Selasa, 16 Juli 2013

sebuah Legenda Batak "Si Boru Natmandi"

 
Dahulu kala sewaktu penduduk yang mendiami Rura (Lembah) Silindung masih memeluk kepercayaan Sipelebegu [1], hiduplah seorang Raja yang kaya, besar dan bersahaja[2]. Mereka hidup dengan damai di sebuah huta [3] di tepi sungai Aek Situmandi [4] yang bersih dan jernih. Tempat tinggal raja itu berada di seberang Huta Siparini sekarang. Huta Siparini terletak di kaki Dolok (Gunung) Siatas Barita. Dolok Siatas Barita adalah tempat “Pamelean” [5] keturunan Guru Mangaloksa sewaktu belum masuk agama Kristen ke Rura Silindung.
Walaupun Dolok Martimbang lebih tinggi dari Dolok Siatas Barita, itu tidak masalah  bagi mereka karena  guru  Mangaloksa pertama sekali mendirikan huta di kaki Dolok Siatas Barita. Dari sanalah awalnya guru Mangaloksa bersama keturunannya  mendiami seluruh Rura Silindung. Oleh karena itu,  Dolok Siatas Barita merupakan tempat  “Dolok Parsaktian” [6] bagi keturunan Guru Mangaloksa sekaligus menjadi tempat Pamelean zaman dahulu.
 Aek Situmandi View of Hasak
Terkabarlah Raja ini karena kekayaannya, kebesaran dan kebersahajaannya. Semua tanaman-tanaman diladang maupun disawah berlimpah ruah, bahkan  tempat penyimpanan yakni “Sopo” [7] tidak bisa lagi menampungnya. Begitu juga dengan ternaknya ( kerbau dan babi ) berlimpah. Sang Raja tinggal di “Rumah Batak“ [8] Tetapi lebih terkenal lagi raja ini karena kecantikan putrinya yang bernama Si Boru Natumandi .
Banyak anak-anak raja yang ingin menjadikan  siboru Natumandi menjadi istrinya. Kabar mengenai kecantikan siboru Natumandi sudah tersebar ke “Desa Naualu” [9]. Keindahan tubuh yang semampai, keindahan  matanya yang teduh, senyum dan tertawanya yang membuat hati damai, kecantikan wajahnya yang mempesona, rambutnya bagaikan mayang terurai sampai ketumitnya, cara bicaranya yang lemah lembut dan sopan, perilakunya membanggakan orang tua dalam bermasyarakat, dan cara berpakaiannya juga sangat sopan. Tidak ada seorangpun yang melebihi karisma yang dimilikinya bahkan diantara kawan-kawan  putri-putri raja yang seumuran denganya di Desa Naualu. Tidak hanya itu, dia pandai mengambil hati kedua orang tuanya, sangat terampil manortor (Tari-tarian suku batak) serta penenun yang handal dan rajin.
Banyak raja-raja dari toba, samosir, humbang, pos-pos, dan angkola datang kepada raja itu untk meminang raja Siboru natumandi menjadi “Parumaennya” [10] (menantunya). Siboru natumandi sangat pandai mengambil hati orang tuanya, sehingga  dia putri kesayangan ayah ibunya. Karena itu, sewaktu raja-raja datang meminang Si Boru Natumandi jadi parumaennya, raja hanya menjawab yakni : molo mangoloi borukku, sipanolopi ma ianggo hami ( kalau putriku mau menerima, kami orang tuanya merestuinya).
Mendengar jawaban raja itu, maka semua raja-raja yang mau meminang Si Boru Natumandi menyuruh  anak-anaknya  menjumpai Si Boru Natumandi untuk  meminta agar dia mau jadi istrinya.
Sungguh lemah lembut jawaban Si Boru Natumandi pada anak-anak raja yang datang menjumpainya. Si Boru Natumandi sangat senang menyambut kedatangan anak-anak raja itu. Bahkan mereka disuguhkan dengan makanan yang lezat dan nikmat. Setelah selesai makan dia memberikan jawaban kepada raja tersebut.
 Aek Situmandi View of Hasak.
Anak-anak raja yang datang tidak bisa tenang, mereka selalu penasaran, hati mereka selalu berdebar-debar, apakah saya diterima? kalimat tersebut yang selalu ada dalam pikiran mereka. Kalau tidak diterima kenapa harus repot-repot memasak,  menyuguhkan makanan yang nikmat dan lezat dengan pelayanan yang memuaskan pada saya. Itulah yang menghantui pikiran anak-anak raja setip kali datang meminang. Wajahnya selalu tersenyum tidak menunjukkan ketidak sukaan pada setiap anak-anak raja yang datang. Hal tersebut juga membuat hati setiap anak-anak raja yang datang menjadi gusar dan bertanya-tanya sampai-sampai lupa pada makanan yang disuguhkan itu.
Perasaan ayah dan ibu Si Boru Natumandi ikut juga tidak tenang menunggu jawaban yang diberikan putrinya pada anak-anak raja yang datang itu. Mereka sangat berharap agar putrinya mau menerima  salah satu lamaran dari anak raja yang datang itu.
 
Setelah selesai makan, S Boru Natumandi memberikan jawabannya kepada anak-anak raja yang datang itu dengan sopan dan lemah lembut dia mengatakan : ‘mauliate ma diharoromuna na tu ahu, alai mulak ma hamu ai ndang lomo do pe rohakku mar hamulian’. (terimakasih karena telah datang menjumpai saya, tapi pulanglah kalian, karena saya belum ingin menikah/berumah tangga).
Bagaikan ‘Porhas na manoro di siang ari’ (bagaikan petir yang menyambar di siang hari) perasaan hati anak-anak raja mendengar perkataan Si Boru Natumandi yang singkat itu. Perasaan mereka lemas tak berdaya, tak sanggup lagi menjejakkan kakinya ke atas tanah karena mendengar jawaban tersebut.
Seperti itulah jawaban yang di berikan Si Boru Natumandi kepada setiap anak-anak raja yang datang melamarnya. Sungguh lemah lembut perkataannya, pelayanannya sangat sopan dan baik. Tapi jawabannya yang singkat itu bagaikan disembelih dengan sembilu, sungguh menusuk jantung.
Biasanya setelah anak-anak raja yang datang menjumpai Si Boru Natumandi pulang, kedua orang tua Si Boru Natumandi langsung menanyakan apakah putrinya itu  sudah menerima salah satu lamaran dari anak-anak raja yang datang tersebut? Tapi jawaban yang diberikan Si Boru Natumandi selalu sama yakni : ‘dang lomo do pe rohakku mar  hamulian amang-inang’ (ayah-ibu saya masih belum mau menikah).
Seperti itu juga raja-raja yang menyuruh anak-anaknya datang menjumpai Si Boru Natumandi mereka selalu bertanya-tanya. Setiap anaknya pulang dari rumah Si Boru Natumandi mereka langsung menanyakan : ‘beha do amang, di jalo do hatami? Asa manigor borhat hami mangarangragi’ (“Bagaimana nak, apakaah lamaranmu diterima?” lamaranmu? Supaya kita langsung berangkat menjumpai orang tuanya). Tapi dari pancaran wajah si anak yang lesu tidak bersemangat, mereka sudah tahu bahwa anak mereka tidak di terima Si Boru Natumandi. Semua raja-raja yang menyuruh anaknya itu menjumpai Si Boru Natumandi bertanya-tanya : ‘na behado ulaning, na hurang mora do pe au, nahurang do hasangapon hu?’ (apa gerangan yang terjadi, apakah saya kurang kaya, apakah saya kurang bersahaja?) Padahal kekayaan dan kehormatan saya bahkan sangat melebihi orang tua si perempuan, kata hati setiap raja-raja yang mengirim anaknya menjumpai Si Boru Natumandi.
Siang berganti malam, hari berganti minggu,  bulan berganti  tahun tetapi , jawaban yang    diberikan     Si Boru   Natumandi   selalu   sama  kepada  setiap  anak-anak raja yang datang  melamarnya. Ayah dan  Ibunya  sedih sebab  terdengar  berita  bahwa raja-raja yang menyuruh anaknya  menjumpai   Si Boru Natumandi  merasa   dikecilkan  dan mereka sakit hati. Padahal anak-anak raja tersebut tidak memiliki kekurangan  bahkan bisa dikatakan  sudah sempurna,  wajah  mereka   tampan,  kaya dan jug berkedudukan. Tetapi kedua  orang  tua Si Boru Natumandi  bingung  dan bertanya – tanya  dalam  hatinya.   Apa sebenarnya yang dipikirkan Si Boru Natumandi?
Kadang-kadang hati kedua orang tua Si Boru Natumandi sedih memikirkan itu, tapi mereka tidak mau memaksakan kehendak,takut putrinya tersinggung, sedih atau menangis,mereka juga takut putrinya nanti sakit hati pada mereka. Karena Pada dasarnya marga Hutabarat sangat baik dan sayang  pada anak perempuannya, bahkan sampai sekarang pun bisa kita lihat dalam kehidupan sehari- hari dan boru hutabarat sangat baik marhula-hula.
Ada kebiasaan sehari-hari Si Boru Natumandi yakni : dia tidak suka martua aek[11] dan mandi bersama teman-teman sebayanya di sungai. Dia suka martua aek dan mandi di siang hari. Biasanya diwaktu  mandi dia marhatobung [12] di sungai. Setiap dia marhatobung, selalu terdengar sampai ke kampung, ladang dan sawah. Bahkan orang yang bekerja di sawah dan di ladang menghentikan  pekerjaanya hanya untuk mendengar hatobung Si Boru Natumanding. Entah kenapa, semua hasil pekerjaan Si Boru Natumandi lain daripada yang lain. Seperti hasil tenunannya sangat cantik dan indah lain dari tenunan putri-putri raja. Setiap orang memegang tenunannya, sepertinya ada satu kekuatan yang tidak nampak dan mampu menarik hati orang untik membelinya. Masakannya juga enak dan selalu nikmat, apa yang dikerjakannya selalu cocok  bagi orang yang melihatnya.
Banyak orang bertanya-tanya dalam hati mereka tentang kelebihan yang dimiliki Si Boru Natumandi terutama para tua-tua,dan kelebihan itu   tidak membawa keburukan sehingga membuat kaum muda dan orang tua tidak melanjutkan pertanyaan yang selama ini mereka tanyakan dalam hati mereka.
Disuatu hari, ibunya mendengar Si Boru  Natumandi sedang berbicara di tempat dia menenun. Ibunya mendekat dan ingin melihat siapa teman putrinya berbicara. Si Boru Natumandi sangat serius berbicara sambil mengerjakan tenunannya. Dari pembicaraan itu  terdengar suara  seorang pemuda yang menemani putrinya. Terkadang Si Boru Natumandi  tersenyum malu, dan kadang-kadang bukan dia yang menenun tenunannya. Ibunya terkejut melihat kejadian itu, sebab di sekeliling tempat putrinya bertenun tidak ada orang yang sedang berbicara dengannya.
Dihapusnya wajah dan dadanya,lalu si ibu tersadar setelah melihat kejadian  aneh yang menimpa putrinya. Dia bertanya dalam hatinya “apakah saya  sedang bermimpi?” “tapi saya tidak tidur”. Dia kembali melihat putrinya itu, tetapi tetap saja sama seperti yang pertama dilihatnya itu.
Setelah  beberapa hari kemudian dia memberitahukan kejadian  aneh yang menimpa putrinya   itu pada suaminya.  “Bibir saya bukan diretak panas……?” ( Apa yang saya katakan itu benar ) “Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri!” Ujar sang ibu kepada suaminya. Tetapi  raja itu tidak menanggapi celotehan istrinya dan juga tidak menanggapi    kejadian aneh yang menimpa  putrinya itu  dengan serius.   Malah sang raja menjawab , “ah, atik tung na marnipi do ho boru ni raja nami, nabisuk marroha do borunta i, sodung disurahan pangalahona, tung heama i ?” ( “ah, mungkin dinda sedang bermimpi, putri kita kan orangnya sopan, dan dia tidak pernah berbuat hal- hal yang yang buruk) Akhirnya kedua orang tuanya tidak   mempertanyakan masalah itu lagi.
Mungkin  Si Boru Natumandi sudah jatuh cinta pada pemuda yang datang menjumpainya itu, sebab disuatu hari dia memberitahukan kepada kedua orang tuanya  bahwa dia sudah menemukan pemuda pujaan hatinya.  Orang tuanya sangat senang mendengarkan apa yang diberitahukan putrinya.
Biasanya, jika seorang putri sudah menemukan tambatan hatinya. sudah lumrah bagi orang tuanya untuk menanyakan perihal  pemuda yang menjadi tambatan hati putrinya. Bagaimana kelahirannya, bagaimana keadaan keluarganya, bagaimana kekayaannya, dan masih banyak lagi yang akan ditanyakan orang tua pada putrinya perihal pemuda yang menjadi tambatan hatinya. Supaya nantinya putrinya bahagia dan tidak terlantar, serta menantu itu nantinya bisa menjadi kawan yang dapat diandalkan di waktu terjadi hal-hal yang tidak diingainkan terlebih waktu berperang.
Si Boru Natumandi memberitahukan perihal idamannya kepada orang tuanya  yakni : “na pat ni gaja  tu pat ni hora, pahompu na raja jala anakni na mora do na manopot ibana” (cucu raja  serta anak orang kaya yang sedang melamar dia ).” Pemuda yang melamar saya  adalah pemuda yang baik, berhati bersih, bertanggung jawab dan dia anak raja, kata Siboru Natumandi  pada kedua orang tuanya dengan kegembiraan   yang terpancar  pada  pada raut wajahnya. Melihat kegembiraan putrinya itu, kedua orang tuanya tahu  bahwa Siboru Natumandi  sudah serius menerima lamaran   yang datang dari pemuda  itu. Kerinduan mereka sudah terpenuhi , sehingga mereka  ikut bergembira mendengar kabar  tersebut dan mereka berkata : ” ba molo songoni do inang patandahon majo  tu hami asa dohot hami mamereng nanaeng ga besirongkap ni tondi mi” (kalau memang seperti itu , pertemukanlah kami padanya, supaya kami dapat melihat pemuda yang menjadi  teman hidupmu nanti).
Disuatu hari Siboru Natumandi mempertemukan pemuda itu kepada orang tuanya. Sungguh tampan di, cara berpakaiannya menunjukkan dia keturunan seorang raja yang bersahaja, bentuk badannya seperti “ ulubalang “[13]. Tidak berselang  beberapa lama,pemuda itu tiba- tiba menghilang bersamaan  kedipan mata kedua orang tua  Si Boru Natumandi . Tiba- tiba mereka melihat seekor  ular keluar  dari rumah mereka. “Apa yang terjadi ?” Kata ayah Si Boru Natumandi  : “pasada ma roha dohot pikkiran mu amang , jala  sonang  ma roha  muna paborhatton ahu  marhamulian  tu silomo ni rohakku” ( satukan hati dan pikiranmu ayah, relakan hati kalian memberangkatkan saya memilih pemuda yang menjadi teman hidupku nanti). Kedua orang tuanya terdiam  tidak bisa berbicara apa-apa, karena Si Boru natumandi putri  yang sangat mereka sayangi dan kasihi.
Pada suatu hari , Si Boru Natumandi memberitahukan kepada orang tuanya  perihal keberangkatannya dan tentang apa saja  yang akan   mereka kerjakan setelah dia  berangkat dari rumah nanti.  Hal-hal yang akan mereka kerjakan dan yang perlu diperhatikan adalah :
  1. Mereka tidak perlu membuat pesta pemberangkatan,baru setelah 7 hari kemudian baru dibuat pesta yang besar sebab “ sinamot” [14] yang akan diberikan cukup besar. 
  2. Seperti  sinamot dari pihak laki- laki , mereka akan meninggalkannya di suatu tempat dengan jumlah 7 “ampang“ [15]. Sebelum 7 hari 7malam ampang itu tidak bisa dibuka oleh siapapun
  3. Setelah 7 hari 7 malam ampang itu baru bisa dibuka dan didalamnya akan terisi emas, itulah yang menjadi sinamot kami.
  4. Dalam  waktu 7 hari itu setelah kami berangkat, kami akan mengantar “pinahan“ [16] untuk dimakan, dan pada waktu pesta itu kami akan    mengantar kerbau sebagai “panjuhuti” [17]
  5. Tempat tinggal kami nantinya sangat jauh, kalian ikuti aja “sobuan” [18] yang saya jatuhkan mulai dari depan rumah kita. Dimana sobuan itu nantinya berakhir,sampai disitulah kalian mengikuti saya.sebab jalan yang saya lalui harus melalui sebuah gua yang ujungnya sampai ke daerah Toba dan bercabang ke daerah Penabungan.
Kedua orang tua si Boru Natumandi hanya diam mendengar semua yang dikatakan putrinya itu.  Mereka hanya pasrah dan menyerahkan semuanya kepada “Mulajadi Nabolon” [19]
Setelah tiba waktu keberangkatan Si Boru Natumandi,lalu dia memasak makanan yang lezat mulai dari pagi hari sampai sore hari. Setelah semuanya siap mereka berdua makan bersama ,kedua orang tua si Boru Natumandi melihat putrinya sedang makan bersama pemuda yang pernah mereka lihat waktu itu.
Sesudah mereka selesai makan, kemudian orang tuanya melihat mereka lagi tetapi si Boru Natumandi dan pemuda itu tidak ada lagi di tempat mereka makan. Lenyap seperti ditelan bumi,orang tuanya melihat makanan yang tersaji itu tidak berkurang sedikitpun dan sudah dingin seperti sudah lama ditinggalkan.
Pagi-pagi buta, ibu Si Boru Natumandi bangun bersama ibu-ibu lain melihat sobuan tersebut dan mengikutinya seperti yang di pesankan Si Boru Natumandi pada ibunya. Mereka mengikuti sobuan itu hingga sampai di depan mulut sebuah gua yang berada di tepi  Aek Situmandi dekat aek rangat [20]. Mereka memberanikan diri memasuki gua tersebut,tetapi karena terlalu gelap mereka memutuskan  untuk tidak meneruskannya terlalu dalam lagi. Mereka pulang dan memberitahukan kejadian tersebut. Kabar itu langsung tersebar  di seluruh Lembah Silindung.
Setelah matahari tebit dari atas Dolok Siatas barita, sampailah ke huta itu beberapa ekor “aili” [21] yang besar-besar dan gemuk.Sepertinya ada yang menyuruh mereka turun dari hutan menuju Dolok Siatas Barita. Semua aili itu jinak dan tidak meronta  sewaktu ditangkap dan disembelih oleh orang-orang kampung  untuk digunakan pada acara pesta. Seperti itulah terus menerus aili turun dari hutan  di atas Dolok Siatas Barita selama 7 hari, sampai-sampai semua orang yang datang ke acara pesta itu  membawa sebagian dagingnya ke kampung  masing-masing.
Mungkin sudah kemauan Tuhan Yang Maha Esa, sebab sebelum digenapi 7 hari 7 malam beberapa  orang dari keluarga dekat si Boru  Natumandi secara diam-diam  mengintip isi ampang itu. Padahal Siboru Natumandi sudah memberitahukan  bahwa ampang itu tidak bisa di buka oleh siapapun sebelum tergenapi hari yang dijanjikannya. Mereka melihat isi ampang itu hanya sobuan yang sudah mulai menggumpal seperti emas di dalamnya.
Setelah kejadian itu,ayah dan ibu Si Boru Natumandi bermimpi. Mereka didatangi putrinya dan memberitahukan bahwa sudah ada yang melihat ampang  yang telah dipesannya itu. Ampang dan isinya sudah hambar sebab pesannya sudah dilanggar.
Melihat semua kejadian yang menimpa keluarga dan putrinya,maka raja tersebut mengumpulkan semua raja-raja,tua-tua kampung dan semua penduduk hutabarat  berkumpul “martonggo” [22] ke Mulajadi Na Bolon “Tung naso jadi ma Boru Hutabarat nauli molo marhasohotan tu “Ulok” [23] (Tidak akan pernah ada lagi  boru Hutabarat yang cantik rupawan kalau jadinya kawin sama ular).
Disini kami menegaskan bahwa asumsi masyarakat selama ini tentang si Boru Natumandi (semua boru Hutabarat saat ini) yang sombong adalah salah, dimana menurut cerita selama ini bahwa secantik apapun boru Hutabarat pasti ada cacatnya. Banyak marga Hutabarat membeberkan hal tersebut, tetapi perlu digaris bawahi itu terjadi bukan karena kesombongan namun karena sumpah leluhurnya tersebut.
Namun semua itu dikembalikan kepada penilaian kita masing-masing, kalau kita tinjau dari segi agama mungkin sangat bertolak belakang. Agama pada dasarnya membenarkan  suatu kejadian yang benar-benar terjadi bukan rekaan. Kita bisa membacanya dari kitab yang kita yakini sesuai dengan agama yang kita anut. Tetapi walaupun demikian kita tidak bisa menyalahkan budaya batak terutama pada zaman dahulu. Zaman dahulu masyarakat Silindung masih mempercayai legenda atau cerita rakyat yang bersifat anonim bukan hanya cerita  “Si Boru Natumandi”, masih ada legenda lainnya yang dipercayai orang batak seperti ”Terjadinya Danau Toba di Samosir”. Sedangkan zaman sekarang yang diperlukan adalah perkembangan sumber daya  manusia (pendidikan/keterampilan) berdasarkan moral religius dan etika. Oleh karena itu, dari segi agama maupun budaya kita bisa memilah mana yang bisa kita terima secara logika.

[1] Sipelebegu, orang kafir, pemuja nenek moyang, penyembah arwah
[2] Sumber mengatakan Raja itu bernama Raja Ama Natidar. Raja Ama Natidar mempunyai 2 orang putra yaitu : Raja Natidar dan Tuan Jabut serta seorang putri yang cantik rupawan yang bernama Si Boru Natumandi
[3] Huta, desa, kota; marhuta, berkediaman di kampung; marhuta sada, berjalan-jalan, tidak tinggal di kampung, keluar kota, bepergian; huta sabungan, ibu kota, kampung induk; parhutaan, pemukiman, perkampungan; pardihuta, bini, isteri, yang bertugas di desa, (lawan parbalian); tarhuta, diketahui orang didesa bahwa orang berutang banyak; marhutahuta, mainan anak-anak bangun kampung-kampungan; raja hutam sesepuh kampung; Huta Raja, Huta Talun, Huta Pea, nama desa, nama kampung. Sumber mengatakan kampung itu bernama Banjar Nahor. Tahun 1985 kampung itu berganti nama menjadi Banjar Nauli. Hanya ada 2 kampung pada masa itu yakni Hutabagasan dan Banjar Nahor
[4] Aek Situmandi. Nama sebuah sungai di daerah Hutabarat Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara. Bentuk sungai sudah besar dan jalurnya sudah berubah.
[5] Pele kata dasar, mamele, umpele, menyajikan, mempersembahkan sajian, kurban kepada dewata atau roh; mamelehon, mempersembahkan sebagai kurban; pelean, persembahan, kurban sajian; mamele begu, memberi persembahan kepada nenek moyang, kepada roh-roh, menyembah roh; sipelebegu, orang kafir, pemuja nenek moyang, penyembah arwah. Dahulu Dolok Siatas Barita adalah tempat Penyembahan keturunan Guru Mangaloksa.
[6] Dolok Parsaktian. Dolok, gunung, pegunungan; dolokdolok, bukit, perbukitan; pardolok, penduduk gunung, juga: terletak di gunung; pardolohan, pegunungan.Di daerah Toba ada juga Dolok yang sama seperti Dolok Siatas Barita yang dijadikan masyarakat Balige dan sekitarnya menjadi tempat pamelean mereka yaitu Dolok Tolong
[7] Sopo, lumbung padi, di bawah atap disimpan padi, di ruang terbuka tempat menerima tamu serta tempat mengadakan pertemuan, di atas juga tidur para pemuda
[8] Ruma, rumah adat, terutama rumah Batak yang diukir; pardiruma, isteriku, nyonya rumah; di ruma, di nifas; ruma sahit, rumah sakit; dipaturuma, memanggil begu ke dalam rumah; ruma bolon, penjaga modal bersama, yang bertanggung jawab untuk itu.
[9] Desa, penjuru, mata angin; desa na ualu, delapan penjuru angin
[10] Parumaen, menantu perempuan; parumaen di losung, = parumaen sinonduk, calon menantu perempuan, yang sudah diterima dalam rumah sebagai pembantu dan sudah diberikan mas kawin, mengenai dia dikatakan: hira hatoban siulaon, alai hira raja nasida anggo di sipanganon, ia harus kerja seperti seorang hamba, tetapi ia peroleh makanan seperti seorang raja
[11] Martuaek, mengambil air
[12] Marhatobung. Yakni air sungai di permainkan dengan cara ditampar ,dipukul, dipotong dan disodok dengan tangannya  hingga menimbulkan suara atau musik yang sangat enak didengar.
[13] Ulubalang. Kata dasar Ulu, kepala; ulu ni timbaho, ujung lempeng tembakau yang paling enak rasanya; ulu ni rihit, gosong, busung pasir; P.B.: madungdung bulu godang tu dangka ni bulu suraton, molo mardomu angka na bolon, adong do ulu buaton, bambu besar menyentuh bambu kecil, manakala orang-orang besar bertemu pasti akan ada korban; manguluhon, memimpin perkara; pangulu, penengah antara dua pihak; pangulului, telah melihat setengah jalan (matahari); na pangului, jam 09.00 pagi; ulubalang, hulubalang, pendekar; ulubalang ari = hasiangan on;pangulubalang, patung kecil yang dipuja yang dimasukkan sedikit pupuk; hauluan = haulian = ulu, hauluan, tanda “i” dalam tulisan Batak: juga haulian; paulubalanghon, disewa sebagai hulubalang
[14] Sinamot.. Mas Kawin
[15] Ampang, bakul yang dianyam di bawah, berbentuk empat segi dan di atas bundar, juga dipakai sebagai takaran beras atau padi; parampangan, bakul besar dimana di dalamnya disimpan bakul-bakul kecil; na marampang na marjual, = na marpatik na maruhum, seseorang yang memakai takaran dengan baik dan jujur, menimbang secara adil dan punya undang-undang dan hukum keadilan; mangihut di ampang, berlangsungnya per-kawinan seorang gadis hanya dengan membawa bakul makanan buat pihak mertuanya, karena mahar (mas kawin) sudah beres sebelumya; marmanuk di ampang, meramalkan masa depan berdasarkan letak badan ayam yang lehernya dipotong segera ditutup dengan “ampang” (tentang dukun); parampang ni luat, bagian dari pekan yang dikhususkan bagi sesuatu daerah untuk menyimpan barang mereka; P.B.: sadampang gogo, sanjomput tua, tenaga satu ampang banyaknya, keuntungan hanya sejemput, kerja mati-matian, hasil minim; manghunti ampang, mempe- lai baru, yang pertama kali membawa makanan kepada mertuanya; suhi ni ampang na opat, sudut bakul nan empat, sebagai lambang empat fungsional penerima mas kawin pada adat menikahkan puteri empat; kerabat yang paling utama, dalam hal ini diingat kepada ampang yang ditutupkan datu pada ayam sembilahan itu, bila ayam itu menggelepar sampai keranjang jatuh, artinya celaka. Oleh karena itu keempat sudut keranjang harus diperberat.
[16] Pinahan. Ternak atau hewan yang di peliharaan (babi) yang di sembelih waktu perkawinan
[17] Juhut, daging; juhut bontar, orang utan, mawas; juhuton, muak, kebanyakan makan daging; juhutjuhuton, mengelupas pada kulit kuku; manjuhuti, menyediakan lauk daging; panjahuti, daging yang dibawa ayah mempelai laki-laki pada marunjuk
[18] Sobu, hidupkan api, lepas, sibuk, rajin pada sesuatu; manobu api, menutup api dengan abu, agar jangan padam betul; sobuon, tumpukan kulit padi, sekam, kulit tipis pada padi yang sewaktu menumbuknya menjadi lepas (ditebarkan pada api agar tidak mati); tano sobusobu, tanah yang lembek (seperti sobuon)..
[19] Mulajadi Na Bolon, dewa tertinggi yang menjadikan dunia dan nasib manusia berada dalam tangannya. Mula, mula, awal, asal; mulamula, mula-mula; di mula ni mulana, pada awal sekali; di mulana, mula-mula; parmulaan, permulaan; marmula, memulai; marmulahon, sesuatu sebagai asal mula-mula
[20] Rangat, aek rangat, air belerang, air hangat bersumber dari alam
[21] Aili, celeng, babi hutan
[22] Tonggo, martonggo, berdoa dalam agama animisme, berdoa kepada dewa; martonggo raja, mengundang raja-raja untuk turut berpesta; tonggotonggo, doa-doa bersifat agama.
[23] Ulok, ular; ulok na bisa, ular berbisa

Rabu, 10 Juli 2013

Kecoa dengan masalahnya

Berbahayakah Membunuh Kecoa?

Posted by Abahnya Kautsar pada 23 April 2013
English: Juvenile, Madagascar hissing cockroac...
English: Juvenile, Madagascar hissing cockroach at the Atlanta Botanical Garden. Taken 9/23/2007. (Photo credit: Wikipedia)
Saat lihat postingan beberapa teman di facebook, ada beberapa postingan yang sama atau setidaknya mirip, yang bersumber dari beberapa fans page, katanya kita dilarang membunuh kecoa dengan menginjaknya, atau membuat isi perutnya keluar,
Seperti ini contoh postingannya,
“BAHAYA MEMBUNUH KECOA”
Bila anda melihat binatang kecoa di rumah, jangan anda memukulnya sampai mati bahkan sampai (maaf) isi perut kecoa meletet keluar.
Karena didalam perut kecoa terdapat cacing halus/lembut yg tetap hidup meskipun diluar dari tubuh kecoa. Bila cacing ini sudah berada di luar dari tubuh kecoa (perut) dia akan bergerak untuk mencari tempat/indukan baru.
Cacing ini bentuknya sangat pendek, halus dan lembut akan terlihat kasat mata bila jarak pandang sekitar 10-20cm.
Untuk melihat cacing ini, anda dapat menaruh isi perut kecoa diatas kertas hitam atau diatas cermin… disitu akan terlihat pergerakannya.
Sangat berbahaya apabila cacing ini sampai menyentuh kulit tubuh kita (terutama kaki) karena dapat masuk melalui pori-pori kulit atau bila ada luka terbuka pada kulit luar.
Akan jauh lebih baik membasmi kecoa cukup dengan menggunakan semprotan anti serangga, yg dapat membunuh kecoa tanpa harus memukul hingga mengeluarkan isi perutnya.
 
Tersisa rasa penasaran tentang kebenaran berita seperti ini, karena selain tanpa sumber yang jelas, maka tidak bisa dikatakan sebagai sebuah hasil penelitian ilmiah. Maka untuk percaya begitu saja, kok susah ya? Daripada terus penasaran, mendingan cari sumber-sumber yang sekiranya bisa dipertanggungjawabkan.
Paling mudah cari di Google, dengan kata kunci “fakta tentang kecoa”, dihasilkan beberapa artikel seperti di bawah ini
 
FAKTA TENTANG KECOA
Untuk satu ekor kecoa yang anda lihat sebenarnya ada 20 lebih kecoa yang sedang bersembunyi dan bermultiplikasi dibelakang dinding anda, selokan, kamar mandi dll.
  • 1 ootheca kecoa dapat berisi 25-50 ekor anak kecoa, dan satu ekor kecoa dalam kondisi ideal dapat menghasilkan 5-10 ootheca dalam satu tahun.
  • Kecoa adalah makhluk yang tergolong tua dalam evolusinya di dunia diban-dingkan dengan manusia. Kecoa adalah salah satu hewan yang bentuk tubuhnya tidak banyak berbeda sejak serangga ini di temukan.
  • Cara makan Kecoa adalah dengan mengeluarkan seluruh isi perutnya keatas makanan yang akan dimakannya untuk membuat makanan menjadi mudah untuk dicerna.
  • Kecoa selalu berada ditempat yang tersembunyi dan telur mereka sangat terlindung dari insektisida. Tanpa peralatan khusus bahan-bahan dan keteram-pilan khusus. Perjuangan melawan kecoa merupakan suatu medan perang yang amat melelahkan.
[sumber]
Sampai artikel ini belum sesuai seperti yang diinginkan, berlanjut ke hasil berikutnya
10 Fakta mengenai kecoa
Kecoa, yang memiliki bahasa Inggris Cockroach, merupakan anggota dari ordo Blattaria dan memiliki 5 famili. Dilaporkan terdapat 4.000 spesies kecoa. Menurut WHO, 10 spesies dianggap merupakan penyebar penyakit. Jika sebagian besar kecoa berukuran kecil, Australian Giant Burrowing Cockroach atau Rhino Roach (Kecoa Badak ) dapat melebihi panjang 80 cm dan berat 35 gram (ada yang beratnya pernah dilaporkan sampai 50 gram!). Mereka dapat hidup sebulan atau lebih tanpa makanan, dan hanya seminggu tanpa air. Tanpa banyak basabasi lagi, inilah 10 fakta menjijikkan tentang kecoa yang menjijikkan.
1. Kecoa bisa terbang
Megaloblatta longipennis, seperti yang ditunjukkan pada gambar di atas, dapat merentangkan sayapnya hingga 185 mm. Untungnya, dia hidup di Amerika Tengah dan Selatan. Pada umumnya, kecoa jarang terbang karena jika terbang, tubuh mereka akan panas jika mereka terbang.
2. Menyebabkan global warming
Studi menunjukkan bahwa kecoa kentut rata-rata tiap 15 menit. Bahkan setelah mati, mereka akan tetap melepaskan metana hingga 18 jam. Dalam skala global, gas dalam perut serangga diperkirakan menyumbang 20% dari semua emisi metana. Fakta ini menempatkan kecoa sebagai salah satu kontributor terbesar global warming. Kontributor besar lainnya adalah rayap dan sapi.
3. Mati telentang
Kecoa liar mati (pada sebagian besar kasus), di dalam perut burung-burung atau hewan kecil lainnya yang memakannya. Di rumah kita, mereka mati karena tidak dapat membetulkan posisinya setelah jatuh. Di alam liar, dimana banyak dedaunan dan kayu-kayu kering, kecoa memiliki sesuatu yang bisa dipegang, namun di rumah kita, dengan lantai yang licin, kecoa cuma bisa ‘terdampar’. Sebagai tambahan, beberapa insektisida bekerja dengan menyebabkan kekejangan otot dan kekurangan koordinasi otot, yang menyebabkan serangga terbalik posisinya. Tanpa kemampuan untuk mengontrol ototnya, kecoa mati dalam keadaan telentang.
4. Kecoa ‘internasional’
Nama ‘cockroach’ dipercaya berasal dari bahasa Spanyol ‘cucaracha’, dengan pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris ‘cacarootch’ di 1624. Kecoa juga punya nama internasional, seperti berikut ini.
A) Bulgarian: ???????? f
B) Chinese: ?? (zhang1 lang2)
C) Dutch: kakkerlak m
D) Hebrew: ??? m (jook)
E) Japanese: ???? (gokiburi)
F) Mongolian: ???? (joom)
G) Russian: ??????? m (tarakan)
H) Swedish: kackerlacka
I) Turkish: hamam böcegi
J) Urdu: ?????
5. Vocal Cords
Madagascar Hissing Cockroach yang terkenal itu dipercaya satu-satunya serangga yang menggunakan lorong udaranya untuk membuat suara. Sebagian besar serangga lain memproduksi berbagai suara dengan menggosok bagian-bagian tubuh bersama-sama (catatan: beberapa kumbang memaksa udara untuk melalui piringan pelindung mereka, namun ini tidak melibatkan sebuah lorong udara pernapasan). Hisser membuat dua suara berbeda, ketika mereka merasa terganggu dan ketika dua ekor jantan saling berhadapan. Karena mereka berukuran besar (5-8 cm) dan tidak memiliki sayap, mereka sering digunakan di film-film.
6. Tidak berkepala
Kecoa tidak membutuhkan kepala untuk dapat bertahan hidup. Sebagai pembanding, manusia membutuhkan kepala untuk 3 fungsi, antara lain:
1. Bernapas melalui hidung dan mulut, dan pernapasan dikontrol oleh otak.
2. Kehilangan kepala menyebabkan kehilangan darah secara drastis.
3. Kita makan melalui mulut.
Namun bagi kecoa:
1. Mereka bernapas melalui ventilator di seluruh tubuhnya dan otak tidak mengontrol fungsi ini.
2. Serangga tidak memiliki tekanan darah seperti pada mamalia dan tidak akan ‘bleed out’
3. Sebagai seekor hewan berdarah dingin, makanan yang sedikit dapat bertahan sebulan penuh. Kecoa tanpa kepala dapat bertahan hidup cukup lama.
7. Kecoa menyebabkan asma
Alergi kecoa pertama kali dilaporkan sekitar 50 tahun yang lalu, dan sangat berbahaya. Alergen kecoa adalah kotorannya dan serpihan-serpihan dari bangkai kecoa yang menjadi debu dan masuk ke dalam tabung bronchial. Kepekaan terhadap debu ini memicu reaksi alergi bronkial yang dikenal sebagai asma.
8. Mari berhitung
Kecoa Jerman (Blatella germanica) adalah hama kecoa yang paling banyak dengan siklus hidup sekitar 100 hari dan mereka hidup sekitar 6 bulan. Sang betina dapat memproduksi 6-8 tempat telur selama 6 bulan hidupnya, yang membuat 180-320 kecoa baru. Jika hanya 10 anaknya menjadi betina subur (dan itu merupakan perkiraan kecilnya – jumlahnya bisa lebih dari 100), ada ribuan ekor kecoa dalam beberapa bulan saja.
9. Mereka sangat cepat!
Penelitian menunjukkan bahwa kecepatan kecoa Amerika tercepat tercatat mendekati 2 mil per jam (75 cm per detik).
10. Kecoa dan radiasi
Ada pembicaraan yang menyatakan kecoa merupakan satu-satunya yang dapat bertahan hidup dalam serangan bom nuklir. Belum terbukti secara ilmiah, namun ada beberapa bukti logisnya. Sel-sel hidup sensitif pada radiasi terutama ketika mereka sedang membelah (itulah efektivitas dari radiasi pada sel kanker). Sel-sel kecoa membelah hanya pada saat siklus molting, sekitar sekali seminggu. Maka mereka bersifat sensitif pada radiasi hanya sekitar 48 jam, atau 1/4 minggu. Manusia memiliki darah dan immine stem-cell yang membelah secara konstan. Dengan radiasi bom nuklir, semua manusia akan mati, namun hanya 1/4 dari kecoa yang akan bertahan hidup. Yang menarik, Mythbusters melakukan tes dan ternyata kecoa dapat hidup pada intensitas radiasi 10x yang dibutuhkan untuk membunuh manusia.

[sumber artikel,  klik sub judul]
Bahkan pada artikel di atas, justru muncul kejanggalan berikutnya, tentang kecoa dan radiasi atau penyebab global warming, darimana lagi ini sumbernya?
Berlanjut ke hasil pencarian berikutnya,
 
Kenapa Kecoa Ditakuti??
1. Kotor 
Kecoa suka bersarang dan menetap di tempat lembab, gelap dan kotor seperti di got, di sampahan, di bawah lemari, di atap rumah, dan sebagainya.. Karena kaki dan badannya yang kotor maka kecoak bisa mendatangkan serta menularkan penyakit pada makhluk hidup termasuk manusia..
2. Kakinya Yang Tajam 
Pernahkan kecoa berjalan menyusuri bagian tubuhmu?? rasanya geli, tajam dan seram yang memberikan sensasi yang tidak menyenangkan bagi sebagian besar orang.. Apalagi klo kecoanya jalan”diatas mata.. >.<
3. Jalannya Oleng + Cepat 
Kecoa jalan seenak udelnya sendiri kemana pun dia mau sesuai dengan insting kebinatangannya dengan sensor dua antena di kepala.. Gerakan serta arah jalan dan terbang kecoak tidak dapat diduga.. Kecoa bisa dengan cepat dari sudut yang satu tiba-tiba mampir ke badan kita..
4. Warnanya Yang Gelap 
Kecoa warnanya coklat, tapi ada juga yang warnanya putih gelap (albino kali), hitam bercorak kuning, dan sebagainya.. Yang pasti warna itu terkesang kotor dan menjijikan siapa saja yang melihatnya..
5. Tahan Banting 
Kecoak kota (kecoak di perkotaan) nyaris tidak punya musuh, kecuali ya kita ini yang mati-matian berusaha untuk membunuh kecoa itu.. Faktanya, kecoak memiliki pelindung yang kuat di punggungnya yang membuat ia tidak mudah mati dipukul.. Oiya buat informasi jg ni, jangan kira kecoa langsung mati ketika dipukul ya! Beberapa menit kemudian kecoa itu akan kembali berjalan dan kabur entah kemana. (Playdeath, jgn tersinggung klo diboongin kecoa ya :p)..
6. Makan Kotoran 
Kecoa suka makan kotoran serta sisa makanan yang berceceran.. Ada jg kecoa yang senang sm kotoran/feses manusia.. Terkadang makanan kita yang kita simpan pun dimakan kecoa jika kita ngga hati”menyimpan makanan..
7. Buang Sembarangan 
Namanya jg bianatang, jadi terserah mau buang air di mana pun dia mau.. Ngga cm kotoran aja yang dia kluarkan, tp juga telur kecoa yang bercangkang keras yang ditempatkan di tempat yang tersembunyi dan sulit dijangkau..
[sumber]
Oke artikel di atas bisa dipahami, masuk akal dan sesuai fakta dan realita tentang kecoa, hanya saja belum connect dengan apa yang diinginkan pada kutipan awal tulisan ini.
Berlanjut ke pencarian berikutnya, dengan kata kunci “fakta tentang membunuh kecoa”, dihasilkan beberapa artikel yang sama dengan hasil dari keyword sebelumnya, meskipun beberapa tulisan hasilnya agak berbeda, seperti berikut ini,
Pengaruh Kecoa Terhadap Kesehatan
Kecoa adalah serangga dengan bentuk tubuh oval,pipih dorso-vental. Kepala tersembunyi dibawah pronotum. Pronotum dan sayap licin, nampaknya keras, tidak berambut dan berdri. Berwarna coklat dan coklat tua. Panjang tubuhnya bervariasi, berkisar antara 0.6 sampai 7.6 mm2 .
Kecoa adalah salah satu insekta yang termasuk ordo Ortopthera (bersayap dua) dengan sayap yang didepan menutupi sayap yang dibelakang dan melipat seperti kertas.
Kecoa terdiri dari beberapa genus yaitu Blaptella,periplaneta, blatta, supella, dan blaberus. Beberapa spesies dari kecoa blaptella germanika, periplaneta americana, periplaneta austalasiae, periplaneta fluginosa, blatta orientalis, dan supella longipalpa.
Kecoa termasuk phyllum Arthropoda, klas Insekta. Para ahli serangga memasukkan kecoa kedalam ordo serangga yang berbeda-beda. Maurice dan Harwood (1969) memasukkan kecoa ke dalam ordo Blattaria dengan salah satu familinya Blattidae Smith ( 1973 ) dan Ross ( 1965 ) memasukkan kecoa kedalam ordo Dicyoptera dengan sub ordonya Blattaria, sedangkan para ahli serangga lainnya memasukkan kedalam ordo Orthoptera dengan sub ordo Blattaria dan famili Blattidae.
Banyak orang merasa jijik dengan serangga yang satu ini. Tak heran, karena umumnya kecoa tinggal di tempat gelap yang kotor, lembab dan bau. Kecoa dengan mudah kita jumpai di rumah tinggal. Ia memakan hampir segala macam makanan yang ditemukannya untuk bertahan hidup. Baunya yang tidak sedap, kotoran dan kuman yang ia tinggalkan di setiap tempat yang ia hinggapi, membuat kecoa dianggap sebagai indikator sanitasi yang buruk. Berbagai kuman penyakit yang berasal dari tempat-tempat kotor menempel pada tubuh kecoa dan akan menempel di setiap tempat yang dia hinggapi. Oleh karena itulah kecoa dapat menjadi penyebab berbagi jenis penyakit mulai hari tipus, toksoplasma, hingga penyakit SARS yang mematikan, sehingga perlu dikendalikan populasinya.
Hewan yang biasa disebut lipas ini metamorfosisnya tidak sempurna dan banyak ditemukan di daerah tropis, bahkan sampai di daerah dingin. Kemampuannya dalam beradaptasi tidak perlu diragukan lagi, ia mampu bertahan hidup dalam kondisi yang ekstrem sekali pun.
Pengendalian kecoa dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan insektisida. Atau dengan menyiramkan air panas pada telur kecoa agar tidak menetas dan berkembang biak.
[Sumber: Kaskus]
Dari hasil pencarian ini, sepertinya ada yang nyangkut dengan apa yang kita maksudkan, contohnya bisa lihat di video ini dari komentator di forum tersebut tentang sayap kecoa yang diusapkan ke pipi kemudian ditunggu sekitar 15 menitan, maka kemudian akan keluar dari pipi yang diusap tersebut, seperti cacing yang telah makan lemak di pipi tadi.
kata tmen ane di kecoa terdapat berjuta” larva gan.
terus kan ada tuh video kecantikan wajah yg cairan nya di gosokin kemuka trus tunggu bbrapa lama ntar ada larva” kecil yg kluar.
terus katanya tmen ane itu pake sayap kecoa yang di lepasin dari badan nya nah kan ada cairan luka nya tu.
cairan nya itu yg bnyak larvanya.
terus di tempelkan di wajah, dan larva nya itu bakal makan lemak di wajah hingga gemuk dan kluar deh dari pori” wajah. . .

Rabu, 12 Juni 2013

Versi Lain Asal Usul Bahasa Indonesia


Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan tanggal yang sangat bersejarah bagi Bahasa Indonesia yang saat itu diresmikan menjadi bahasa negara dan bahasa persatuan dari sekian banyaknya bahasa daerah dinegara ini.

Banyak yang mengatakan bahwa Bahasa Indonesia adalah Bahasa Melayu yang dimodifikasi lalu dicampur dengan bahasa-bahasa serapan dari berbagai daerah dan dari bahasa asing kemudian di bakukan. Sedangkan bahasa melayu sendiri berasal/berakar dari bahasa Austronesia yang mulai muncul sekitar tahun 6.000-10.000th lalu.


* Asal Usul Bahasa Austronesia menurut teori hipotesa Out of Taiwan *

Asal usul bahasa Austronesia, ada beberapa hipotesa tetapi yang paling umum adalah hipotesa bahwa asal usul leluhur penutur bahasa Austronesia adalah Formosa (Taiwan) atau lebih dikenal dengan teori hipotesa Out of Taiwan. Salah satu pakar linguistik yang sangat mendukung teori ini adalah Robert Blust.

Sejak tahun 1970-an Blust telah mencoba merekontruksi silsilah dan pengelompokan bahasa-bahasa dari rumpun Austronesia, misalnya kosakata protobahasa Austronesia yang berkaitan dengan flora dan fauna serta gejala alam lain.

Blust juga membuat rekontruksi pohon kekerabatan rumpun bahasa Austronesia dan perkiraan waktu percabangannya, mulai dari Proto-Austronesia hingga Proto-Oceania. Para leluhur ini pada awalnya berasal dari Cina Selatan yang kemudian bermigrasi ke Taiwan pada 5.000-4.000th SM, namun akar bahasa Austronesia baru muncul beberapa abad kemudian di Taiwan.

Kosakata yang dapat direkonstruksi dari bahasa awal Austronesia yang dapat dilacak antara lain : rumah tinggal, busur, memanah, tali, jarum, tenun, mabuk, berburu, kano, babi, anjing, beras, batu giling, kebun, tebu, gabah, nasi, menampi, jerami, hingga mengasap.

Para petani purba di Taiwan ini berkembang cepat dan lalu terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok yang hidup terpisah dan bahasanya menjadi berbeda-beda dengan setidaknya kini ada sembilan bahasa yang teridentifikasi sebagai bahasa formosa.

Migrasi leluhur Taiwan ke Filipina mulai terjadi pada 4.500-3.000th SM. Leluhur ini adalah salah satu dari kelompok yang memisahkan diri. Mereka bermigrasi ke selatan menuju Kepulauan Filipina bagian utara yang kemudian memunculkan cabang bahasa baru yakni Proto-Malayo-Polinesia (PMP).

Tahap berikutnya terjadi pada 3.500-2.000th SM dimana masyarakat penutur bahasa PMP yang awalnya tinggal di Filipina Utara mulai bermigrasi ke selatan melaluli Filipina Selatan menuju Kalimantan dan Sulawesi serta ke arah tenggara menuju Maluku Utara.

Proses migrasi ini membuat bahasa PMP bercabang menjadi bahasa Proto Malayo Polinesia Barat (PWMP) dikepulauan Indonesia bagian barat dan Proto Malayo Polinesia Tengah-Timur (PCEMP) yang berpusat di Maluku Utara.

Namun pada 3.000-2000th SM leluhur yang ada di Maluku Utara bermigrasi ke selatan dan timur. Hanya dalam waktu singkat migrasi dari Maluku Utara mencapai Nusa Tenggara sekitar 2.000th SM yang kemudian memunculkan bahasa Proto Malayo Polinesia Tengah (PCMP).

Demikian pula migrasi ke timur mencapai pantai utara Papua Barat dan melahirkan bahasa-bahasa Proto Malayo Polinesia Timur (PEMP). Migrasi dari Papua Utara ke barat terjadi pada 2.500th SM dan ke timur pada 2.000-1.500th SM dimana penutur PEMP di wilayah pantai barat Papua Barat melakukan migrasi arus balik menuju Halmahera Selatan, Kepulauan Raja Ampat, dan pantai barat Papua Barat yang kemudian muncul bahasa yang dikelompokkan sebagai Halmahera Selatan Papua Nugini Barat (SHWNG).

Setelah itu kelompok lain penutur bahasa PEMP bermigrasi ke Oseania dan mencapai Kepulauan Bismarck di Malanesia sekitar 1.500th SM dan memunculkan bahasa Proto Oseania.

Sedangkan di Kepulauan Indonesia di bagian barat, setelah sempat menghuni Kalimantan dan Sulawesi, pada 3.000-2.000th SM, penutur PWMP bergerak ke selatan, bermigrasi ke Jawa dan Sumatera.

Penutur PWMP yang asalnya dari Kalimantan dan Sulawesi itu lalu bermigrasi lagi ke utara antara lain ke Vietnam pada 500th SM dan Semenanjung Malaka. Dan menjelang awal tahun Masehi penutur bahasa PWMP menyebar lagi ke Kalimantan (arus balik) sampai ke Madagaskar.

Bentuk rumpun bahasa Austronesia ini lebih menyerupai garu daripada bentuk pohon. Karena semua proto-bahasa dalam kelompok ini, dari Proto Malayo Polinesia hingga Proto Oseania menunjukan kesamaan kognat yang tinggi, yaitu lebih dari 84 persen dari 200 pasangan kata.

Bahasa Indonesia sekarang ini, sudah sangat kompleks karena penuturnya tidak hanya hidup dengan sukunya masing-masing dan beradaptasi dengan rumpun bahasa dunia lainnya seperti dari India, Arab, Portugis, Belanda dan Inggris.

Kamis, 16 Mei 2013

Dongeng melayu Nujum Pak Belalang

 
 
Alkisah, maka adalah suatu cerita, kononnya sebuah negeri nama Halaban Condong. Nama rajanya Indra Maya, cukup dengan hulubalang menterinya. Maka adalah dipeminggiran negeri raja itu seorang peladang tiga beranak, anaknya laki-laki dinamakannya Belalang, menjadi orang-orang semuanya memanggil orang tua peladang itu Pak Belalang. Maka pada suatu tahun semua orang tiada dapat padi berladang, oleh sangat kemarau. Maka yang hal sepeladang tiga beranak itu sangatlah kesusahan hendak mencari makanan, tiadalah dapat daya dan upaya lagi, melainkan dengan makanan kutip katap sahaja, ya ni kadang-kadang makan ubi, tebu, pisang, keladi dan sebagainya
Maka pada suatu hari Pak Belalang berkata kepada anaknya nama Si Belalang itu, wahai anakku, apalah sudah untung kita demikian ini. Tiadalah dapat apa-apa yang dijadikan makanan kita anak beranak. Maka jawab anaknya, apakah fikiran aki? Maka kata Pak Belalang, pada fikiranku pergilah anakku sembunyikan kerbau orang yang menenggala dibendang itu barang dua ekor, taruh di dalam semak-semak itu. Jikalau orang itu gempar kehilangan kerbaunya, katakana aku tahu bertenung menentukan dimana-mana tempat kerbau itu.
Sebermula, telah sudah bermesyuarat kedua beranaknya, pada waktu matahari rembang orang-orang bendang itu kelelahanlah penat. Masing-masing pun berhentilah naik kedangaunya makan minum dan setengah tidur. Maka kerbau-kerbau mereka itu ditambatkan ditepi batas yang disebelah naung, makan rumput dan setengah dilepaskan dengan tali-talinya berkubang.
Arakian, Si Belalang pun, lepas bermesyuarat dengan bapanya itu, lalulah ketempat kerbau yang teramat itu dengan seorang dirinya terhendap-hendap mengintau tuan kerbau itu. Telah sampai lalu dipegangnya tali kerbau, diambilnya dua ekor, ditambatkannya kepada pohon kayu besar kira-kira sebatu jauhnya daripada tempat itu. Maka ia pun pulang kepada bapanya, habis dikabarkannya hal ehwalnya. Maka sangatlah sukacita bapanya mendengarkan perkataan anaknya oleh mengikut seperti pengajarannya.
kemudian,,, tersebut perkataan orang-orang bendang itu. Apabila telah beralih hari, masing-masing pun turunlah kebendangnya sambil hendak mengambil kerbau. Maka dilihat dua ekor kerbaunya sudah hilang. Jenuh mencari tiada jump, sambil berkata, siapakah gerangan agaknya tahu bertenung ini? Kita hendak tenungkan kerbau yang hilang ini. Maka pada ketika itu Si Belalang sedang bermain dekat-dekat meraka itu. Maka katanya, bapaku tahu juga sedikit-sedikit bertenung.
Jawabnya tahu juga. Maka kata orang bendang itu, marilah kita sekalian pergi kepada Pak Belalang minta ditenungkan. Jawab kawannya, moh la. Lalu pergilah orang-orang bendang itu kepada Pak Belalang. Maka pada ketika itu Pak Belalang pun ada dirumah sedang memegang gobek. Lalu ditegurnya akan mereka itu seraya katanya, apakah hajat anakku sekalian ini? Jawab orang-orang itu, kita ini mendapatkan Pak Belalang minta tenungkan kerbau kita hilang, jenuh mencarinya.
Maka kata Pak Belalang pun mengambil kertas yang buruk, ditulisnya bagai bekas cakar ayam sahaja, dengan tawakal diperbuatnya serta membilang-bilang jarinya dan memejam-mejamkan matanya. Katanya, ayuhi anakku, kerbau itu dua yang hilang ada disebelah matahari mati, ditambatkan orang dipohon kayu besar. Pada petuanya jikalau lambat dituruti nescayalah ia mati.
Demi orang-orang itu mendengarkan perkataan Pak Belalang, sangatlah sukacita hatinya. Lalulah pergi setenganya mencari dan yang setengah balik pulang. Kemudian antara beberapa lamanya mereka itu pun sampailah ketempat yang ditambatkan oleh Si Belalang itu. Maka kerbau dua ekor itu hampir akan mati karena kehausan, lalu diambilnya, dibawa pulang kerumahnya akan Pak Belalang tahu tenung. Maka singgahlah mereka itu dirumah Pak Belalang, serta membawa beberapa banyak hadiah daripada beras, padi, tembakau, gambir, ikan dan lain-lainnya adalah berharga kadar lima puluh derham. Maka sangatlah kesukaan hati Pak Belalang menerima hadiah mereka itu, dengan beberapa kesenangan ia makan anak-beranak.
Kelakian, tersebutlah Raja Indera Maya di dalam negeri itu. Pada suatu malam kecurianlah baginda tujuh biji peti yang berisi emas, intan, derham dan lain-lain mata benda yang mahal-mahal harganya. Maka dititahkan oleh baginda memukul canang segenap pekan di dalam negeri itu, titahnya, siapa-siapa tahu bertenung raja memanggil kedalam, hendak minta tenungkan harta yang hilang kecurian tujuh buji peti semalam. Maka didengar oleh bendang yang hilang kerbau itu. Katanya, yang kita tahu, orang yang pandai bertenung, boleh dapat dengan segeranya.
Maka kata tukang canang itu, dimanakah rumahnya? Jawab orang bendang itu, itulah rumahnya. Maka pergilah tukang canang itu. Didapati Pak Belalang ada hadir dirumahnya. Lalu mereka bertanya, ayuhai Pak Belalang, iakah sungguhh tahu bertenung? Maka jawabnya, tahu juga sedikit. Maka kata tukang canang, marilah mengadap baginda, karena baginda kecurian tujuh biji peti semalam.
Maka jawab Pak Belalang, baiklah. Maka ia pun pergilah mengadap baginda bersama-sama dengan tukang canang. Apabila sampai kedalam lalu ditegur oleh baginda seraya bertitah, hai Pak Belalang, tahukah engkau bertenung? Maka sembah Pak Belalang, ampun Tuanku beribu-ribu ampun, tahu juga sedikit kerana patik ditinggalkan hamba tua dahulu empat peti kitab tiba dirumah patik dari hal kisah pencuri barang-barang yang hilang.
Maka titah baginda, jikalau baginda beta beri tempoh di dalam tujuh hari ini, beta minta tenungkan harta beta yang hilang itu. Jika tiada dapat engkau tenungkan harta itu, nescaya beta bunuh kerana membuat bohong mengatakan ada empat biji peti tib ilmu nujum. Maka sembah Pak Belalang, Daulat Tuanku titah patik junjung. Insyaallah ta`ala, berkat dengan tinggi daulat, bolehlah patik tenungkan, Tuanku.
Maka Pak Belalang pun bermohon balik, dikurniakan oleh baginda seratus derham akan belanjanya. Hatta, apabila sampai kepekan, maka dibelinya beras, ikan, minyak dan tepung, dibawa balik kerumahnya, diberikan kepada isterinya. Maka tanya isterinya, dimana Pak Belalang dapat barang banyak-banyak ini? Curikah? Jawabnya, tiada aku curi, raja memberi kepada aku, disuruhnya bertenung hartanya hilanh tujuh biji peti semalam konon. Maka tepung ini perbuatlah roti. Aku teragak hendak makan roti rasanya.
Maka diambil oleh perempuannya barang-barang itu diperbuat roti. Seketika nanti hari pun malam. Lepas makan nasi tiga beranak itu, Pak Belalang pun berbaring ditengah rumahnya oleh sebab letih berjalan tadi. Maka isterinya pun masaklah roti itu didapurnya, direndangnya sebiji-biji, maka berbunyilah roti itu kena minyak di dalam kuali, chur bunyinya. Maka oleh Pak Belalang dibilangnya dari tengah rumah itu, katanya, satu membilang roti itu.
Maka dengan takdir Allah, berkat ia bertawakal membuat pembohong itu, tatkala ia membilang roti itu maka kepala pencuri yang mengambil harta baginda itu ada orang terdiri dihalam Pak Belalang, barulah ia keluar dari hutan, kerana jalannya pergi datang itu dekat dengan rumah Pak Belalang. Kemudian chur bunyinya sekeping roti lagi, dibilangnya, dua. Maka pencuri itu pun sudah dua berdiri dihalamannya. Kemudian tiga, maka pencuri itu pun sudah tiga orang disitu. Kemudian tujuh keping roti dibilang oleh Pak Belalang, bersetuju dengan pencuri itu telah ada disitu ketujuh-tujuhnya.
Maka kata kepala pencuri itu, Hai kawan-kawan sekalian, ada pun kita ni sudah diketahui oleh orang tua Pak Belalang akan kita ada disini. Pada fikiranku, tentulah ia tahu kita tujuh orang ini yang mengambil harta raja itu dan sekarang baiklah kita pergi berjumpa dengan dia berkabarkan kesalahan kita yang mengambil harta raja itu. Jawab yang berenam itu lagi, baiklah mari kita pergi kabarkan supaya lepas nyawa kita mati dibunuh raja itu. Maka pencuri ketujuh itu pun pergilah mengetuk pintu Pak Belalang. Maka kata Pak Belalang siapa itu?
Jawabnya, kita hendak berjumpa dengan Pak Belalang. Maka dibuka oleh Pak Belalang pintunya lalu naiklah pencuri ketujuh-tujuh orang itu seraya duduk berjabat tangan dengan Pak Belalang. Maka kata Pak Belalang, dari mana datang dan apakah hajat? Maka jawab pencuri, kami datang ini minta nyawa kepada Pak Belalang. Jangan kamu sekalian dibunuh, kerana kamilah semua yang mengambil peti raja negeri ini, yang hilang tujuh biji itu. Oleh sebab jikalau tiada kita berkabarkan benar pun, Pak Belalang sudah tahu, kerana Pak Belalang di rumah, kami di tanah lagi belum nampak sudah Pak Belalang bilang.
Sebermula telah didengar oleh Pak Belalang akan perkataan pencuri ketujuh itu sangatlah sukacitanya sambil berdaham. Katanya, dengan sesungguhnya aku tahu. Masa anakku di tanah tadi aku bilang di rumah ini satu hingga ketujuh. Benar atau tidak bilangan aku itu? Maka jawab pencuri itu dengan ketakutan, benar. Itulah sebabnya kami sekalian takut akan Pak Belalang berkabar kepada raja, matilah kami sekalian di bunuh oleh raja itu.
Maka kata Pak Belalang, jikalau sungguh anakku sekalian berkata benar, tidaklah dibunuh oleh raja. Dimanakah harta raja itu sekarang? Jawab pencuri itu, adalah kami sekalian tanamkan disebelah selatan di dalam hutan, lebih kurang ada sebatu dari sini. Kami sekalian tanamkan di dalam tanah tiada apa-apa rusak, bolehlah Pak Belalang ambil harta raja itu balik. Maka kata Pak Belalang, baiklah, tetapi jangan membuat bohong. Tentu aku suruh bunuh kepada raja.
Maka bersumpahlah pencuri itu mengatakan tidak bohong sekali-kali. Kemudian roti yang dimasak oleh isteri Pak Belalang itu pun dijamukannyalah kepada pencuri-pencuri itu. Lepas makan mereka itu pun turunlah berjalan. Hatta, telah siang hari, Pak Belalang pun pergilah mengadap Raja Indera Maya seraya baginda bertitah, apa kabar, Pak belalang? Adakah dapat ditenungkan di dalam tib darihal itu?
Maka sembah Pak Belalang, insyaallah ta`ala, dengan berkat tinggi daulat dapatlah dalam tib-tib patik itu, Tuanku. Patik peroleh satu buku, di dalamnya ada tersebut bahawasanya ada pun hartanya yang hilang tujuh orang, dibawahnya kesebelah selatan, sudah ditanamkannya di dalam tanah, tetapi tiada rosak barang-barang itu lagi.
Setelah menitahkan dua orang menteri dengan seratus hulubalang dan lima ratus rakyat mencari peti baginda itu dengan segeranya, maka masing-masing menyembah lalu berjala. Maka baginda pun tinggallah dengan Pak Belalang di balairong seri dihadapi oleh bentara biduanda sida-sida sekalian.
Maka tersebutlah kisah menteri dengan hulubalang, rakyat pergi mencari harta itu. Selang beberapa lamanya sampailah kedalam hutan besar, ditujunya kesebelah selatan. Dengan takdir Allah subhanahu wata`ala betullah sampai mereka kepada tempat peti yang ditanamkan oleh pencuri itu, berjumpa dengan suatu lubang bekas ditimbus orang. Maka diambil oleh menteri anak-anak kayu suruh tikam kedalam tanah, lalu kenalah kepada peti itu, serta diangkat naik, dipikul oleh rakyat sekalian, dibawa balik mengadap baginda.
Maka baginda pun turunlah dari atas singgahsana sambil berkata, betullah sungguh Pak Belalang ini, besar untungnya dan kebaktiannya kepada aku. Baginda bertitah itu dengan teramat sukacitanya, seraya memandang kepada muka Pak Belalang. Titahnya pula, ada pun Pak Belalang ini telah beta gelar Ahlunnujum pada hari ini, dan barangsiapa memanggil Pak Belalang, beta guntingkan lidahnya.
Maka sekalian rakyat, menteri hulubalang pun mengatakan Ahlunnujum sekaliannya. Maka titah baginda, Hai ahlunnujum, beta anugerahi sebiji peti ini akan dikau, bawalah pulang kerumah, berikan kepada anak isteri engkau. Maka sembah Ahlunnujum Belalang, ampun Tuanku beribu-ribu ampun, patik mohonkan ampunlah dikurniakan harta itu, kerana ayapan yang kurniai oleh dulu Tuanku dahulu itu pun cukup patik ayapi anak beranak.
Maka titah baginda menyuruh juga hantarkan sebiji peti yang berisi emas, intan, ratna mutu manikam, kerumah ahlunnujum Belalang itu. Maka ahlunnujum pun bermohon kembali pulang kerumahnya dengan sukacita sekalian anak isterinya. Hatta, antara selang tiga bulan, masuklah pula tiga buah kapal membawa anak itik baru jadi, meminta kenalkan jantan betinanya. Maka kapal itu pun sampailah kepelabuhan. Juragannya naik kedarat mengadap Raja Indera Maya. Maka ada pun tatkala itu baginda sedang dihadapi oleh menteri, hulubalang, sida-sida, biduanda sekaliannya.
Maka juragan itu pun naiklah kebalai pengahadapan masuk mengadap dibawa oleh bahtera baginda. Serta baginda memandang, juragan pun bertelut kepada baginda. Sembahnya, ampun Tuanku beribu-ribu ampun, patik ini datang dari sebuah negeri kesebuah negeri membawa anak itik baru menetas, meminta kenalkan jantan dan betinanya patik persembahkan kebawah duli Tuanku kapal patik tiga buah itu dengan isinya, patik turun kain sehelai sepinggang sahaja. Tetapi jika Tuanku terkenal anak itik itu jantan betinanya, harapkan diampun beribu-ribu ampun, negeri Tuanku ini patik pohonkan supaya menjadi milik patik.
Maka sahut baginda, baiklah encik Juragan, beta minta tempoh tiga hari dahulu. Kepada hari yang ketiga itu pagi-pagi bolehlah datang bawakan anak-anak itik itu, boleh beta kenalkan jantan betinanya. Maka juragan itu pun bermohon balik kekapalnya. Maka baginda pun menitaahkan seorang biduanda panggil ahlunnujum belalang. Maka biduanda pergi kepada Ahlun nujum Belalang. Tatkala itu Ahlun nujum Belalang ada dirumahnya sedang merojak sireh hendak dimakannya. Maka biduanda pun naik. Katanya, Hai Ahlun nujum , titah memanggil bersama-sama sahaya mengadap dengan segeranya.
Jawab biduanda ada kapal masuk membawa anak itik baru menetas, minta kenalkan jantan betinanya. Itulah sebab Tuanku memanggil. Maka sahut Ahlun nujum Belalang, Baiklah, lalu ia mengambil tongkat berjalan bersama-sama dengan biduanda mengadap baginda kebalairong seri. Demi terpandang kepada Ahlun nujum, maka baginda pun bertitah, marilah kesini dekat dengan beta ini, hendak bermesyuarat.
Maka Pak Belalang pun datanglah hampir dengan baginda seraya meyembah. Maka titah baginda, apalah hal beta ini ahlun nujum? Ada pula masuk tiga buah kapal membawa anak itik baru menetas dari telur. Juragannya meminta kenalkan jantan betinanya, kepada beta. Jika tidak kenal, negeri ini pulanglah kepadanya. Maka sekarang apakah halnya beta hendak mengenalnya itu?
Setelah Ahlun nujum Belalang mendengarkan titah baginda, ia pun termenung seketika serta menyerahkan dirinya kepada Tuhan sarwa sekalian alam harapkan makbul sebarang maksudnya membuat perkataannya yang pembohong itu semuanya, Ampun Tuanku beribu-ribu ampun, titah Tuanku terjunjunglah di atas otak batu kepala patik. Maka dengan berkat tinggi daulat Tuanku adalah pula buku tib itu tinggal di rumah patik, dua tiga empat peti penuh berisi dengan pasal anak itik itu sahaja. Dan harapkan ampun patik bertempuh tiga hari mencari dalam tib itu. Maka titah baginda, baiklah.
Maka Pak Belalang pun bermohon balik pulang kerumahnya dengan dukacita yang teramat sangat kerana takut kalau kedapatan budi pembohongnya itu. Maka keluh kesahlah ia tiada lalu makan dan minum dan tidur, melainkan di dalam hatinya berkata, ya Allah, ya Rabbi, ya Saidi, ya Maulai. Kepada Tuhanku juga hamba menyerahkan diri, barang dimakbulkan kiranya seperti maksud dan hajat hamba ini akan mengetahui jantan betina anak itik itu dengan mudahnya.perjanjian dengan baginda itu pun sampailah dua hari sudah. Maka sangatlah dukacita Pak Belalang akan perkara yang disanggupinya itu. Setelah sampai kepada malam ketiganya, maka dengan takdir Allah subhanahuwata`ala dibukakan hatinya fikiran yang baik. Baiklah aku pergi bersampan berkayuh dekat-dekat kapal mendengar perkabaran itik itu.
Maka ia pun berkayuhlah dengan perahunya yang pipih supaya tidak kedengaran bunyi air. Setelah Pak Belalang sampai kepada kapal yang tiga buah berlabuh itu seraya perlahan-lahan mendengarkan apa-apa percakapan orang dikapal itu. Maka dengan takdir Allah subhanahu wata`ala melakukan kudrat di atas hambanya, pada ketika itu bercakaplah isteri juragan kapal itu dengan suaminya. Katanya ayuhi Encik Juragan, berapa lama sudah saya bersama-sama belayar menjajakan anak itik ini minta kenalkan jantan betinanya belum juga saya tahu bagaimana hendak mengenalnya itu. Jikalau sungguh kasih kepada saya tolonglah kabarkan supaya saya tahu.
Maka jawab juragan itu, ayuhai adinda, buah hati kekanda, tiadalah dapat kekanda hendak mengabarkan hal itu, takut didengar oleh orang, kerana esok hari hendak kekanda bawa mengadap raja negeri ini minta kenalkan jantan betinanya. Jikalau tiada lalu raja itu mengenalnya negeri ini kita miliki, dan jikalau lalu pula raja itu mengenalnya, kapal yang tiga buah ini pulang kepadanya. Kita sekalian turun kain sehelai sepinggang sahaja. Tetapi oleh kasih kekanda, kabarkan. Janganlah dicakapkan kepada orang.
Maka jawab isterinya, katakanlah supaya adinda dengar. Di mana pula ada orang tengah malam datang hampir kemari? Lalu dikabarkan oleh juragan kepada isterinya, katanya, jikalau hendak mengenal jantan betina anak itik itu, hendaklah dibubuh air di dalam terenang. Mana-mana yang dahulu menyelam itulah betina dan yang kemudiannya jantan.
Setelah didengar oleh isterinya, ia pun diam. Lalu tidur kedua laki isteri menantikan siang. Shahadan maka Pak Belalang pun sekalian hal ehwal itu semuanya didengar. Sangatlah suka hatinya serasa mati hidup kembali, sambil berkayuh perlahan-lahan balik pulang kerumahnya. Setelah sampai lalu memanggil perempuannya emak Belalang. Maka emak Belalang pun bangun memebuka pintu. Maka kata Pak Belalang, ada \kah nasi emak Belalang? Aku lapar ini. Pergilah masak segera, apa digaduhkan masak nasi ransum? Belanja kita raja memberi.
Maka jawab isterinya, sudah ada nasi. Makanlah. Maka Pak Belalang pun bersalin kainnya lalu duduk serta memakan nasi. Setelah itu, ia pun tidur dengan kesukaannya. Seketika lagi hari pun sianglah lalu ia bangun duduk sambil merujak sirihnya. Sebermula, maka tersebutlah perkataan juragan kapal. Telah hari siang pagi-pagi hari, maka juragan pun bersiaplah lalu naik kedarat diiringkan oleh anak-anak perahunya membawa anak itik itu. Maka baginda pun hadir di atas singgasana tahta kerajaan dihadapi oleh sekalian menteri, hulubalang, sida-sida bentara, rakyat bala, hina dina hendak melihat temasya itu.
selanjutnya,,, baginda pun menitahkan seorang biduanda memanggil ahlun nujum Belalang dengan segeranya. Maka biduanda pun menyembah lalu turun berjalan kerumah Ahlun nujum Belalang. Maka katanya titah Tuanku memanggil Ahlun nujum. Juragan dan sekalian orang telah berhimpun dibalai semuanya. Maka Ahlun nujum pun bersiap-siapkan sirehnya lalu mengadap baginda. Maka sampailah kebalairung seri. Maka titah baginda, marilah kemari.
Maka Ahlun nujum Belalang pun dekatlah dengan baginda. Maka titah baginda, Apakah hal ahlun nujum hendak mengenal anak itik itu jantan betinanya? Maka sembah Pak Belalang. Ampun Tuanku beribu-ribu ampun, jenuh patik mencari di dalam batin patik. Maka dapatlah patik di dalam buku kecil sahaja, ada di dalam dua baris tertulis di tulis disitu mengatakan demikian, bahawasanya ada pun hendak mengenal anak itik itu jantan betinanya, hendaklah dengan air.
Maka titah baginda menyuruh ambilkan suatu terenang emas. Maka di bawa oleh dayang-dayang di persembahkan kepada baginda. Maka titahnya, inilah air, ahlun nujum. Maka sembah Pak Belalang, kemudian lepaskan seekor. Mana-mana yang dahulu menyelam, itulah yang betina dan yang kemudian menyelam itulah jantannya. Maka titah baginda, lepaskanlah. Sembah Pak Belalang, silakanlah Tuanku melepaskannya. Titah baginda, beta tiada tahu.
Maka Pak Belalang pun bangun seraya menyembah melepaskan itik itu. Maka apabila dilepaskannya seekor dalam terenan, maka anak itik pun menyelam. Maka sembah Pak Belalang, itulah betina, tuanku. Kemudian dilepaskan pula seekor lagi, lambat menyelam. Titah baginda, lambat pula menyelan itu. Sembah Pak Belalang, yang lambat menyelam itu jantan, Tuanku.
Maka baginda pun memandang kepada juragan kapal itu. Titahnya, apakah kabar Juragan? Betulkah seperti kata ahlun nujum ini, dimana hendak patik simpangkan perkataan yang sebenar itu? Maka titah baginda, jikalau begitu, baiklah perdana menteri beri juragan ini tiga buah perahu dan bekalnya sampai ia balik kenegerinya. Maka perdana menteri pun menyembah dan juragan kapal pun turun bersama-sama dengan menterinya seraya menyembah baginda. Kapal itu pun diserahkan kepada bendahara dengan isi-isinya.
Sebermula, tersebutlah kisah baginda itu pula memberi titah kepada Pak Belalang. Titahnya ayuhai saudara beta, ahlun nujum yang bijaksana, dengan kerelaan hati beta memberi sebuah kapal itu kepada saudara dengan isi-isinya. Maka sembah Pak Belalang, ampun tuanku beribu-ribu ampun, sembah patik harapkan diampun, sebenar sangat seperti titah itu, dengan sebolah-bolehnya patik mohon ampunlah dikurniai itu, kerana mana-mana harta yang duli Tuanku kurniakan dahulu sekarang telah sudah dihabiskan oleh didik itu bersuka ria, ampun tuanku bermain muda sahaja kerjanya.
Baginda pun tertawa gelak-gelak, titahnya, tiada mengapa, budak-budak sahayanya gemar main muda itu, tiada pula menjadi kesalahan. Tetapi kawinkan dia mana-mana yang diperkenankan dan kapal ini pemberian betalah kepadanya Si Belalang itu. Maka sembah Pak Belalang, daulat Tuanku. Maka kapal itu pun disuruh hantarkan kepelabuhan Pak Belalang, adanya.
Sebermula, telah selesai kisah anak itik itu, dengan takdir Allah subhanahu wa`tala, masuklah pula tujuh buah kapal membawa kayu yang teramat licin dan bulat, panjangnya kira-kira sehasta, nakhodanya itu pun naiklah mengadap baginda bermaklumkan halnya serta membawa kayu itu, dipersembahkan kepada baginda. Katanya, ampun tuanku beribu-ribu ampun, sembah patik harap diampun jua kiranya. Adalah patik datang ini mengadap tuanku membawa suatu kayu bulat licin semuanya. Patik minta kenalkan kayu tentukan ujung dan pangkalnya patik persembahkan ketujuh buah kapal patik ini, patik turun sehelai sepinggang sahaja.
Demi didengar oleh baginda sembah nahkoda itu, lalu titah baginda, baiklah beta minta tempoh tujuh hari kepada nakhoda. Setelah sudah, maka nahkoda kapal itu pun bermohonlah balik kekapalnya. Maka baginda pun bertitah menyuruh panggil Pak Belalang. Maka biduanda pun menyembah serta bermohon pergi mendapatkan ahlun nujum Belalang itu. Katanya, titah tuanku memanggil kebalai. Jawab Pak Belalang, apa pasal memanggil aku? Lalu ia pun turun dengan segera mengadap baginda bersama-sama dengan biduanda kebalai.
selanjutnya, setelah baginda melihat Pak Belalang datang itu, baginda pun memberi titah kepadanya, ayuhai ahlun nujum, apalah ikhtiar diri sekarang? Ada seorang nakhoda membawa kapal tujuh buah datang kepada beta, kerana ia ada membawa kayu bulat licin. Ia meminta kenalkan ujung pangkal kayu itu. Jikalau lalu terkenal oleh beta ujung dan pangkalnya, kapal yang tujuh buah itu diberikannya kepada beta. Jika tiada terkenal, maka negeri ini pulang kepadanya. Beta minta tempoh tujuh hari.
Arakian, telah Pak Belalang mendengar titah baginda, maka lalu ia mengangkat tangan mendatangkan sembah, ampun tuanku beribu-ribu ampun, sembah patik harap diampun, ada pun dari hal mengenal kayu, bolehlah juga patik kenalka, berkat tinggi daulat tuanku, kerana ada tujuh peti tib patik dirumah pasal mengenal kayu-kayu. Dan dua peti buku-buku pasal itu sahaja.
Titah baginda, baiklah boleh ahlun nujum lihat di dalam buku-buku itu. Maka Pak Belalang pun bermohonlah kembalilah kerumahnya. , dalam pada itu sampailah perjanjian itu tujuh hari kepada malam. Maka daripada pagi-pagi hari nakhoda kapal pun bersiaplah dengan anak perahunya hendak naik kebalairung seri membawa kayu itu. Maka pada ketika hulubalang, sida-sida, bentara, penuh sesak hendak melihat temasya itu.
Maka hal Pak Belalang pada malam yang ketujuh itu turunlah ia kesampan berkayuh kekapal nahkoda itu daripada sebuah kapal kepada sebuah kapal. lalu dengan takdir Allah subanahu wata`ala sampailah ia kekapal nahkoda yang jauh ditengah lautan sekali. Kepada masa itu nahkoda pun ada duduk sedang bermesyuaratkan darihal hendak membawa kayu itu esok harinya mengadap baginda. Maka kata sekalian anak-anak perahunya itu, ayuhai Tuan nahkoda, hamba sekalian pun sangatlah ajaib bagaimanakah hendak mengenali ujung pangkal kayu itu. Maka sahut nahkoda kepada anak-anak perahunya itu, janganlah kau sekalian cakapkan kepada orang rahsia ini, kalau didengar oleh orang rosaklah kita.
Maka kata sekalian anak-anak perahu itu, ya tuan nahkoda, dimana datang orang tengah malam ini? Maka kata nahkoda sekalian pun sangatlah ajaib bagaimanakah hendak mengenal ujung pangkal kayu itu, ada pun hendak mengenal ujung kayu itu dipegang sama tengahnya, diletakkan di atas air. Kemudian mana-mana dahulu yang tenggelam, disitulah pangkalnya.
Telah sudah nahkoda berkabarkan rahsia itu kepada anak-anak perahunya, semuanya didengar oleh Pak Belalang perkataan itu. Ia pun balik kerumahnya. , telah hari siang, pagi-pagi hari berhimpunlah sekaliannya. Maka nahkoda kapal itu pun naiklah mengadap baginda membawa kayu itu. Maka baginda pun bertitah suruh duduk seraya memandang kepintu balai penghadapan itu menantikan ahlun nujum Belalang, lalu naik keatas balai penghadapan seraya menyembah baginda. Maka ditegur oleh baginda sambil bertitah, marilah dekat dengan beta disini. Apa kabar dalam tib ahlun nujum itu?
Maka sembah Pak Belalang, ampun Tuanku beribu-ribu ampun, ada pun di dalam kitab patik darihal hendak mengenal ujung pangkal kayu itu hendaklah dengan air, tuanku. Maka titah baginda menyuruh ambil air kepada dayang-dayang pun mengambil air, dibubuh di dalam batil emas, dibawa kehadapan baginda. Maka sembah Pak Belalang, tuanku lepaskan kayu itu. Maka titah baginda, beta tiada tahu. Ahlun nujum sendiri lepaskan.
Maka Pak Belalang pun menyembah baginda seraya mengambil kayu itu. Maka ditimbangnya betul sama-sama tengah kayu, dilepaskannya di dalam air itu. Maka tenggelam sebelah dahulu. Titah baginda. Apa yang dahulu temggelam itu? Maka sembah ahlun nujum Belalang, ampun Tuanku beribu-ribu ampun, yang tenggelam itu pangkalnya dan ujungnya itu kemudian tenggelam kerana ringan dan pangkalnya itu berat.
Maka baginda pun memandang kepada nahkoda kapal itu seraya bertitah, apa kabar nahkoda adakah betul seperti kata ahlun nujum beta dan tiada? Maka sembah nahkoda itu, sebenarnyalah seperti kata ahlun nujum Tuanku itu. Apa hendak patik salahkan lagi? Sudah nasib patik, tuanku kerana patik dengar ahlun nujum tuanku ini arif bijaksana sangat. Inilah sebab patik mencuba kepandaiannya itu.
Maka sahut ahlun nujum, dengan sebenarnya juga encik nahkoda menyembah kebawah duli yanga maha mulia itu. Jikalau ada kepandaian arif bijaksana sekali pun jika tiada rajin usaha tiada berguna juga. Maka terasalah dihati nahkoda itu teringatkan tatkala anak-anak perahunya itu bertanyakan ujung pangkal kayu dahulu agaknya barangkali Pak Belalang itu mengendapmendengarkan kisah itu, kerana ada cakapnya itu berusaha. Tetapi itu fikiran di dalam hatinya sahaja, tiada dikeluarkannya. Maka titah baginda menyuruh biduanda berikan ampun kurnia kepada nahkoda itu tujuh buah perahu serta belanja makanannya. Maka nahkoda itu pun turun dari kapal sehelai sepinggang sahaja. Maka kapal tujuh buah serta dengan isinya itu pulang kepada baginda semuanya. Maka nahkoda itu pun bermohon kepada baginda naik keperahunya langsung pulang kenegerinya.
selanjutnya, selang antara berapa lamanya, masuk pula sebuah kapal perdana menteri Askalan Rum mengadap baginda membawa surat rajanya kepada baginda. Tatkala itu baginda sedang semayam di atas takhta kerajaan dibalairung seri. Perdana Menteri itu pun naik lalu menyembah baginda dan mempersembahkan surat itu. Maka disambut oleh bentera dan dibaca dihadapan baginda. Demikianlah bunyinya:
Sembah sujud serta ta`zim serta takrim daripada anakanda Raja Baharum Indera Sakti dinegeri Askalan Rum, barang disampaikan kiranya mengadap kebawah tahta paduka ayah duli yang maha mulia. Ihwal anakanda maklumkan jikalau ada mudah-mudahan rahim kasihan belas ayah, anakanda pohonkan Ahlun nujum ayah, minta lihatkan anakanda kehilangan isteri anakanda baru kawin tujuh hari, sedang tidur dicuri oleh jin. Maka haraplah dipohonkan bersama-sama pacal Perdana Menteri itu.
Telah didengar bunyi surat itu, baginda pun menyuruh panggil ahlun nujum Belalang. Maka biduanda pun pergilah. Ada seketika lamanya, ahlun nujum Belalang pun sampailah bersama-sama dengan biduanda mengadap baginda. Maka baginda pun bertitah, hai ahlun nujum, ada pun sebab beta memanggil ini kerana ada sebuah kapal masuk kemari mengadap membawa surat darihal putera baginda negeri Askalan Rum hilang isteriny, ia sedang tidur bersama-sama dicuri oleh seorang jin. Adakah dapat ahlun nujum mengembalikan balik daripada jin itu?
Maka sembah ahlun nujum Belalang. Ampun tuanku beribu-ribu ampun, insya Allah ta`ala, berkat dengan tinggi daulat duli yang maha mulia, dari hal itu barangkali ada di dalam tib-tib patik tangkal jin itu supaya ia takut. Maka titah baginda, baiklah boleh pergi sekarang bersama-sama Perdana menteri baginda ini. Maka sembah Ahlun nujum Belalang. Daulat tuanku, titah patik junjunglah. Patik pohon ampun pulang keteratak patik dahulu.
Maka titah baginda, usahlah balik dahulu. Belanja-belanja ada beta beri. Maka sembahnya, baiklah tuanku. Lalu ia menyembahkan kepada baginda bersama-sama turun kekapal Perdana Menteri itu langsung belayar kenegeri Askalan Rum. Selang antara beberapa lamanya, sampailah kejambatan larangan. Maka disambut oleh baginda itu menteri serta dengan Ahlun nujum Belalang. Maka datanglah putera baginda itu mendapatkan Pak Belalang dengan tangisnya. Titahnya , ayuhai bapa hamba, tolonglah hamba minta carikan isteri hamba yang telah dicuri oleh jin itu dengan segeranya.
Maka sembah Pak Belalang, ampun tuanku beribu-ribu ampun, pertetapkan juga hati tuanku, Insya Allah ta`ala patik pergi mencari paduka adinda itu. Maka baginda pun berangkat dari kapal naik keistana membawa Ahlun nujum Belalang, diperjamu makan dan minum tujuh hari tujuh malam, disembelih kerbau, lembu, ayam dan itik.
selanjutnya, lepas itu, Pak Belalang pun berdatang sembah kepada putera baginda itu. Sembahnya, ampun tuanku beribu-ribu ampun, nanti pada waktu dinihari tuanku titahkan sekalian isi negeri, rakyat bala tuanku pergi masuk kehutan sekalian isi negeri, rakyat bala tuanku pergi masuk kehutan sekaliannya mengikut patik. Tuanku pun bersama-sama berangkat. Apabila patik berhenti, tuanku sekalian rakyat pun berhenti jauh-jauh daripada patik, jangan dekat.
Maka putera baginda serta dengan sekalian menteri, hulubalangnya pun mengakulah seperti sembah ahlun nujum itu. Telah malamlah, waktu dinihari, perdana menteri pun menyuruhkan sekalian rakyat isi negeri semua kehutan rimba belantara itu dengan terlalu amat kesusahannya., apabila gari pun sudah cerah Pak Belalang pun berjalanlah bersama-sama dengan putera baginda itu diiringkan oleh menteri, hulubalangnya sekalian yang tiada tepermanai banyaknya. Maka antara beberapa lamanya sampailah Pak Belalang kepada sepohon kayu beringin ditengah padang , terlalu amat rendang pokoknya. Lalu berhentilah akan lelahnya teramat sangat, dan matanya pun mengantuk seperti diperekat rasanya. Ia pun berbaring dibawah kayu beringin itu lalu tertidur.
Hatta, dengan takdir Allah Tuhan sarwa sekalian alam, kepada ketika itu datanglah seorang tua, janggutnya putih hingga kepusatnya, seraya berkata dengan suara yang dahsyat. Sabdanya, hai Pak Belalang apakah pekerjaan engkau demikian ini sentiasa berbuat bohong sahaja, tiada perkataan yang sebenarnya? Maka Pak Belalang pun terkejut mendengarkan sabda orang tua itu, seraya menyembah, katanya, hamba tuan sungguhlah berbohong sahaja, kerana dengan hal mencari napakah hamba.
Maka sabda orang tua itu, dengan sebenarnya engkau berbuat bohong semata-mata, tetapi bohong engkau itu diperkenankan Allah ta`ala tiada menganiayai orang sekali-kali, semata-mata membuat kerana Allah memelihara raja sendiri daripada percubaan Tuhan sarwa sekalian alam keatas hambanya. Maka sekarang ini apalah pekerjaan engkau? Hendak kemana?
Maka sembah Pak Belalang di dalam tidurnya, hamba tuan dititahkan oleh putera baginda ini meminta carikan isterinya dicuri oleh jin kunun. Inilah hamba kerjakan. Maka sabda orang tua itu, bagaimanakah hal engkau hendak mencarinya itu? Maka sembah Pak Belalang, entahlah tuan tiada hamba tahu. Apakah nama tuan hamba?
Maka disahut oleh orang tua itu, betalah yang bernama nabi Allah Khidir, Kutubu`l alam menjaga lautan dan daratan dengan titah Tuhan beta. Ada pun darihal engkau hendak mengambil tuan puteri itu, inilah isim Allah ta`ala ya`ni tangkal yang ditakuti oleh jin, beta ajarkan. Bacalah kepada jin itu supaya ia lari. Kemudian engkau ambilah tuan puteri itu.
Maka diajarkannya suatu isim kepada Pak Belalang. Dapatlah olehnya. Maka sabda Kutubul`alam, ada pun sekarang jin itu sedang tidur memangku Tuan Puteri itu di dalam suatu gua batu ditepi gunung. Segeralah pergi ketempat itu. , telah sudah berkata-kata Pak Belalang pun jaga daripada tidurnya. Maka dengan tiada lengah lagi lalu berjalan menuju kegunung itu. Maka putera baginda dengan menteri, hulubalang, rakyat pun bersama-samalah mengikuti jauh-jauh dari belakang. Dalam hal yang demikian sampailah kepada suatu gua batu. Betullah dilihatnya jin itu sedang memangku Tuan Puteri itu sedang tidur juga kedua-duanya. Maka balutlah mata Tuan Puetri itu bekas menangis. Tersangatlah belas kasihan Pak Belalang melihatnya. Maka segeralah ia membacakan isim Allah ta`alaseperti pengajaran Kutubul alam itu. Dengan berkat isim doa itu, dihembuskan oleh Ahlun nujum dikepalanya, maka jin itu pun terbanglah lari, tinggallah Tuan Puteri itu. Maka segeralah diambil oleh Pak Belalang dengan besar suaranya meminta tolong. Katanya, tolong Yuanku, segera ini adinda.
Maka apabila didengar oleh putera baginda dengan menteri, hulubalangnya maka sekalian rakyat pun berhimpum mengiringkan puteri itu, diletakkan di atas geta yang keemasan, dihadapi oleh dayang-dayang, bentar, sida-sida sekalian bertunggu menjaga Tuan Puteri itu lagi pengsan tiada sedarkan dirinya. Maka diambil oleh Pak Belalang air, dibacanya isim tadi, disiramkan pada seluruh tubuhnya.
Maka Tuan Puteri pun sehatlah sedikit lalu bangun duduk santap nasi. Maka putera baginda itu pun teramatlah sukacita melihat isterinya sudah didapati, lalu duduk disitu serta memuji-muji ahlun nujum itu, lalu menitahkan menteri hulubalang rakyat hina dina sekalian bersiap hendak kenduri melepaskan nazarnya, menyembelih kerbau, lembu, ayam dan itik makan minum tujuh hari tujuh malam.memberi sedekah kepada fakir miskin dengan beberapa pula hadiah kelelahan ahlun nujum Belalang itu, dikurniakan oleh baginda daripada harta emas, perak, kain baju dan hamba, dan kapal sebuah, cukup dengan isinya kapal itu.
Maka ahlun nujum Belalang pun mengajar putera baginda itu akan isim yang diajarkan oleh Kutubul alam itu, di perbuat tangkal Tuan Puteri itu, supaya jangan dicuri oleh jin itu balik. Maka kepada ketika yang baik, Pak Belalang pun bermohon hendak balik kenegerinya dihantar oleh putera baginda itu kedua laki isteri hingga kekapal serta dipasangkan meriam alamat tanda kebesaran di atas ahlun nujum itu. Setelah sampai kapal. Putera baginda itu pun berpeluk bercium denga ahlun nujum Belalang, bertangis-tangisan. Lalu berangkat kembali keistananya. Maka ahlun nujum Belalang pun belayarlah pulang kenegerinya.


Nonton TV

Halaman