dari tanah Batak, dibantu oleh Toko-tokoh Batak dari berbagai Suku dan Marga.

Disamping para pejuang Batak tidak rela tanah air mereka di eksploitasi semenan-mena oleh SIbotar Mata (istilah  yang dipergunakan oleh pejuang Batak), juga mereka tidak rela adat istiadat atau budaya mereka terkontaminasi dengan Budaya luar.

Adapaun Motivasi Belanda untuk menguasaiTanah Batak adalah untuk membendung atau mensekat kekuatan Aceh dan Minang kabau yang baru tundukkannya. HAl ini sangat penting bagi mereka. Belanda cukup kewalahan menghadapi kepatriotan Aceh dan Minangkabau ( Paderi) yang mayoritas beragama Islam. Dan Belanda sangat mengetahui Pejuang-pejuang Aceh banyak bergabung dengan Pasukan Sisingamangaraja.XII, keadaan ini sangat menghawatirkan Belanda, ARMY VOC  maka Belanda mengirim pasukan besar- besaran untuk memadamkan perjuangan Batak,baik dari Aceh dan Bukit tinggi maupun dari Batavia dan dibantu kaum Misionaris misionaris Keristen,hingga tahun 1907 Sisingamangaraja XII tertembak dan dimakamkan di Tarutung yang akhirnya dipindahkan ke Balige semasa pemerintahan Presiden Soekarno.

Menuju Masyarakat Adil dan Makmur ( Gerakan Millenarian)

One of the central problems that faced Third World peoples under European colonial rule was how to reform distorted power relations between the colonial and indigenous entities. Although indigenous peoples were generally forced to recognize the superiority of European power, the newly introduced colonial order often frustrated them. The millenarian movement(1) is one type of endeavour to overcome this dilemma by constructing a new socio-cultural order legitimized by a source of power which prophetic leaders insisted ruled their world.(The Batak Millenarian - by Masashi Hirosue)

D.natolu

Dari tulisan tersebut diatas umumnya bangsa-bangsa yang dijajah , termasuk bangsa Batak menghadapi distorsi antara hubungan kekuasaan kolonial Belanda dan entitas adat. Dan juga bangsa batak dipak sa mengakui keunggulan dan kekuasaan Belanda dengan memaksa tatanan budaya Kolonial (hal yang baru)  bagi masyarakat Batak, yang membuat mereka frustasi. Untuk mengatasi hal tersebu yakni penekanan-penekanan yang cukup sulit dihindari bangsa batak, maka mereka ingin membangun suatu tatanan sosial budaya yang baru dengan mendesak para pemimpin dibidang spritual. Maka gerakan inilah yang disebut Gerakan Millenarian, sebuah geraka sebagai protes terhadapa kekuasaan Belanda. Gerakan ini dipimpin oleh pemimpin yang benar-benar kharismatik yang menunjukkan Visi Millenarian dan mampu mengartikulasikan keyakinan mereka melalui kekuatan spritual,

Para pemimpin Gerakan ini tidak mungkin dapat menarik semua bangsa Batak untuk bergabung ke gerakan millenarian melalui kemampuan mereka ajaib atau ilahi berdasarkan sistem kepercayaan adat mereka magico-religius, karena orang Batak sudah banyak meninggalkan  sistem tradisional mereka dari keyakinan agama, yang telah mengalami distorsi oleh kolonialisme. Dalam rangka untuk mengubah tatanan yang ada sama sekali, pemimpin millenarian diperlukan untuk menunjukkan visi baru masyarakat dunia mereka dalam transformasi.

 gr.Somalaing

Memang diakui bahwa ditanah Batak sangat banyak yang mampu mengadakan kontak dengan Dewa atau roh-roh leluhur, namun hanya type tertentu pemimpin yang mampu mengatur Gerakan Millenarian . Pengikut Gerakan Millenarian harus apat diyakin bahwa mereka dipimpin oleh Pemimpin yang kharismatik yang mampu kontak dengan Dewa atau Roh kudus dan preachings (khotbah-khotbah) mereka didukung oleh kekuatan-kekuatan supranatural.

In order better to understand millenarian leadership, it is interesting to look at the religious movements which arose in the Batak area of north Sumatra beginning in 1890. The movements, called “Parmalim” and “Parhudamdam” , arose as responses to colonization and Christianization. The leaders of these movements preached a kind of “millenarian” vision, that promised the restoration of the kingdom of Si Singa Mangaraja, a Batak holy king who had been driven away from his own territory by the Dutch colonial army in 1883. These religious movements often developed into protests against the colonial order. (The Batak Millenarian - by Masashi Hirosue)

Yang artinya kurang lebih sbb:

Untuk lebih memahami kepemimpinan millenarian, menarik untuk melihat gerakan-gerakan keagamaan yang muncul di daerah Batak Sumatera utara awal tahun 1890. Gerakan, yang disebut “Parmalim” dan “Parhudamdam”, muncul sebagai tanggapan terhadap penjajahan dan Kristenisasi. Para pemimpin gerakan ini diberitakan semacam “visi millenarian”, yang menjanjikan pemulihan kerajaan Si Singa Mangaraja, raja Batak suci yang telah diusir dari wilayah sendiri oleh tentara kolonial Belanda pada tahun 1883. Gerakan-gerakan keagamaan sering berkembang menjadi protes terhadap tatanan kolonial. (The Batak Millenarian - by Masashi Hirosue)

Bersambung..

GURU SOMALAING PARDEDE TERMAKAN RAYUAN ELIO MODIGLIANI (1)

Hal itu tidak mungkin terjadi kalau bukan karena kekhawatirannya yang sangat, akan terancamnya kelestarian budaya Batak,dengan melihat kemajuan Belanda yang sangat luar biasa menerobos hingga kepedalaman Tanah batak didampingi Missionaris-Misionaris kelompok spiritual keristen.


Elio Modigliani Elio Modigliani (1860 - 1932) adalah seorang antropolog Italia, zoologi, dan collector. ia belajar hukum, tetapi kemudian mengabdikan dirinya untuk studi alam.   Ia melakukan perjalanan di Malay Archipelago (1886-1888), terutama mengunjungi pulau Nias selatan.   Dia kemudian pergi ke Sumatra pada tahun 1890 dan merambah ke Danau Toba pedalaman dan daerah anak genta.

Modigliani mengetahui situasi pasukan Sisingamangaraja XII sudah begitu terjepit, termasuk pasukan Guru Somalaing Pardede. Sedangkan niatnya (Modigliani)  untuk masuk ke wilayah Asahan  tidak diperbolehkan Belanda memasuki Asahan untuk melakukan penelitian, dengan alasan Asahan bukan wilayah toritorial Belanda. Niatnya untuk memasuki wilayah Asahan tidak boleh batal, jalan apapun akan ditempuh olehnya       Dengan mengadopsi kepercayaan orang-orang batak ketika itu bahwa Raja Rum akan datang menolong perjuangan mereka, maka Modigliani mengaku sebagai anak Raja Rum (Rom). Mari kita cermati tulisan dibawah ini.

Namun sebelum dilanjutkan uraian tentang hubungan Elio Modigliani dengan Guru Somalaing Pardede, alangkah baiknya kita selusuri sejarah peperangan yang dilakukan bangsa Batak yang dipimpin Raja Sisingamangaraja XII, serta sejarah Masuknya Missionaris-missionaris Nasrani/Keristen. Ini sangat penting untuk menguak kesucian dan ketulusan Perjuangan bangsa Batak yang dipimpin Raja Sisingamangaraja XII mengusir  penjajah Belanda dari tanah airnya, Tanah Batak

Perang Batak (1877-1907)

Ekspedisi militer dari Silindung ke Toba

Si Singamangaraja XII, bersama para pembesarnya, memimpin Perang Batak selama 30 tahun (1877-1907) melawan Belanda secara terus menerus. Berpindah dan bergerilia dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari hutan yang satu ke hutan lainnya. Perang Batak dimulai dengan pernyataan Pulas. Pulas adalah deklarasi perang ala Batak. Pulas ditujukan kepada musu tihus, yakni musuh di siang hari dan musuh di malam hari. Musu Tihus pada masa itu adalah Belanda!

Selanjutnya yang terjadi kemudian sebagaimana dicatat dalam buku-buku sejarah adalah meletusnya berbagai pertempuran heroik, dimulai dengan Pertempuran:

-di Bahal Batu- Humbang (19-2-1878),

-Balige (1883),

-Sipoholon (1887,

-Manullang Toruan (1889),

-Uluan (1907), dan lain-lain.

Kronologi perang Batak

Tahun 1837, kolonialis Belanda memadamkan "Perang Paderi" dan melapangkan jalan bagi pemerintahan kolonial di Minangkabau dan Tapanuli Selatan. Minangkabau jatuh ke tangan Belanda, menyusul daerah Natal, Mandailing, Barumun, Padang Bolak, Angkola, Sipirok, Pantai Barus dan kawasan Sibolga.

Karena itu, sejak tahun 1837, Tanah Batak terpecah menjadi dua bagian, yaitu daerah-daerah yang telah direbut Belanda menjadi daerah Gubernemen yang disebut "Residentie Tapanuli dan Onderhoorigheden", dengan seorang Residen berkedudukan di Sibolga yang secara administratif tunduk kepada Gubernur Belanda di Padang. Sedangkan bagian Tanah Batak lainnya, yaitu daerah-daerah Silindung, Pahae, Habinsaran, Dairi, Humbang, Toba, Samosir, belum berhasil dikuasai oleh Belanda dan tetap diakui Belanda sebagai Tanah Batak yang merdeka, atau 'De Onafhankelijke Bataklandan'.

Pada tahun 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan tentaranya mendarat di pantai-pantai Aceh. Saat itu Tanah Batak di mana Raja Sisingamangaraja XII berkuasa, masih belum dijajah Belanda. Tetapi ketika 3 tahun kemudian, yaitu pada,

Tahun 1876, Belanda  mengumumkan "Regerings" Besluit Tahun 1876" yang menyatakan daerah Silindung/Tarutung dan sekitarnya dimasukkan kepada kekuasaan Belanda dan harus tunduk kepada Residen Belanda di Sibolga, suasana di Tanah

Batak bagian Utara menjadi panas.

Raja Sisingamangaraja XII yang kendati secara clan, bukan berasal dari Silindung, namun sebagai Raja yang mengayomi raja-raja lainnya di seluruh Tanah Batak, bangkit kegeramannya melihat Belanda mulai menyerobot (menganeksasi) tanah-tanah Batak.

Raja Sisingamangaraja XII cepat mengerti siasat  strategi Belanda. Kalau Belanda mulai mencaplok Silindung, tentu mereka akan menyusul dengan menganeksasi Humbang, Toba, Samosir, Dairi dan lain-lain.

Raja Sisingamangaraja XII cepat bertindak, Beliau segera mengambil langkah-langkah konsolidasi. Raja-raja Batak lainnya dan pemuka masyarakat dihimpunnya dalam suatu rapat raksasa di Pasar Balige, bulan Juni 1876. Dalam rapat penting dan bersejarah itu diambil tiga keputusan sebagai berikut :

1.    Menyatakan perang terhadap Belanda

2.    Zending Agama tidak diganggu

3.    Menjalin kerjasama Batak dan Aceh untuk sama-sama melawan Belanda.

Terlihat dari peristiwa ini, Sisingamangaraja XII lah yang dengan semangat garang, mengumumkan perang terhadap Belanda yang ingin menjajah. Terlihat pula, Sisingamangaraja XII bukan anti agama. Dan terlihat pula, Sisingamangaraja XII di zamannya, sudah dapat membina azas dan semangat persatuan dan suku-suku lainnya.

Tahun 1877, mulailah perang Batak yang terkenal itu, Dimulai di Bahal Batu, Humbang, berkobar perang yang ganas selama tiga dasawarsa, 30 tahun.

Belanda mengerahkan pasukan-pasukannya dari Singkil Aceh, menyerang pasukan rakyat semesta yang dipimpin Raja Sisingamangaraja XII.

Pasukan Belanda yang datang menyerang ke arah Bakara, tempat istana dan markas besar Sisingamangaraja XII di Tangga Batu, Balige mendapat perlawanan dan berhasil dihempang.

Belanda merobah taktik, ia menyerbu pada babak berikutnya ke kawasan

Balige untuk merebut kantong logistik Sisingamangaraja XII di daerah

Toba, untuk selanjutnya mengadakan blokade terhadap Bakara.

Tahun 1877-27 Desember 1878

Berikut ini urutan peristiwa perang Toba sebagaimana direkonstruksi dari laporan penginjil Nommensen dan Metzler. Tanggal-tanggal setelah 5 Mei tidak pasti karena tidak disebut berapa lama pasukan Belanda beristirahat di Paranginan.

Akhir 1877 Desas-desus Aceh akan bersekutu dengan Toba
17Des 77 Penginjil di Bahal Batu menerima surat dari Silindung bahwa para ulubalang sudah tiba di Bangkara
Jan. 78 Utusan Singamangaraja datang mengancam misionaris dan orang Kristen
Akhir Janʻ78 Para Penginjil minta agar Belanda mengirim pasukannya
1 Feb 78 Pasukan pertama di bawah pimpinan Kapten Scheltens bersama dengan Kontrolir Hoevel menuju Pearaja
6 Feb 78 Pasukan dengan 80 tentara dan seorang Kontrolir tiba di Pearaja
15Feb 78 Pasukan tiba di Bahal Batu bersama dengan penginjil dari Silindung
16Feb 78 Pengumuman perang dari pihak SSM
17Feb 78 Metzler disuruh membawa istrinya ke Silindung. Ibu Metzler diantar suaminya dan Johannsen ke Pansur na Pitu
19Feb 78 Metzler kembali ke Bahal Batu, tetapi tanggal 20 Feb 1878 kembali lagi ke Silindung
Feb. 1878 Pasukan Singamangaraja menyerang Bahal Batu
1 Marʻ78 Pasukan tambahan berangkat dari Sibolga
14Mar 78 Residen Boyle datang bersama 250 tentara dan Kolonel Engels dari Sibolga
15Mar 78 Silindung dinyatakan menjadi bagian dari wilayah Hindia-Belanda
16Mar 78 Pasukan berangkat ke Bahal Batu. Bahal Batu pun dinyatakan menjadi wilayah Hindia-Belanda
17Mar 78 Butar, Lobu Siregar dan Naga Saribu diserang (17–20 Maret)
Maret Pasukan tambahan 300 tentara dan 100 narapidana diberangkatkan
30Apr 78 Ekspedisi militer untuk menumpaskan pasukan Singamangaraja dimulai. Penginjil Nommensen dan Simoneit mendampingi pasukan Belanda. Lintong ni Huta ditaklukkan
1 Mei 78 Bangkara diserang
2 Mei 78 Kampung-kampung di sekitar Bangkara diserang
3 Mei 78 Raja-raja di Bangkara dipaksa melakukan sumpah setia mengakui kedaulatan Belanda
4 Mei 78 Pasukan maju ke Paranginan
5 Mei 78 Pasukan beristirahat selama beberapa hari di Paranginan
8 Mei 78 Huta Ginjang, Meat dan Gugur ditaklukkan. Pasukan beristirahat selama beberapa hari di Gurgur
11Mei’78 Pasukan menaklukkan Lintong ni Huta Pohan, Panghodia dan Tara Bunga.
12 Mei 1878 Pasukan kembali ke Bahal Batu melalui Onan Geang-Geang, Pintu Bosi, Parik Sabungan dan Lobu Siregar
akhir Mei Nommensen membantu Residen di Bahal Batu
  Benteng untuk 80 tentara dibangun di Sipoholon
27Des’78 Nommensen dan Simoneit menerima penghargaan dari pemerintah Belanda

Tahun 1882, hampir seluruh daerah Balige telah dikuasai Belanda, sedangkan Laguboti masih tetap dipertahankan oleh panglima-panglima Sisingamangaraja XII antara lain Panglima Ompu Partahan Bosi Hutapea.

Baru setahun kemudian Laguboti jatuh setelah Belanda mengerahkan pasukan satu batalion tentara bersama barisan penembak-penembak meriam.

Tahun 1883, seperti yang sudah dikuatirkan jauh sebelumnya oleh Sisingamangaraja XII, kini giliran Toba dianeksasi Belanda. Domino berikut yang dijadikan pasukan Belanda  yang besar dari Batavia (Jakarta sekarang), mendarat di Pantai Sibolga. Juga dikerahkan pasukan dari Padang Sidempuan.

Raja Sisingamangaraja XII membalas menyerang Belanda di Balige dari arah Huta Pardede. Baik kekuatan laut dari Danau Toba, pasukan Sisingamangaraja XII dikerahkan. Empat puluh Solu Bolon atau kapal yang masing-masing panjangnya sampai 20 meter  dan mengangkut pasukan sebanyak 20 x 40 orang jadi 800 orang melaju menuju Balige.

Pertempuran besar terjadi.

Pada tahun 1883, Belanda benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya dan Sisingamangaraja XII beserta para panglimanya juga bertarung dengan gigih. Tahun itu, di hampir seluruh Tanah Batak pasukan Belanda harus bertahan dari serbuan pasukan-pasukan yang setia kepada perjuangan Raja Sisingamangaraja XII.

Namun pada tanggal 12 Agustus 1883, Bakara, tempat Istana dan Markas Besar Sisingamangaraja XII berhasil direbut oleh pasukan Belanda.

Sisingamangaraja XII mengundurkan diri ke Dairi bersama keluarganya dan pasukannya yang setia, juga ikut Panglima-panglimanya yang terdiri dari suku Aceh dan lain-lain.

Pada waktu itulah, Gunung Krakatau meletus. Awan hitam meliputi Tanah Batak. Suatu alamat buruk seakan-akan datang.

Sebelum peristiwa ini, pada situasi yang kritis, Sisingamangaraja XII berusaha melakukan konsolidasi memperluas front perlawanan. Beliau berkunjung ke Asahan, Tanah Karo dan Simalungun, demi koordinasi perjuangan dan perlawanan terhadap Belanda.

Perlawanan pasukan Sisingamangaraja XII semakin melebar dan seru, tetapi Belanda juga berani mengambil resiko besar, dengan terus mendatangkan bala bantuan dari Batavia, Fort De Kok, Sibolga dan Aceh.

Barisan Marsuse juga didatangkan bahkan para tawanan diboyong dari Jawa untuk menjadi umpan peluru dan tameng pasukan Belanda.

Regu pencari jejak dari Afrika, juga didatangkan untuk mencari persembunyian Sisingamangaraja XII. Barisan pelacak ini terdiri dari orang-orang Senegal. Oleh pasukan Sisingamangaraja XII barisan musuh ini dijuluki "Si Gurbak Ulu Na Birong".

Tetapi pasukan Sisingamangaraja XII pun terus bertarung. Panglima Sarbut Tampubolon menyerang tangsi Belanda di Butar, sedang Belanda menyerbu Lintong dan berhadapan dengan Raja Ompu Babiat Situmorang.

Tetapi Sisingamangaraja XII menyerang juga ke Lintong Nihuta, Hutaraja, Simangarongsang, Huta Paung, Parsingguran dan Pollung.

Panglima Sisingamangaraja XII yang terkenal Amandopang Manullang tertangkap. Dan tokoh Parmalim yang menjadi Penasehat Khusus Raja Sisingamangaraja XII, Guru Somaling Pardede juga ditawan Belanda. Ini terjadi pada tahun 1889.

Tahun 1890, Belanda membentuk pasukan khusus Marsose untuk menyerang Sisingamangaraja XII. Pada awal abad ke 20, Belanda mulai berhasil di Aceh.

Tahun 1903, Panglima Polim menghentikan perlawanan. Tetapi di Gayo, dimana Raja Sisingamangaraja XII pernah berkunjung, perlawanan masih sengit. Masuklah pasukan Belanda dari Gayo Alas menyerang Sisingamangaraja XII.

Foto tahun 1907 di Sagala, Samosir : Pasukan khusus Belanda yang dipimpin Hans Christoffel (pegang tongkat) mengaso sejenak di salah satu daerah di kawasan hutan Tele, sebelum melanjutkan misi tunggal : menangkap Sisingamangaraja XII hidup atau mati

Tahun 1907, pasukan Belanda yang dinamakan Kolonel Macan atau Brigade Setan mengepung Sisingamangaraja XII. Tetapi Sisingamangaraja XII tidak bersedia menyerah. Ia bertempur sampai titik darah penghabisan.

Boru Sagala, Isteri Sisingamangaraja XII, ditangkap pasukan Belanda. Ikut tertangkap putra-putri Sisingamangaraja XII yang masih kecil. Raja Buntal dan Pangkilim. Menyusul Boru Situmorang Ibunda Sisingamangaraja XII juga ditangkap, menyusul Sunting Mariam, putri Sisingamangaraja XII dan lain-lain.

Tahun 1907, di pinggir kali Aek Sibulbulon, di suatu desa yang namanya Si Onom Hudon, di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi yang sekarang, gugurlah Sisingamangaraja XII oleh peluru Marsuse Belanda pimpinan Kapten Christoffel.

Kapitein Heinz Christoffel

Sisingamangaraja XII gugur bersama dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi serta putrinya Lopian. Konon Raja Sisingamangaraja XII yang kebal peluru tewas kena peluru setelah terpercik darah putrinya Lopian, yang gugur di pangkuannya.

Pengikut-pengikutnya berpencar dan berusaha terus mengadakan perlawanan, sedangkan keluarga Sisingamangaraja XII yang masih hidup ditawan, dihina dan dinista,  mereka pun ikut menjadi korban perjuangan. Demikianlah, tanpa kenal menyerah, tanpa mau berunding dengan penjajah, tanpa pernah ditawan, gigih, ulet, militan, Raja Sisingamangaraja XII selama 30 tahun, selama tiga dekade, telah berjuang tanpa pamrih dengan semangat dan kecintaannya kepada tanah air dan kepada kemerdekaannya yang tidak bertara.

Itulah yang dinamakan "Semangat Juang Sisingamangaraja XII", yang perlu diwarisi seluruh bangsa Indonesia, terutama generasi muda.

Sisingamangaraja XII benar-benar patriot sejati. Beliau tidak bersedia menjual tanah air untuk kesenangan pribadi.

Sebelum Beliau gugur, pernah  penjajah Belanda menawarkan perdamaian kepada Raja Sisingamangaraja XII dengan imbalan yang cukup menggiurkan. Patriotismenya digoda berat. Beliau ditawarkan dan dijanjikan akan diangkat sebagai Sultan. (Kenapa harus menjadi Sultan kenapa tidak menjadi Raja penguasa penuh di Tanah Batak, tidak hanya Raja Spritual saja ? ), Asal saja bersedia takluk kepada kekuasaan Belanda. Beliau akan dijadikan Raja Tanah Batak asal mau berdamai.

Kolonel Gotfried Coenraad Ernst van Daalen

Gubernur Belanda Van Daalen memberi tawaran itu bahkan berjanji, akan menyambut sendiri kedatangan Raja Sisingamangaraja XII dengan tembakan meriam 21 kali, bila bersedia masuk ke pangkuan colonial Belanda, dan akan diberikan kedudukan dengan kesenangan yang besar,asal saja mau kompromi, tetapi Raja Sisingamangaraja XII tegas

menolak. Ia berpendirian, lebih baik berkalang tanah daripada hidup di buaian penjajah.

 

Raja Sisingamangaraja XII gugur pada tanggal 17 Juni 1907, tetapi pengorbanannya tidaklah sia-sia.Dan cuma 38 tahun kemudian, penjajah betul-betul angkat kaki dari Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamirkan Sukarno-Hatta.

Kini Sisingamangaraja XII telah menjadi sejarah. Namun semangat patriotismenya, jiwa pengabdian dan pengorbanannya yang sangat luhur serta pelayanannya kepada rakyat yang sangat agung, kecintaannya kepada Bangsa dan Tanah Airnya serta kepada kemerdekaan yang begitu besar, perlu diwariskan kepada generasi penerus bangsa Indonesia.

(bersambung …..2)

Sabtu, 15 Mei 2010

SELINGAN (1), PERLU DIKETAHUI !

Fakta Ilmiah adanya perang Mahabharata (Perang Nuklir zaman Prasejarah)

clip_image001

# Epos Mahabarata
Kisah ini menceritakan konflik hebat keturunan Pandu dan Dristarasta dalam memperebutkan takhta kerajaan. Menurut sumber yang saya dapatkan, epos ini ditulis pada tahun 1500 SM. Namun fakta sejarah yang dicatat dalam buku tersebut masanya juga lebih awal 2.000 tahun dibanding penyelesaian bukunya. Artinya peristiwa yang dicatat dalam buku ini diperkirakan terjadi pada masa ±5000 tahun yang silam.

Buku ini telah mencatat kehidupan dua saudara sepupu yakni Kurawa dan Pandawa yang hidup di tepian sungai Gangga meskipun akhirnya berperang di Kurukshetra. Namun yang membuat orang tidak habis berpikir adalah kenapa perang pada masa itu begitu dahsyat? Padahal jika dengan menggunakan teknologi perang tradisional, tidak mungkin bisa memiliki kekuatan yang sebegitu besarnya.

Spekulasi baru dengan berani menyebutkan perang yang dilukiskan tersebut, kemungkinan adalah semacam perang nuklir! Perang pertama kali dalam buku catatan dilukiskan seperti berikut ini: bahwa Arjuna yang gagah berani, duduk dalam Weimana (sarana terbang yang mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh. seperti hujan lebat yang kencang, mengepungi musuh, dan kekuatannya sangat dahsyat.

Dalam sekejap, sebuah bayangan yang tebal dengan cepat terbentuk di atas wilayah Pandawa, angkasa menjadi gelap gulita, semua kompas yang ada dalam kegelapan menjadi tidak berfungsi, kemudian badai angin yang dahsyat mulai bertiup wuuus..wuuus.. disertai dengan debu pasir. Burung-burung bercicit panik seolah-olah langit runtuh, bumi merekah. Matahari seolah-olah bergoyang di angkasa, panas membara yang mengerikan yang dilepaskan senjata ini, membuat bumi bergoncang, gunung bergoyang, di kawasan darat yang luas, binatang-binatang mati terbakar dan berubah bentuk, air sungai kering kerontang, ikan udang dan lainnya semuanya mati. Saat roket meledak, suaranya bagaikan halilintar, membuat prajurit musuh terbakar bagaikan batang pohon yang terbakar hangus.

Jika akibat yang ditimbulkan oleh senjata Arjuna bagaikan sebuah badai api, maka akibat serangan yang diciptakan oleh bangsa Alengka juga merupakan sebuah ledakan nuklir dan racun debu radioaktif.

Gambaran yang dilukiskan pada perang dunia ke-2 antara Rama dan Rahwana lebih membuat orang berdiri bulu romanya dan merasa ngeri: pasukan Alengka menumpangi kendaraan yang cepat, meluncurkan sebuah rudal yang ditujukan ke ketiga kota pihak musuh. Rudal ini seperti mempunyai segenap kekuatan alam semesta, terangnya seperti terang puluhan matahari, kembang api bertebaran naik ke angkasa, sangat indah. Mayat yang terbakar, sehingga tidak bisa dibedakan, bulu rambut dan kuku rontok terkelupas, barang-barang porselen retak, burung yang terbang terbakar gosong oleh suhu tinggi. Demi untuk menghindari kematian, para prajurit terjun ke sungai membersihkan diri dan senjatanya.

Banyak spekulasi bermunculan dari peristiwa ini, diantaranya ada sebuah spekulasi baru dengan berani menyebutkan bahwa perang Mahabarata adalah semacam perang NUKLIR!!

Tapi, benarkah demikian yang terjadi sebenarnya? Mungkinkah jauh sebelum era modern seperti masa kita ini ada sebuah peradaban maju yang telah menguasai teknologi nuklir? Sedangkan masa sebelum 4000 SM dianggap sebagai masa prasejarah dimana peradaban Sumeria dianggap peradaban tertua didunia tidak ditemukan kemajuan semacam ini?

Namun selama ini terdapat berbagai diskusi, teori dan penyelidikan mengenai kemungkinan bahwa dunia pernah mencapai sebuah peradaban yang maju sebelum tahun 4000 SM.

Teori Atlantis, Lemuria, kini makin diperkuat dengan bukti tertulis seperti percakapan Plato mengenai dialog Solon dan pendeta Mesir kuno mengenai Atlantis, naskah kuno Hinduisme mengenai Ramayana & Bharatayudha mengenai dinasti Rama kuno, dan bukti arkeologi mengenai peradaban Monhenjo-Daroo, Easter Island dan Pyramid Mesir maupun Amerika Selatan.

# Penelusuran fakta ilmiah
Akhir-akhir ini perhatian saya tertuju pada sebuah teori mengenai kemungkinan manusia pernah memasuki zaman nuklir lebih dari 6000 tahun yang lalu. Peradaban Atlantis di barat, dan dinasti Rama di Timur diperkirakan berkembang dan mengalami masa keemasan antara tahun 30.000 SM hingga 15.000 SM.

Atlantis memiliki wilayah mulai dari Mediteranian hingga pegunungan Andes di seberang Samudra Atlantis sedangkan Dinasti Rama berkuasa di bagian Utara India-Pakistan-Tibet hingga Asia Tengah. Peninggalan Prasasti di Indus, Mohenjo Daroo dan Easter Island (Pasifik Selatan) hingga kini belum bisa diterjemahkan dan para ahli memperkirakan peradaban itu berasal jauh lebih tua dari peradaban tertua yang selama ini diyakini manusia (4000 SM). Beberapa naskah Wedha dan Jain yang antara lain mengenai Ramayana dan Mahabharata ternyata memuat bukti historis maupun gambaran teknologi dari Dinasti Rama yang diyakini pernah mengalami zaman keemasan dengan tujuh kota utamanya ‘Seven Rishi City’ yg salah satunya adalah Mohenjo Daroo (Pakistan Utara).

Dalam suatu cuplikan cerita dalam Epos Mahabarata dikisahkan bahwa Arjuna dengan gagah berani duduk dalam Weimana (sebuah benda mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh, lalu dalam sekejap bumi bergetar hebat, asap tebal membumbung tinggi diatas cakrawala, dalam detik itu juga akibat kekuatan ledakan yang ditimbulkan dengan segera menghancurkan dan menghanguskan semua apa saja yang ada disitu.

Yang membuat orang tidak habis pikir, sebenarnya senjata semacam apakah yang dilepaskan Arjuna dengan Weimana-nya itu?

Ada beberapa penelitian yang berusaha menguak tabir misteri kehidupan manusia di masa lampau ini. Tentang bagaimana kehidupan sosial hingga kemajuan ilmu dan teknologi mereka. Beberapa waktu belakangan banyak hasil penelitian yang mengejutkan. Dan dari berbagai sumber yang telah saya pelajari, secara umum penggambaran melalui berbagai macam teori dan penelitian mengenai subyek ini telah pula memberikan beberapa bahan kajian yang menarik, antara lain adalah:

Permulaan sebelum dua milyar tahun hingga satu juta tahun dari peradaban manusia sekarang ini teryata telah terdapat peradaban manusia. Dalam masa-masa yang sangat lama ini terdapat berapa banyak peradaban yang demikian maju namun akhirnya menuju pada sebuah kebinasaan? Dan penyebab kebinasaan itu adalah tiada lain akibat peperangan yang pernah terjadi.

Atlantis dan Dinasti Rama pernah mengalami masa keemasan (Golden Age) pada saat yang bersamaan (30.000-15.000 SM). Keduanya sudah menguasai teknologi nuklir. Keduanya memiliki teknologi dirgantara dan aeronautika yang canggih hingga memiliki pesawat berkemampuan dan berbentuk seperti UFO (berdasarkan beberapa catatan) yang disebut Vimana (Rama) dan Valakri (Atlantis).

Penduduk Atlantis memiliki sifat agresif dan dipimpin oleh para pendeta (enlighten priests), sesuai naskah Plato. Dinasti Rama memiliki tujuh kota besar (Seven Rishi’s City) dengan ibukota Ayodhya dimana salah satu kota yang berhasil ditemukan adalah Mohenjo-Daroo. Persaingan dari kedua peradaban tersebut mencapai puncaknya dengan menggunakan senjata nuklir.

Para ahli menemukan bahwa pada puing-puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo-Daroo mengandung residu radio-aktif yang hanya bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir skala besar. Dalam sebuah seloka mengenai Mahabharata, diceritakan dengan kiasan sebuah senjata penghancur massal yang akibatnya mirip sekali dengan senjata nuklir masa kini.

Beberapa Seloka dalam kitab Wedha dan Jain secara eksplisit dan lengkap menggambarkan bentuk dari ‘wahana terbang’ yang disebut ‘Vimana’ yang ciri-cirinya mirip piring terbang masa kini. Sebagian besar bukti tertulis justru berada di India dalam bentuk naskah sastra, sedangkan bukti fisik justru berada di belahan dunia barat yaitu Piramid di Mesir (Foto: relief jenis pesawat di Piramida Mesir di bawah ini) dan Amerika Selatan.

clip_image002

Foto: relief jenis pesawat di Piramida Mesir

Dari hasil riset dan penelitian yang dilakukan ditepian sungai Gangga di India, para arkeolog menemukan banyak sekali sisa-sisa puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai. Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling rendah 1.800 °C. Bara api yang biasa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.

Di dalam hutan primitif di pedalaman India, orang-orang juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batuan didalam bangunan juga telah dikacalisasi. Selain di India, Babilon kuno, gurun sahara, dan guru Gobi di Mongolia juga telah ditemukan reruntuhan perang nuklir prasejarah. Batu kaca pada reruntuhan semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini.

Bukti ilmiah peradaban Veda. Bukti-bukti arkeologis, geologis telah terungkap dari penemuan fosil-fosil maupun artefak- alat yang digunakan manusia pada masa itu telah terbukti menunjukkan bahwa peradaban manusia modern telah ada sekitar ratusan juta bahkan miliaran tahun yang lalu. Bukti-bukti tersebut diungkapkan oleh Michael Cremo, seorang arkeolog senior, peneliti dan juga penganut weda dari Amerika, dengan melakukan penelitian lebih dari 8 tahun.

Dari berbagai belahan dunia termasuk juga dari Indonesia telah dapat mengungkapkan misteri peradaban weda tersebut secara bermakna. Laporan tersebut ditulis dalam beberapa buku yang sudah diterbitkan seperti ; Forbidden Archeology, The Hidden History of Human Race, Human Devolution: A Vedic alternative to Darwin’s Theory, terbitan tahun 2003. Dalam buku tersebut akan banyak ditemukan fosil, artefak- peninggalan berupa kendi, alas kaki, alat masak dan sebagainya yang telah berusia ratusan juta tahun bahkan miliaran tahun, dibuat oleh manusia yang mempunyai peradaban maju, tidak mungkin dibuat oleh kera atau primata yang lebih rendah.

Dari buku-buku tersebut juga ditemukan adanya manipulasi beberapa arkeolog dengan mengubah dimensi waktunya, hal ini bertujuan untuk mendukung teori evolusi Darwin, karena kenyataannya teori evolusi masih sangat lemah. Bukti ilmiah sudah dengan jelas menyatakan bahwa peradaban weda telah ada miliaran tahun. Para ilmuwan telah membuktikan bahwa perang besar di tanah suci Kukrksetra, kota Dwaraka, sungai suci Sarasvati dan sebagainya merupakan suatu peristiwa sejarah, bukan sebagai mitologi. Setiap kali kongres para arkeolog dunia selalu menyampaikan bukti-bukti baru tentang peradaban Barthavarsa purba. Dibawah ini ditampilkan sekelumit dari bukti ilmiah tersebut.

Sebenarnya masih banyak bukti ilmiah lainnya yang menunjukkan peradaban weda tersebut, sehingga Satya yuga, Tretha yuga, Dvapara yuga dan Kali yuga dengan durasi sekitar 4.320.000 tahun merupakan suatu sejarah peradaban manusia modern yang memegang teguh perinsip dharma.

Perang Bharatayuda. Para arkeolog terkemuka dunia telah sepakat bahwa perang besar di Kuruksetra merupakan sejarah Bharatavarsa (sekarang India) yang terjadi sekitar 5000 tahun yang lalu. Sekarang para peneliti hanya ingin menentukan tanggal yang pasti tentang peristiwa tersebut. Dari hasil pengamatan beserta bukti-bukti ilmiah. Dari berbagai estimasi maka dibuatlah suatu usulan peristiwa-peristiwa sebagai berikut:

* Sri Krishna tiba di Hastinapura diprakirakan sekitar 28 September 3067 SM
* Bhishma pulang ke dunia rohani sekitar 17 Januari 3066 SM
* Balarama melakukan perjalanan suci di sungai Saraswati pada bulan Pushya 1 Nov. 1, 3067 SM
* Balarama kembali dari perjalanan tersebut pada bulan Sravana 12 Dec. 12, 3067 SM
* Gatotkaca terbunuh pada 2 Desember 3067 SM.

Dan banyak lagi penanggalan peristiwa-peristiwa penting sudah di kalkulasi.

* Kota kuno Dvaraka. Demikian juga keberadaan kota Dvaraka yang dulu menjadi misteri, kota tersebut disebutkan dalam Mahabharata bahwa Dvaraka tenggelam di pantai. Doktor Rao adalah seorang arkeolog senior yang dengan tekun menyelidiki dengan “marine archaeology” dan hasilnya ditemukannya reruntuhan kota bawah laut, beserta ornamennya, didaerah Gujarat. Dwaraka, kota kerajaan Sri Krishna masa lalu.

* Sungai Sarasvati. Keberadaan kota purba Harrapa dan Mohenjodaro serta keberadaan sungai suci Sarasvati telah dijumpai dalam Rig Weda, namun tidak diketahui keberadaannya, kemudian oleh NASA dengan pemotretan dari luar angkasa ternyata dijumpai sebuah lembah yang merupakan bekas sungai yang telah mengering, namun dalam kedalaman tertentu masih tampak ada aliran air di wilayah Pakistan yang bermuara ke lautan Arab, arahnya sesuai dengan yang digambarkan dalam sastra.

* Jembatan Alengka. Pemotretan luar angkasa yang dilakukan oleh NASA telah menemukan adanya jembatan mistrius yang menghubungkan Manand Island (Srilanka) dan Pamban Island (India) sepanjang 30 Km, dengan lebar sekitar 100 m, tampak pula jembatan tersebut buatan manusia dengan umur sekitar 1.750.000 tahun. Angka ini sesuai dengan sejarah Ramayana yang terjadi pada Tretha yuga. Sekarang sedang diteliti jenis bebatuannya. Jadi Ramayana itu adalah ithihasa (sejarah), bukan merupakan dongeng.

clip_image003

clip_image004

clip_image005

Foto: Sri Rama Bridge hasil pantauan NASA

Citra dari Rama Brige sendiri sangat mudah terlihat dari atas permukaan air laut karena letaknya yang tidak terlalu dalam, yaitu hanya tergenang sedalam kira-kira 1,2 meter (jika air laut sedang surut) dengan lebar hampir 100 m.
Tahun 1972 silam, ada sebuah penemuan luar biasa yang barangkali bisa semakin memperkuat dugaan bahwa memang benar peradaban masa silam telah mengalami era Nuklir yaitu penemuan tambang Reaktor Nuklir berusia dua miliyar tahun di Oklo, Republik Gabon.

clip_image006
Foto: Peta Oklo, Republik Gabon

clip_image007

clip_image008

Foto: bekas Reaktor Nuklir Berusia 2 Milyar Tahun di Oklo, Republik Gabon.

* Pada tahun 1972, ada sebuah perusahaan (Perancis) yang mengimpor biji mineral uranium dari Oklo di Republik Gabon, Afrika untuk diolah. Mereka terkejut dengan penemuannya, karena biji uranium impor tersebut ternyata sudah pernah diolah dan dimanfaatkan sebelumnya serta kandungan uraniumnya dengan limbah reaktor nuklir hampir sama. Penemuan ini berhasil memikat para ilmuwan yang datang ke Oklo untuk suatu penelitian, dari hasil riset menunjukkan adanya sebuah reaktor nuklir berskala besar pada masa prasejarah, dengan kapasitas kurang lebih 500 ton biji uranium di enam wilayah, diduga dapat menghasilkan tenaga sebesar 100 ribu watt. Tambang reaktor nuklir tersebut terpelihara dengan baik, dengan lay-out yang masuk akal, dan telah beroperasi selama 500 ribu tahun lamanya.

Yang membuat orang lebih tercengang lagi ialah bahwa limbah penambangan reaktor nuklir yang dibatasi itu, tidak tersebarluas di dalam areal 40 meter di sekitar pertambangan. Kalau ditinjau dari teknik penataan reaksi nuklir yang ada, maka teknik penataan tambang reaktor itu jauh lebih hebat dari sekarang, yang sangat membuat malu ilmuwan sekarang ialah saat kita sedang pusing dalam menangani masalah limbah nuklir, manusia zaman prasejarah sudah tahu cara memanfaatkan topografi alami untuk menyimpan limbah nuklir!

Tambang uranium di Oklo itu kira-kira dibangun dua milyar tahun yang lalu setelah adanya bukti data geologi dan tidak lama setelah menjadi pertambangan maka dibangunlah sebuah reaktor nuklir ini. Mensikapi hasil riset ini maka para ilmuwan mengakui bahwa inilah sebuah reaktor nuklir kuno, yang telah mengubah buku pelajaran selama ini, serta memberikan pelajaran kepada kita tentang cara menangani limbah nuklir.

Sekaligus membuat ilmuwan mau tak mau harus mempelajari dengan serius kemungkinan eksistensi peradaban prasejarah itu, dengan kata lain bahwa reaktor nuklir ini merupakan produk masa peradaban umat manusia. Seperti diketahui, penguasaan teknologi atom oleh umat manusia baru dilakukan dalam kurun waktu beberapa puluh tahun saja, dengan adanya penemuan ini sekaligus menerangkan bahwa pada dua miliar tahun yang lampau sudah ada sebuah teknologi yang peradabannya melebihi kita sekarang ini, serta mengerti betul akan cara penggunaannya.

Semua temuan arkeologis ini sesuai dengan catatan sejarah yang turun-temurun. Kita bisa mengetahui bahwa manusia juga pernah mengembangkan peradaban tinggi di India pada 5.000 tahun silam, bahkan mengetahui cara menggunakan reaktor nuklir, namun oleh karena memperebutkan kekuasaan dan kekayaan serta menggunakan dengan sewenang-wenang, sehingga mereka mengalami kehancuran.

Singkatnya segala penyelidikan diatas berusaha menyatakan bahwa umat manusia pernah maju dalam peradaban Atlantis dan Rama. Bahkan jauh sebelum 4000 SM manusia pernah memasuki abad antariksa dan teknologi nuklir. Akan tetapi zaman keemasan tersebut berakhir akibat perang nuklir yang dahsyat hingga pada masa sesudahnya, manusia sempat kembali ke zaman primitif. Masa primitif ini berakhir dengan munculnya peradaban Sumeria sekitar 4000 SM atau 6000 tahun yang lalu.

Lagi-lagi perang dan haus kekuasaanlah yang mengakibatkan manusia menjadi terpuruk. Dan hal ini patut kita renungkan lebih seksama sebagai buah pelajaran bahwa mengapa manusia zaman prasejarah yang memiliki sebuah teknologi maju tidak bisa mewariskan teknologinya, malah hilang tanpa sebab, yang tersisa hanya setumpuk jejak saja. Lalu bagaimana kita menyikapi atas penemuan ini?

Saudaraku, sebagai manusia sekarang, jika kita abaikan terhadap semua peninggalan-peninggalan peradaban prasejarah ini, sudah barang tentu kita pun tidak akan mempelajarinya secara mendalam, apalagi menelusuri bahwa mengapa sampai tidak ada kesinambungannya, lebih-lebih untuk mengetahui penyebab dari musnahnya sebuah peradaban itu. Dan apakah perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi kita sekarang akan mengulang seperti peradaban beberapa kali sebelumnya? Betulkah penemuan ini, serta mengapa penemuan-penemuan peradaban prasejarah ini dengan teknologi manusia masa kini begitu mirip? Semua masalah ini patut kita renungkan dalam-dalam sebagai upaya tidak mengulangi kesalahan fatal yang pernah dilakukan.

Nonton TV

Halaman