Kamis, 16 Mei 2013

Mencari kebenaran cerita sejarah di Jawa???

kebohongan cerita sejarah di jawa

Ketika saya di banten tahun 1989 saya banyak mendengar berbagai cerita  tentang cerita penyerangan banten di palembang di mana di kisahkan tentang kemenangan banten dan terbunuhnya seorang panglima banten yang masih muda bernama Arya Dillah... semua itu bohong cuma cerita menyenangkan hati yang mana banten dalam tiga kali perang semuanya kalah oleh palembang. Ada lg yg lucu kq banyak yg bilang kalau Adtya Warman ataupun kata Warman berarti berperisai Matahari, padahal dalam teks manapun tidak ada rujukan yg menyatakan kata itu berarti berperisai Matahari..... dan ada pula cerita expedisi pamalayu di mana di ceritakan banyak orang tentang penaklukan seantero melayu oleh jawa.... itu juga cerita yg terlalu di besar besarkan orang2 jawa walaupun expedisi pamalayu itu memang ada tapi tidak ada bukti penyerangan oleh puyang kerbau menyebrang [Patih Mahisa Anabrang] ke palembang dan sekitarnya. Dalam kitab negara kertagama  tidak menjelaskan demikian, sedang bila kita simak dari serat paparaton akan menimbulkan keraguan karna pada serat paparaton banyak kesalahan pada tokoh dan zaman yg berbeda dan tidak terterah nama Mahisa Anabrang dalam paparaton, mungkin karna ia menyebrang ke sumatra di sebutlah ia Anabrang. Dan adapun di tuliskan expedisi itu membawah 7 permata mutu manikan dan 7 panditha sebagai tanda kebesaran Raja Singasari yg ingin menyatukan Nusantara dan di nikahi dua putri melayu sebagai ikatan kekeluargaan antara jawa dan sumatra. Dan di katakan pula dalam cerita tersebut sejarah di jawa tentang kesuksesan expedisi pamalayu meliputi semenanjung malaya dan tumasik...itu bohong !.... boro boro naklukin seluruh melayu wilayah kulon jawa aja ngk.....betul2 sejarah  di negri ini sejarah yg penuh dengan kebohongan pantesan pejabatnya rata2 pembohong...udah keturunan kali...hahahahahhaa....  paling2 perang yg besar di zaman itu tentang penaklukan bali itupun harus di bantu 12 puyang dari sumsel, 6 Arya sanak yg di pimpim arya Damar. Karna patih Gajah Mada keder dengan ilmu orang bali yg terkenal mumpuni dalam Ilmu Bhairawa. Nah untuk membuktikan bahwa semua itu penuh dengan bumbu kebohongan inilah salah satu  
contohnya 
Ki Ageng Wonolelo dengan nama asli Jumadi Geno merupakan seorang keturunan Prabu Brawijaya V sekaligus sebagai tokoh penyebar agama Islam pada masa kerajaan Mataram. Ia bermukim di Dusun Pondok Wonolelo, memiliki ilmu kebatinan yang tinggi pada masa itu. Karena memiliki ilmu yang linuwih, ia pernah diutus oleh Raja Mataram ke Kerajaan Sriwijaya di Palembang yang saat itu membangkang terhadap Mataram, Iapun berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya. Nama Ki Ageng Wonolelo atau Jumadi Geno semakin tersohor dari waktu ke waktu sehingga semakin banyak orang yang berdatangan untuk berguru dengannya. Sebagai seorang panutan yang memiliki ilmu tinggi ia banyak mewariskan berbagai peninggalan yang berupa tapak tilas dan pusaka atau jimat dan benda keramat lainnya. Pusaka, jimat dan berbagai benda keramat peninggalan Ki Ageng Wonolelo inilah yang kemudian di kirabkan setiap bulan Sapar pada setiap tahunnya. Bagaimana mungkin di zaman brawijaya v saja kerajaan sriwijaya sudah ngk ada lagi apa lagi di zaman keturunanya....wele wele wele ....contoh bukti yg ke dua (setelah demak mengalahkan portugis di malaka lalu palembangpun di taklukan banten pada tahun 1596 penulisnya jimmy wales) ini betul2 ngawuuuuuurrr !!!.....   jelas2 demak kalah dan patih unus terbunuh dan sultan bantenpun terbunuh di palembang ....sejarah kq di bulak balik ?!......sekarang mari anda saya ajak kilas balik pada serentetan peristiwa di tanah melayu kita awali saja pada expedisi pamalayu yang mana itu terjadi di swarna Bhumi...Suvarnabhumi yg di maksud ini bukanlah palembang tapi di wilayah tengah sumatera karna suatu kesalahan jika menafsir itu ada di palembang di dalam expedisi itu menbawah 7 permata mutu manikan 14 pengiring yg terdiri 7 panditha/ penghulu agama (samogat, pamegat) 7 pejabat (rakyan) singasari seperti Mahisa Anabrang, Idrawarman dll melengkapi sampainya Arca Amongapasha sebagai hadiah Raja Singasari. Sebagaimana yg terterah dalam prasasti yg berbunyi:
  1. Bahagia ! Pada tahun Śaka 1208[1286 dalam hitungan masehi] bulan Bādrawāda, hari pertama bulan naik, hari Māwulu wāge, hari Kamis, Wuku Madaṇkungan, letak raja bintang di baratdaya
  2. tatkala itulah arca paduka amongapashalokeśwara dengan empat belas pengikut serta tujuh ratna permata dibawa dari bhūmi jāwa ke swarnnabhūmi, supaya ditegakkan di dharmmāśraya,
  3. sebagai hadiah śrī wiśwarūpa kumāra. Untuk tujuan tersebut pāduka śrī mahārājādhirāja kṛtanagara wikrama dharmmottunggadewa memerintahkan rakryān mahā-mantri dyah adwayabrahma, rakryān śirīkan dyah sugatabrahma dan
  4. samagat payānan hań dīpankaradāsa, rakryān damun pu wīra untuk menghantarkan pāduka Amoghapāśa. Semoga hadiah itu membuat gembira segenap rakyat di bhūmi mālayu, termasuk brāhmaṇa, ksatrya, waiśa, sūdra dan terutama pusat segenap para āryya, śrī mahārāja śrīmat tribhuwanarāja mauliwarmmadewa.                                                                                                    dari prasasti ini tentu dapat di lihat dengan jelas bahwa expedisi pamalayu berjalan damai dan sama sekali tidak tertulis dalam serat negara kertagama dan serat kakawin tentang perperangan dalam expedisi itu.dan di tambakan pula pahatan pada zaman adtyawarman pada tahun 1347 yg berbunyi
  5. Salam sejahtera.
  6. Dia, yang memelihara keyakinan dengan benar, Dia, yang memiliki jiwa yang besar, Dia, yang berbudi luhur yang selalu dicintai, Dia, yang mengetahui isi kitab suci, Dia, yang paling unggul, yang sangat taat dan melatih diri, dan Dia yang berkarakter mulia, Dia, yang semua ini karena sandoha Anda dan harapan Anda, Dia yang mengetahui dan mengalahkan musuhnya, Dia yang membenci (kegelapan) perpecahan, Dia yang paling hebat, Dia adalah Ādityavarmodaya.
  7. Dia yang diberkahi dengan semua kebajikan, Dia yang sangat berpengalaman dalam perdagangan senjata, dan fasih dalam segala ilmu, Dia bagaikan lautan kebajikan seperti yang diharapkan oleh umat Buddha, Dia yang tahu bagaimana menangani hal-hal dengan bijaksana, Dia yang mengisi tubuh dan nafsunya dengan kemurnian, Dia yang mencapai apa-apa, Dia yang telah memperoleh kekayaan dan emas, Dia Deva (Kṣatriya) Tuhan, para Patih.
  8. Pratista kehormatan Buddha telah dilakukan oleh Acarya (Pendeta guru) Dharmaśekhara, atas nama Gagaṇagañja, Dia yang rendah hati seperti Mañjuśrī, telah ditahbiskan untuk keselamatan (persatuan) dan kebahagiaan dari semua makhluk oleh Devair Amoghapāśa, Dia Raja yang Mulia Ādityawarmman.
  9. saat Matahari pada orbitnya di tahun 1269 Saka saat bulan purnama pada waktu posisi bintang di utara; yoga di Siddhi, dan setengah jam Kāruṇya; muhūrta svarāt; memulihkan keadaan sebelumnya
  10. Salam (untuk anda), dari dukungan seluruh dunia, yang menguasai emas, yang mengetahui segala tingkatan hidup dan sosial.
  11. Dia yang memiliki pengetahuan mendalam tentang Mahayana yang tiada terbatas, Dia yang telah menaklukan bahaya dan mengumpulkan seluruh permata dari jari-jari musuhnya, Dia di antara para penguasa di dunia ini, Dia yang telah mencapai keagungan.
  12. Maharājādhirāja Śrīmat Śrī-Udayādityavarmma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Varrmmadeva, Dia yang berkuasa untuk diketahui semua.
  13. di negeri yang memiliki emas, indah dengan kicauan burung dan gajah serta aroma hutan menyenangkan yang dihiasi oleh peri surga dengan kolam yang dikunjungi oleh Mātaṅginiśa dan Asura'.
  14. Tuan dari semua Dewa, sandoha yang sangat berlimpah hāhā
  15. hāhāhūhū, yang dinikmati, indah bagaikan bulan purnama saat posisi rasi bintang yang baik, yang dihiasi oleh kebaikan hatinya, dan di bawah nama Udayawarmmagupta, pemimpin dari semua penguasa dunia, yang telah melepas dari bentuk Jina datang ke bumi untuk membantu dunia menghapus perasaan hampa di Mātaṅgini (ratu).
  16. Semoga  dari Mātaṅgini yang melindungi bumi ini dari pembusukan, menikmati harta yang telah dikumpulkan karena prestasinya sebagai prajurit, dengan kekuatan kemurahan (pengampunan), Dia yang bersabar, Dia yang menahan diri, Dia yang rendah hati dari keturunan yang sangat baik, Dia, Patih  yang telah menunjukkan keunggulannya dalam menghukum orang jahat.
  17. Patung yang berdiri ditempat pemujaan Buddha (Jina) ini adalah Tuan yang Mulia Amoghapasa sebagai sinar Udaya (Matahari terbit) yang indah.
  18. Dengan tangan (kekuasaan) yang setuju dengan kebenaran, mereka yang telah mencapai ketenaran dengan menaklukkan musuh-musuh kerajaan, yang memiliki penampilan bagaikan seperti anak panah Tuhan, demi kemenangan tertinggi untuk Malayapura, yang berpengalaman dalam segala hal, yang unggul dan diberkahi dengan banyak kebajikan, Dia adalah deva-tuhan, para (patih) raja muda.
  19. Udaya yang bersinar di atas gunung (Matahari terbit) berbakti kepada Udaya Udaya yang rendah hati, yang ditakuti musuh, yang mulia di bumi ini  tambahan ini di guratkan setelah beliau di anugrahi pangkat rakyan maha mentri hino (gubernur jendral) pangkat tertinggi sesudah maharaja..sehingga di sebutlah beliau Adityawarman berarti wakil penguasa jadi bukan berperisai matahari dong.... kalau dia cuma wakil penguasa jadi siapakah sang penguasa ????? tentulah Kertanegara, dan Tribuanatunggadewi ......dan kata yg berarti matahari itu udaya hehehehe....jelas toooooh ?!.... jadi maksud nama para raja pada masa lalu yg di ujungi Warman maksudnya yg berkuasa.,,,,,,dan tidak tunduknya sunda di bawah kebesaran Majapahit dan dapat kita simak dari peristiwa perang bubat dalam kidung sundayana. Dimana pada kisah itu dapatlah terlihat keculasan hati gaja mada ....sampai akhirnya Dyah Pitaloka bunuh diri setelah Kijar seorang prajurit sunda yg masih hidup menyampaikan pesan padanya bahwa 300 ratus keluarga sunda habis di bantai oleh 10000 ribu tentara Gaja mada. Dan di kisahkan dalam peristiwa itu Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di majapahit yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama mpuh sungging prabakara, tapi alasan yg paling utama adalah masalah politik dimana majapahit membutuhkan kerajaan sunda sebagai sekutunya mengingat  msh ada tali persaudaraan antara sunda dan majapahit, lewat Dyah Lembuh Tal. Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit. Menurut Kidung Sundayana timbul niat Mahapatih Gaja Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi sumpah palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari semua kerajaan di jawa Dwipa yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sundalah yang belum dikuasainya. Tapi sayang sekali raja Linggabuana merasa bukan orang taklukan maka di tentangnyala Gaja Mada hingga seluruh orang sunda di bubat tewas di keroyok bayangkara majapahit yg di pimpim Gaja Mada. Hayam Wuruk sangat malu dgn peristiwa itu ia pun sangat terluka karna orang yg di gandrunginya sudah menjadi mayat di hadapanya dan Gaja Mada sekali lagi melakukan kesalahan sejak itu pamor Gaja Mada pudar dan di musuhi para petinggi majapahit. Dan dalam peristiwa itu lagi2 keluarga Arya Damar yg terpaksa turun tangan yaitu rombangan Darmadyaksa yg di bali mereka menyampaikan rasa duka cita dan penyesalan yg sebesar besarnya atas peristiwa itu dan di hadapan mangkubumi kerajaan sunda hyang bunisora dan berjanji tidak akan pernah lg mengganggu tanah sunda dan akan di buatkan kidung sundayana sebagai pengingat peristiwa itu agar tak terulang pada masa yg akan datang dan dari itu dapatlah kita lihat bahwa tanah sunda saja tidak pernah menjadi taklukan majapahit baik sebelum maupun sesudah perang bubat. Lalu bagaimana mungkin dikatakan bahwa semenanjung melayu dan tumasik juga masuk dalam wilayah majapahit pada masa itu?... inilah cacat sejarah yg harus kita luruskan. Tumasik dan sebagian semanjung melayu adalah kekusaan Siam adapun yg berkuasa di tumasik adalah Temagi Bangsawan dari Siam. Temanggi tewas di bunuh Parameswara pada tahun1324i(di  perkirarakan ini tahun saka) tapi ini tahun yg masih di ragukan karna bisa jadi tahun ini lebih tua sekitar 20 tahun bila kita rentetkan pada semua peristiwa pada masa majapahit. adapun Parameswara adalah seorang bangsawan majapahit bukan sriwijaya karna pada masa itu kontrol sriwijaya pada palembang dan sekitarnya sudah berakhir inilah rentetan silsilahnya sebagai berikut; Parameswara bin Ranamenggala bergelar sang nila utama(brhee pandan salasa/ buyut padang selaso petilasanya di bukit besar palembang) bin raden sotor bin cakradara/ kertawardana. Kemudian terjadilah perselisihan antara sesama bangswan majapahit Parameswara di anggap pembangkang maka di seranglah ia oleh bayangkara majapahit dan para pengikut setia dan parameswara hijrah ke singapura dan membunuh penguasa di sana. Setelah dirinya berada dalam bahaya karna di incar kerajaan siam dan majapahit maka parameswara hijrah ke melaka lalu menjadi  seorang muslim di tiongkok dan menikahi putri pasai. Adapun setelah Parameswara mengirimkan upeti pada kaisar Yung Lo di tiongkok Parameswara banyak berkumpul dengan pedagang arab dan Parameswara terinspirasi oleh kehebatan laksamana cheng ho(sam po kong sam po tay jen) dan dia sadar bahwa tanah malaka butuh kekuatan baru dan islam adalah pilihanya. Sekarang kita buka lembaran tentang perang banten palembang yg mana pada perang ini bukanlah perang kafir seperti pada tutur orang2 di banten tapi ini perang politik ekonomi dan dendam turun temurun  antar darah demak ini kisah fitnah dari mulut pangeran mas Putra Arya Panggiri yg mulutnya berlumuran darah ksatria banten dan palembang di ceritakan pada saat solat jumat pangeran mas menyampaikan kepada sultan muhamad banten bahwa palembang msh kafir dan harus di islamkan hal ini di fikirkan oleh sultan muhamad pertama mengislamkan palembang adalah perbuatan mulia dan jika palembang sudah di kuasai maka jalur sahang/ lada di lampung akan lebih muda di jalankan lalu di undangnyalah para senopati dari mataram cirebon lampung dan demak untuk mengatur penyerangan ke palembang hal ini sempat di cegah oleh para penasehat banten dan cirebon pertama banten ini sudah makmur dan rasanya tidak mungkin palembang masih kafir. Tapi semangat muda sultan tak dapat lagi di cegah lalu di berangkatkanlah 200 kapal perang ke wilayah palembang saat itu ada pula serangan lampung ke palembang yg di pimpim Menak Rio tabuhan/ Minak Rio Mangkubumi  karna pada saat itu lampung adalah wilayah bawahan banten..dan seperti bunyi prasasti lamun banten di hareup lampung di buri lamun lampung ning hareup banten ning buri . perang pertama ini terjadi pada masa pemerintahan madi angsoko di palembang (bermakam di cinde areal candi angsoko palembang) adapun tahun perang itu pada thn 1596 perang ini berakhir dengan kemenangan palembang setelah tewasnya sultan muhamad dan raja lampung minak rio tabuhan/minak rio mangkubumi dan beberapa senopati banten seperti panglima jaga lautan adapun tewasnya sultan banten ini dengan tikaman pusaka tiga sakti yg pernah di miliki Arya Damar. Sampai sekarang tuah pusaka tiga sakti masih di percaya dan di simbolkan masyarakat sumsel di mana sejata tikamnya di beri lambang pusaka tiga sakti yg menurut pandangan awam masarakat palembang lading Cap Garpu padahal itu bukan garpu tapi pusaka tiga sakti yg pahatkan di pisau tikam sumsel dan bukan pula pisau tikam sumsel asal muasalnya dari solingen germany karna sejak jaman dahulu belati sudah di kenal dipahatkan pada candi di lambangkan pada arca bhirawa situs padang roco.. tahun 1662 banten palembang kembali meradang  padahal saat itu palembang dalam keadaan tidak siap perang adalah seorang sakti yg bernama Buyut Embeh (bermakam di oki sumsel) yg jadi penyelamat palembang hanya dengan sebuah taktik lucu tiba2 pasukan banten surut dari arena perang. Adapun pada saat itu bangka dalam kekuasaan banten Adipati Nusantara yg memimpin di sana dan patihnya bernama Ratu Bagus setelah Adipati Nusantara wafat maka putri tunggalnya di nikahi sultan palembang ini terjadi pada tahun 1701 pada masa pemerinthan Susuhunan Abdurahman (bermakam di cinde areal candi walang) nah inilah masa yg sempat sejuk antara banten dan palembang karna pada saat itu pasukan palembang pada performa yg bagus sehingga patih Ratu Bagus sampai harus mundur saat berhadapan dengan prajurit palembang yg di pimpim panglima Padma dan patih Raden Kelip [bermakam di cinde area candi walang palembang] hingga pada tahun1730 lampung jatuh dalam kekuasaan kesultanan palembang masa sultan mahmud badaruddin 1.    tahun 1773 armada banten datang lagi dan berusaha untuk merebut jalur perdagangan di tulang bawang lampung lagi2 banten keteter dalam perang ini pasukan banten terkepung dari hulu dan hilir sungai adalah yg menjadi penyelamat banten waktu itu adalah pimpimnan VOC di way kanan  Reiner De Klerk yg mendamaikan dan peristiwa itu terjadi pada masa sultan Ahmad Najamuddin 1 palembang (bermakam di bom baru)semua rentetan sesuai dengan silsilah masa sultan di palembang Nama Sultan Kesultanan Palembang Darussalam Tahun Memerintah (Hijriyah/Masehi)
    1 Sultan Abdurrahman Kholifatul Mukminin Sayidul Imam
    (dimakamkan di Kompleks Pemakaman Candi Walang) 1069-1118 1659-1706
    2 Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago
    (Dimakamkan di Kompleks Pemakaman Kebon Gede 32 ilir) 1118-1126 1706-1714
    3 Sultan Anom Alimuddin
    (Dimakamkan di Kompleks Pemakaman Kebon Gede 32 ilir) 1126-1126 1714-1714
    4 Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno
    (Dimakamkan di Kompleks Pemakaman 1 ilir) 1126-1136 1714-1724
    5 Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (SMB I)
    (Kompleks Pemakaman Gubah Utama / Kawah Tekurep) 1136-1171 1724-1758
    6 Sultan Ahmad Najamuddin ( I ) Adi Kusumo
    (Kompleks Pemakaman Gubah Tengah / Kawah Tekurep) 1171-1190 1758-1776
    7 Sultan Muhammad Bahauddin
    (Kompleks Pemakaman Gubah Luan / Kawah Tekurep ) 1190-1218 1776-1803
    8 Sultan Mahmud Badaruddin (SMB II)
    (Dimakamkan di Kompleks Pemakaman Ternate/Maluku) 1218-1236 1803-1821
    9 Sultan Ahmad Najamuddin ( II ) Husin Diauddin
    (Dimakamkan di Kompleks Pemakaman Kawah Tekurep /
    Pindahan dari Jakarta) 1228-1233 1813-1818
    10 Sultan Ahmad Najamuddin ( III )Pangeran Ratu
    (Dimakamkan di Kompleks Pemakaman Ternate/Maluku) 1234-1236 1819-1821
    11 Sultan Ahmad Najamuddin ( IV )Prabu Anom
    (Dimakamkan di Manado/Sulawesi Utara) 1238-1240 1821-1825    ini sebagian sejarah yg saya luruskan dan saya yakin masih banyak orang2 yg sehaluan dengan saya mari kita benahi carut marut sejarah kita karna ini akan menjadi simbol bagaimana sikap bangsa ini pada masa yg akan datang sudah muak kita di suapi kebohongan di nina bobokan  dengan kebohongan ketidak jelasan masalah supersemar masalah G 30 S / PKI  dan banyak lagi masalah yg lain kita di tipu oleh sejarah sejarah kita sendiri dan jangan kita biarkan generasi penerus ikut mencicipi ini____ salam sejahtera (Ratu Wijaya)

Batak Dari Masa Ke Masa

Sejarah Batak
Inilah Biodata Si Raja Batak (Raja yang berkuasa di tahun 1539*  menurut buku “The voyages and adventures of Fernand Mendez Pinto, yang dialih bahasa ke bahasa Ingris oleh H.C Gent yang diterbitkan tahun 1653, dan dipersembahkan gratis oleh book.google.com dan penerbit) adalah seperti berikut ini:
  1. Gelar                     : Raja Batak
  2. Nama                    : Angeessiry Timorraia
  3. Saudara Ipar         : Aquarem Dabolay
  4. Dewa                    : Quiay Hocombinor, Ginnasserod (Dewa Kesedihan)
  5.  Armada                 : 15 Ribu Orang (Terdiri dari 8 ribu orang Batak, dan selebihnya dari              Menancabes, Lusons, Andraquires, Jambes dan Bournees, 40   Gajah, 12 Kereta dengan pasukan kecil dinamakan Fauleions,
  6. Pusat Kerajaan      : Pananiu (Panaiu)
  7. Nama Kerajaan     : Kerajaan Batak (menurut Tomi Pires dalam Suma Oriental posisinya ada diantara Pase dan Aru (haru).

    Pusat kerajaan yakni Pananiu kemungkinan besar berhubungan erat dengan Kerajaan Panai seperti data dari Prasasti Rajendra Cola: Panai ditundukkan oleh Kerajaan Cola setelah mereka menundukan Sriwijaya. “Pannai, dengan kolam air, adalah Negara kedua yang ditaklukkan oleh armada angkatan laut (Colamandala – red). Pannai telah diidentifikasi sebagai Pani atau Panei, sebuah kota di pantai timur Sumatera (Wikipedia.org - Sastri, p 215). Jadi klaim bahwa Panai adalah tunduk pada Sriwijaya bisa dipatahkan.

Pannai juga disebut-ebut dalam naskah kuno Kerajaan Majapahit tulisan Empu Prapanca tahun 1365 Saka, jadi sulit menyatakan kerajaan ini kecil dan adalah taklukan Sriwijaya, karena kerajaan ini sudah ada jaman Sriwijaya Berjaya dan masih bertahan saat Sriwijaya dan Majapahit Runtuh.
Belum ditemukan bukti kemunduran kerajaan Panai sehingga pada tahun 1526 dan kenapa tiba-tiba kerajaan ini lenyap.

Batak Masa Ke masa

Dalam buku perjalanan Pinto di atas Letak Panai (Panaiu-Pananiu) ada di Pantai Barat Sumatra (Pinto menulis sisi lain dari Laut yang di sebut olehnya sebagai laut Mediterania – dimana Pindo berangkat dari Malaka dan singgah di Kerajaan Aru lalu menyusuri Timur Sumatra sampai kesisi lainnya). Bandingkan tulisan Walter Bonar Sidjabat dalam buku Ahu Si Singamangaraja, panai itu ada di daereah Pane sekarang (Padang Lawas).

Anak-Anak Raja Batak:

3 Putra Raja Batak telah tewas ditangan Tirani Aceh seperti isu suratnya kepada Kapten Portugal yang diterima oleh Pedro de Faria bertanggal Hari Kelima Bulan Kedelapan (hal. 15).
Dalam Hal 20 tertulis, Pinto Mengamati 2 orang Pangeran yang tidak disebut lagi sebagai Pangeran dari Negeri Tetangga (seperti tertulis di hal.15) , tidak begitu jelas apa pentingnya dia mengamati kedua Pangeran ini, jika memang mereka adalah anak dari Raja Batak maka menjadi identik dengan Tarombo Batak Toba yakni Si Raja Batak Mempunyai dua Orang Anak yaitu : Guru Teteabulan dan Raja Isumbaon.
Dan jika Siraja Batak tahun 1526 mempunyai dua orang Putra maka jarak satu generasi ke generasi selanjutya rata rata adalah :
2012 - 1539     =     473 tahun
maka jika Siraja Batak Sudah punya generasi ke 25 maka satu Generasi rata-rata : 486/25 = 18,92 tahun.
Cukup masuk diakal.
Dan Pernyataan ini  telah menjadi fakta yang di akui dunia saat ini saat ini, karena didukung oleh:
  1. Sesuai dengan apa yang diakui dan dipercaya oleh mereka yang  merupakan keturunan Siraja Batak seperti Tarombo di Toba dan masyarakat di luar Batak.
  2. Mereka yang menerima bahwa mereka adalah Batak tapi bukan keturunan Si Raja Batak seperti pada Tarombo Toba (semakain menguatkan point 1 diatas)
  3. Bahkan mereka yang bermarga tapi tidak merasa sebagai orang Batak (Artinya semakain mengukuhkan point 1 diatas).


 
Menurut Peta ini hanya Panai dan Sriwijaya yang ditaklukkan oleh Colamandala
Sriwijaya ditaklukan menyusul Panni oleh Rajendra Cola dari India
Sumber : wikipedia.org ilustrasi oleh : Dr. Kiernan

Penyebab runtuhnya Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya mengalami keruntuhan disebabkan oleh:

1. Daerah-daerah vatsal banyak yang melepaskan diri
2. Serangan T'guh Dharmawangsa (Jawa) tahun 992 M
3. Serangan Raja Colamandala (India) tahun 1017 M
4. Ekspedisi Pamalayu oleh Raja Kertanegara (Singosari) tahun 1275 M
5. Serangan Majapahit tahun 1377 M

Dari Berbaga Sumber :

Senin, 08 April 2013

Mengenal jenis Ulos Batak Toba

Ulos Batak Toba


“Ulos Batak”, dikenal sebagai Jati diri orang Batak sesuai Budaya dan Adatnya.

Orang Batak sudah dikenal sebagai “Bangso Batak”, kenapa..?
Dahulu sudah memiliki Kerajaan sendiri, Mardebata Mulajadi Nabolon (“pencipta yang maha besar”), memiliki Surat Aksara Batak, dan sudah pernah memiliki Uang tukar yakni Ringgit Batak (“Ringgit Sitio Suara”), uning-uningan namarragam (“musik”), memiliki Budaya Adat, dan mempunyai Hukum.

Namun sekarang ini sudah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahkan orang Batak Toba sudah banyak yang tidak mengetahui :
1. Bahasa daerahnya sendiri
2. Dasar dan tahapan tor-tor Batak, sudah banyak yang tidak mengetahuinya, bahkan secara filosofi tidak mempunyai standard
3. Ulos Batak tidak dikenal jenis-jenis dan Fungsinya secara filosofi.
*’ Hal ini terjadi karena seorang penasehat atau pemerhati mengaku pintar, namun menimbulkan kesalapahaman tentang budaya batak yang benar

 
Jenis dan Fungsi Ulos Batak:

Ulos (lembar kain tenunan khas tradisional Batak) pada hakikatnya adalah hasil peradaban masyarakat Batak pada kurun waktu tertentu. Menurut catatan beberapa ahli ulos (tekstil) sudah dikenal masyarakat Batak pada abad ke-14 sejalan dengan masuknya alat tenun tangan dari India. Hal itu dapat diartikan sebelum masuknya alat tenun ke Tanah Batak masyarakat Batak belum mengenal ulos (tekstil).
Komunitas Tenun Ulos Batak merupakan kelompok masyarakat yang mengerjakan tenun tradisional ulos batak dan salah satunya yang terletak di kota Balige.

1. Beberapa jenis ulos batak yang ada di komunitas tenun ulos adalah: Ulos Jugia : Ulos ini disebut juga “ulos naso ra pipot atau pinusaan”



2. Ulos Ragi Hidup : Banyak orang beranggapan ulos ini adalah yang paling tinggi nilanya, mengingat ulos ini memasyarakat pemakainya dalam upacara adat Batak
.

3. Ragi Hotang : Ulos ini biasanya diberikan kepada sepasang pengantin yang disebut sebagai ulos Marjabu. Dengan pemberian ulos ini dimaksudkan agar ikatan batin seperti rotan (hotang).


4. Ulos Sadum : Ulos ini penuh dengan warna warni yang ceria hingga sangat cocok dipakai untuk suasana suka cita.


7. Ulos Suri-suri ganjang : Biasanya disebut saja ulos Suri-suri, berhubung coraknya berbentuk sisir memanjang.


8. Ulos Mangiring : Ulos ini mempunyai corak yang saling iring-beriring. Ini melambangkan kesuburan dan kesepakatan.
 
 

9. Bintang Maratur : Ulos ini menggambarkan jejeran bintang yang teratur. Jejeran bintang yang teratur didalam ulos ini menunjukkan orang yang patuh, rukun seia dan sekata dalam ikatan kekeluargaan.
 
 

10. Sitoluntuho-bolean : 
Ulos ini biasanya hanya dipakai sebagai ikat kepala atau selendang wanita. Tidak mempunyai makna adat kecuali bila diberikan kepada seorang anak yang baru lahir sebagai ulos parompa.

 

11. Ulos Jungkit : 
Ulos ini jenis ulos nanidondang atau ulos paruda (permata). Purada atau permata merupakan penghias dari ulos tersebut
 

Sortali
 
 

12. Ulos Lobu-lobu : 
Jenis ulos ini biasanya dipesan langsung oleh orang yang memerlukannya, karena ulos ini mempunyai keperluan yang sangat khusus, terutama orang yang sering dirundung kemalangan (kematian anak).


Bahan dasar ulos:

Bahan dasar ulos pada umumnya adalah sama yaitu sejenis benang yang dipintal dari kapas. Bila kita memperhatikan ulos Batak secara teliti, akan kelihatan bahwa cara pembuatannya yang tergolong primitif bernilai seni yang sangat tinggi. Yang membedakan adalah poses pembuatannya yang mempunyai tingkatan tertentu. Ini merupakan ukuran penentuan nilai sebuah ulos. Misalnya bagi anak dara, yang sedang Helajar bertenun hanya diperkenankan membuat ulos “parompa” Ini disebut “mallage” (ulos yang dipakai untuk menggendong anak). Tingkatan ini diukur dari jumlah lidi yang dipakai untuk memberi warna motif yang diinginkan. Tingkatan yang tinggi ialah bila dia telah mampu mempergunakan tujuh buah lidi atau disebut “marsipitu lili”. Yang bersangkutan telah dianggap cukup mampu bertenun segala jenis ulos Batak.
1. Proses Pembuatan ulos batak yang sering dilakukan di komunitas ulos batak yaitu: Pembuatan benang : Proses pemintalan kapas sudah dikenal masyarakat batak dulu yang disebut “mamipis” dengan alat yang dinamai “sorha”.
2. Pewarnaan : Bahan pewarna ulos terbuat dari bahan daundaunan berbagai jenis yang dipermentasi sehingga menjadi warna yang dikehendaki.
3. Gatip : Rangkaian grafis yang ditemukan dalam ulos diciptakan pada saat benang diuntai dengan ukuran standard.
4. Unggas : Unggas adalah proses pencerahan benang.
5. Ani : Benang yang sudah selesai diunggas selanjutnya memasuki proses penguntaian yang disebut “mangani”.
6. Tonun : Tonun (tenun) adalah proses pembentukan benang yang sudah “diani” menjadi sehelai ulos.
7. Sirat : Sirat adalah hiasan pengikat rambu ulos. “Manirat” merupakan proses terakhir untuk menjadikan ulos yang utuh.

Ulos Batak Toba
Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan, sesuai dengan pepatah Batak yang berbunyi: “Ijuk pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong", yang artinya kira-kira "Jika ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya, maka ulos adalah pengikat kasih sayang antara sesama.".

Secara harfiah, ulos berarti selimut yang menghangatkan tubuh dan melindunginya dari terpaan udara dingin. Menurut kepercayaan leluhur suku Batak ada tiga sumber yang memberi panas kepada manusia, yaitu matahari, api dan ulos. Dari ketiga sumber kehangatan tersebut ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Pada awalnya nenek moyang mereka mengandalkan sinar matahari dan api sebagai tameng melawan rasa dingin. Masalah kecil timbul ketika mereka menyadari bahwa matahari tidak bisa diperintah sesuai dengan keinginan manusia. Pada siang hari awan dan mendung sering kali bersikap tidak bersahabat. Sedang pada malam hari rasa dingin semakin menjadi-jadi dan api sebagai pilihan kedua ternyata tidak begitu praktis digunakan waktu tidur karena resikonya tinggi. Al hajatu ummul ikhtira'at, karena dipaksa oleh kebutuhan yang mendesak akhirnya nenek moyang mereka berpikir keras mencari alternatif lain yang lebih praktis. Maka lahirlah ulos sebagai produk budaya asli suku Batak.

Tentunya ulos tidak langsung menjadi sakral di masa-masa awal kemunculannya. Sesuai dengan hukum alam ulos juga telah melalui proses yang cukup panjang yang memakan waktu cukup lama, sebelum akhirnya menjadi salah satu simbol adat suku Batak seperti sekarang. Berbeda dengan ulos yang disakralkan yang kita kenal, dulu ulos malah dijadikan selimut atau alas tidur oleh nenek moyang suku Batak. Tetapi ulos yang mereka gunakan kualitasnya jauh lebih tinggi, lebih tebal, lebih lembut dan dengan motif yang sangat artistik.

Kini ulos memiliki fungsi simbolik untuk berbagai hal dalam segala aspek kehidupan orang Batak. Ulos menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan adat suku Batak.
Mangulosi, adalah salah satu hal yang teramat penting dalam adat Batak. Mangulosi secara harfiah berarti memberikan ulos. Mangulosi bukan sekadar pemberian hadiah biasa, karena ritual ini mengandung arti yang cukup dalam. Mangulosi melambangkan pemberian restu, curahan kasih sayang, harapan dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Dalam ritual mangulosi ada beberapa aturan yang harus dipatuhi, antara lain bahwa seseorang hanya boleh mangulosi mereka yang menurut tutur atau silsilah keturunan berada di bawah, misalnya orang tua boleh mengulosi anaknya, tetapi anak tidak boleh mangulosi orang tuanya. Disamping itu, jenis ulos yang diberikan harus sesuai dengan ketentuan adat. Karena setiap ulos memiliki makna tersendiri, kapan digunakan, disampaikan kepada siapa, dan dalam upacara adat yang bagaimana, sehingga fungsinya tidak bisa saling ditukar.

Dalam perkembangannya, ulos juga diberikan kepada orang non-Batak. Pemberian ini bisa diartikan sebagai penghormatan dan kasih sayang kepada penerima ulos.
Beberapa jenis ulos yang dikenal dalam adat Batak sebagai berikut:

1. Ulos Ragidup
Ragi berarti corak, dan Ragidup berarti lambang kehidupan. Dinamakan demikian karena warna, lukisan serta coraknya memberi kesan seolah-olah ulos ini benar-benar hidup. Ulos jenis ini adalah yang tertinggi kelasnya dan sangat sulit pembuatannya. Ulos ini terdiri atas tiga bagian; dua sisi yang ditenun sekaligus, dan satu bagian tengah yang ditenun tersendiri dengan sangat rumit. Ulos Rangidup bisa ditemukan di setiap rumah tangga suku batak di daerah-daerah yang masih kental adat bataknya. Karena dalam upacara adat perkawinan, ulos ini diberikan oleh orang tua pengantin perempuan kepada ibu pengantin lelaki.
 
 

2. Ulos Ragihotang
Hotang berarti rotan, ulos jenis ini juga termasuk berkelas tinggi, namun cara pembuatannya tidak serumit ulos Ragidup. Dalam upacara kematian, ulos ini dipakai untuk mengafani jenazah atau untuk membungkus tulang belulang dalam upacara penguburan kedua kalinya.
 

3. Ulos Sibolang
Disebut Sibolang sebab diberikan kepada orang yang berjasa dalam mabolang-bolangi (menghormati) orang tua pengantin perempuan untuk mangulosi ayah pengantin laki-laki pada upacara pernikahan adat batak. Dalam upacara ini biasanya orang tua pengantin perempuan memberikan Ulos Hela yang berarti ulos menantu kepada pengantin laki-laki.
 
 

 
 
 
 

Mengulosi menantu lelaki bermakna nasehat agar ia selalu berhati-hati dengan teman-teman satu marga, dan paham siapa yang harus dihormati; memberi hormat kepada semua kerabat pihak istri dan bersikap lemah lembut terhadap keluarganya. Selain itu, ulos ini juga diberikan kepada wanita yang ditinggal mati suaminya sebagai tanda penghormatan atas jasanya selama menjadi istri almarhum. Pemberian ulos tersebut biasanya dilakukan pada waktu upacara berkabung, dan dengan demikian juga dijadikan tanda bagi wanita tersebut bahwa ia telah menjadi seorang janda. Ulos lain yang digunakan dalam upacara adat adalah Ulos Maratur dengan motif garis-garis yang menggambarkan burung atau banyak bintang tersusun teratur. Motif ini melambangkan harapan agar setelah anak pertama lahir akan menyusul kelahiran anak-anak lain sebanyak burung atau bintang yang terlukis dalam ulos tersebut.

Dari besar kecil biaya pembuatannya, ulos dapat dibedakan menjadi dua bagian:
Pertama, Ulos Na Met-met; ukuran panjang dan lebarnya jauh lebih kecil daripada ulos jenis kedua. Tidak digunakan dalam upacara adat, hanya untuk dipakai sehari-hari.

Kedua, Ulos Na Balga; adalah ulos kelas atas. Jenis ulos ini pada umumnya digunakan dalam upacara adat sebagai pakaian resmi atau sebagai ulos yang diserahkan atau diterima.

Biasanya ulos dipakai dengan cara dihadanghon; dikenakan di bahu seperti selendang kebaya, atau diabithon; dikenakan seperti kain sarung, atau juga dengan cara dililithon; dililitkan dikepala atau di pinggang.


Sumber:Doloktolongsite.blogspot.com

Sabtu, 06 April 2013

Kerajaan Sriwijaya Dilahirkan dari Suku Dayak

 
Wajar, jika dikatakan Suku Dayak adalah suku tertua di Nusantara. Suku Dayak memang lahir lebih dahulu ketimbang suku-suku yang lainnya. Berdasarkan peta persebaran sejarah nusantara, imigran berbagai bangsa mulai menjejakan kakinya di Kalimantan yang saat itu dikenal dengan sebutan Tanjung Nagara.
Gelombang imigran dari luar dimulai pada akhir zaman es (pleistocene) usai tepatnya sekitar 10.000-6.000 tahun lalu melalui jalur timur laut. Persebaran manusia di Kalimantan pun terus berkembang, ditambah adanya gelombang imigran proto melayu. Keberadaan Suku Dayak yang lebih dahulu menginjakan kakinya di Bumi Nusantara ini, membuat saya berasumsi jika adanya dugaan Suku Dayak merupakan nenek moyang Bangsa Indonesia. Begitu juga dengan perannya sebagai cikal bakal lahirnya kerajaan-kerajaan di Nusantara, salah satunya adalah Kerajaan Sriwijaya.
Berdasarkan Cerita Urang Sepuluh dari Banjar, Kalimantan Selatan, dijelaskan cucu pertama dari Anyan, yakni tokoh Suku Dayak Maanyan yang bernama Lua pergi ke tanah melayu. Saat itu, Melayu atau yang lebih dikenal dengan nama Malaka merupakan pusat perdagangan yang ramai. Orang Suku Dayak memang terkenal memiliki ilmu tinggi. Lua yang mengikuti jejak Sang Kakek, merantau ke Pulau Sumatera yang masih merupakan tanah Melayu.
Penyebutan nama sebagai identitas diri pada zaman dulu merupakan suatu hal yang tidak terlalu penting, sehingga kebanyakan setiap tokoh yang dikenal hanya akan dipanggil sesuai dengan kemampuan atau ilmu yang mereka miliki. Sehingga tidak heran pula, jika untuk setiap tokoh sejarah akan memiliki nama yang berbeda di setiap daerahnya. Itu yang terkadang membuat kebingungan saat akan membedah sejarah masa lampau. Mungkin, bisa saja itu salah satu taktik untuk menyamarkan identitas orang yang sama. Karena jika dipikir oleh akal manusia zaman sekarang, sangat tidak mungkin jika ada manusia yang bisa hidup dengan usia yang berabad-abad lamanya. Tapi saya beropini untuk zaman dulu, hal itu sangat mungkin terjadi.
Seperti halnya Lua yang merupakan cucu pertama dari Anyan, salah seorang tokoh besar Suku Dayak dari Kerajaan Purba Nan Marunai. Di Kalimantan Selatan, Lua berarti Naga. Jadi, bisa saja di Tanah Melayu, nama Lua berganti menjadi Naga. Sama seperti Raja Prameswara, Raja Sriwijaya ke-X yang berganti nama ketika mendirikan Kerajaan Malaka menjadi Iskandar Zulkarnaen atau Raja Gentar ALam karena ilmu saktinya yang dapat menggentarkan alam.
Kecenderungan adanya dugaan Kerajaan Sriwijaya dilahirkan dari Kerajaan Purba yang dibangun Suku Dayak terlihat dari beberapa kesamaan seperti ornamen bunga teratai, warna kuning dan emas sebagai warna kebesaran, serta lambang naga yang merupakan hewan agung yang dipercaya Suku Dayak.
Jika benar seperti itu, Kerajaan Sriwijaya dapat diprediksi telah lahir sebelum abad ke 7 Masehi. Lahirnya Kerajaan Sriwijaya diduga lebih tua dari Kerajaan Kutai. Hal itu dijelaskan pada Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan M Batenburg pada 29 November 1920 lalu di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatera Selatan. Dalam prasasti tersebut dijelaskan Dapunta Hyang melakukan perjalanan suci ke timur dengan membawa 2 laksa tentara.
Berdasarkan cerita lainnya, Dapunta Hyang merupakan sebuah gelar yang mutlak disandang oleh semua Raja Sriwijaya. Sehingga patut dipertanyakan Raja Sriwijaya ke berapa yang melakukan perjalanan suci ke timur tersebut?
Dari sebuah artikel yang saya langsir, http://lookman89.wordpress.com/2011/10/15/hikayat-dayak-banjar/, pada abad ke-5 M berdiri sebuah kerajaan di Kalimantan Selatan bernama Kerajaan Tanjungpuri. Berdirinya kerajaan ini bermula dari kedatangan para Imigran Melayu dari Kerajaan Sriwijaya di pulau Sumatera pada sekitar abad ke- 4 M. Para Imigran Melayu yang mempunyai kebudayaan lebih maju dibanding penduduk lokal pada masa itu mendirikan perkampungan kecil di daerah pesisir Sungai Tabalong.
Para imigran tersebut berbaur bahkan melakukan perkawinan dengan penduduk setempat yakni Suku Dayak. Hasil dari perpaduan antara suku Melayu dan Dayak itulah yang akhirnya menjadi cikal bakal Suku Banjar. Semakin lama perkampungan di pesisir Sungai Tabalong itu semakin ramai sehingga akhirnya menjadi sebuah kerajaan kecil bernama kerajaan Tanjungpuri (diperkirakan terletak di kota Tanjung sekarang).
Keturunan Anyan dari anaknya Masari mendirikan kerajaan Candi Laras di Margasari (Kab. Tapin sekarang) pada Tahun 678 M. Bukti keberadaan Kerajaan Candi Laras adalah Tulisan di Prasasti “Kedukan Bukit” yang terdapat di kota Palembang bertahun 605 Saka/ 683 M berhuruf Pallawa. Isi tulisan “Dapunta Hyang mengadakan perjalanan suci dengan perahu dari Minanga Tamwan membawa dua laksa tentara menuju timur”.
Bukti lainnya adalah Prasasti Batung Batulis yang ditemukan di kompleks Candi Laras Margasari bertahun 606 Saka. Isi tulisannya adalah “Jaya Sidda Yatra” yang artinya perjalanan Ziarah. Menurut Arkeologi Nasional prasasti tersebut berasal dari Sriwijaya. Jadi dua buah prasasti tersebut mempunyai keterkaitan karena memiliki kesamaan yaitu berhuruf Pallawa.
Prasasti Kedukan bukit bertahun 605 Saka yang merupakan Tahun keberangkatan dari Sriwijaya dan Prasasti Batung Batulis bertahun 606 Saka yang merupakan Tahun kedatangan di Candi Laras Marga Sari, merupakan hal yang logis sebab perjalanan waktu itu mungkin saja mencapai setahun dari Sriwijaya ke Candi Laras di Pulau Kalimantan. Sehingga menghapus mitos selama ini yang mengatakan bahwa Candi laras didirikan oleh Ampu Jatmika asal Keling pada Tahun 1387 M.
Bukti lainnya lagi adalah ditemukannya Patung Buddha dipangkara, patung tersebut dikenal sebagai azimat keselamatan bagi pelaut Sriwijaya yang beragama Buddha. Jadi sebenarnya yang datang ke Candi Laras di Marga Sari itu adalah rombongan dari kerajaan Sriwijaya pada Tahun 683 M.
Cerita lain menyebutkan, Raja Sriwijaya yang datang ke tanah Kalimantan dikenal juga dengan sebutan Datuk Rimba atau Raja Gentar Alam. Jika menilik nama Sang Tokoh, hal itu menjelaskan Raja Sriwijaya yang melakukan perjalanan suci ke timur tersebut adalah Prameswara yakni, Raja Sriwijaya ke-X. Hal itu menjelaskan, pada abad ke 7 Masehi bukan merupakan masa awal berdirinya Kerajaan Sriwijaya, melainkan masa awal kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang mulai melakukan perluasan wilayahnya dengan cara asimilasi ke berbagai daerah. Kemudian dari cara ekspansi Kerajaan Sriwijaya itulah yang juga melahirkan Kerajaan besar lainnya seperti Kerajaan Majapahit, Kerajaan Sunda, dan Kerajaan Minangkabau.

Bangsa Inggeris Orang Eropah pertama ke Tanah Batak

PENDATANG EROPA KE TANAH BATAK
 


Sir Thomas Stamford Raffles adalah orang Eropa pertama yang berkunjung ke pedalaman Tanah Batak dan berhasil menginjakkan kakinya pinggir pantai Danau Toba. Sebelumnya, Charles Miller dan Giles Holloway, telah lebih dahulu berupaya untuk masuk ke pedalaman tersebut, tetapi tidak berhasil. Catatan kedua orang inilah yang dijadikan sebagai bagian dari buku William Marsden yang berjudul The History of Sumatra yang didalamnya terdapat tulisan tentang “suku di pedalaman yang masih kanibal.” Suku inilah yang kemudian dikenal sebagai orang Batak.

Dalam sejumlah tulisan yang menyangkut Tanah Batak, tidak seorang penulis pun menyebutkan bahwa Raffles adalah orang pertama yang berhasil menginjakkan kakinya di pinggiran danau ini. Mulai dari Brassem, yang merupakan pengagum van deer Tuuk, sampai penulis sekaliber Sitor Situmorang, semua mengklaim bahwa van der Tuuk adalah orang kulit putih yang pertama kali menginjakkan kaki di pinggir danau itu. Tulisan Brasseem dimuat dalam majalah Gema, Tahun II, November 1962, dan tulisan Sitor Situmorang dimuat dalam buku Somalaing Pardede dan Modigliani. Walaupun M.O. Parlindungan dalam bukunya banyak menyebut nama Raffles tetapi hanya sebatas keinginannya untuk menjadikan Tanah Batak sebagai daerah peyangga (wig policy) antara Minangkabau dan Aceh yang beragama Islam.

Nama Raffles seharusnya mendapat porsi yang memadai khususnya dalam penulisan tentang kristenisasi Tanah Batak. Alasannya ialah karena setelah Raffles mengadakan satu kunjungan ke pedalaman Tanah Batak dia kemudian berkirim surat kepada teman-temannya di Inggeris, agar penginjil-penginjil kristen dikirim kesana. Raffles berhasil karena akhirnya dua orang pendeta, Burton dan Ward, datang walaupun ternyata kemudian keduanya terpaksa angkat kaki akibat perjanjian antara Inggeris dan Belanda yang dikenal dengan Traktat London.

Banyak kontroversi sekitar kegagalan kedua penginjil ini dalam melakukan missinya di Tanah Batak. Nommensen sendiri menganggap Burton gagal karena keterbatasan bahasa, sehingga salah dalam menafsirkan Injil. Hal ini menyebabkan orang Batak menolak kedatangannya. Sementara itu, M.O. Parlindungan sendiri mempunyai pendapat lain. Menurutnya, kegagalan Burton dan Ward terjadi karena epidemi kolera yang pada waktu itu masih berjangkit di Tanah Batak Utara, sementara H. Moh. Said mengatakan kegagalan itu karena dari awal orang Batak telah tidak senang terhadap simata putih (si bontar mata).

Untuk dapat memberikan penilaian yang jujur, marilah kita mengikuti sejarah keberadaan Raffles di Indonesia dan khususya mengenai kedatangannya ke pedalaman Tanah Batak. Untuk itu, dalam buku ini kami sengaja memuat sekelumit memoar Raffles khususnya tentang kunjungannya ke Tanah Batak, agar kita dapat melihat benih pertumbuhan iman Kristen tersebut secara jernih. Memoar itu menjadi penting karena banyak hal terungkap di dalamnya, termasuk keberadaan pasukan Paderi di Tanah Batak. Karena itu, di bawah ini akan dikutip penggalan memoar tersebut, sebagaimana dimuat dalam buku The Restless Warrior, karya Richard Mann:

“. . . He sailed from Calcutta in the Indiana, in February 1820.

Looking out from the ship, over the empty expanse of ocean, give him an empty feeling inside. ‘Was I too optimistic after the death of Colonel Bannerman?’ he asked himself. ‘Was I too impetuous in rushing to Calcutta?’ As the Indiana its way back to Sumatera, Raffles was dogged by the feeling that he was coming home empty handed.

Off the coast of Sumatera, north of Nias, the Indiana sailed into the Mentawai Strait, a strecth of water dividing the mainland from of a chain of offshore islands. At the entrance to the strait, far north of Padang, at Poncan Island the Company had a small post and Raffles decided to pause there to recover from crossing the choppy Bay of Bengal and also to try to see something of the Batak country inland.

Travellers had stopped here from time immemorial and the coast was littered with the remains of the first Eroupean explorers, the Portuguese. William Marsden had sparked his interest in the people who lived in the part of Sumatera by his descriptions of them as cannibals.

Landing first at Poncan Island, Raffles meet the British Resident, John Prince, and explained his purpose. Prince agreed to provide guides and porters for Raffles to make the journey inland to the mountain home of the Batak people. Beaching their boats at the village of Sibolga, Prince negotiated for porters and horses from the local people. While Mary Anne and little Charles stayed at Prince’s house, the Resident, Raffles, Dr. William Jack and Captain Flint set out into the interior, the Europeans and guides riding, and the porters walking. Prince said that the journey was about two hundred kilometers, once again, up and the beautiful but rugged Barisan Mountains.

In addition to cannibalism, the Bataks had a warlike reputation, but their chiefs received Raffles warmly and discovered the cannibalism was only as a punishment for crime. Still, it was used and wrote letters, filled with suitable horror, home the friends in England. As he had experienced upon arrival at the homeland plateau of the Minangkabau, here, too, Raffles found the soil rich and many gardens of carefully tended fruit and vegetables. He found the Bataks very darks skinned and, from what he was told of their history and the stone remains he saw, he felt sure that they originated either in India proper or in the nothern region arround Burma or Thailand.

Their homes were most spectacular, built on stilts, with each end of the roof rising up from a saddle in the middle and decorated plentifully with buffalo horns. Anthropology aside, he found Lake Toba, a huge mountain-locked expanse of water at the heart of the Batak homelands, one of the most beautiful lakes he had ever seen. “It was worth coming here just to see this,” he sighed looking out over the island dotted lake. “Utterly magnificent . . .”

Diterjemahkan dengan bebas:

“. . . Dengan kapal Indiana, Raffles berlayar meninggalkan Calcutta pada bulan Februari 1820. Ketika memandang ke laut lepas, dia merasakan kekosongan dalam hatinya. ‘Apakah aku terlalu optimistik dengan kematian Kolonel Bannerman?’ ia bertanya dalam hati. ‘Apakah aku terlalu tergesa-gesa pergi ke Calcutta?’ Ketika Indiana makin mendekati Sumatera, makin terasakan bahwa dia pulang dengan tangan hampa.

Di lepas pantai Sumatera, di sebelah utara Pulau Nias, kapal Indiana memasuki Selat Mentawai, hamparan laut yang memisahkan daratan Sumatera dengan rangkaian pulau-pulau lepas pantai. Di jalur masuk ke selat itu, di ujung utara Padang, di Pulau Poncan, Inggris mempunyai kantor kecil dan Raffles memutuskan untuk beristirahat di sana guna memulihkan diri dari rasa lelah akibat hantaman ombak yang dahsyat, sewaktu melintasi Teluk Benggala, selain itu untuk melihat-lihat negeri orang Batak di daratan.

Dari dulu telah banyak pelancong berhenti di sini dan pantai tersebut dipenuhi dengan sisa-sisa para penjelajah Eropa. William Marsden, penjelajah pertama Portugis, telah menimbulkan minat dalam dirinya tentang orang-orang yang tinggal di pedalaman Pulau Sumatera karena ia menggambarkan mereka sebagai kanibal.

Setelah mendarat di Pulau Poncan, Raffles bertemu dengan Residen John Prince dan mengutarakan maksudnya. Prince setuju menyediakan penunjuk jalan dan pembawa barang yang akan menyertai Raffles dalam perjalanannya ke Tanah Batak. Setelah perahu-perahu mereka mendarat di Sibolga, Prince menawar orang-orang setempat untuk mendapatkan pembawa barang dan kuda.

Sementara Mary Anne dan Charles yang masih kecil tinggal di rumah, Residen Prince, Raffles, Dr. William Jack dan Kapten Flint berjalan ke pedalaman. Orang-orang Eropa dan penunjuk jalan tersebut naik kuda dan para pembawa barang berjalan kaki. Prince mengatakan perjalanan tersebut berjarak kurang-lebih 200 kilo meter, naik-turun gunung yang indah namun terjal di rangkaian Bukit Barisan.

Selain dikenal sebagai ‘kanibal’ orang Batak juga dikenal sebagai orang yang suka berperang, tetapi para kepala sukunya menerima Raffles dengan penuh kehangatan. Raffles akhirnya tahu bahwa ‘kanibalisme’ itu hanya diberlakukan sebagai hukuman bagi penjahat. Tetapi memang betul hal itu masih diberlakukan dan dia menulis surat-surat dan dilengkapi cerita-cerita seram tentang hal itu kepada teman-temannya di Inggris.

Seperti yang dia amati di dataran tinggi yang menjadi kediaman orang Minangkabau, tanah di bukit ini pun tampak subur dan ditanami dengan buah dan sayuran yang dirawat dengan baik. Dilihatnya orang Batak berkulit gelap dan dari sejarah dan sisa-sisa patung batu yang ditemukannya, dia yakin bahwa mereka berasal dari India atau wilayah utara Burma atau Thailand.

Rumah-rumah mereka tampak sangat mengagumkan, yang dibangun di atas tiang-tiang sehingga tidak menyentuh tanah dan atapnya mendongak tegak ditengahnya layaknya pelana kuda, penuh ukiran yang indah dengan tanduk kerbau. Dia juga melihat Danau Toba, suatu hamparan luas yang dikelilingi pegunungan di jantung Tanah Batak, sebagai salah satu danau terindah yang pernah dilihatnya. “Melihat ini saja rasanya sudah tidak rugi,” desahnya sambil melihat keindahan danau yang berisikan pulau tersebut. “Sungguh menakjubkan . . .”

Dari catatan perjalanan ini, kita memperoleh dua hal penting. Pertama, segera setelah Raffles mengunjungi Tanah Batak, dia banyak berkirim surat kepada teman-temannya di Inggris. Salah satu di antaranya dikirim pada tanggal 12 Februari 1820 kepada Duchess of Sommerset. Dia berceritera tentang kunjungannya ke pedalaman Tanah Batak yang, menurut Marsden, masih “kanibal,” tentang rajanya yang disebutnya “Singah Maha Raja,” tentang kepercayaannya yang “supranatural.” Raffles meminta agar dikirimkan penginjil ke Tanah Batak. Duchess of Sommerset sendiri dikenal dekat dengan petinggi gereja karena ia banyak memberikan sumbangan kepada gereja.

Surat tersebut ternyata membuahkan hasil. Gereja Baptis Inggris mengirimkan dua orang penginjil yaitu Richard Burton dan Nathaniel Ward untuk bekerja di Tanah Batak. Sebelum angkat kaki dari Tanah Batak, Burton pernah memberikan laporan kepada Jhon Prins tentang tewasnya “Singah Maha Raja,” raja orang Batak yang menurutnya meninggal karena “kebodohannya” sendiri. Para penginjil tersebut menjalankan tugasnya dengan baik dan sering disambut dengan upacara adat. Akan tetapi, sejak Traktat London ditanda tangani, yang yang mengharuskan Inggeris angkat kaki dari P. Sumatera dan karena Burton dan Ward dianggap adalah bahagian dari Raffles, kedua penginjil ini pun harus meninggalkan Tanah Batak walaupun mereka hanya penginjil biasa.

Kedua, terdapat catatan waktu yang menarik perhatian karena tampak perbedaan antara tahun yang tertulis dalam memoar Raffles dan tahun yang tertulis dalam buku M.O. Parlindungan Siregar. Di satu pihak, tarikh yang dituliskan oleh M.O. Parlindungan menyebutkan bahwa selama dua tahun, dari tahun 1818 sampai 1820, pasukan Paderi melakukan penyerangan dan pembumihangusan di Tanah Batak Utara. Di pihak lain, jika kita perhatikan memoar di atas, tertulis dengan jelas bahwa, pada bulan Februari 1820, Raffles melihat “rumah-rumah yang dibangun di atas tiang-tiang sehingga tidak menyentuh tanah dan atapnya mendongak tegak dan ditengahnya seperti pelana kuda, penuh ukiran yang dihiasi tanduk kerbau.”

Dengan demikian, bilamana kita menyimak memoar itu dan membandingkannya dengan tulisan M.O. Parlindungan, akan timbul pertanyaan: Apakah Raffles salah lihat atau catatan yang diperoleh M.O. Parlindungan tidak sahih?



Nonton TV

Halaman