Kamis, 26 Agustus 2010

Tata cara Pelaksanaan adat batak (5)

Bab V

ADAT BATAK – DALIHAN NA TOLU –(The Philosophy of Life)

Pengertian Dalihan na tolu:

image  

Pengertian Dalihan adalah tungku yang dibuat dari batu, sedangkan Dalihan natolu ialah tungku tempat memasak yang terdiri dari tiga batu. Ketiga dalihan yang ditanam berdekatan ini berfungsi sebagai tungku tempat memasak. Dalihan harus dibuat sama besar dan ditanam sedemikian rupa sehingga jaraknya simetris satu sama lain serta tingginya sama dan harmonis.
Pada zamannya, kebiasaan masyarakat Batak memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku itu, dalam bahasa Batak disebut dalihan. Falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.
Tungku merupakan bagian peralatan rumah yang sangat vital. Karena menyangkut kebutuhan hidup anggota keluarga, digunakan untuk memasak makanan dan minuman yang terkait dengan kebutuhan untuk hidup. Dalam prakteknya, kalau memasak di atas dalihan natolu, kadang-kadang ada ketimpangan karena bentuk batu ataupun bentuk periuk. Untuk mensejajarkannya, digunakan benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa Batak, benda itu disebut Sihal-sihal. Apabila sudah pas letaknya, maka siap untuk memasak.
Ompunta naparjolo martungkot sialagundi. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi. Umpasa itu sangat relevan dengan falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal sebagai sumber hukum adat Batak.
Apakah yang disebut dengan dalihan natolu paopat sihal-sihal itu ? dari umpasa di atas, dapat disebutkan bahwa dalihan natolu itu diuraikan sebagai berikut :

1. Manat mardongan tubu = hati-hati bersikap terhadap dongan tubu
2. Elek marboru = memperlakukan semua perempuan dengan kasih
3. Somba marhulahula = menghormati pihak keluarga perempuan

Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna.

Itulah tiga falsafah hukum adat Batak yang cukup adil yang akan menjadi pedoman dalam kehidupan sosial yang hidup dalam tatanan adat sejak lahir sampai meninggal dunia.

Struktur Dalihan Na Tolu merupakan gambaran atau peta dari dewa sembahan leluhur yang hidup di banua ginjang (dunia atau langit atas). Keberadaan ketiga dewa Batak di langit atas digambarkan atau dipetakan di bumi (banua tonga) oleh unsur pembentuk Dalihan Na Tolu. Perbuatan ini merupakan pelanggaran terhadap Hukum Agama.

Dengan melakukan upacara adat kita memberikan jalan masuk pada kehadiran roh sembahan leluhur di dalam kehidupan kita. Artinya, Mulajadi Nabolo, Batara Guru, Mangala Sori, Mangala Bulan, dan Debata Asiasi. Orang Batak pada masa Hasipelebeguon tidaklah membuat patung untuk roh sembahannya. Tidak ada patung untuk Mulajadi Nabolon, Batara Guru, Mangala Sori, Mangala Bulan, Boru Saniang Naga, dan dewa-dewa lainnya. Orang Batak tidak memiliki kebiasaan membuat patung batu atau kayu untuk sembahannya dan kemudian menjadikannya sebagai objek penyembahan, sebagaimana kebiasaan yang terdapat pada agama suku-suku bangsa yang ada disekitar bangsa Israel dahulu.

Bangsa-bangsa di daerah Palestina memiliki dewa-dewa sembahannya seperti dewa Milkom, Baal, Kamos, Asytoret, dan Dagon dan berbagai dewa lainnya. Mereka membuat berbagai macam patung yang merupakan gambaran dari kehadiran dewa sembahan yang tidak bisa dilihat. Patung itu terbuat dari batu, tembaga, emas ataupun dari kayu. Harun, saudara Musa juga terjebak untuk membuat patung lembu emas ketika bangsa itu berada di padang gurun. Melalui patung itu mereka berbicara kepada dewa sembahannya. Kehadiran patung itu merupakan simbol dari kehadiran dari dewa sembahannya. Dengan membawa patung itu ke medan peperangan, mereka telah membawa dukungan kuasa roh sembahannya untuk memenangkan peperangan.

Dengan menyembah patung dewa, mereka telah menyembah roh itu. Pahatan patung dewa merupakan proyeksi, Image atau perwakilan dari kehadiran roh sembahan yang tidak dapat dilihat oleh mata. Dewa sembahan itu berada di alam gaib dan tidak dapat dilihat, tetapi personifikasi dewa tadi telah dinyatakan pada patungnya yang dibuat dari batu, kayu, tembaga, atau emas, sehingga dapat dilihat oleh mata manusia.

Patung-patung (gana-ganaan) yang dibuat pada masa dahulu oleh orang Batak hanyalah merupakan suatu bentuk perlindungan gaib (pagar) yang dibuat untuk menangkal serangan roh-roh jahat. Patung-patung itu ditempatkan pada lokasilokasi tertentu sebagai pagar perlindungan gaib, dan bukan sebagai benda yang disembah-sembah.
Dalam agama Batak personifikasi dari kehadiran para roh sembahannya tidak dibuat dari patung batu, kayu, tembaga, ataupun emas. Patung dalam agama Batak tidak terbuat dari benda mati, tetapi terbuat dari darah dan daging, yaitu tubuh manusia.
Personifikasi dan gambaran dari kehadiran roh itu dinyatakan dalam diri orang Batak itu sendiri. Upacara adat adalah upacara yang menjadikan orang Batak sebagai patung-patung hidup dari ketiga roh sembahan, yang merupakan pancaran dari Debata tertinggi Mulajadi Nabolon. Misalnya, kalau seseorang ingin menyampaikan permohonannya kepada debata, maka ia menyampaikannya kepada hulahula, dan memperoleh berkat dari debata juga melalui hulahula sebagai patung hidupnya.

Orang Batak merupakan pahatan hidup yang merefleksikan kehadiran roh sembahannya yang berada di langit atas (banua ginjang). Dengan melakukan upacara adat, mereka telah menjadi patung hidup dari Batara Guru, Mangala Sori, dan Mangala Bulan, ataupun Debata Asiasi. Sehingga, pelaku upacara adat adalah patung-patung hidup dari Mulajadi Nabolon. Hulahula, Dongan Sabutuha, dan Boru adalah patung-patung hidup dari ketiga dewa Batak. Dalihan Na Tolu merupakan gambaran rohani atau tiruan (tumiru) dari eksistensi dan relasi dari ketiga dewa Batak yang berada di langit atas.

1- Kekerabatan/ Partuturan :

Dalam kehidupan orang Batak sehari-hari, kekerabatan (partuturon ) adalah kunci pelaksanaan dari falsafah hidupnya, Boraspati ( baca boraspati di artikel saya selanjutnya, ini digambarkan dengan dua ekor cecak/cicak, saling berhadapan, yang menempel di kiri-kanan Ruma Gorga/Sopo/Rumah Batak ). Kekerabatan itu pula yang menjadi semacam tonggak agung untuk mempersatukan hubungan darah, menentukan sikap kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik ( nice attitude ).

Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut DALIHAN NA TOLU (bahasa Toba), Di Simalungun disebut TOLU SAHUNDULAN.

Dalihan dapat diterjemahkan sebagai "tungku" dan "hundulan" sebagai "posisi duduk".Keduanya mengandung arti yang sama :

Sebagai pesan dari orang-orang tua yang terdahulu :

  • Jolo tinitip sanggar bahen huruhuruan;

Jolo nisukun marga asa binoto partuturan.

  • Hau antaladan parasaran ni binsusur;

Sai tiur do dalanan molo sai denggan iba martutur.

3 POSISI PENTING dalam kekerabatan orang Batak, yaitu :

Ada (3) tiga bagian bentuk kekarabatan dan itulah yang dinamakan DALIHAN NA TOLU:

  1. HULA HULA atau TONDONG : yaitu kelompok orang orang yang posisinya "di atas", yaitu keluarga marga pihak istri sehingga disebut Somba marhula-hula yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan. Jadi posisi dan kedudukan Hulahula diakui lebih tinggi dari dua unsur lainnya (dongan tubu dan boru), pihak hulahula terhadap borunya harus bersikap manis dan tidak boleh bersikapa diktator dan tidak pula instruktif kepada kelompok boru.oleh karena itu hula hula bisa salah satu sumber kekuatan adikodrati, atau penopang daya hidup bagi masing-masing borunya.
  2. DONGAN TUBU atau SANINA : yaitu kelompok orang orang yang posisinya "sejajar", yaitu : teman/saudara semarga sehingga disebut Manat mardongan tubu, artinya menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.

c. BORU : yaitu kelompok orang orang yang posisinya "di bawah", yaitu saudara perempuan kita dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Sehingga dalam kehidupan sehari hari disebut Elek marboru artinya agar selalu saling mengasihi supaya mendapat berkat.

A. Dongan Sabutuha/ dongan tubu, (saudara satu darah) serta yang sudah dianggap saudara sedarah:

  1. Dongan saama ni suhut; saudara satu Ayah/Bapak .
  2. Paidua ni suhut; Saudara, Bapak nya abang adik (Paidua ni Suhut)
  3. Haha anggi ni suhut; Saudara kakek abang adik (Haha anggi ni suhut)
  4. Bagian Paniboli (panukun) ni suhut Saudara semarga ( Panomboli)
  5. Dongan samarga ni suhut; Saudara semarga dari suhut
  6. Dongan saina ni suhut (pulik marga) Saudara
  7. Dongan sapadan ni ompu (pulik marga)
  8. Pariban (sepengambilan/istri kakak beradik/semarga)
  9. Dongan sahuta, raja ni ginokkon daohot ale-ale.

Falsafah dalam persaudaraan dalam satu marga:

a- Manat ma ho mardongan sabutuha, molo naeng sangap ho

b- Tampulon aek do na mardongan sabutuha.

c- Tali papaut tali panggongan;

Tung taripas laut sai tinanda do rupa ni dongan.

Keterangan :Manat Mardongan Tubu.
Dongan tubu dalam adat Batak adalah kelompok masyarakat dalam satu rumpun marga. Rumpun marga suku Batak mencapai ratusan marga induk. Silsilah marga-marga Batak hanya diisi oleh satu marga. Namun dalam perkembangannya, marga bisa memecah diri menurut peringkat yang dianggap perlu, walaupun dalam kegiatan adat menyatukan diri. Misalnya: Si Raja Guru Mangaloksa menjadi Hutabarat, Hutagalung, Panggabean, dan Hutatoruan (Tobing dan Hutapea). Atau Toga Sihombing yakni Lumbantoruan, Silaban, Nababan dan Hutasoit.
Dongan Tubu dalam adat batak selalu dimulai dari tingkat pelaksanaan adat bagi tuan rumah atau yang disebut Suhut. Kalau marga A mempunyai upacara adat, yang menjadi pelaksana dalam adat adalah seluruh marga A yang kalau ditarik silsilah ke bawah, belum saling kawin.
Gambaran dongan tubu adalah sosok abang dan adik. Secara psikologis dalam kehidupan sehari-hari hubungan antara abang dan adik sangat erat. Namun satu saat hubungan itu akan renggang, bahkan dapat menimbulkan perkelahian. seperti umpama "Angka naso manat mardongan tubu, na tajom ma adopanna'. Ungkapan itu mengingatkan, na mardongan tubu (yang semarga) potensil pada suatu pertikaian. Pertikaian yang sering berakhir dengan adu fisik.
Dalam adat Batak, ada istilah panombol atau parhata yang menetapkan perwakilan suhut (tuan rumah) dalam adat yang dilaksanakan. Itulah sebabnya, untuk merencanakan suatu adat (pesta kawin atau kematian) namardongan tubu selalu membicarakannya terlebih dahulu. Hal itu berguna untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan adat. Umumnya, Panombol atau parhata diambil setingkat di bawah dan/atau setingkat di atas marga yang bersangkutan.

Manat mardongan sabutuha/tubu, dalam pengertian bahwa sesama saudara atau semarga, haruslah bersikap bijaksana dan arif dan saling menghormati, baik dalam perkataan maupun perbuatan jangan semborono atau saling menyakiti, meskipun didalam bercanda. Kalau seseorang yang dituakan (Ompung Bapa, Abang) harus dihormati. Sedang yang lebih muda harus disayangi atau diayomi dan dituntun. Kalau hal ini dilakukan maka akan dihormati dan terhormat dimata dongan sabutuha /tubu.

Persaudaraan pada orang Batak tidak mungkin diputuskan hubungan persaudaraannya, dengan berpedoman prinsip-prinsip „Manat mardongan sabutuha“, maka diperumpamakan „Tampulon aek do na mardongan sabutuha“ maksudnya mustahil air dipisahkan atau dibelah, bagaimanapun dia akan bersatu juga.dan dikuatkan juga dengan umpama „Tali papaut tali panggongan; Tung taripas laut sai tinanda do rupa ni dongan“; artinya: Tali paput adalah tali panggongan; meskipun jauh diseberang lautan akan dikenal juga muka saudara.

B.Boru :

  1. Iboto dongan saama nisuhut.(saudara perempuan sebapak dari suhut)
  2. Boru tubu dohot namboru ni suhut (saudara perempuan dari Bapak)
  3. Boru di ampuan I ma na ro sian na asing jala jinalo niampuan di hutaniba.
  4. Boru na gojong (nunga boru hian sian ama dohot ompu) jala laos sahuta dohot hulahula.(saudara perempuan dari Ompung ataupun Bapak yang bertempat tinggal di kampung Hulahula)
  5. Ibebere (anak dari saudara perempuan hasuhutan)
  6. Angka boru ni parboruan dohot bere, dohot boru ni parparibanon dohot ni sude dongan sabutuha.(anak perempuan dari saudara perempuan juga anak perempuan dari pariban, dari hasuhutan, dengan semua dongan sabutuha).
  7. Boru ni dongan saina dohot boru ni dongan saparpadanan.

Falsafah dalam Parboruon:

a- Elek marboru, molo naeng ho sonang

b- Bungkulan do boru ( sibahen pardamean/pardomuan)

c- Durung do boru tomburan hulahula (sipanupahi do boru dihulahula)

d- Unduk marmeme anak, laos unduk do marmeme boru (artinya sama sayang pada anak dan pada boru)

e- Tinalik landorung bontar gotana;

Dos do anak dohot boru nangpe pulikpulik margana.

Keterangan: Elek Marboru
Boru ialah kelompok orang dari saudara perempuan kita, dan pihak marga suaminya atau keluarga perempuan dari marga kita. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah elek marboru yang artinya agar saling mengasihi supaya mendapat berkat(pasu-pasu). Istilah boru dalam adat batak tidak memandang status, jabatan, kekayaan oleh sebab itu mungkin saja seorang pejabat harus sibuk dalam suatu pesta adat batak karena posisinya saat itu sebagai boru.
Pada hakikatnya setiap laki-laki dalam adat batak mempunyai 3 status yang berbeda pada tempat atau adat yg diselenggarakan misalnya: waktu anak dari saudara perempuannya menikah maka posisinya sebagai Hula-hula, dan sebaliknya jika marga dari istrinya mengadakan pesta adat, maka posisinya sebagai boru dan sebagai dongan tubu saat teman semarganya melakukan pesta.

Siapa-aiapa saja yang disebut pihak Boru telah dijelaskan diatas, untuk mereka itu oleh pihak Hulahula harus bersikap „Elek marboru artinya harus lemah lembut terhadap boru kalau pihak hula-hula ingin senang. Karena Boru adalah sebagai penyokong pihak hulahula yang sangat efisien dan potensial mereka akan siap mengerjakan apapun demi hula-hula kalu pihak hula-hula bersikapa lemah lembut terhadap mereka , mereka mampu menjadi juru damai dan memepertemukan disetiap masalah dihadapi pihak hulahula, juga Boru pendukung bagi hulahulanya apabila mengalami problem didalam pendanaan suatu acara adat (manumpaki). Oleh karena itu pihak hulahula harus bersikap adil dan harus menyikapi sama dengan anak sendiri :“ Unduk marmeme anak, laos unduk do marmeme boru”. Dan diperkuat lagi dengan perumpamaan sebagai berikut: Tinalik landorung bontar gotana; dos do anak dohot boru nangpe pulikpulik margana. Jadi Boru sebagai pendukung pokok baik dalam wibawa maupun dalam materi Hulahulanya.

Sedangkan Falsafah untuk pihak bere:

a- Amak do rere, anak do bebere.

Dangka do dupang, ama do tulang.

f- Tinalik landorung bontar gotana;

Dos do anak dohot boru nangpe pulikpulik margana

Keterangan: Seorang Tulang/ Hulahula harus lebih menyayangi bere/kemakan (anak dari saura perempuannya) . Meskipun bere tersebut tidak mengawini anak perempuannya maka si Tulang harus bersikap seperti yang dikatan umpama yang artinya dipotong landorung putih getahnya, sama anak dengan boru ,meskipun dia kawin dengan anak perempuan lain status perempuan tersebut adalh sama dengan anak perempuannya sendiri.

C.Hulahula;

  1. Tunggane (lae) dohot simatua ni suhut ( inilah yang dinamakan hula-hula langsung dari suhut)
  2. Tulang (sebagai hula-hula dari Bapak nya suhut)
  3. Bona Tulang(bona hula-hula) ( sebagai hula-hula dari ompung/kakeknya suhut)
  4. Bona ni ari (Hula-hula dari bapak dari kakeknya suhut)
  5. Tulang rorobot ( tulang dari besan/pr dari suhut serta tulang dari ibunya atau juga tulang dari opung boru suhut)
  6. Dan juga menjadi hula-hula dari suhut , semua hula-hula dari saudara sedarah.

Falsafah untuk Hulahula: Somba marhula-hula
Hula-hula dalam adat Batak adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu, yang lazim disebut tunggane oleh suami dan tulang oleh anak. Dalam adat Batak yang paternalistik, yang melakukan peminangan adalah pihak lelaki, sehingga apabila perempuan sering datang ke rumah laki-laki yang bukan saudaranya, disebut bagot tumandangi sige. (artinya, dalam budaya Batak tuak merupakan minuman khas. Tuak diambil dari pohon Bagot (enau). Sumber tuak di pohon Bagot berada pada mayang muda yang di agat. Untuk sampai di mayang diperlukan tangga bambu yang disebut Sige. Sige dibawa oleh orang yang mau mengambil tuak (maragat). Itulah sebabnya, Bagot tidak bisa bergerak, yang datang adalah sige. Sehingga, perempuan yang mendatangi rumah laki-laki dianggap menyalahi adat.
Pihak perempuan pantas dihormati, karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada satu-satu marga. Penghormatan itu tidak hanya diberikan pada tingkat ibu, tetapi sampai kepada tingkat ompung dan seterusnya.
Hula-hula dalam adat Batak akan lebih kelihatan dalam upacara Saurmatua (meninggal setelah semua anak berkeluarga dan mempunyai cucu). Biasanya akan dipanggil satu-persatu, antara lain : Bonaniari, Bonatulang, Tulangrorobot, Tulang, Tunggane, dengan sebutan hula-hula.
Disebutkan, Naso somba marhula-hula, siraraon ma gadong na. Gadong dalam masyarakat Batak dianggap salah satu makanan pokok pengganti nasi, khususnya sebagai sarapan pagi atau bekal/makan selingan waktu kerja (tugo).
Siraraon adalah kondisi ubi jalar (gadong) yang rasanya hambar. Seakan-akan busuk dan isi nya berair. Pernyataan itu mengandung makna, pihak yang tidak menghormati hula-hula akan menemui kesulitan mencari nafkah.
Dalam adat Batak, pihak borulah yang menghormati hula-hula. Di dalam satu wilayah yang dikuasai hula-hula, tanah adat selalu dikuasai oleh hula-hula. Sehingga boru yang tinggal di kampung hula-hulanya akan kesulitan mencari nafkah apabila tidak menghormati hula-hulanya. Misalnya, tanah adat tidak akan diberikan untuk diolah boru yang tidak menghormati hula-hula (baca elek marboru).

a- Sigaton do na marhulahual (maksudnya: sama halnya bagaimana menentukan apakah Ayam itu Jantan atau betina, oleh karena itu dalam menghadapi pihak hula-hula harus hati-hati, haru mengenal sifat-sifat dan apa keinginan atau kebiasaan pihak hula-hula, agar dapat sebagai pedoman dalam menghadapi pihak hula-hula disetiap acara adat.

b- Na mandanggurhon tu dolok do iba mangalehon tu hula-hula (artinya; akan menerima restu yang berlipat ganda kalau murah hati (basa) kepada hula-hula.

c- Hula-hula i do debata na tarida (maksudnya harus dihormati (sangat) hula-hula)

d- Hula-hulai do mula ni mata ni ari binsar.(maksudanya bahwa anak dan boru bagi orang batak adalah sebagai matahahrinya (mata ni ari na), akan gelap dunia in kalau tidak mempunyai anak (berketurunan) oleh karena boru dari hukahula itu sebagaia sumber keturunan yang banyak berkat doa restu serta doa nya pada Tuhan Yang maha Esa, maka dinamakan lah mereka matahari terbit (mata ni ari binsar).

e- Obuk do jambulan na nidandan baen samara;(maksudnya restu beserta doa dari Hula-hula membuat berketurunan/ turun temurun tanpa bahaya.

f- Nidurung situma , laos dapot porapora (restu serta doa dari hula-hula maka dari miskin dapat menjadi kaya)

Nama-nama dan cara memanggil didalam kekarabatan:

1.Saudara sedarah (pardongan sabutuhaon):

Kalau kita sebagai Laki-laki:

1- Amang = (Bapak) sebagai panggilan “ Amang”.

Inang = (Ibu), panggilannya „Inang

2- Amang tua = (bapak tua) abang dari bapak baik karena marga maupun karena hubungan pariban maka dipanggil „Amang tua

Inangtua = adalh isteri dari Bapak tua dipanggil „Inang Tua

3- Amang uda = (bapak uda) abang dari bapak baik karena marga maupun karena hubungan pariban maka dipanggil „Amang uda

Inanguda = adalah isteri dari Amang uda, dipanggil „Inang uda

4- Hahang/Akang = (abang) adalah saudara lakilaki lebih yang tua baik sebapak maupun bagi anak dari amang tua maka dipanggil „Angkang“

Angkang boru = adalah isteri dari angkang dipanggil “Angkang

5- Anggi = (adik) adalah saudara laki-laki dari satu bapak yang lebih mudamaka dipanggil „Anggi“

Anggiboru = adalah isteri dari Anggi, dipanggil „Inang“

6- Hahadoli = (abang) adalah saudara dari keturunan abang dari opung (kakek), yang dihitung 7 generasi keatas, yang statusnya sebagai penanya (panise niba) disetiap hajat acara adat, dipanggil „Angkang doli“

Angkangboru = Isteri dari hahadoli, dipanggil „Angkang“

7- Anggidoli = (adik) adalah saudara dari keturunan adik dari opung (kakek), yang dihitung 7 generasi keatas, yang statusnya ini juga dapat sebagai penanya (panise niba) disetiap hajat acara adat, dipanggil „Anggi doli“

Anggiboru = isteri dari Anggi doli, dipanggil „Inang“

8- Ompung = (Kakek) adalah Bapak dari bapak, serta bapak dari bapak tua, atau bapak uda, dipanggil „Ompung“ atau „Ompung doli“

Ompung (ompungboru) = isterdari ompung, dipanggil „Ompungboru“

9- Amang mangulahi = (Bapak) adalah Bapak dari ompung, dipanggil „Amang“

Inangmangulahi = isteri dari amang mangulahi, dipanggil „Inang“

10- Ompung mangulahi = (kakek) adalah kakek darai kakek dipanggil „Ompung“

Ompungboru mangulahi = isteri dari ompung mangulahi, dipanggil „Ompung.,

2.Parhulahulaon (saudara lakilaki dari isteri atau Ibu atau Opung:

Kalau kita sebagai laki-laki maka kita mengatakan:

1- Simatua doli = (Mertua laki) adalah bapak,Amangtua, dan Amanguda dari isteri, maka dipanggil “Amang”

Simatua boru = (mertua perempuan), adalah isteri dari Mertua laki, isteri dari Amangtua dan isteri dari amanguda, dipanggil „Inang“

2- Tunggane (Lae) = (ipar) adalah saudara lakilaki dari isteri, dipanggil “Tunggane” atau “Lae”

Inang bao = adalah isteri dari Tunggane(Lae), dipanggil “Inang”

3- Tulang na poso = adalah anak dari Tunggane (Lae) , dipanggil „Tulang“

Nantulang na poso = isteri dari tulang naposo, dipanggil „Nantulang“

4- Ompung = adalah bapak dan ibu dari Mertua, dipanggil „Ompung“

5- Tulang = saudara laki laki dari Ibu, dipanggil „Tulang“

Nantulang = isteri dari Tulang, dipanggil „Nantulang“

6- Ompung bao = adalah orang tua dari Ibu, dipanggil „Ompung“

7- Tulang rorobot = Tulang dari Ibu serta tulang isteri

8- Tulang rorobot = semuaHula dari Hulahula

9- Bonatulang atau Bona Hulahula = adalah hulahula dari ompung suhut

10- Bona ni ari = Hulahula dari ompung suhut dari Bapak.

11- Bona ni ari = semua diatas dari no 10

3.Parboruon:

1- Hela = (menantu) adalah yang mengambil anak perempuan kita, anak perempuan dari Amangtua,Amang uda, dipanggil „Amanghela“

2- Lae = adalah kepada bapak, Amangtua danAmanguda dari helea dipanggil „Lae“

Ito = adalah Ibu, Inangtua, dan Inanguda dari Hela, dipanggil „Ito“

3- Lae = adalah yang mengambil saudara perempuan, dipanggil “Lae”.

4- Amangboru = adalah yang mengambil saudara perempuan Bapak, dipanggil “Amangboru”

Namboru = adalah saudara perempuan dari Bapak atau isteri dari Amangboru, dipanggil “Namboru”

5- Lae = adalah anak dari Amang boru, dipanggil “Lae”

6- Ito = adalah anak perempuan dari Amang boru, dipanggil „Ito“

7- Amangboru = adalah saudara kaka adaik dari Amangboru, juga dipanggil „Amangboru“

8- Lae = juga pada Bapak dari Amangboru, dipanggil „Lae“

Ito = adalahIbu dari Amang boru, dipanggil „Ito“

9- Bere = adalah kaka adik serta adik perempuan dari hela (menantu), dipanggil „Bere“

10- Bere = adalah anak serta boru dari saudara perempuan kita, dipanggil „Bere“

11- Bere = adalah saudara perempuan dari Amangboru, dipanggil „Bere“

Martarombo:

Martarombo adalah salah satu komunikasi yang efisien dalam menjalin kekerabatan pada orang Batak. Martarombo/Martutur adalah sebagai dasar penentu posisi pada marga lain atau marga yang sama dan boleh dikatakan menjadi suatu tolak ukur bagi prinsip Dalihan Na Tolu, karena Martarombo adalah saling menanyai marga, Bila orang Batak berkenalan sesama orang Batak pertama kali, biasanya mereka saling tanya Marga dan martarombo, untuk dapat menentukan posisi masing-masing. Apakah mardongan tubu/ dongan sabutuha (semarga), dengan panggilan "ampara" atau "Marhula-hula/ Mora" dengan panggilan "lae/tulang". Dan dengan martarombo juga, seseorang akan mengetahui apakah ia harus memanggil "Namboru" (adik perempuan ayah/bibi), "Amangboru/Makela",(suami dari adik ayah/Om)" Bapatua/ Amanganggi/Amanguda" (abang/adik ayah), "Ito/boto" (kakak/adik), Pariban atau Boru Tulang (putri dari saudara laki laki ibu) yang dapat kita jadikan istri, dst.

Dengan Tarombo atau martutur (Mandailing) suatu nilai budaya yang sangat mendasar dalam melestarikan tradisi, adat dan kekarabatan, berbicara dengan tarombo maka berbicara tentang Marga

Marga adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah (patrilineal). Sistem kekerabatan patrilineal menentukan garis keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki. Seorang Batak merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki laki yang meneruskan marganya. Sesama satu marga dilarang saling mengawini, dan sesama marga disebut dalam Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu. Menurut buku "Leluhur Marga Marga Batak", jumlah seluruh Marga Batak kurang lebih sebanyak 416, termasuk marga suku Nias.

Karena Orang Batak menganut sistem garis keturunan ayah (patrilineal), maka posisi seorang anak laki-laki menjadi penting . Dan sudah merupakan budaya yang mendarah daging bagi orang Batak, kehadiran anak laki-laki dalam kehidupan keluarganya karena sangat pentingnya sehingga seorang wanita yang dilahirkan dalam suatu keluarga selalu mendambakan agar dia mempunyai iboto agar jangan pincang ke bahagiaan itu seperti kata umpasa berikut ini .

  • Habang siturtu , marpuroto puroto,
    mata tumulut tulut mida halak na mariboto.
    Nangpe adong ibotong ku , tubu ni amang uda ,
    Dang salobian na sian namar dongan tubu .
    Hansit ni naso mar iboto . Ise manorsahon i .
    Ima sahit si naoto mangeruni daging i

Karena demikian pentingnya namar iboto tersebut tentu merupakan idaman dan juga merupakan tantangan jika tidak mempunyai iboto nanti jika orang tua meninggal dunia bagi yang tidak mempunyai iboto akan muncul perdebatan karena posisi perempuan kurang dominan dalam paradaton dan pembagian harta warisan. Jangankan saat membagi harta sedangkan dalam kehidupan sehari-hari saja sering wanita yang tidak punya iboto mendengar sindiran dari sanak pamili kepada ibunya karena tidak melahirkan seorang lakilaki karena nanti tidak ada si panean harta warisan seperti sawah ,kebun dan lain sebagainya, seperti cerita legenda Siboru Tumbaga yang sangat memilukan itu . Sering kita dengar ucapan sinis, sindiran yang menyakitkan hati, sehingga ibu yang tidak melahirkan seorang laki-laki sering menagis pilu dan merupakan mala petaka baginya dan merupakan dalih pula bagi pihak keluarga supaya kawin lagi agar memperoleh anak laki-laki agar kelak ada pewaris harta maka konsekwansinya adalah hidup di madu apalagi setelah mabalu .sering mangandung sibari-bari.

Pada saat sekarang sejalan dengan kemajuan teknologi , serta semakin kuatnya orang ber agama yang mengajarkan persamaan hak serta kemajuan dan kesadaran hukum oleh manusia modren saat ini dan makin banyaknya perbandingan antara etnis di muka dunia ini maka adat Paneanon (pembagian harta warisan) bagi orang batak tersebut serta posisi seorang perempuan sudah makin kuat seperti umpasa berikut ini tungkap marmeme anak singgalak marmeme boru jika anak di pangolihon sedangkan anak gadis di pabuatkon.

Bagaimana pula peranan Menenantu laki-laki yang kawin dengan seorang wanita yang tidak mempunyai iboto tentu dia harus tampil sebagai suami dan sekaligus sebagai iboto bagi sang istri dan bagi mertuanya dia akan tampil sebagai menantu dan sebagai anak sehingga apapun terjangan dan niat tidak bagus dari sanak pamili bisa diletakkan kepada posisi dengan se arif mungkin sehingga seperti peribahasa atau perumpamaan (umpasa) berikut ini :

  • Sinemnem aek toba,silanlan uruhuruk
    nametmet marlas niroha, namagodang dang mar ungut ungut
    Sai patappakma nian pajojor jala pariris
    anak dohot boru bungani hagabeon

    si patiur parnidaan sipahinsa simanjojak .

Pada jaman dahulu orang tidak terlalu berpikir dari mana dan bagai mana biaya anak yang dilahirkan, kalau sudah seperti kata umpasa Batak TOROP SO PIGA , SO BEGEON NI BEGU. mereka yakin bahwa Mula jadi nabolon akan memberikan rejeki kepada mereka Karena mereka yakin jika nanti setelah besar anak mereka akan mampu mencari nafkah sendiri. Pula keyakinan mereka adalah manusia lebih dahulu ada daripada harta bahwa harta akan bisa di cari bukan harta mencari manusia . Zaman dahulu orang yang mempunyai banyak anak akan selalu di segani maka sering dikatakan umpasa Maranak sampulu pitu marboru sampulu onom karena mereka akan merupakan team yang cukup besar dalam mencari napkah dan harta. Hal ini termotivasi dengan Hasangapon.

Catatan :

1- Hanya laki-laki yang Marlae, Martunggane, Martulangna poso serta marnatulang naposo

2- Sebaliknya hanya perempuan yang Mareda, maramang naposo serta marinang na poso

3- Tetapi dibeberapa daerah Batak seperti, Silindung, kalau di parparibanon, selalu umur menjadi tolak ukur siapa yang lebih tua (siahaan), dan siapa siadian(sianggian). Tetapi lain di daerah Toba, sama aturan pada siahaan dan sianggian di parparibanon serta pada pardongan sabutuhaaon.

4- Lebanleban tutur adalah ada bereku perempuan kawin pada anak sabutuhaku (masih termasuk adik) ; Yang menjadi pertanyaannya bereku boeu tadi harus memanggil apa terhadapku?, dan anak dari adikku akan memanggil apa terhadapku?. Kalau demikian kasusnya maka pedomannya adalah sistem kewkerabat tersebut tetap dibawa misalnya siperempuan (bereku) tetap memanggil aku sebagai Tulang sedangkan si lakilaki (suaminya teatap memanggil Amangtua.

5- Ada lagi istilah LEBANLEBAN TUTUR, artinya pelanggaran adat yang dimaafkan. Misalnya begini : saya punya bere, perempuan, menikah dengan laki-laki, putera dari dongan sabutuha saya. Nah, seharusnya, si bere itu memanggil saya ‘Amang’ karena pernikahan itu meletakkan posisi saya menjadi mertua/simatua, dan laki-laki itu harus memanggil saya ‘Tulang rorobot’ karena perempuan yang dia nikahi adalah bere saya. Tapi tidaklah demikian halnya. Partuturon karena keturunan lebih kuat daripada partuturon apa pun, sehingga si bere harus tetap panggil saya ‘Tulang’ dan si laki-laki harus tetap memanggil saya ‘Bapatua/bapauda’.

Kekerabatan Dalihan na tolu juga sebagai representasi dari :

image

Ø Batara Guru adalah representasi dari Hulahula.

Ø Soripada (Sori) adalah representasi dari Dongan Sabutuha.

Ø Mangalabulan (Balabulan) adalah representasi dari Boru

Inilah yang menyebabkan kedudukan tinggi dari Hula-hula tidak dapat dijungkir balikkan dengan kedudukan boru, sama dengan menuklarkan kedudukan Batara guru yang menguasai Banua ginjang (penguasa langi)dengan Babulan yang menguasai banua tonga (penguasa bumi). Dengan demikian mengawini anak saudara perempuan Bapak tidak diperbolehkan bagi orang Batak.

Sehubungan dengan itulah orang Batak mengenal berbagai peribahasa dan perumpamaan tentang hulahula :

  • Hulahula bona ni ari, tinongos ni omputa Mulajadi
  • Sisuboton marulak noli, sisombaon dirim ni tahi

Yang maksudnya sbb:”Hula-hula adalah sumber terang hari,karunia dari Mulajadi.Yang perlu dihormati berulang kali disembah dengan sepenuh hati.”

  • Hulahula matani ari binsar,sipanupak dotondina;
  • Sipanuai sahalana, dinasa pomparanna.

Maksudnya:”Hula-hula adalah terang matahari, rohnya pemberi berkat, wibawanya pemberi restu, bagi seluruh keturunannya.”

  • Obuk do jambulan,tinumtuman bahen samara;
  • Pasu-pasu ni hulahula, Pitu sundut soada mara.

Maksudnya:“Rambut adalah mahkota dikepang,disusun menjadi mahkota indah; Berkat dan restu dari hula-hula, bisa tujuh turunan tiada bala.

Dari ungkapan diatas maka dapat diketahui bahwa sistem kekerabatan dalam struktur Dalihan Na Tolu, sangat terkait dengan kepercayaan religi lama Batak. Begitu tingginya posisi Hula-hula sehingga Hula-hula semata yang boleh memberi berkat (pasu-pasu) kepada borunya, sehingga ada kesan pada sebagian orang batak bahwa Hula-hula itu adalah “Debata na di ida” (Tuhan yang dilihat). Meskipun Hula-hula memiliki posisi tertinggi namun kedudukan itu harus didukung oleh kedua unsur lainnya (dongan sabutuha dan boru), jadi hubungan kekerabatan Dalihan na tolu harus dilaksanakan secara selaras dan seimbang agar konsep totalitas religi orang Batak berjalan dengan baik

Implementasi (penerapan) Dalihan Na tolu:

Didalam kehidupan Orang Batak, penetrapan Dalihan Natolu dapat dilihat dengan jelas didalam setiap acara adat Batak, salah satau contoh didalam acara perkawinan; yang mempunyai hajat (Suhut) akan ditunjanga oleh:

o Hula-hula sebagai pemberi restu yang dihormati dengan tutur kata yang wajar dan menyejukkan;

o Boru membantu hulahulanya dengan morel dan materi juga tenaga agar pelaksanaan hajat hulahulanya sukses, sedangkan

o Dongan tubu sebagai pemberi nasihat, nasihat atau saran dan pendamping hasuhutan (yang punya hajat).

Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut : ada saatnya menjadi Hula hula/Tondong, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu/Sanina dan ada saatnya menjadi Boru.

Dengan dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang. Dalam sebuah acara adat, seorang Gubernur harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani keluarga pihak istri yang kebetulan seorang Camat. Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya. Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan SISTEM DEMOKRASI Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal.

Sedangkan simbol-simbol religi dari sarana pelaksanaan acara adat perkawinan adalah:

I-Alaman:

Alaman adalah pekarangan luas yang ada di tengah-tengan sebuah perkampungan orang Batak (huta), yang struktur pengaturan rumah dihuta (kampung) tersebut diatur dua sisi berhadapan dan berjajaran yang dipisahkan halaman (pekarangan) yang lebar, panjang dan rata, semakin banayk rumah (penghuni) huta tersebut semakin panjang halamannya. Dan pekarangan itu dipelihara kebersihannya secara bersama-sama, yang nantinya akan dipergunakan dalam keperluan upacara adat, disamping kegiatan sehari-hari seperti menjemur padi, dan lain-lain. Ada pengungkapan tentang makna halaman (Alaman) yang sering diucapkan raja parhata sebagai berikut:”Alaman na bidang, alaman na marampang na marjual, na marsangap na martua” (halaman yang luas,halaman yang bertuah, dan berkemuliaan), kata-kata ini selalu diucapkan pada setiap acara adat, oleh karena itu halaman tersebut harus bebas dari gangguan roh-roh jahat agar acara pemujaan dan penyembahan yang dilakukan melalui upacara adat dihalaman diterima dengan baik oleh roh-roh nenek moyang dan para dewata.

Catatan:

Tata cara pengaturan tempat duduk dalam setiap Acara adat:

Pada zaman dahulu setiap mengadakan pesta (acara adat) akan selalu membentangkan tikar dihalaman Rumah hasuhutan (yang mempunyai hajat, namun sekarang (modernisasai) Acara Adat sudah dilakukan di dalam gedung dan memakai kursi. Meskipun demikian didalam menyusun tempat duduk yang berperan didalam acara adat (Dalihan natolu) tidak ada perubahan.

Ada dua macam bentuk acara adat yaitu:

1. Acara ada satu hasuhutan ( sisada hasuhutan) seperti acara memestakan Tugu dari Ompu (tambak), Memasuki rumah (mangopoi Jabu), menerima makanan dari anak (manjalo sipanganon sian ianakkon), berkunjung ke Hulahula (paebathon), serta yang sehubungan dengan itu.

2. Acara adat dua hasuhutan (dua hasuhutan) seperti membicarakan mahar (marhata sinamot), dan yang lain seperti itu.

Didalam acara adat itu ada dua macam cara susunan duduk (parhundulan). Kalau ada yang mengantarkan makanan (paebaton, memberi/membuat makanan orangtuanya) kurang lebih begini susunan duduknya:

· Di depan suhut duduk yang datang mengantarkan makanan

· Disebelah kanan suhut : Hahadoli dohot Hulahula

· Disebelah kiri suhut : Anggi doli dohot boru.

· Orang Sekampung beserta pariban masuk kekelompok sabutuha

Kalau tidak ada yang datang mengantarkan makanan misalnya waktu acara biasa maka susunan duduk sebagai berikut:

o Hulahula didepan hasuhutan

o Disebelah kanan hahadoli serta sekampung (dongan shuta)

o Disebelah kiri Anggidoli, boru serta keluarga lainnya.

Pada Acara Adat sidua hasuhutan susunan duduk adalah sebagai berikut:

§ Saling berhadapan kedua hasuhutan dan masing-masing hasuhutan menyusun duduknya;

§ Disebelah kanan hasuhutan duduk Hahadoli serta Hulahula.

§ Disebelah kiri duduk Anggi doli dohot boru.

§ Oranng sekampung serta pariban masuk dalam kelompok sabutuha.

II-Sipanganon:

Makanan yang dipersiapkan untuk upacara adat, yang biasanya melalui petunjuk dukun (datu), hewqan apa yang akan dipotong dalam acara tersebut karena pada masa dahulu semua tingh laku peersiapan mengadakan suatu upacara adat, dilaksanakan dengan sakral, sehingga pengaturan memotong hewanpun diatur sedemikian rupa seperti menerima pisau pemotong dari hasuhutan, cara memegang pisau, berdoa, dan menusukkannya kejantung hewan, tidak boleh dua atau tiga kali (berulang-ulang). Bagian-bagian inti dari hewan yang disebut “na margoar ni juhut”, harus dipersembahkan lebih dahulu kepada roh-roh nenek moyang dan para dewata, sebelum diserahkan kepada hula-hula sebagai “tudu-tudu ni sipanganon” (pertanda kelengkapan hewan yang disiapkan untuk peralatan adat), dan kemudian dibagikan sebagai jambar juhut kepada para pihak yang berhak. Penyerahan tudu-tudu ni sipanganon pada hakikatnya sebagai pembuktian secara simbolis bahwa semua makanan yang disediakan untuk hajatan besar itu adalah “hewan utuh bukti kesungguhan acara adat, dan diberikan lebih dahulu kepada hula-hula, setelah diterima dengan baik oleh hulahula maka dipersilahkan para hadirin untuk bersantap bersama.

Hula-hula akan membalas pemberian tersebut kepada pihak boru dengan memberi dengke (ikan) sebagai tudu-tudu ni sipanganon, lengkap dengan dengke saur, dengke na porngis, dengke sitio-tio, dengke sahat, dengke simudur-udur, maksudnya adalah bahwa dengke itu adalah perlambang dari kelimpahan berkat, panjang umur dan kehidupan bahagia, serta rukun dan seia sekata pada keluarga tersebut. Biasanya dengkalah yang selalu dimakan pada masa menanam dan memanen, sebagai simbol tanda terima kasi dengka pulah lah yang dipersembahan. Sebagai kepercayaan orang Batak akan kekuatan roh yang dikandung sipanganon terlihat dari ungkapan :“Hot situtu do nasa na pinadanhon di atas ni juhut dohot indahan“ (apa yang telah disetujui dalam acara makan lengkap dengan daging dan nasi adalah mutlak, dan tak boleh berubah).

Berbicara dengan pemotongan hewan, berkaitan dengan istilah Panimboli, arti

harfiahnya adalah sesuatu pekerjaan manambol atau menyembelih hewan, jadi panamboli itu bisa saja merupakan suatu pekerjaan menyembelih hewan dalam suatu paradaton bukan di rumah jagal (rumah potong)sehingga merupakan jabatan dalam suatu pesta paradaton.

Bila akan melakukan suatu pesta Marunjuk dan panjuhuti, menurut biasanya sebagai lauk ataupun parjambaran pada pesta tersebut adalah kerbau ataupun lembu. Atas dasar itulah suhut sihabolonan dari pihak par-anak akan memberangkatkan kerabat dekatnya yaitu haha anggi ni partubu untuk menyembelih kerbau yang akan di jadikan loppan pada acara pesta tersebut. Mereka di berangkatkan dengan suatu acara resmi pada saat acara martonggoraja. Hasuhuton menyediakan tampi(anduri) yang diatasnya terletak pisau yang dibalut dengan daun tebu maka hasuhuton resmi menyuruh mereka untuk menyembelih kerbau yang sudah tersedia lengkap dengan membuat namargoar (namartandaan) sebagai jalannya Parjambaran.

Seperti kata pepetah Batak mengatakan, "adat do ia ugari si nihatton ni mulajadi. Adat pinungka ni ompunta naparjolo, si ihuttonon ni hita naparpudi". Bondar do batang toru sunge do aek puli. Borhat ma hamu dohot angka boru, hamu ma panamboli. Mereka melaksanakan tugasnya dengan sedemikian rupa dan bertanggungjawab dengan sepenuhnya akan persediaan banyaknya undangan yang akan makan. Namun, yang lebih penting dari itu mempersiapkan Namargoarna atau Parjambaran agar tidak salah atau kurang lengkap dari yang sudah dirumuskan. Supaya tidak ada kilah patajom hu piso ni parhobas.

Jadi panamboli dalam keadaan seperti ini disebutlah jabatan yaitu paidua ni suhut, sedangkan parjambarannya adalah diambil dari dada pinahan yang dipotong tersebut yaitu rusuk tiga atau lima dekat pangkal leher. Tugas dan tanggung jawab dari panamboli sangatlah strategis dan dominan dalam suatu pesta. Karena panamboli adalah dongan sabutuha. Jika dia dari pihak dongan sabutuha adalah abang beradik maka jika suatu pesta tidak mamemiliki panamboli berarti dia itu tidak mempunyai abang-adik. menurut biasanya, jikahal tersebut terjadi, berarti hasuhuton bolon lahir dengan istilah sebatangkara. Karena demikian pentingnya panamboli itu maka ada rekayasa yaitu dongan sahuta yang lain marga dijadikan menjadi panamboli, itulah sebabnya jambar panamboli tadi cara membaginyapun adalah sebelah untuk namardongan tubu dan sebelah lagi untuk dongan sahuta. Kesalahan persepsi.

Ada orang salah penapsiran akan Panamboli ini, dengan alasan bahwa kita yang satu marga adalah masih satu dalam hasuhuton. Jika masih dalam satu hasuhuton, dengan sendirinya tidak perlu memakai panamboli. Mungkin mereka berpikir, jika mereka harus mengadakan panamboli, bagaimana nantinya jika nenek mereka hanya cuma anak sasada. Berdasarkan itulah tentang masalah panamboli bukan melulu masalah berat tidaknya suatu pekerjaan. Masalah yang lebih patal dalam acara Panamboli ini adalah, mereka menapsirkan jika diadakan pesta itu dengan seorang panamboli, maka akan memecahkan namardongan tubu. Padahal jabatan atau tugas sebagai panamboli adalah adat untuk memperjelas sebuah kedudukan dalam adat Batak. Seperti ilustrasi ini menerangkan, sama halnya seperti jari tangan. Yang terdiri dari ibu jari, jari telunjuk, jari tengah jari manis, dan jari kelingking. Adapun uraian ini, agar memperjelas kedudukan belaka. Salah penapsiran ini sering terjadi di perantauan. Jadi dengan demikian berarti Panamboli adalah Jabatan dalam suatu pesta jika dipihak parboru jabatan panamboli adalah sijalo todoan atausijalo bola tambirik yang masih hubungan masih sa-ama mangulahi. Oleh karena itu agar adat paradaton ini makin bagus, kiranya perlu di sosialisasikan khususnya kepada generasi penerus tanpa mengurangi makna dari adat tersebut karena merekalah nantinya akan pelaksana adat Batak itu.

bersambung (6)

Tata cara pelaksanaan adat batak (4)

Angka-angka orang Batak:

0 = clip_image001 5 = clip_image002
1 = clip_image003 6 = clip_image004
2 = clip_image005 7 = clip_image006
3 = clip_image007 8 = clip_image008
4 = clip_image009 9 = clip_image010

1- Seni Bangunan :

clip_image012

Jenis Rumah Adat Batak

SETELAH si Raja Ihat manusia berada atau lahir di Dolok Pusuk Buhit dekat huta Sianjur Mula-mula sekarang, kita belum mengetahui apakah mereka bersama istrinya si Boru Itam Manisia sudah memiliki rumah atau tidak, kita belum mengetahuinya secara pasti. Tetapi, yang jelas si Raja Batak bersama istri dengan gelar Siboru Panjadian, sudah mempunya rumah sebagai tempat tinggal.. Dan dapat dipastikan, percis di atas Dolok Pusuk Buhit mereka telah membuka sebuah perkampungan yang sampai kini belum ditelusuri kisah dan legendanya.

Seiring dengan keadaan itu, mereka dapat menciptakan bentuk rumah sesuai dengan sifat dan keadaan pemiliknya. Dan kini jenis rumah itu masih dapat kita temui didaerah Bonapasogit. Meskipun belakangan ini sudah banyak bangunan rumah dengan arsitektur asli bangunan lama Batak mulai hilang satu persatu dari permukaan tanah Batak digeser arsitektur modern, yang lama-lama akibat peredaran jaman dan pergeseran waktu. Himbauan penyusun alangkah bijaksananya kalau para arsitek Indonesia terutama putra Batak mampu memoderinasasikan arsitektur lama, yang menunjang cuaca pinggiran Danau Toba

Jenis-jenis rumah yang mereka ciptakan adalah seperti berikut:
1.
Ruma si Tolumbea.
2. Ruma si Amporik.
3. Ruma Tarup jambatan.
4. Ruma Sopo

Sebagai peralatan untuk membuat rumah mereka dan kita membutuhkan peralatan-peralatan sebagai berikut:

· Tangke dipakai untuk menebang dan membelah.

· Baliung, dipakai untuk membuat midang rata.

· Papatil untuk membentuk bulat dan melengkung.

· Pambarbar untuk meratakan.

· Tuhil untuk membuat lobang.

· Baji yang terbuat dari pangko Enau, spsial untuk membelah.

· Golok, untuk memotong.

· Raut, untuk menghaluskan sudut.

· Palu yang terbuat dari kayu Simartolu.Dll

Setelah peralatan tadi sudah tersedia, kita akan menyebutkan satu-persatu nama peralatan Rumah:

· Ulupaung,

· Santung-santung

· Tarup ijuk,

· Bungkulan,

· bubungan atap melengkung,

· Pusu-pusu ni santung-santung

· Ulupaung tonga,

· Ulupaung toru,

· Sijongjongi, ber-bentuk segitiga dibawah singap rumah.

· Sitindangi, juga sejajar dengan sijongjongi.

· Sibongbongari, papan yang ber-ukir melintang dekat ulupaung toru.

· Song-song rak, Halang gordang, papan tebal melintang didepan tempat Pargonsi.

· Song-song boltok, papan tebal dgn song-song rak berada di bawah halang gordang.

· Tomboman sebuah papan tebal untuk menahan basiha, sumban, sudut kiri-kanan.

· Sande-sande, bagian dari pan-dingdingan. Dorpi jolo,

· Pandingdingan,

· Parhomhom,

· Ture-ture, balok melintang didepan rumah.

· Tustus=ransang,

· Basiha=Tiang,

· Batu-batu,

· Parholip ujur,

· Parholip barat,

· Adop-adop, hiasan bagaikan payudara.

.

· Singa-singa hiasan khusus untuk pandingdingan.

· Tiang,

· Torumbara kandang ternak lembu / kerbau

· Galapang, sebuah lingkaran papan tebal seperti roda diujung setiap tiang yang paling utama.

· Tangga

· Panduloan

· mangintip musu.

· Pintu,

· Halangpapan

· Pohe sebagai tutup tiang

· Tohang Sumban

· Pamispisan,

· Lambe-lambe,

· Pargumbangan,

· Jenggar,

· Bonggar,

· Pangombari,

· Tataring,

· Salean,

· Para-para,

· Loting-loting,

· Sombaho,

· Siharati,

· Singgalang,

· Hansing-hansing,

· Untul-untul 11bh,

· Sibuaton,

· Raga-raga,

· Unggal-unggal,

· Songkor.

· Ninggor,

· Lais-lais,

· Tali samsam,

· Pamutuhai,

· Pandalui,

· Hombang,

· Rait,

· Bungkulan,

· Sandean,

· Basiha rea 18 bh,

· Salansap,

Umumnya dalam bidang budaya Arsitektur ,untuk bangunan sekalipun orang batak memakai alat sambung memakai tali dari Ijuk atau rotan dan di kunci dengan paku yang dibuat dari pakko ( Baji = hansing-hansing dibentuk bulat sebesar jari atau lebih , dari bahan batang enau yang keras),.Bangunan sampai 15m tingginya , dipuncak atap bagian depan sedikitlebih tinggi dari puncak bagian belakang. Ada bagian rumah yang harus dibuat dari satu batang kayu khusus, besar dan berat, kayu khusu atau bagian-bagian khusus ini hanya dapat diperoleh dihutan –hutan tertentu , sesuai petunjuk datu. Dan banyak persyaratan yang harus dipenuhi dalam membangun, mulai dari berangkat ke hutan mencari kayu, menebang kayu, meneliti arah rebahnya pohon, dan cara membawanya ke kampung (huta) .Wajah atau permukaan rumah bagian depan dihiasi dengan ornamen ukiran batak,yang setiap bentuk dan letaknya mempunyai arti dan fungsi tersendiri. Ukiran batah tidak terlalu halus (kasar) dibanding dengan ukiran dari daerah lain, akan tetapi nilai spritualatau magisnya sangat kuat dalam keyakinan pemilik bangunan dan nilai budayanya termasuk tinggi. Sedangkan warna yang dipergunakan dalam ukiran hanya tiga warna yaitu, Putih Merah tua, dan Hitam. Rumah ini sering disebut Rumah Gorga (rumah berukir) Sedangkan dipuncak bagian depan dan belakang ditinggikan dan umumnya diberi kepala kerbau lengkap dengan tanduknya.

Dalam pembagian bagian dalam terdiri dari: Jabu Bona yaitu bagian rumah sekitar seperampat bagian sebelah belakang kanan pintu masuk, ditempati kepala keluarga orang tua yang membangun, Jabu Suhat; bagian kiri sebelah depan disebelah kiri ppintu masuk, ditempati oleh anak pertama yang sudah berkeluarga dengan anak-anaknya, Jabu Soding; Sebelah kiri pintu masuk dibagian belakang sejajar jabu bona, Jabu Soding Sitampar Piring; bagian kanan pintu masuk disebelah depan rumah.

2- Seni Tenun:

menenun Ulos copy

Orang Batak juga mempunyai seni menenun kain, baik untuk pakai sehari-hari maupun dipergunakan untuk upacara sakral atau adat.namun sesuai dengan perkembangan zaman atau mode, jenis tenunan Batak sudah tidak dipakai lagi untuk pakaian sehari-hari, kebanyakan sudah berupa seni tenun yang khusu untuk upacar-upacara sakral atau adat, yang dinamakan Ulos. Macam-macam Ulos ada perbedaan meskipun tidak terlalu siknifikan, Seperti Ulos Sadum, ulos ini diproduksi/ ditenun oleh Orang Batak dari Mandailing atau Angkola, tetapi Orang Batak Toba pun sering mempergunakannya didalam acara adat. (Lihat Bab V, tentang Ulos)

by: Aji Nagara Pardede

Bersambung Tata ara pelaksanaan adat Batak….5

TATA CARA PELAKSANAAN ADAT BATAK (3)

Bab.IV.

KEBUDAYAAN BATAK

1. Adat:

image

Adat adalah bagian dari pada Kebudayaan, berbicara kebudayaan dari suatu bangsa atau suku bangsa maka adat kebiasaan suku bangsa tersebut yang akan menjadi perhatian, atau dengan kata lain bahwa adat lah yang menonjol didalam mempelajari atau mengetahui kebudayaan satu suku bangsa, meskipun aspek lain tidak kalah penting nya seperti kepercayaan, keseniaan, kesusasteraan dan lain-lain .

Dahulu kala keseluruhan aspek kehidupan orang Batak diatur oleh dan didalam adat. Gunanya ialah untuk menciptakan keterarturan didalam masyarakat. Kegiatan sehari-hari didalam hubungan sesama orang Batak selalu diukur dan diatur berdasarkan adat

Namun keterbukaan akan suku bangsa lain dan membawa budayanya misalnya melalui asimilasi dan akulturasi (proses percampuran dua budaya atau lebih) , dan agama yang melarang untuk terlibat dalam adat mempengaruhi sikap pada adat dan tradisi membuat cenderung semakin goyang. Artinya muncul sikap tidak lagi membutuhkan adat istiadat warisan nenek moyang, meskipun masih banyak yang mematuhi dan melaksana-kan adat bahkan dibeberapa suku Batak masih membutuhkannya didalam pengaturan masyarakat, dan kenyataan dapat diharapkan sebagai suatu alat pemeliharaan moral.

Orang Batak mengenal 3 (tiga) tingkatan adat yaitu:

1- Adat Inti,adalah seluruh kehidupan yang terjadi (in illo tempore) pada permulaan penciptaan dunia oleh Dewata Mulajadi Na Bolon. Sifat adat ini konservatif (tidak berubah).

2- Adat Na taradat,adat yang secara nyata dimiliki oleh kelompok desa, negeri, persekutuan agama, maupun masyarakat. Ciri adat ini adalah praktis dan flexibel, setia pada adat inti atau tradisi nenek moyang. Adat ini juga selalu akomodatif dan lugas menerima unsur dari luar, setelah disesuaikan dengan tuntunan adat yang asalnya dari Dewata.

3- Adat Na niadathon, yaitu segala adat yang sama sekalibaru dan menolak adat inti dan adat na taradat, adat na diadatkan ini merupakan adat yang menolak kepercayaan hubungan adat dengan Tuhan, bahkan merupakan konsep agama baru (Kristen, Islam dll)yang dipandang sebagai adat, yang justru bertentangan dengan agama asli Batak atau tradisi nenek moyang. (Sinaga 1983).

Berdasarkan ketiga tingkatan adat tersebut diatas. Adat yang sekarang dilakoni orang Batak adalah Adat tingkat kedua. Namun dibeberapa bagaian kelompok Batak sudah mendekati tyingkat ketiga. Meskipun ini terjadi sadar atau tidak sadar dilakukan

Oleh karena itu Adat kebiasaan atau “Adat Batak“, sesuatu yang sangat penting didalam kehidupan bermasyarakat bagi suku Batak maka perlu dikhayati makana petuah petuah dibawah ini :

“Adat do ugari, Sinihathon ni mulajadi. Siradotan manipat ari , salaon di si ulubalang arai. Ia adat ido ugari, Ale guru saingganon . Radotan manipat ari , Salaon di ahason.”

Artinya:”Adat ialah aturan, ditetapkan oleh Tuhan yang dituruti sepanjang hari tampak dalam kehidupan.”

Maksudnya: bahwa Adat itu adalah hukum tidak tertulis yang di siratkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa kepada nenek moyang terdahulu sehingga merupakan suatu ikatan bagi yang menganutnya.

Jikalau adat itu sudah merupakan hukum maka sesuai dengan prinsip-prinsip hukum akan berlaku kepadanya, seperti pelanggaran terhadap adat tersebut maka akan dikenakan sanksi adat kepada sipelanggar sesuai dengan aturan main, seperti hukum acaranya. Namun karena adat Batak itu tidak tertulis karena dia merupakan adat kebiasaan yang turun-temurun. Dan keputusannya tidak tertulis atau ter arsip namun jika eksekusi telah terlaksana akan bergulir kesegala penjuru dan diwariskan turun temurun hasil keputusan adat sehingga terkadang merupakan pengikat yang kuat atas keputusan adat tersebut.yang terasa terasa sampai kini .

Jadi adat adalah aturan hukum yang mengatur kehidupan manusia sehingga bisa menciptakan keterarturan, ketentraman dan keharmonisan, dan adat ditrapkan didalam kehidupan sehari-hari oleh orang Batak, terutama didalam sistem kekarabatan dengan pedoman prinsip Dalihan Natolu, disamping aturan adat yang lain.

Adat salah satu dari budaya, dan penguraian tentang adat sangat komplek, karena didalam semua aspek kehidupan bermasyarakat orang Batak selalu terikat didalam tata cara yang telah diatur sejak nenek moyang orang Batak, oleh karena itu ukuran terhormat suatu keluarga selalu diukur dari kemampuan keluarga tersebut mengimplementasi-kannya (adat) didalam bermasyarakat. Namun suatu hal yang tidak dapat dimungkiri bahwa perilaku pelaksanaan adat (budaya) Batak sudah banyak disusupi dengan unsur-unsur dari luar termasuk pengaruh dari Agama yang banyak merobah pola berpikir suku bangsa Batak. Meskipun demikian pada saat-saat sitruasi sulit umumnya masyarakat tradisional akan kembali pada nilai-nilai budaya Tradisional, hal ini nampak jelas pada suku Batak, bagai manapun ketat aturan yang dikeluarkan gereja dalam pelaksanaan adat, sadar atau tidak sadar pelaksanaan adat tradisional dilakukan juga, seperti margondang dengan Gondang sabangunan (bukan dengan alat musik modern)

Sejauh apakah sebenarnya pengaruh Agama pada perilaku masyarakat Batak, khususnya Batak toba didalam adat Batak (paradatan). Menurut pengakuan saudara John.B Pasaribu dalam bukunya “Pengaruh Injil dalam adat Batak”, didalam bukunya dihalaman 12 sbb: “Perjumpaan atau pertemuan Injil yang dibawa oleh para misionaris dengan nilai-nilai yang diwarisi oleh bangsa batak telah menimbulkan benturan, pada mulanya benturan itu sangat dahsyat yang menyebabkan gugurnya (martiry) para penginjil terdahulu (Munson dan Lyman)” . kemudian di halaman 80 dilanjutkan dengan: “ Sejak awal nya Adat Batak dibentuk dan dilaksanakan adalah untuk keserasian hidup dan kehidupan warganya. Dengan kemampuan dan pemahaman yang bertumbuh dan berkembanga dari waktu ke waktu, semasa religi lama dimana Mulajadi Nabolon adalah sang pencipta, dengan tatanan Dalihan Natolu adalah tata kehidupan dalam hubungan kekeluargaan diantara sesamanya maka Religi lama juga kelihatan dengan jelas ingin mengantarkan umat dan warga Batak kepada suka cita penuh bagi setiap keluarga walau dalam implementasinya ketentuan adat dalam tatanan hubungan komponen adat itu sendiri terdapat aturan pergaulan dalam ketentuan kedudukan pada unsur Dalihan Natolu…….” Kemudian dilanjutkannjya pada halaman yang sama sbb: “ Religi Baru dan kekeristenan mengubah itu semua nya, layanan dan pergaulan terpusat pada satu kuasa dan satu kemulian yaitu Tuhan Yang Maha Esa, anaknya Yesus Kristus dan Rohul Kudus. Adat dan kebiasaan yang sudah bertumbuh sejak lama, harusnya dapat disesuaikan dengan pertumbuhan rekigi baru (Keristen), sehingga Tuhan yang ada sejak dahulu, sekarang dan selama-lamanya , benar-benar pimpinan dalam kehidupan Adat dan Budaya Batak. Religi baru (Keristen) adalah penguat kekerabatan diantara sesamanya, dan itu dilaksanakan penuh sebagai suka cita orang Batak serta pupujian bagi Tuhan.”

Dari keterangan diatas salah satu pembuktian bahwa adat batak yang berlaku sekarang ini tidak lagi murni sesuai dengan asal mulanya berlaku!. Karena didalam wujud peralihan adat budaya Batak (asli) ke Religi baru seperti Batak Mandailing (Islam) dan pada Batak Toba (yang sangat menonjol) dengan religi kristen, dimana Injil harus direfleksikan disetiap aspek kehidupan adat tradisi lama Batak Toba seperti:

· Implementasi Falsafah hidup Batak, Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapan direflesikan kepada Tri Doktrin Grejani (Iman, Kasih, dan Pengharapan) .

· Implementasi Ajaran Dalihan Natolu di refleksikan dengan Pengharapan 3 jenis pengasihan Illahi yaitu Anugerah, Karunia dan Berkat.

Mengimplementasian ketiga doktrin gereja dengan membudayakan filsafat hidup batak yang bersifat rohaniah, dan menjadikan Gereja-gereja sebagai gedung pembinaan rohani dan pendidikan yang berorientasi pada pengembangan adat budaya Batak dll.Dalam hal ini sepertinya orang Batak toba telah mengisolasi diri dari orang batak lainnya seperti Batak Mandailing, sipirok, simalungin, karo dan batak gayo alas,dan lain-lainnya.

Tanpa menafikan ada dan besarnya pengaruh perkembangan zaman (globalisasi), masih mungkinkah Batak dapat dipersatukan didalam rumpun Batak seperti tertera diatas (sejarah Batak) banyak orang-orang batak yang bukan beragama keristen mengharapkan kemurnian peri laku adat dilaksanakan tanpa menonjolkan keyakinan (agama) tertentu karena suatu fakta bahwa umumnya Batak identik dengan Batak toba sedangkan Batak toba identik dengan keristen, Dalam hala Agama bagi suku Batak sangatlah sensitif karena orang Batak termasuk manusia yang kokoh dengan pilihannya pada agama, dan hampir boleh dikatan cukup panatik. Bagi mereka perpindahan keyakinan (Agama) kepada keyakinan lain adalah suatu aib. Sangatlah beruntung kita hidup disebuah negara yang berazaskan Pancasila, yang menawarkan saling menghormati antar keyakinan (Agama), dan sebagai batak mempunyai falsafah “Dalihan Natolu” sebagai alat perekat untuk saling menghormati, yang boleh tidak harus saling mengikat hubungan meskipun berbeda agama. Sebaiknya apa yang diwariskan oleh Omputa sijolojolo tubu kita pelihara dan kita implementasikan tanpa mengclimp hanya orang Batak beragama keristen yang layak menjalankan adat batak tersebut. Karena ini menjadi suatu kendala kemajuan dan kerukunan sesama batak, yang tidak mustahil setiap orang batak mempunyai saudara yang ber agama lain juga. Agama seharusnya diletakkan sebagai penyempurna adatdidalam hubungannya ke Tuha Maha pencipta dan hubungan sesama hamba-hambaNya. Tidak ada agama yang mengajarkan memutuskan hubungan berkeluarga atau bersaudara.

Selama masih mengakui dirinya orang Batak, maka dia tidak akan lepas dari keterikatan tatanan atau norma-norma adat Batak, apakah dia Keristen Protestan, Keristen Katolik, Islam dll, harus saling menghormati berdasarkan Dalihan natolu. Agama Islam juga mengajarkan untuk selalu memelihara persaudaraan atau dengan kata lain “silaturahmi”, bagi yang memelihara silaturahmi akan mendapatkan pahala dari Tuhan Yang Maha Pencipta (Mulajadi Nabolon). Orang-orang Batak yang beragama Islam seharusnya lebih bertanggung jawab memelihara budaya Batak sebagai mana saudara-saudaranya yang beragama Keristen Protestan atau Katolik mengharagai adat Batak, dan harus dapat menunjukkan jati diri sebagai orang Batak yang ber agama Islam. Dan setiap Orang Batak berkewajiban membuktikan bahwa adat Batak bukanlah monopoli suatu Agama.

Ada beberapa hal pada tatanan adat yang berkorelasi dengan sunnah rasul, dan ini dapat dilakukan tanpa mengurangi nilai-nilai adat dan norma-norma Agama. mari kita seksamai setiap aspek laku dari adat, seperti: pemberian “Ulos” , “boras sipir ni tondi”, “manulangi” dll semuanya boleh dikatakan menyentuh masalah spritual, kita setuju bahwa unsur-unsur yang menyangkut Akidah atau dengan kata lain mensyarikat Tuhan harus kita hindari. Tetapi alangkah baiknya kalau dapat sama-sama orang Batak saling menghormati bagaimana cara pengimplementasian masing-masing Agama dalam adat teresebut, agar adat atau Budaya Batak tidak tertuduh sebagai adat yang berlaku hanya untuk yang beraganma Keristen. Dan perlu ditunjukkan bahwa budaya Batak, khususnya Batak Toba tidak indentik dengan budaya keristen. Namun adat/Budaya Batak berlaku dan diperlakukan untuk dan oleh orang Batak. Dan yang perlu kita hapuskan adalah prasangka suku bangsa lain terhadap suku bangsa Batak khususnya Batak toba identik dengan keristen, karena tata cara adat yang berlaku selama ini sejak Perang paderi dan masuknya Misionari Jerman telah bernapaskan kekeristenan. Dan tidak dapat disalahkan anggapan ini, yang harus disalahkan adalah orang Batak sendiri. Kalau banggga sebagai orang batak seharuslah memelihara dengan menggali budaya Batak itu secara murni serta mencoba mengkorelasikan ataupun menselaraskan dengan agama yang dianut. Orang Batak harus merenungi sisi apa yang dibanggakan kalau sesama orang Batak mengharagai budaya sendiri dengan tidak mengadopsi bulat-bula budaya lain, masa depan suku bangsa Batak dengan budaya begitu sempurna seharusnya di pelihara dan meninggalkan sifat saling mencurigai, saling menjelekkan, dan bertekad melestarikannya demi kesatuan dan persatuan orang Batak sendiri. Karena suku Batak yang terdiri dari beberapa suku bangsa seperti : Toba, Simalungun, Mandailing, Karo, Pak-Pak, kesemua suku bangsa ini mempunyai kebiasaan atau adat yang nyaris sama, meski ada perbedaan yang tidak begitu signifikan,. Perbedaan ini adalah disebabkan pengaruh budaya lain atupun Agama, ini tidak perlu kita permasalahkan karena kita berbicara masalah budaya secara global

Didalam kebudayaan orang Batak hampir 60 % tidak dilestaraikan, hanya tata cara adat seperti dalam Perkawinan, yang boleh dikatalkan masih dilaksanakan diperi laku lainnya hanya sebatas disinggung saja. Sebenarnya Budaya Batak sanaatlah mampu mendukung suku Batak menjadi suku bangsa yang besar, karena sudah memenuhi persyaratan jikalau ditinjau dari kesempurnaan budaya dalam bermasyarakat dan berbangsa. Suku Batak memiliki Aksara, Astronomi, Seni Arsitektur, Seni Musik dan tari, hukum/ Uhum peraturan yang telah ditetapkan oleh ompu si jolojolo tubu dan lain-lain. Orang Batak mengenal 3 (tiga Warna) dan dianggab sakral yaitu : Merah Puti dan Hitam. Ketiga warna ini sangat menonjol dalam seni Bangunan.

2- Gondang Sabangunan:

image

Gondang sabangunan atau ogung sabagunan ialah separangkat gendang dan gong merupakan instrumen inti musik gondang batak. Gondang sabangunan terdiri dari: tagading, ogung dan sarune. Tagading terdiri dari lima jenis,sedangkan ogung terdiri dari: ogung oloan, ogung ihutan, ogung doal dan ogung jeret. Sarune juga terdiri dari lima lobang. Umumnya gondang sabangunan dimainkan untuk memohon berkat dari arwah para leluhur.

Musik tradisi masyarakat Batak Toba disebut sebagai gondang. Ada tiga arti untuk kata “gondang”:

1. Satu jenis musik tradisi Batak toba;

2. Komposisi yang ditemukan dalam jenis musik tsb. (misalnya

komposisi berjudul Gondang Mula-mula, Gondang Haroharo dsb.

3. Alat musik “kendang”. Ada 2 ansambel musik gondang, yaitu

Gondang Sabangunan yang biasanya dimainkan diluar rumah

dihalaman rumah; dan gondang Hasapi yang biasanya dimainkan

dalam rumah.

Gondang Sabangunan terdiri dari:

Sarune bolon (sejenis alat tiup-“obo”), adalah:

Alat tiup double reed (obo) yang mirip alat-alat lain yang bisa ditemukan di Jaw, India, Cina, dsb.

Pemain sarune mempergunakan teknik yang disebut marsiulak hosa (kembalikan nafas terus menerus) dan biarkan pemain untuk memainkan frase-frase yang panjang sekali tanpa henti untuk tarik nafas. Seperti disebut di atas,

Tagading atau taganing (perlengkapan terdiri dari lima kendang yang dikunci punya peran melodis dengan sarune tsb),

Tangga nada gondang sabangunan disusun dalam cara yang sangat unik. Tangga nadanya dikunci dalam cara yang hampir sama (tapi tidak persis) dengan tangga nada yang dimulai dari urutan pertama sampai kelima tangga nada diatonis mayor yang ditemukan dimusik Barat: do, re, mi, fa, sol. Ini membentuk tangga nada pentatonis yang sangat unik, dan sejauh yang saya tahu, tidak bisa ditemukan ditempat lain di dunia ini. Seperti musik gamelan yang ditemukan di Jawa dan Bali, sistem tangga nada yang dipakai dalam musik gondang punya variasi diantara setiap ansambel, variasi ini bergantung pada estetis pemain sarune dan pemain taganing.

Kemudian ada cukup banyak variasi diantara kelompik dan daerah yang menambah diversitas kewarisan kebudayaan ini yang sangat berharga.
Gordang (sebuah kendang besar yang menonjolkan irama ritme),

Ogung terdiri dari empat gong yang masing-masing punya peran dalam struktur irama. Pola irama gondang disebut doal, dan dalam konsepsinya mirip siklus gongan yang ditemukan dimusik gamelan dari Jawa dan Bali, tetapi irama siklus doal lebih singkat.
Sebahagian besar repertoar gondang sabangunan juga dimainkan dalam konteks ansambel gondang hasapi.

Ansambel ini terdiri dari:

Hasapi ende (sejenis gitar kecil yang punya dua tali yang main melodi),

Hasapi doal (sejenis gitar kecil yang punya dua tali yang main pola irama),

Garantung (sejenis gambang kecil yang main melody ambil peran taganing dalam ansambel gondang hasapi),

Sulim (sejenis suling terbuat dari bambu yang punya selaput kertas yang bergetar, seperti sulim dze dari Cina),

Sarune etek (sejenis klarinet yang ambil peran sarune bolon dalam ansambel ini), dan

Hesek (sejenis alat perkusi yang menguatkan irama, biasanya alat ini ada botol yang dipukul dengan sebuah sendok atau pisau).

Tangga nada yang dipakai dalam musik gondang hasapi hampir sama dengan yang dipakai dalam gondang sabangunan, tetapi lebih seperti tangga nada diatonis mayor yang dipakai di Barat. Ini karena pengaruh musik gereja Kristen.

ASPEK-ASPEK SEJARAH

Ansambel musik yang memakai alat-alat terbuat dari perunggu di Sumatera biasanya terdiri dari perlengkapan yang punya empat sampai dua belas gong kecil,satu atau dua gong besar yang digantung, dua sampai sembilan kendang, satu alat tiup, penyari dan gembreng. Satu Ansambel yang khas jenis ini ada gondang sabangunan dari batak toba. Ansambel ini masih dipakai dalam upacara agama Parmalim.

Gondang sabangunan punya peran yang penting sekali dalam upacara agama tersebut. Seperti pada catatan di atas, Ansambel ini terdiri dari 4 gong yang main siklus irama gongan yang singkat, perlengkapan lima kendang yang dikunci, satu sarune (alat tiup/ obo), satu kendang besar dan satu alat perkusi (biasanya botol) untuk memperkuatkan irama.

Musik gondang sabangunan dipakai dalam upacara agama untuk menyampaikan doa manusia ke dunia atas. Waktu musik dimainkan, pemain sarune dan pemain taganing dianggap sebagai menifestasi Batara Guru.

Musik ini dipergunakan untuk berkomunikasi dengan dunia atas dan rupanya tranformasi pemain musik ini terjadi untuk memudahkan hubungan dengan dunia atas.

Transformasi paradigma ini di mitos Batak sangat mirip yang ada di Bali menunjuk bukti tidak langsung bahwa ada hubungan purbakala diantara kebudayaan Batak Toba dan kebudayaan Bali. Biarpun hal ini tidak dapat dibuktikan, ada kemungkinan yang berhubungan dengan sejarah, karena kedua kebudayaan masing-masing berhubungan paling sedikit sebagai batas keluar kerajaan majapahit. Keterkaitan dengan konsep kosmos bertingkat tiga ada konsep tentang faktor mediasi; pohon kosmos atau pohon hidup. Pohon mitos ini yang menghubungkan tiga dunia punya hubungan simbolis dengan pohon Bodhi dalam agama Budha, kayon di wayang Bali dan Jawa, dan barangkali konsep ini lebih tua dari agama Budha dan agama Hindu. Dalam konsepsi Batak peran musik mirip peran pohon kosmos; musik juga menguhubungkan dunia masing-masing. Melalui musik gondang batasan diantara dunia dapat ditembus, doa manusia dapat sampai kepada debata, dan berkah debata dapat sampai kepada manusia.
Dengan kedatangan agama Kristen ke Tanah Batak, pokok kebudayaan Batak sangat diubah sekali. Interaksi dengan agama baru ini dan nilai-nilai barat menggoncangkan kebudayaan tradisi batak toba sampai ke akarnya. Menurut gereja Kristen musik gondang berhubungan dengan kesurupan, pemujaan roh nenek moyang, dan agama Batak asli, terlalu bahaya untuk dibolehkan terus dimainkan lagi. Pada awal abad kedua puluh Nommensen minta pemerintah kolonial Belanda untuk melarang upacara bius dan musik gondang. Larangan ini bertahan hampir empat puluh tahun sampai pada tahun 1938. Itu merupakan suatu pukulan utama untuk agama tradisi Batak Toba dan musik gondang yang sangat terkait dengan agama tsb.

Untuk menambah kesakralan upacara adat atau keramaiaan upacara adat, maka orang Batak memainkan/membunyikan Gondang sabangunan yang memiliki sifat sakral . Biasanya alat musik ini dipergunakan pada acara ritual yang erat hubungannya dengan pemujaan roh-roh nenek moyang pada zaman dahulu dan penggelaran gondang sabangunan tersebut dilaksanakan dengan syarat-syarat tertentu agar pagelarannya dapat berjalan baik tanpa ada gangguan atau membawa dampak negatif pada tuan rumah dan para penari (manortor).

Gondang sabangunan baru boleh resmi digunakan pada upacara pokok, dengan mengadakan upacara khusus pada malam upacara pokok yaitu pihak hasuhutan melakukan acara “Tua ni gondang”, agar berkat dari gondang sabangunan itu tercurah kepada hasuhutan (yang punya hajat)

Gondang dimulai dengan dibuka juru bicara suhut dengan permintaan pembukaan sebagai berikut:

“Amang panggual pargonsi, Alu-aluhon ma jolo tu omputa Mulajadi Nabolon, na jumadihon nasa adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion

(artinya wahai bapak pemain gondang yang dimuliakan, serukanlah terlebih dahulu kepada Tuhan Yang Maha menjadikan ,Yang Menciptalkan segala sesuatu, Yang Menciptakan Manusia dan segenap isi bumi).

Maka pemusik (pargondang) memukul perangkat gondangnya dengan ritme tertentu beberapa saat saja, kemudian dilanjutkan juru bicara meminta pada pemusik.

“Alu-aluhon ma muse tu sumangot ni omputa sijolo-jolo tubu, sumangot ni omputa paisada,omputa paidua, sahat tu papituhon,”

(artinya; serukan juga kepada roh-roh leluhur, nenek moyang tingkat pertama, nenek moyang tingkat kedua hingga ketujuh).

Kembali pemusik memainkan gondang dengan ritme tertentu sesuai dengan permintaan, beberapa saat juga, setelah berhenti dilanjutkan lagi dengan permintaan sebagai berikut:

“Alu-aluhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo.”

(atinya; serukan juga kepada kharisma /wibawa para raja-raja yang hadir dalam upacara yang mulia ini).

Kembali pemain musik memukul gendangnya dengan ritme tertentu juga sesaat.

Setelah ketiga permintaan dipenuhi dan dilaksanakan maka pihak hasuhutan dengan keluarga besarnya berbaris berdiri saling mengatur diri untuk memulai menari (manortor), maka juru bicara meminta gondang pertama, yaitu gondang mula-mula, sebagai pembukaan dari rangkaian gondang yang harus diminta dalam acara mengambil tua ni gondang .

Ada 7 jenis lagu atau irama gondang yang harus diminta, yang setiap lagu didahului dengan permintaan oleh juru bicaranya, setiapa gondang berbunyi setiap itu pula suhut dengan keluarga besarnya menari (manortor). Adapun makna dari setiap lagu yang dmohonkan terkandung nilai-nilai sakral yang isinya memohon agar keluarga suhut diberikan kesejahteraan, kebahagiaan dan rezeki yang berlimpah ruah dan juga acara yang akan dilaksanakan besok harinya dapat berjalan lancar dab sumber berkat bagi seluruh keluarga dan para undangan . Gondang terakhir yaitu gondang hasahatan, diminta dengan permononana agar segala yang dimohonkan melalui gondang agar terwujud dengan nyata.

Orang Batak dalam setiap menjalani kehidupannya tidak terlepas dari etika yang telah diatur oleh adat istiadat yang berpedoman pada aturan yang ditetapkan para pendahulu (ompung sijolo-jolo tubu) atau dengan kata lain oleh para leluhur. Mulai lahir, kawin, mengandung/melahirkan, hingga tua dan meninggal, juga dalam, membangun dan memasuki rumah, menanam/memanen padi. Sampai menghormati orangtua yang telah meninggal, hampir boleh dikatakan didalam semua asapek kehidupan nya tidak terlepasa dari tata cara adat. Inilah salah satu bukti bahwa sebenarnya orang batak memiliki budaya dan dasar moral yang tinggi. Orang Batak memiliki pertanggalan , memiliki aksara (tulis baca) sendiri dan keyakinan sendiri sebelum masuknya Agama monoteis (Keristen dan Islam). Sebelum upacara adat dilaksanakan pada zaman dahulu pihak hasuhutan (yang punya hajat) memintak petunjuk dan arahan kepada dukun (datu) tentang waktu yang baik untuk mengadakan upacara

3- Seni Tari :

image

Seni tari Batak pada zaman dahulu merupakan sarana utama pelaksanaan upacara ritual keagamaan. Juga menari dilakukan jug dalam acara gembira seperti sehabis panen, perkawinan, yang waktu itu masih bernapaskan mistik (kesurupan).

Acara pesta adat yang membunyikan gondang sabangunan (dengan perangkat musik yang lengkap), erat hubungannya dengan pemujaan para Dewa dan roh-roh nenek moyang (leluhur) pada zaman dahulu.

Tetapi itu dapat dilaksanakan dengan mengikuti tata cara dan persyaratan tertentu.umpamanya sebelum acara dilakukan terbuka terlebih dahulu tuan rumah (hasuhutan) melakukan acara khusus yang dinamakna Tua ni Gondang, sehingga berkat dari gondang sabangunan. Dalam pelaksanaan tarian tersebut salah seorang dari hasuhutan (yang mempunyai hajat akan memintak permintaan kepada penabuh gondang dengan kata-kata yang sopan dan santun sbb:

“Amang pardoal pargonci…….

1- “Alu-aluhon ma jolo tu omputa Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion.”

2- “Alu-aluhon ma muse tu sumangot ni omputa sijolo-jolo tubu, sumangot ni omputa paisada, omputa paidua, sahat tu papituhon.”

3- “Alu-aluhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo.”

Setiap selesai satu permintaan selalu diselingi dengan pukulan gondang dengan ritme tertentu dalam beberapa saat. Setelah ketiga permintaan/ seruan tersebut dilaksanakan dengan baik maka barisan keluarga suhut yang telah siap manortor (menari) mengatur susunan tempat berdirinya untuk memulai menari. Kembali juru bicara dari hasuhutan memintak jenis gondang, satu persatu jenis lagu gondang, ( ada 7 jenis lagu Gondang) yang harus dilakukan Hasuhutan untuk memdapatka (tua ni gondang). Para melakukan tarian dengan semangat dan sukacita.Adapun jenis permintaan jenis lagu yang akan dibunyikan adalah seperti :permohonan kepada Dewa dan pada ro-roh leluhur agar keluarga suhut yang mengadakan acara diberi keselamatan kesejahteraan, kebahagiaan, dan rezeki yang berlimpah ruah, dan upacara adat yang akan dilaksanakan menjadi sumber berkat bagi suhut dan seluruh keluarga, serta para undangan.Sedangkan gondang terakhir yang dimohonkan adalah gondang hasahatan. Didalam Menari banyak pantangan yang tidak diperbolehkan, seperti tangan sipenari tidak boleh melewati batas setinggi bahu keatas, bila itu dilakukan berarti sipenari sudah siap menantang siapapun dalam bidang ilmu perdukunan, atau adu pencak silat, atau adu tenaga batin. Dll.

Tarian (tor-tor) Batak ada lima gerakan (urdot) 1- Pangurdot (yang termasuk pangurdot dari organ-organ tubuh ialah daun kaki, tumit sampai bahu. 2- Pangeal (yang termasuk pangeal dari organ tubuh adalah Pinggang, tulang punggung sampai daun bahu/ sasap). 3- Pandenggal (yang masuk pandenggal adalah tangan, daun tangan sampai jari-jari tangan). 4- Siangkupna ( yangtermasuk Siangkupna adalah leher,).

Didalam menari setiap penari harus memakai Ulos.

Didalam menari orang Batak mempergunakan alat musik/ Gondang yaitu terdiri dari: Ogung sabangunan terdiri dari 4 ogung. Kalau kurang dari empat ogung maka dianggap tidak lengklap dan bukan Ogung sabangunan dan dianggap lebih lengkap lagi kalau ditambah dengan alat kelima yang dinakan Hesek. Kemudian Tagading terdiri dari 5 buah. Kemudian Sarune (sarunai harus memiliki 5 lobang diatas dan satu dibawah.

Peralatannya cukup sederhan namun kalau dimainkan oleh yang sudah berpengalaman sangat mampu menghipnotis pendengar.

Menari juga dapat menunjukkan sebagai pengejawantahan isi hati saat menghadapi keluarga atau orang tua yang meninggal, tariannnya akan berkat-kata dalam bahasa seni tari tentang dan bagaimana hubungan batin sipenari dengan orang yang meninggal tersebut. Juga Menari dipergunakan oleh kalangan muda mudi menyampai hasrat hatinya dalam bentuka tarian, sering taruian ini dilakukan pada saat bulan Purnama. Kesimpulannya bahwa tarian ini dipergunaka sebagai sarana penyampaian batin baik kepada Roh-roh leluhur dan maupun kepada orang yang dihormati (tamu-tamu) dan disampaikan dalam bentuk tarian menunjukkan rasa hormat.

4- Astronomi,Almanak/ Pertanggalan:

image

Pembagian Tahun: Awal tahun dimulai/ ditetapkan pada saat Hala pariama (Scorpio) berada ditimur dan Sialasungsang/ bintang na pitu (Orion) disebalah Barat. Keberadaan/ posisi kedua bintang inilah yang dijadikan penetu awal tahun yang biasanya terjadi pada bulan April, oleh karena itu dalam penentuan bulan pertama disetiap tahun adalah bulan April sebagai “sipaha Sada”

Didalam penentuan hari pertama dalam bulan berjalan, orang batak menentukannya seperti Islam yaitu melalui pergerakan bulan. Orang batak menentukan hari pertama dalam bulan mempergunakan alat yang sangat sederhan yaitu Hasumba kain merah) mereka meneropong bulan dipinggir-pinggir danau pada penerbitannya yang pertama. Bulan yang terbit dihari pertama dinamakn “Artia” dan seterusnya sampai kembali lagi terbit diufuk barat yang jika dijumlah, berjumlah 30 haripergerakan bulan dalam 30 hari ini disebut sabulan atau satu bulan . Dan pergerakan bulan ini dihubungkan dengan gerak bintang Scorpio dan Orion yang jika dijumlah ada 12 kali bergerak sampai bintang Scorpio kembali berada di Timur dan Orion berada di Barat makanya jumlah bulan di Batak ada 12 bulan : Dibawah ini adalah Nama-nama Bulan dan Hari.sbb:

5- Nama Bulan :

image

Nama-nama bulan tersebut adalah: sipaha sada, sipaha dua, sipaha tolu, sipaha opat, sipaha lima, sipaha onom, sipaha pitu, sipaha ualu, sipaha sia, sipaha sampulu, Li sebagai bulan ke sebelas dan , Hurung sebagai bulan keduabelas.

6- Nama Hari :

Nama Hari pada Orang Batak tidak sama dengan Nama-nama Hari Masehi, Jawa dan Arab, Bagi Orang Bartak setiap Hari yang diperhitungkan 30 (tiga puluh) hari, masing-masing mempunyai Nama.

Ke 30 nama-nama Hari Suku Batak:

clip_image003[1]

7- Pembagian Waktu dalam sehari :

Begitu juga di dalampenentuan waktu / Jam , tidak mempergunakan Angka, namun mulai Pukul 6.00 Pagi hingga pukul 6.00 pagi besoknya , masing-masing dinamai:

§ Jam 06.00 - 07.00 – Pagi > Sogot atau Manogot

§ Jam 07.00 – 11.00 - > Pangului.

§ Jam 11.00 – 01.00 Siang > Hos ni ari.

§ Jam 02.00 – 17.00 – Sore > Guling ni ari.

§ Jam 17.00 – 18.00 - > Bot ni ari atau Bot ari.

§ Jam 18.00 – 20.00 -> Urmun ni ari.

§ Jam 20.00 – 23.00 -> Robot borngin.

§ Jam 23.00 – 01.00 -> Tonga borngin

§ Jam 01.00- 03.00 -> Tingki haroro ni panangko.

§ Jam 04.00 – Pagi > Tahuak Manuk.

§ Jam 05.00 – 06.00 - > Manghuling sese.

8- Mata Angin :

Pembagian mata angin dimulai dari letak kepala Pane Nabolon yang pemunculannya dibulan pertama ( sipaha sada) yang biasanya berada ditimur (Purba), maka ekornya berada di Barat laut (manabia).

Panjang Pane Nabolon dari kepala hingga ekor adalah sepanjang setengah lingkaran, oleh karena itu bila kepalanya mengarah kebarat (Pastima) maka ekornya dapat dipastikan mengarah timur (Purba).

Menentukan letak dari Pane Nabolon dapat dilihat dari kilat yang menyambar disore hari atau jika tidak, dapat dilihat dari ekor induk ayam yang sedang mengeram, ekor ayam tersebut sealalu membelakangi Pane Nabolon (patundal Pane).

Pane Nabolon selalu digambarkan dalam parhalaan dalam bentuk boras pati ( cicak). Ada juga yang menggambarkan dengan gambar binatang melata (kaki seribu) dan ada juga berbentuk kala ( scorpio);

Nama mata angin tersebut adalah:

 

clip_image005[1]

 

clip_image007[1]

 

9- Aksara/ Alfabet :

Sebagai bangsa yang besar juga ditentukan sarana komunikasi seperti Aksara, Suku Batak salah satu suku yang memiliki alfabet yaitu Aksara Batak salah satu dari 400 lebih suku bangsa di Indonesia yang memiliki aksara , yang terdiri dari 2 bagian besar:

1. Huruf Induk (ina ni surat) yang terdiri dari 19 huruf dasar (indung surat) 3 ( wa, ya, dan ca) diantaranya dipergunakan dalam bahasa sehari-hari dan memakai huruf tersebut adalah para Imam dan Datu pada zaman dahulu dan Tapanuli selatan (Angkola).Dan 16 huruf huruf lainnya yaitu diantaranya 14 huruf dibaca dengan bunyi fokal “a” dibelakangnya Yaitu sbb: a-ha- ma- na- ra- ta- sa- la- ga- ja- da- ba-nga-i-u. Selebihnya berbunyi „i“ ada 1huruf, dan berbunyi „u“ ada 1huruf.

2. Huruf-huruf bunyi (anak ni surat), seperti mengubah bunyi huruf induk dari bunyi (a menjadi „o, u, i, ng), atau bunyi yang dihentikan masing-masing disebut „siala“ atau „sikora“, „Haborotan“ atau haboruan“, „Haluan, “Hatadingan“,“Hamisaran, “paminggil dan „pangolat.

Akasara Batak ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan, dari baris atas turun kebawah. Dan tidak mengenal huruf Besar. Abjada Batak tidak mempunyai tanda baca dan angka tersendiri, kadang-kadang diambil dari abjad Latin. Kecuali tanda garis penghubung kata yang tidak dapat ditulis habis dan ujung baris yang diseut „pangudut“.

Akasara Batak pada suku-suku Batak ( Toba ,Mandailing/Angkola, Simalungun, Pakpak dan Karo) hampir boleh dikatakan sama pada abjad-abjad tertentu ada perbedaan penulisan yang tidak terlalu signifikan.

clip_image009[1]

Yang termsauk Induk surat Toba (ina surat) adalah ada 19 banyaknya:

Ia na masuk tu Ina ni surat 19 do godangna :

a =clip_image011[1]    nga=clip_image013[1]  ha=clip_image015[2]  la=clip_image017[1]  ka =clip_image015[3]   pa=clip_image019[1]  na=clip_image021[1]    sa=clip_image023[1] 

    ra=clip_image025[1]  da=clip_image026[1] ta=clip_image028[1] ga=clip_image030[1]  ba=clip_image032[1]   ja=clip_image034[1]     wa=clip_image036[1]    ya=clip_image038[1] 

 i =clip_image040[1]    ca =clip_image042[1]  ma =clip_image044[1]   u =clip_image045[1]   

Bersambung .....(4)

Nonton TV

Halaman